
"... silakan tergugat mengucapkan ikrar talak untuk penggugat."
Aku menghirup udara dengan paru yang sedikit sesak.
Hanya sedikit, karena memang ujung pernikahan ini pada akhirnya adalah perpisahan.
Aku perempuan desa bernama Sri Sugiwa, dinikahi oleh orang yang sangat berkuasa, Raden Sri Indraputra.
Awalnya hanya ada kebingungan kenapa pria luar biasa seperti itu mau melirikku, yang tidak ada lebihnya.
Lalu kebahagiaan besar datang, karena mudah melakukan banyak hal di hadapan orang- orang yang bersikap segan, serta mendapat banyak harta atas satu kali kunjungannya.
Aku tidak munafik. Sangat suka semua itu.
Padahal saat itu mas Indra baru sebatas hendak berkenalan, belum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Sampai pada malam purnama yang indah. Malam hari yang letih. Usai kami menyelesaikan ritual dan adat pernikahan.
Dia berkata dengan dinginnya, "Aku berharap kamu tidak terlalu meninggikan diri. Pernikahan ini hanya butuh tiga tahun menjalaninya. Kamu tandatangani, ada beberapa hal yang akan kamu dapatkan."
"Kenapa..?" tanyaku waktu itu. Gemetar tentu. Pernikahan adalah hal sakral untukku. Satu kali seumur hidup ialah impianku.
Lalu sekarang, perjanjian?
Aku bukan orang bodoh yang tak paham arah pembicaraan ini. Hanya saja, aku masih berharap tuanku yang agung bercanda atas ucapannya.
"Tandatangani atau kamu mau pernikahan kita selesai malam ini?"
Dia tidak memberikan jawaban untukku. Hanya menyuruhku menandatangani surat perjanjian.
Aku sudah terlanjur menikah dengannya. Tidak lucu untuk berpisah pada malam pengantin.
Aku pun menandatanganinya.
Sebuah surat yang menyuruhku berperan menjadi pasangan suami istri yang terlihat mesra. Bungkam atas segala yang dilakukan olehnya. Serta tidak menuntut hal berlebihan.
Kemudian aku menyadarinya.
Dia memiliki banyak musuh yang terbalut dalam gelapnya malam.
Berkali- kali aku diculik dan mendapat perlakuan tak enak.
Meski, pada akhirnya dia menyelamatkanku.
Awal- awalnya kupikir dia hanya pria dingin yang sulit mengatakan cinta.
Aku baru tersadar saat di malam ulang tahun pernikahan pertama kami, aku yang gagal diculik bersembunyi di balik gudang penyimpanan.
Saat itu, aku melihatnya bersama wanita dengan paras yang indah.
Lekuk tubuhnya sangat terlihat.
Paduan kebayaku dan kebayanya, tidak ada perbedaan kecuali tentang ukurannya yang sangat kecil.
Wanita itu adalah kekasih suamiku.
Menikahiku hanya untuk mengelabui dunia. Membuatku menjadi sasaran culik musuh- musuhnya.
Sementara dia bermesraan bersama wanita lain, sebelum akhirnya memutuskan menyelamatkanku sebagai pelengkap dramanya.
Aku bukanlah wanita yang akan menyerahkan segala isi hatiku sebelum mengenal dia seluruhnya.
Lalu aku pun menghapus namanya yang sudah terpatri sedikit di sudut hatiku.
Aku gadis desa yang orang katakan polos, kini tak lagi dapat bermurah senyum pada banyak orang.
__ADS_1
Tiga tahun sudah cukup menjadi pembelajaran bagiku.
Mengeraskan hati, meninggikan harga diri, membesarkan wibawa, serta memperluas kenalan.
Aku rasa tidak terlalu buruk.
Maka, mudah bagiku untuk melepas pria itu. Kecuali untuk satu hal.
"Kamu senang berpisah dariku?"
Ada nada geram yang terselip dalam suaranya. Entah mengapa suaranya terdengar gemetar.
Menangis karenaku?
Ayolah. Aku tahu dia tidak akan pernah memikirkanku.
Ini pasti, pelengkap dramanya.
"Maaf jika aku meninggalkan luka. Aku hanya gadis desa yang tidak tahan dengan segala ancaman. Maaf sudah bersikap lemah, mas."
Aku pun bisa menyeimbangi dramamu, mas.
Aku menangkupkan kedua tangan di dada saat Mas Indra hendak menyalamiku. Lantas aku mencium punggung tangan ibu mertua dan bapak mertuaku.
Selamanya mereka adalah orang tuaku.
Ibu mertua dan ayah mertua tidak pernah berbuat jahat. Menerimaku apa adanya.
Bahkan merekalah yang menjadi alasanku bertahan hingga sampai titik akhir perjanjian, setelah dahulu hatiku bersikeras ingin bercerai dari suamiku.
Mereka bersikap baik dan selalu memikirkan kedua orang tuaku. Bahkan ketika mendapatkan panggilan haji furoda, mereka membawa serta kedua orang tuaku.
Tiga tahun, nampaknya waktu yang bagus untuk tidak terlalu cepat berpisah.
"Nak, jika benar- benar kamu merasa takut dengan musuh- musuh Indra, kamu bisa tinggal bersama kami," tutur ibu mertua dengan lembut.
Sedangkan bapak mertua tampak menyesali perceraian ini, tapi beliau lebih banyak diam.
Kuyakin beliau tahu tabiat putranya di belakang panggung.
"Ibu, maafkan saya yang lemah ini."
"Ah. Maaf.. Ibu tahu ini berat. Kamu selalu hidup damai, pasti tidak kuasa dengan segala perang dingin dalam keluarga kami. Maafkan kami yang tidak peka, terutama saat penculikan terakhir.."
Siti Maryam, itulah nama ibu mertuaku. Beliau sangat pengasih. Tidak peduli pada kawan atau lawan, dia yang memiliki background pendidikan sebagai perawat, tak segan merawat mereka yang terluka.
Dan dapat dipastikan ibu mertuaku tahu, seberapa besar luka fisik yang kuterima, meski telah terbalut perban.
Penculikan terakhir, kuingat saat itu suamiku sedang pergi ke luar kota, tentu bersama kekasih tercintanya.
Berulang kali penculik meneleponnya, dia dengan dingin berkata tak butuh aku.
Tidak seperti skenario biasanya, langsung datang setelah ditelepon penculik.
Ulu hati adalah bagian tubuhku yang terluka berat.
Para penculik itu benar- benar melancarkan ancamannya. Menyerang diriku.
Pukulan mereka tidak main- main.
Kemudian Mas Indra datang dengan membawa sejuta dramanya.
Mempermainkan sakitku.
Aku tak lagi ragu, untuk berpisah sesuai perjanjian kami. Cukup tiga tahun bersama.
__ADS_1
Aku tak lagi tergoda dengan kebaikan keluarganya. Raga dan mentalku akan hancur bila bertahan seorang diri, sementara suamiku bersenang- senang dengan wanita lain.
Aku hanya manusia biasa, yang fitrahnya ingin diperhatikan.
Aku hanya wanita biasa, yang berharap mendapat suami yang perhatian.
"Saya yang minta maaf pada ibu. Tidak dapat bertahan hanya karena ..hal itu."
"Tak apa, nak. Kami yang salah. Kamu jangan sungkan untuk datang ke rumah ya. Semoga selanjutnya, kamu mendapatkan pasangan terbaik, yang dapat menjagamu.."
Ibu mertua sangat perasa. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis.
Kami menangis bersama, sebelum akhirnya keluar dari ruang sidang.
Aku mendahului mereka, keluar dari ruang sidang. Pasti mereka punya banyak perkataan agar para hakim dan saksi tidak mempublikasikan berita perceraian kami.
Sunyi. Itulah yang aku rasakan saat menjejaki lorong pengadilan agama. Sengaja persidangan ini dilakukan secara tertutup. Benar- benar tertutup.
Pengadilan yang seharusnya melayani, tutup selama tiga hari berturut- turut, hanya demi memastikan amannya jalan sidang kami.
Berlebihan.
Rupanya aku masih belum terbiasa dengan keistimewaan ini.
Kami terlalu berbeda.
Aku tidak terlalu merasa berlebihan jika orang lain tahu statusku saat ini.
Tapi mereka pasti malu ketika ikatan suci yang sakral, yang seharusnya berakhir hingga akhir hayat, telah berakhir di tengah jalan dan mencoreng wajah agung mereka.
Mengendarai mobil disopiri Pak Mamat, orang kepercayaan yang telah kurekrut di luar kuasa Mas Indra dan keluarganya.
Benar, dari mereka aku telah belajar untuk berdiri di atas kakiku sendiri.
Aku sudah merekrut banyak orang, yang orang kalangan atas sebut sebagai pengikut.
Bukan apa- apa, hanya sebagai tameng untuk melindungi diri sendiri dan orang- orang terkasih.
Khawatir selalu menyelimuti akan keluargaku di kampung sana. Takut mereka akan terseret perang yang terjadi di kota.
Dalam bayang- bayang, para pengikutku melindungi mereka. Orang- Orang tersayangku.
"Pak, mampir ke rumah bapak sebentar," pintaku.
Pak Mamat menaikkan alisnya. Dia sebagai orang yang sudah hampir dua tahun membersamaiku, pasti merasa bingung.
Dia melihat sendiri usaha yang kulakukan untuk terlepas dari Mas Indra.
Banyak drama yang dilakukan suamiku, maksudku mantan suamiku, seolah benar- benar dia mencintaiku.
Dari melarang secara lisan sampai membuat siasat gagalnya lima kali pengajuan ceraiku.
Wajahnya selalu memohon, layaknya seorang suami tak mau melepas istri tercintanya.
Drama murahan.
"Apa ibu mau menemui Aden?"
Aku menegang mendengar pertanyaan Pak Mamat.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1