(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
018


__ADS_3

Ketika air menyala, yang keluar adalah air yang sangat panas. Kulitku memerah karena menggunakan air panas sebagai air wudhu.


Tidak sempat berpindah ke kamar lain untuk mencari pancuran air yang normal.


Takut waktu subuh semakin berlalu.


Beruntung panasnya tidak meninggalkan luka.


Aku bergegas mencari embun es di dalam kulkas untuk menenangkan kulitku.


Saat berbalik, aku baru menyadari begitu banyak orang di sana.


Mereka berdiri bagai patung porselen.


Sungguh cantik bagai lukisan. Tubuh mereka tegap, tampaknya tidak akan terbang meski terkena badai.


Teringat perkataan Mas Indra untukku mengatur rumah.


Apa mereka sedari tadi berdiri untuk mendengar perintah?


Ragu aku memikirkan harus berbuat apa. Karena untuk makanan sudah tersedia. Aku dapat mencium aromanya.


Lantai di sepanjang pijakan kakiku, bersih tanpa cela.


Aku harus memerintahkan apa lagi?


Suasana ini sangat mencekam. Mereka hanya diam menunduk tanpa berkata- kata.


Aku jadi sangsi, mereka patung atau manusia?


"Kanjeng Nyonya, Kanjeng Pangeran berpesan untuk memulai sarapan bersama beliau. Beliau tidak akan lama."


Aku terlonjak mendengar penuturannya.


Si patung rupanya dapat berbicara.


Kuurungkan tanganku yang hendak mengambil nasi. Aku duduk dengan patuh. Menumpuk tangan di atas paha.


Seperti ucapan pelayan yang belum kuketahui namanya, Mas Indra datang tiga menit kemudian.


Aku menghitung jam di dinding.


Mas Indra tidak duduk di kursinya. Dia berjalan mendekatiku lantas meletakkan sebuah map.


"Maharmu."


Aku tidak tahu ada mahar yang lain. Saat ijab kabul berlangsung, aku di kamar bersama para perempuan dari pihaknya dan pihakku.


Ketika sampai meja ijab, dia memakaikan cincin dan gelang, serta diberikannya kalung dan gelang kaki dalam kotak merah beludru.


Namun ternyata masih ada lagi mahar untukku?


Padahal seperangkat alat sholat yang diberikan pun termasuk sangat mahal untukku.


Aku tahu harganya dari buku katalog yang berjajar rapi di ruang ganti.


"Bukalah!" ucap Mas Indra seolah tak sabar.


Lamat- lamat aku mengambil map itu.


Sedikit trauma karena terakhir map yang diberikan olehnya adalah map perjanjian yang menggores harga diriku sebagai seorang istri.


Alangkah terkejutnya aku. Judul yang tertera dalam lembar pertama menunjukkan lambang negara yang besar, di atasnya tertera kata pertanahan dan di bawahnya tertera sertifikat, surat kepemilikan.


Mas Indra mengangguk. Walau belum terbit senyum di bibirnya, sepasang mata tajam itu menunjukkan kejujuran.


Sertifikat dalam genggamanku adalah maharku.

__ADS_1


Aku pun memberanikan diri membuka halaman selanjutnya.


Mataku hampir meloncat keluar ketika membaca isiannya.


Waktu sekolah dasar aku selalu juara matematika antar sd sekecamatan.


Aku paham makna angka -angka yang tersekat titik dua di samping kata luas.


Seratus lima puluh tujuh tiba lima ratus meter persegi.


Seluas apa?!


"Ini..."


"Maharmu. Apa terlalu sedikit? Aku menyiapkan yang paling terdekat. Hanya ada segitu. Selebihnya masih mutlak milik Kanjeng Ayah dan Kanjeng Ibu."


"Sedikit?" beoku tak percaya.


"Kamu mau berapa? Tiga puluh hektar? Atau tujuh puluh? Ibuku mendapat mahar delapan puluh delapan hektar, sesuai tahun pernikahan mereka. Apa genapin saja? Sembilan puluh hektar. Atau kamu mau menyesuaikan tahun lahirmu? Sembilan puluh enam?"


"Eng.. ngak ini berlebihan."


"Sedikit itu. Berlebihan dari mananya?"


Aku tidak menjawab. Kututup buku itu dan kuberikan pada salah satu pelayan. Takut terciprat air bila diletakkan di atas meja.


Meski, itu tidak mungkin.


"Bagus!"


Suara lirih Mas Indra terdengar dalam gendang telingaku. Dia nampaknya mengapresiasi langkahku yang mau menyuruh pelayan.


"Ayo makan, Mas. Keburu dingin. Nanti tak enak," ucapku mengalihkan perhatian.


"Masakan koki Lion selalu enak meski sudah dingin."


Aku menatap sungkan pria dengan blankon cokelat yang berdiri di belakang Mas Indra.


Untung saja koki Lion tersenyum tipis, tidak tersinggung dengan perkataanku.


Mas Indra saja yang terlalu serius menanggapi.


Setelah selesai makan, bingung juga mau ngapain. Mas Indra masih di tempatnya dan aku tahu, aku tidak boleh beranjak pergi.


"Apa kamu tidak ingin sesuatu?" tanya Mas Indra membuatku bingung.


Ingin apa? Baru saja diberi hadiah yang mencengangkan, masih adakah yang harus kulakukan?


"Tidak."


"Pergi ke suatu tempat?"


Memang sih aku mau ke tempat- tempat bersejarah dan tempat wisata di wilayah ini, tapi kan tidak sekarang juga.


Badanku pegel.


Akhirnya kubalas Mas Indra dengan gelengan.


Menit demi menit berlalu, Mas Indra masih saja kokoh di tempatnya. Punggungnya tidak bergerak. Pun begitu orang lain di ruangan ini.


Hanya aku yang bolak -balik menegakkan badan karena punggung ini auto menekuk karena sudah kebiasaan duduk tidak tegak.


Bibirku komat- kamit tanpa suara. Karena terlalu banyak diam membuat kantuk menyerang.


Kulirik Mas Indra yang masih saja pada posisinya. Diam tak bergerak.


Akhirnya aku berdiri. Mengambil inisiatif sendiri. Tidak mau tiba- tiba tertidur di meja makan di hari pertama.

__ADS_1


"Saya permisi ke belakang, Mas!"


Mas Indra tidak menjawab. Membuatku bingung saja.


Kulirik pelayan yang berdiri di belakangku. Posisi kakinya bergeser. Hanya sedikit. Satu centi. Itu berarti diamnya Mas Indra adalah iya.


Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan ruang makan.


Tidak ada suara protes. Tidak ada teguran dari pelayan. Maknanya benar, Mas Indra mengizinkan aku pamit terlebih dahulu dari ruang makan.


Kutelusuri halaman belakang. Hanya ada padang rumput yang luas.


Kejadian itu terus berulang selama tiga hari lamanya. Membuatku jenuh.


Kulihat padang rumput telah meninggi. Rupanya tanah di sana sangat subur.


Aku mengambil cangkul. Merusak sebagian rumput diiringi pekikan kaget pria dan wanita di sana.


Ketika aku mengambil sampah organik di dapur, Mas Indra datang dengan wajah memerah.


"Kenapa kamu mengorek sampah!?"


"Aku hanya mencari biji- bijian. Lagian ini di atas meja kok, bukan di tempat sampah! Aku tidak ngorek- ngorek sampah, mas!"


Mas Indra terlihat menarik napasnya. Mungkin dia merasa aku jorok karena memilah -milih kulit buah dan sayur dengan tangan terbuka.


"Kamu mau apa bongkar- bongkar halaman belakang?"


"Tanam sayur."


"Kebun sayur?"


"Semacam itu."


"Biar tukang kebun yang buat."


"Tidak, mas! Plis! Aku kan sudah menuruti kamu untuk mengawasi para pelayan, memastikan rumah, dan sebagainya. Biarkan aku melakukan hobiku. Ya?"


Mas Indra lagi- lagi menyentak napas. Seperti aku melakukan kesalahan besar saja. Dia menelitiku dan tanah yang telah kubongkar. Lantas mengangguk singkat. Sangat singkat. Tidak akan terlihat bila tidak memperhatikan dengan saksama.


"Baik. Perhatikan tampilanmu."


"Siap, Mas!"


Izinnya adalah angin segar untukku. Aku dapat berkebun dengan tenang.


Seperti janjiku padanya untuk menjadi nyonya yang baik di rumah.


Aku menyelesaikan berkebunku sebelum siang menyongsong.


Kubersihkan tubuh setelah menyuruh pelayan untuk mempersiapkan kebutuhan mandiku.


Lalu aku memastikan koki Lion melakukan pekerjaannya dengan baik.


Menanyakan pendapatnya tentang kesukaan Mas Indra lalu aku menyesuaikan hidangan untuk diriku sendiri.


Aku tak lagi sungkan.


Dilayani itu rasanya sangat enak.


Kini aku paham, betapa banyak orang melakukan segalanya agar kenikmatan seperti ini tidak diusik oleh pihak lain.


Menghalalkan segala cara.


Apa ke depannya aku akan menghalalkan segala cara demi bersama dengan Mas Indra, menjadi wanitanya seorang?


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2