
"Kalau aku bermalam di sini, boleh?"
"Kalau aku melarang memangnya bisa?" balasku.
Mas Indra tidak menjawab seperti biasanya. Dia diam. Menimang Aden sampai kembali tertidur.
"Susternya kenapa tidak datang?" tanyaku tidak tahan dengan keheningan ini.
"Kupecat."
"Kamu pecat? Kenapa? Kulihat dia cekatan mengurus Aden."
"Dia lancang masuk ke kamar kita."
Kalau itu alasannya, pantaslah perempuan itu dipecat.
Mas Indra sibuk dengan putranya. Aku jadi tak enak hati membiarkannya terbangun, padahal esok adalah waktu geladi resik.
Untuk tampil sempurna, mereka yang tampil bahkan untuk menyampaikan kalimat saja seperti Mas Indra, harus diperhatikan tutur katanya, agar tidak menyinggung Yang Mulia Sultan.
Dalam tahta, tiada mengenal anak dan ayah.
Mas Indra bisa dikenakan pasal bila salah berucap. Harus ikut didampingi para kawula tua yang sudah berpengalaman. Memastikan tiada kata yang salah.
Kubuatkan saja dia kentang tipis bercampur garam. Ditemani teh hangat di malam yang dingin.
Mas Indra keluar dari kamar saat aku masih menunggu kentang mengering.
"Titip Aden," katanya.
Kukira dia mau membeli sesuatu di luar sana.
Hingga mentari menyapa, Mas Indra baru muncul kembali.
"Kamu dari mana, Mas?" cecarku.
Tak tahu kah dia aku sudah bersusah payah berhadapan dengan kompor yang telah lama kutinggalkan!?
"Rumah."
"Kamu pulang!?"
Aku sangat syok. Dia pulang tak bilang -bilang!
"Iya."
Aku menyentak napas. Mas Indra melenggang masuk ke kamar tanpa rasa bersalah.
Aku tertidur di sini, dia enak- enakkan di rumah!
Tapi, kenapa dia pulang?
Apa karena aku larang kemarin?
Karena malas turun ke bawah, aku membuat dua telur ceplok ditemani kentang yang sudah kukupas semalam.
Biarlah Mas Indra mencari makannya sendiri.
"Hanya ada ini," kataku singkat kala dia menatap meja makan yang kosong.
Seharusnya dia protes atau setidaknya menatap rendah masakanku, seperti awal- awal kami menikah dan aku hanya bisa memasak makanan kampung, yang tidak sempurna.
Lagi- lagi tidak sesuai ekspektasiku, dia makan sambil menggendong Aden. Memberikan juga potongan kentang rebus pada Aden.
Anak kami memainkan kentangnya sebelum masuk ke dalam mulut mungilnya.
Aku membersihkan sisa kentang pada mulutnya dan mencubitnya dengan gemas.
Anak itu langsung menangis.
Aduh, Sugiwa!
__ADS_1
Aku melempar senyum saat Mas Indra menatapku tanpa ekspresi.
Bapak siaga. Selalu saja siap menimang anaknya.
"Kamu bersiap saja. Biarkan pramugraha yang merapikan tempat ini."
"Aku hadir sebagai tamu!"
"Pikirkan Aden!"
Ish, bisa- bisanya membawa -bawa Aden.
Namun perkataannya tidak salah.
Semua orang akan menggunjing Aden atau bahkan membuat kerusuhan dengan dalih ingin menjadi pengasuh Aden yang kekurangan kasih ibunya.
Ck. Akhirnya aku membasuh tubuh dengan air yang dingin.
Aku terperangkap. Tidak lagi bisa mengabaikan Aden.
Kelakuan lucunya, wajah menggemaskannya, aku tidak mau dia berpaling dariku.
Terima kasih buat Ratih ataupun mungkin Mas Indra, yang selalu mengingatkan Aden akan ibunya yang abai ini.
Udara dingin itu semakin terasa ketika pendingin ruangan lupa kumatikan.
Buru- buru aku matikan benda lonjong itu.
Saat tanganku mengarah pada AC, kulihat warna pada cincin yang aku kenakan mulai memudar.
Digosok sedikit rupanya memunculkan warna merah yang mencolok.
Apa ini batu bukannya emas?
Tapi terlampau kecil, mirip dengan emas yang beratnya kurang dari lima gram.
Kulepaskan cincin itu menaruhnya pada kotak untuk diperiksa pada bagian perhiasan di kota.
Di sana kudapati Kusuma.
Dia sedang menggadaikan emas.
"Kamu tidak mengatakan sedang kesusahan uang, Kusuma," tegurku.
Dia tidak kaget. Terdengar desau dari mulutnya.
"Tidak ada yang menampungku lagi. Aku harus cari kontrakan dan memulai bisnis dari awal lagi."
"Masakanmu enak. Buka saja warung lagi di tempat baru," komentarku.
Siapa yang mengusir Kusuma dari rumahku, tidak perlu lagi dipertanyakan.
"Kalo kata suatu golongan, makanan akan jadi wangy kalau masaknya ditemani wanita cantik. Berharap tidak bau saja saat masak sendiri," keluh Kusuma menatap manik mataku..
..dengan tatapan mendamba?
"Ngaco. Peraturan dari mana itu?" balasku.
Aku bersyukur dia tidak dendam atas penangkapan adiknya.
Jika waras, pasti paham sebab akibat dari perilaku durjana.
Kami sedikit berbincang dan benar saja Kusuma diusir oleh pengawal Mas Indra.
"Selain mereka gede- gede, ada penyewa yang masuk. Aku tentu aja ga enak hati."
Aku hanya mampu menggelengkan kepala. Tak menyangka Mas Indra bukan saja mengusir Kusuma tapi juga menyewakan rumah itu tanpa minta pendapatku!
Orangku mengonfirmasi kebenaran ucapan Kusuma.
Sejak awal aku pergi ke rumah orang tuaku, Kusuma diusir dan keluarga baru menetap di sana.
__ADS_1
Uluran tangan Mas Indra menyadarkanku jika kami sudah sampai di aula besar negeri ini.
Semua orang besar, yang kebanyakan terdiri dari anak muda, berbaris rapi menyambut kami.
Dengan tangan kirinya menggendong Aden dan tangan kanannya menggenggam jemari ini, kami berjalan ke dalam aula selayaknya sebuah keluarga bahagia tanpa cela.
Sesekali Mas Indra memberikan perhatiannya padaku.
Aku pun memperhatikan Aden yang belepotan oleh suapan ayahnya.
Geladi resik selesai tanpa masalah berarti.
"Maaf aku terlambat!"
Aku dan semua orang menyorot perhatian pada seseorang yang berteriak di muka umum.
Bangga sekali dia meneriaki keterlambatannya?
"Nenenda merasakan sakit pada pinggulnya. Aku memijat beliau lebih dulu sampai beliau merasa enak," ucap Faridah si cucu emas nenek.
Dia berkata dengan manja.
Kendatipun tidak sekeras suara di awal, dia seharusnya tidak membicarakan masalah kesehatan si wanita tua di hadapan cucunya dan didengar oleh banyak orang.
Kesehatan itu bersifat rahasia.
Ingin mengambil perhatian malah bersikap bodoh, aku jadi mempertanyakan julukannya si kembang bandara yang menguasai seluruh etiket.
Dia akan menjadi penari utama.
Kukira seorang rakyat jelata akhirnya tampil dengan kemampuannya, lagi- lagi kalah oleh yang namanya kasta.
Ratna, teman sedesa Ratih. Selain menguasai bidang atlet. Tubuh elastisnya menguasai hampir seluruh tarian bangsawan dan tarian jelata di negeri ini.
Dia menjadi mampu bertarung karena keahliannya menari.
Aku memberi koda pada Ratna untuk tidak membuat masalah.
Dia cemberut tapi tak urung membantah perintahku.
Menjadi transparan di tengah ruang informasi yang bebas.
Selain warung kopi, perkumpulan para penari adalah sumber informasi yang berharga.
Banyak para penari diundang secara pribadi. Mereka menyaksikan dan mendengar.
Walau tidak menyebar berita ke muka umum, mereka akan saling berbincang dan mengghibah satu sama lain.
Keakuratannya tinggi.
Oleh sebab menjadi penari, sebagian besarnya bukan ingin melestarikan budaya, melainkan menggaet para petinggi dengan bodi rampingnya.
"Kamu suka dengan penari yang mana, Mas?" tanyaku pada Mas Indra.
Suaraku sedikit lantang, terbukti dari ricuhnya ruangan yang berubah hening setelah aku bersuara.
Mas Indra melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Jika dia memutuskan, akan menimbulkan curiga.
Jika dia tidak menjawab, akan menampilkan kesan tidak tegas.
"Istriku, kamu lebih paham tentang budaya. Yang mana harus aku jadikan penari utama?"
Sial. Dia malah membalik perkataanku.
Semua orang menunggu jawabanku.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran