(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
010


__ADS_3

"Aku mencarimu."


"Aku mencarimu ke seluruh kota."


"Hingga kamu datang ke rumah sakit, aku mencarimu ke sana."


"Bukankah kamu senang sekali berada di rumah sakit?"


"Hampir setiap bulan kamu menginap di sana."


Aku tersenyum miring melihat tatapan terluka pria itu.


"Tentu saja aku terus berada di rumah sakit. Bukankah itu tugasku untuk tinggal di rumah sakit, menggantikan ga.dis.mu yang cantik?"


Pria itu bungkam. Suaranya tak lagi terdengar. Gombalannya tidak terfilter atau memang demikian dia menganggapku.


Menganggapku sebagai penghuni rumah sakit yang abadi.


Aku mendekati ranjang. Mengusap kepala bayi yang masih setia tertidur. Tidak biasanya dia tidak terganggu dengan banyaknya orang.


Ada banyak dokter kenamaan memeriksa dirinya.


Mereka semua berangsur- angsur pergi sejak aku mendekati ranjang.


Rupanya, rasa hormat mereka tidak berkurang. Membungkuk padaku dan tidak berani memandangku.


Padahal kuyakin, mereka telah paham tentang statusku saat ini.


Tidak ada istri pejabat yang tinggal terpisah. Sedangkan aku baru datang dua hari setelah kecelakaan menimpa Mas Indra dan Aden.


"Terima kasih atas penjelasannya. Aku yakin Aden berada di tangan yang tepat," ucapku menjadi penutup salam bagi mereka.


Kamar ini pun lenggang. Tak kupedulikan Mas Indra yang masih terus membisu. Bahkan tak menjawab salam dari para dokter.


Kukembalikan fokusku pada malaikat kecilku.


Wajah Aden sangat pucat. Dan ya, tubuhnya sangat panas.


Demam Aden begitu tinggi.


"Suara monitor itu dari ruangan Ratih?" tanyaku tanpa berpaling.


"Ya. Benturan di kepalanya sangat gawat. Dia melindungi Aden dengan sekuat tenaga. Padahal jika melepaskan Aden, dia masih dapat selamat. Kamu memilih pengasuh dengan sangat baik baik." Mas Indra menjawab dengan cepat.


Aku tertegun mendengarnya. Ratih memang selalu menjaga Aden dengan baik.


Jika Aden terus tumbuh di dalam sini, mungkin bocah itu akan menganggap Ratih sebagai ibunya.


Tak apa. Asalkan Aden tumbuh dengan baik. Ratih memiliki jiwa keibuan yang besar, walau belum mempunyai anak.


Kasih sayang ibu yang Aden butuhkan tidak akan kurang. Ratih dapat memberikannya.


"Apa yang Mas pikirkan? Membawa Aden dalam perjalananmu."


"Kamu bisa bertanya. Aden terus mencarimu sejak kamu melangkah pergi."


Aku menggeleng tak percaya. Ratih selalu dapat diandalkan. Tidak sekali dua kali Aden menangis dan mengamuk.


Ratih selalu dapat menenangkannya dan mengajaknya bermain dengan ceria.


"Giwa, Aden terus merengek mencarimu. Ikatan ibu dan anak sangat kuat. Dia pasti khawatir ibunya tinggal bersama mereka yang pernah mengincar nyawa sang ibunda."


"Kalau begitu, apa tidak bisa kalian paparkan status di antara kita? Dengan begitu, ibu dari anakmu ini bisa hidup dengan damai."

__ADS_1


Pria itu lagi- lagi membisu. Tidak langsung menjawabku seperti tadi.


Apa begitu berat menyatakan status kami saat ini?


Atau lagi- lagi dia ingin melindungi gadisnya sampai hari pernikahan mereka tiba?


Persiapan pernikahan mereka pasti lebih lama dari pernikahanku.


Tidak mungkin pria itu memberikan pesta yang biasa- biasa saja bagi gadisnya.


"Aden, kupercayakan padamu. Jika ini terjadi lagi, tak segan aku menghilang bersama pewaris kalian," imbuhku.


"Kenapa tidak kamu tinggal kembali di sini?"


"Aku tidak mempunyai hak!"


Menyebalkan sekali berbincang dengannya. Jika aku punya kekuatan yang lebih besar dari keluarganya, tentu aku akan membawa Aden keluar dari tempat ini.


Aku mungkin ibu terburuk. Sanggup berjauhan dengan bayi yang masih membutuhkan peranku.


Namun dapat kupastikan itu adalah keputusan terbaik.


Membawa Aden pergi akan membuat keluarga Mas Indra berang dan sangat mungkin mereka memisahkan kami dengan paksa, lalu aku tidak dapat lagi mendekat.


Membiarkan mereka mengurus Aden, aku masih dapat melihat Aden tanpa perlu bersembunyi- sembunyi.


Lagipula, bersama denganku, nyawa Aden belum tentu aman.


Begitu banyak pewaris di negeri- negeri yang terbentang lagi berjajaran ini, nyawa mereka merenggang karena disembunyikan di luar batas istana.


Persentase keselamatan pangeran dan putri yang dibesarkan di luar kekuasaan istana tidak sampai sepuluh persen.


Kecuali mereka tidak diakui.


Aden, apa aku mencintainya?


Sangat. Oleh karena itu aku menjauhinya. Aku tidak mau nekat untuk terus berada di sisinya.


Berharap pertemuan- pertemuan kami selanjutnya dapat meringankan beban di hatiku.


Menghapus rindu yang muncul tiap kali mengingat wajah polos yang selalu tersenyum ke arahku.


"Kamu sudah tidak mencintai aku lagi? Tidak mau tinggal bersama denganku? Aku ingat kamu sangat senang tiap hujan datang. Kopi dan lengan ini adalah favoritmu kan?"


Konyol. Pertanyaan yang sangat konyol.


Aku tidak menjawab pertanyaan -pertanyaan ****** itu.


Mata ini lebih memilih memandangi Aden yang lelap dalam tidurnya.


Perutnya naik turun dengan lucu. Deru napasnya terdengar normal. Tidak ada luka di tubuhnya. Hanya demam, seperti kata para dokter.


Suara decit kursi terdengar oleh telingaku.


Tidak kugubris dia yang sedang menarik kursi di sisi ranjang dan mendudukinya.


Jarak kami begitu dekat. Jika dia mencondongkan tubuhnya, wajah kami akan saling menempel.


"Aku juga terluka. Kamu tidak mau memeriksa kondisiku? Lukaku diakibatkan pria yang kamu sembunyikan di dalam rumah."


"Kamu mengincarnya?" tanyaku menebak. Kata sembunyikan dalam kalimatnya membuatku berpikir demikian.


"Aku yang terluka."

__ADS_1


Jawaban Mas Indra jelas menunjukkan situasi yang pelik.


Ternyata, Kusuma melukai Mas Indra bukan hanya karena aku.


Kedua pria ini sedang berseteru. Saling menyerang untuk membunuh.


Dalam menyingkirkan para pesaingnya, Mas Indra tidak pernah mengatakan apa pun.


Tinggal tiga tahun dan mencicipi banyak hidangan pedas, tidak dapat membuatku berpikiran positif tentang cara Mas Indra menyingkirkan para pesaingnya.


Menghilangkan nyawa bukanlah hal besar di kalangan mereka.


Begitu juga Kusuma dan Mas Indra.


Masih sanggupkah aku menyimpan musuh anakku di dalam rumah?


Mas Indra dan Aden adalah satu paket. Kecil kemungkinan bagi Kusuma untuk tidak menyentuh Aden.


Atau kupertahankan dia agar dapat membaca gerak -geriknya?


Setidaknya satu penghalang hidup damai Aden, aku bereskan.


"Tolong tanggung jawab, Nyonya pemilik rumah."


Pria menyebalkan itu lagi- lagi bersuara.


Aku berdiri dan bersedekap. Menjaga jarak darinya yang mencondongkan tubuh ke kasur, yang masih hangat oleh panas tubuhku.


"Sepertinya, Anda sudah tahu masalah mobil itu dan membiarkan diri Anda mengendarainya!"


"Pernyataan yang sangat kejam," lirih Mas Indra sarat akan rasa sakit atas tuduhanku padanya.


Wajah sendu pria itu tidak menyurutkan penilaianku.


Setiap tempat dan setiap waktu, selalu ada pengawal bayangannya. Yang bersembunyi dan berbaur. Yang paham akan berbagai mesin dan siasat.


Hanya sekadar rem mobil, bukan sebuah mesin yang besar bagi mereka.


Para punggawanya tidak akan membiarkan Mas Indra melaju tanpa melakukan pemeriksaan.


Mas Indra mengusap wajah dengan kasar.


"Aku mengejar burung yang terbang dari sangkarku. Dia terbang dengan sangat cepat. Melaju bagai angin dan badai bukan masalah untuknya."


Aku memutar kedua bola mataku.


"Anda pandai sekali menggombal," cibirku.


Perbincangan kami terhenti kala kenop pintu tanpa suara salam, berputar dan terbuka lebar.


Sesosok wanita dengan nampan di tangannya muncul. Senyum manis terbit di wajah ayunya.


Wajahku merah padam. Mataku melirik tajam pada Mas Indra.


Pria itu hanya terdiam.


"APA SEMUA ORANG BISA KELUAR MASUK KAMAR PANGERAN SEENAK JIDATNYA?!"


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2