
"Lepas, Mas!"
Deru napas panas Mas Indra menerpa wajahku.
Matanya memerah.
Tapi, aku tidak mencium aroma alkohol pada mulutnya.
Dia tidak sadarkan diri, tapi tidak mabuk?
Kusingkirkan tangan Mas Indra yang mengusap wajahku.
Berulang kali aku sudah meneriakinya, dia masih saja senyum- senyum tak jelas dengan wajah merahnya.
Mulutnya tidak mengucapkan apa pun.
Hanya mengusap dan memandangi wajah ini berulang kali.
Mas Indra menatap lekatku. Tubuhnya menghimpit erat.
Sulit aku terlepas.
Sekadar bergerak untuk berpindah posisi, tak bisa.
"Aku mencintaimu, Sugiwa.."
Mas Indra menyurukkan mulutnya. Menjelajah dinding mulut ini.
Kugigit keras lidah lancangnya, dia tetap pada posisinya.
Rasa amis itu ramai di mulutku.
Tangan ini turut memukulinya. Namun Mas Indra masih saja tidak menghentikan tindakannya.
Jejak darah dari luka pada lidahnya, menjelajah setiap inci leherku.
Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini.
Apalagi jari nakalnya menyela di antara bagian tubuhku.
Aku menggelinjang hebat.
Mas Indra menyesap rakus sumber makanan putranya.
Malam itu aku terbuai.
Melakukan tindakan yang tidak salah, tapi juga tabu bagi seseorang yang sudah berpisah secara sadar.
Aku berniat pergi sebelum Mas Indra sadar dan membahas segala yang terjadi malam tadi.
Kenyataan tak seindah harapan.
Mas Indra sudah bangun. Dia menopang kepalanya. Memandangku lekat.
Dia mendadak menjadi seseorang yang misterius.
Terus saja memandangi tanpa membahas apa pun.
Namun melihat dia yang tidak berpakaian dan tidak terkejut dengan keadaan kami yang sama- sama polos, nampaknya dia sadar dengan yang kami lakukan semalam.
Apa kami kembali sah menjadi suami istri?
"Aden bersama Kanjeng Ibu pergi ke Pondok Nur Askara."
Tempat tinggal Kanjeng Romo yang juga tempat tinggal Kyai dan Nyai yang dititipi Mendiang Sultan sebelumnya?
Buat apa Kanjeng Ibu membawa Aden ke sana?
"Kanjeng Ibu memenuhi undangan Nyai. Beliau mengadakan syukuran kecil²an atas kehamilannya,"
"Ha- hamil??"
Bagaimana bisa seorang wanita berusia enam puluh tahun hamil?
"Ya. Setelah berjuang menjalani proses bayi tabung."
Aku masih syok mendengar penjelasan Mas Indra.
"Era dulu tidak semaju sekarang. Kanjeng Romo yang memberi ide, setelah semua hadiah ditolak oleh mereka. Tentu dengan sedikit mengancam."
Kami malah membicarkan hal lain. Bukannya membahas masalah sendiri.
Setelah bercerita tentang keberhasilan nenek angkatnya —yang juga berarti Ibu Susu Sang Sultan— dengan tidak ada rasa malu, Mas Indra melenggang pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aku ke bawah dulu. Kamu datang pas acara makan siang saja kalau masih capek."
Aku mengangguk singkat.
Tunggu, kenapa pula aku harus menurut?
"Tidak ada yang mau kamu katakan, Mas?"
Aku bangun dengan sempoyongan. Tidak mengindahkan otot tubuhku yang serasa mau lepas.
Mas Indra menghentikan langkahnya sejenak.
"Maaf semalam Mas lepas kendali. Harusnya Mas tunggu kamu sampai siap menerima Mas. Maaf Mas buru- buru. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawabku setengah bergumam.
Aku tidak bisa menyalahkan Mas Indra. Dia sedang tidak sadarkan diri oleh pengaruh obat, sementara aku? Sangat sadar.
Mengingat bagaimana Faridah bisa bersama dengan Mas Indra, sudah jelas Mas Indra terpengaruh oleh siasatnya.
Cara Mas Indra membuatku terbuai semalam sangat bertolak dengan prinsipnya.
Dia rela bertekuk lutut di bawahku.
Membawaku ke surga dengan daging tak bertulangnya.
Dia yang punya prinsip dasar patriarki itu mau merendah memuaskan pasangannya?
Yakin sekali aku kalau dia berada dalam pengaruh obat.
Setidaknya aku mensyukuri satu hal.
Mas Indra tidak jatuh dalam jebakan Faridah.
Aku tidak mau Faridah menjadi ibu sambung Aden.
Eh tapi bukannya berarti aku dan Mas Indra kembali rujuk?
"Ah sudah lah. Pusing," gumamku.
Dengan tubuh masih basah usai mandi besar, aku menuruni tangga.
Aku tidak mau absen lagi dalam pertemuan- pertemuan penting.
Kanjeng Ibu seumur hidupnya mengurusi pesta tidak hanya sebagai bentuk kesenangan.
Ada makna dan tujuan dalam tiap pesta yang dibuatnya.
Menunjukkan otoritas dirinya dalam Keraton.
Aku belum pernah membuat pesta sendiri. Maka harus aku paksakan diri agar tidak lagi absen pada pertemuan- pertemuan besar.
Walau sela tubuh ini masih sakit oleh karena permainan Mas Indra yang tiada hentinya semalaman.
Pertemuan kali ini adalah pertemuan bisnis pribadi Mas Indra dan seluruh pebisnis muda.
Didominasi para pria, maka sebenarnya tak ada kewajiban buatku datang ke sini.
Hanya saja aku tidak akan melewatkannya!
Melangkah ke tempat megah ini membuatku sadar akan satu hal.
Tidak ada banyak waktu bagi orang kalangan atas untuk meratapi kehidupan cintanya, yang mungkin tidak sebaik seperti kehidupan bisnisnya.
Aku masih tersenyum lembut pada Mas Indra yang menyambut kedatanganku.
Dan betapa banyak wanita di strata ini mengabaikan perselingkuhan suaminya, demi keutuhan citra rumah tangga yang baik.
Selama perjamuan, aku lebih banyak menyimak perbincangan mereka.
Penyebaran bisnis.
Aku belum pernah melakukannya. Karena selama ini pemasukan dari toko dan tempat wisata pemberian Mas Indra, amatlah fantastis.
Aku terbuai dengan semua itu.
Saat aku memutuskan mengalokasikan dananya untuk para pengawal, aku tidak punya pegangan sebanyak sebelumnya.
Untung saja aku tidak menjadi gelap mata hanya karena kehidupan yang jomplang; kembali hidup sederhana.
Saat kumandang adzan datang, kami semua menunda perbincangan dan bergegas masuk ke masjid.
Ini adalah momen yang aku tunggu.
__ADS_1
Rambutku sudah berontak minta dilepaskan dari ikatan dan penutup kepala.
Rambutku masih basah.
Airnya masih menetes.
Tepat ketika aku berkaca, seseorang yang enggan aku temui muncul.
Gendhis.
Buat apa wanita itu ke sini?
Setelah ribuan jam tidak melihatnya, dia kembali muncul?
"Selamat," ucap Gendhis tiba- tiba.
Wanita itu seolah tidak ada masalah denganku. Menduduki kursi wudhu dan mulai menghapus make- up yang dipakainya.
"Apa maksudmu?" kataku awas.
Sengaja memilih tempat terpojok, aku malah benar- benar terpojok.
Tasku kutinggalkan di loker penitipan.
Hanya membawa diri tanpa senjata di tangan.
Kalau wanita ini ngereog, aku berada di posisi yang tidak menguntungkan.
"Melihat Kanjeng Nyonya begitu buru- buru memakai penutup kepala saat rambut masih basah, hamba bisa membayangkan apa yang terjadi sebelum datang ke perjamuan. Hamba memberi selamat karena permasalahan Kanjeng Nyonya sudah selesai."
Wanita ini sedang menyindirku atau apa?
Begitu sopan tutur katanya.
"Kamu pasti tertawa kencang," geramku.
Entah Gendhis tidak dibuang oleh Mas Indra ataukah dia sedang dipelihara bangsawan lain, dia pasti tahu kejadian semalam.
Mana bisa tahu aku dan Mas Indra habis melakukan apa, hanya dari rambut yang basah!?
"Apa maksud Kanjeng Nyonya?" tanya Gendhis seolah bingung.
Pandai sekali aktingnya!
"Kamu pasti tahu kan? Atau kamu yang merekomendasikan taktik bejat itu?!"
Wajah Gendhis semakin menunjukkan kebingungan.
Membuatku geram ingin mencakarnya saja.
"Obat perangsang itu ide kamu kan!?"
Wanita itu malah terkekeh dan berkata, "Kalau itu ide yang bagus, sudah sejak lama hamba menjadi istri pangeran. Kanjeng Pangeran tidak mempan diobat."
Perbincangan kami terputus karena tempat wudhu semakin ramai.
Tak sadar aku memperhatikan Gendhis yang ternyata satu ruangan denganku.
Dia melaksanakan Sholat.
Yah. Bukan urusanku.
Memangnya hanya orang tertentu yang boleh sholat?
Aku hanya memikirkan perkataan terakhirnya.
Mas Indra tidak mempan diobat?
Semalam dia hanya berpura- pura terkena obat?
Dia melakukannya secara sadar...
sama seperti aku?
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
Abis ini pov Mas Indra ya guys.
Author up setelah vote nya mencapai 200 vote.
__ADS_1
Yuk vote yuk. 🥰🥰🥰