(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
012


__ADS_3

"Hei! Kamu tuli? Pergilah! Di rumah ini, kamu sudah tidak diizinkan menginjakkan kaki!"


"Aku ibunya Aden, siapa yang berhak melarangku? Hanya Mas Indra dan mantan Mertuaku!"


"Kamu ini bodoh atau apa? Sudah kukatakan, anakku akan menjadi pewaris Mas Indra. Lebih baik menyingkir bersama anakmu, sebelum aku melakukan sesuatu."


"Justru bila terjadi sesuatu pada Aden, kamu yang akan jadi tersangka utamanya," balasku tersenyum miring.


Wanita ini bodoh atau apa? Sudah jelas Mas Indra dan kedua mantan mertuaku menyayangi Aden, dia malah mengancam Aden.


"Dan anakmu, aku tak yakin dia bernasab pada Mas Indra."


"Bernasab padaku?"


Suara berat menginterupsi percakapan kami. Aku menoleh pada kedatangannya.


Di sana, pria gagah yang pernah membalut malam- malam dinginku menjadi malam nan panas, datang dengan wajah bingung.


Sudut mataku melirik Gendhis. Entah kenapa wajah itu menjadi pucat pasi.


"Siapa anakku yang tak bernasab padaku?" Mas Indra menuntut jawaban.


Mata tajam pria itu menatapku. Sisi putihnya memerah. Seolah menahan amarah.


Apa dia salah persepsi? Atau dia tak suka dengan perkataan itu? Dia sudah menikah siri dengan Gendhis?


Pikiranku terus melalang buana. Bertanya- tanya sebab tampangnya yang mengerikan.


"Anak dalam kandungan Gendhis. Oh, apa kalian sebenarnya sudah sah di mata agama?"


Aku berekspresi seolah terkejut di depan mereka. Sudah lama aku memikirkan kemungkinan yang tak mungkin ini.


Sangat tidak mungkin golongan penganut monogami garis keras melakukan poligami.


Tapi, bisa saja kan?


"Jangan ngaco. Kamu tahu sendiri. Silsilah langsung para Sultan di Kesultanan Bawat, Kesultanan ini, semuanya monogami. Demi mendekat pada syari'at dan mendekat pada kata adil."


"Oh ya?" Aku menaikkan alisku.


Mas Indra mengangguk patuh.


"Jadi, ada yang membual?"


Aku terkekeh sambil menatap Gendhis dari sudut mataku.


Wajah perempuan itu pucat pasi.


Ekspresi Mas Indra perlahan melunak. Dia ikut melirik Gendhis, yang tak lagi berkicau seperti tadi.


"Kamu hamil, Dhis? Siapa yang menghamilimu? De' Epu?! Kenapa tidak bercerita? De' Epu harus bertanggung jawab!"


"I... ini anakmu, Kang—"


"Gendhis, aku membiarkanmu tinggal di sini agar kamu lepas dari cengkeraman De' Epu. Jangan melebihi batas!"


"Tapi aku benar- benar hamil anak Kangmas."


Wajah Gendhis sarat akan permohonan. Wajah sedih yang biasanya mampu melunakkan Mas Indra.


Aku penasaran. Kutolehkan wajah ke arah Mas Indra. Wajahnya lagi- lagi memerah.


"Jangan ngelunjak, Gendhis!"


"Apa Kangmas lupa melakukannya saat mabuk?"


"Aku tidak pernah mendekati hal yang memabukkan."


Tidak aku pedulikan mereka yang sedang bertengkar. Lebih baik aku berkeliling dan memastikan seluruh anak buahku melakukan pekerjaan dengan baik.


Semua pengawalku, yang diketahui dan tidak diketahui Mas Indra, masih setia pada posisinya.


Apakah aku mempercayai Gendhis?


Entahlah. Buat apa lagi memikirkan urusan mereka.


Kujejaki kaki hingga tanpa sadar telah melewati gerbang.


Sekalian saja mencari pakaian ganti yang tak sempat kubawa. Tak ada barangku yang tersisa di dalam bangunan megah itu.


Kuputuskan memasuki toko sederhana. Mencari jenis pakaian yang sopan dan sesuai isi kantong.

__ADS_1


Keluar dari toko, seseorang menarik tanganku.


Kutatap datar wajah pelaku yang memasang senyum nan polos.


"Maaf aku mengganggumu."


"Lebih baik kamu jangan muncul di depanku! Siasatmu hampir membunuh putraku, Kusuma!"


Kusuma menyentak napasnya. Dia melepaskan genggamannya dan mengacak rambut dengan gusar.


"Sungguh, aku tidak berniat membunuhnya. Aku hanya ingin dia tidak punya waktu mencarimu, juga aku. Tentang anakmu, maaf."


Kusuma memikirkan aku? Kami bahkan baru berjumpa di rumah persembunyianku.


Dia benar- benar contoh pria yang tak punya muka.


Melakukan sesuatu untuk keuntungannya sendiri, tapi berkata seolah memikirkan orang lain.


Munafik.


"Aku tidak tahu dia bepergian bersama Aden. Tidak biasanya seorang penerus diperbolehkan keluar sebelum usia sekolah."


Ya, aku juga tahu itu. Maka dari itu aku tidak memedulikan Mas Indra yang tergolek lemah di atas ranjang.


Ternyata pria itu membawa Aden untuk mencariku.


"Pergi, Kusuma."


"Aku benar- benar minta maaf."


Setelahnya, pria itu pergi. Aku tidak memedulikannya. Saat ini fokusku hanyalah kesembuhan Aden.


Di dalam ruangan Aden telah ada Mas Indra yang terus memandangi putra kecilnya.


Sesayang itu Mas Indra dengan putranya. Bahkan di hari yang sibuk ini, dia tidak beranjak meninggalkan Aden.


Hari ini adalah hari penobatan seluruh kepala desa. Seharusnya Mas Indra hadir di sana.


Jika sebelumnya aku dapat membujuknya untuk memenuhi tanggung jawabnya, yang sering kali ditinggalkan demi bersama dengan Aden. Sekarang aku tak punya hak.


Aku diam saja di sudut ruang. Memperhatikan interaksinya yang sangat intens dengan Aden. Tangan besarnya terus mengusap rambut hitam Aden.


Tiba- tiba aku kepikiran tentang ucapan Gendhis.


"Kamu mempercayai ucapannya!?"


Aku menaikkan alis. Kenapa aku bisa tidak mempercayai ucapan Gendhis?


"Kamu sering bermalam di tempatnya. Bahkan ciuman kalian sangat ganas malam itu. Jangan sok polos."


"Tapi aku melakukan hal itu hanya denganmu!"


"Jadi, maksudnya kamu menginginkan hal itu dengan wanita lain, tapi terpaksa melepaskannya padaku, istrimu?"


Ini menarik. Walau kudengar harus seperti itu. Ketika laki- laki menyukai sesuatu pada wanita lain dan membuat hasratnya naik, haruslah dia kembali pada istrinya.


Jika tertariknya hanya satu atau dua kali, mungkin akan kumaklumi. Wajah dan lekuk tubuh Gendhis memang menggoda.


Tapi sampai tiga tahun? Kutekan nyeri di dalam dada.


Setetes air meluncur dari mataku. Kuusap kasar. Tidak mau terlihat lemah.


"Maaf."


"Terima kasih atas kejujuranmu," ucapku dengan getir.


Ada harga diri yang tercoreng di dalam sini.


Mengalihkan sesak, kubaca lagi rekam medis putraku.


Semuanya baik- baik saja. Hanya demam biasa. Aku tersenyum dan bersyukur.


Kurasakan usapan lembut di pucuk kepalaku. Memandang ke atas, kudapati wajah sendu Mas Indra.


"Maaf sudah memulai tali pernikahan kita dengan alasan yang buruk, perjanjian yang buruk, dan perangai yang buruk."


Aku hanya diam terpaku ketika pria itu menyusuri wajahku dengan jari- jari panjangnya.


Daya kekuatanku seolah berlarian dari tubuhku.


Aku membatu.

__ADS_1


Mungkin ini yang dirasakan banyak wanita, ketika seorang pria tiba- tiba melakukan pele cehan padanya.


Tidak ada kekuatan untuk membalas. Bahkan bersuara pun sangat susah.


"Jika aku minta satu kali kesempatan untuk kita, diawali dengan kejujuran dan keterbukaan, sudikah dikau meniti kembali bahtera lama yang baru?"


"Kamu punya Gendhis, Mas."


Suaraku keluar seiring keberanian kembali terkumpul di dalam hatiku.


Aku memperingati dia tentang gadis kesayangannya. Seorang wanita yang membuatnya tega menumbalkan wanita lain demi keamanan gadisnya.


Belakangan dia bertingkah seolah tidak punya rasa pada gadis yang sudah tak gadis itu.


"Salahku membawanya. Dia sudah kuungsikan ke tempat lain."


"Maksud Anda, saya harus berbagi suami dengan gadis Anda?"


"Sugiwa..."


Mas Indra memanggil dengan suara yang menggeram.


"Bagi kami, monogami lebih dekat pada syari'at karena dengan satu istri, kami menjadi dekat dengan yang namanya keadilan."


"Lepaskan tanganmu, Mas. Kita sudah bukan mahram jika kamu masih ingat dengan agamamu."


"Aku mengingatnya. Juga mengingat jika kita dapat rujuk hanya dengan bersengg*ma di atas sana."


Mas Indra menunjuk sisi ranjang Aden yang kosong dengan sudut matanya.


Aku tidak mau menoleh ke sana. Aku tidak mau lagi terjebak olehnya.


Capek hati dan ragaku terus diincar oleh musuh- musuhnya.


Aku menginginkan kehidupan yang sederhana.


"Aku bersumpah akan menjagamu lebih baik dari sebelumnya. Maafkan kesalahan -kesalahanku di masa lalu."


"Aku memaafkanmu.."


Aku menggantung kalimat. Memperhatikan binar lega dan ceria pada mata Mas Indra.


Tuluskah permintaannya? Sepertinya dia benar- benar menginginkan untuk memperbaiki bahtera kami.


Aku tidak peduli.


"Aku memaafkan Mas Indra, tapi tidak untuk bersatu. Ada trauma besar dalam diriku. Kau tahu, setiap malam aku selalu was- was. Setiap saat aku harus selalu waspada."


Aku menarik napas. Memperhatikan matanya yang berkaca- kaca.


Dia menangis?


"Mentalku sakit tiap kali malam datang. Takut. Aku takut kembali dikurung di ruang yang gelap. Apalagi disiksa seperti kemarin. Nyawaku seperti terlepas dari badanku."


Hah. Apa ini? Aku bercerita dengan wajah datar dan intonasi yang biasa- biasa saja, pria itu malah menjauh dan terduduk di lantai sambil menangis sesegukan.


Apa kepalanya terbentur saat menabrakkan mobil ke pembatas jalan?


Kemarin juga dia menangis oleh sebab Aden yang demam tinggi.


"Maafkan aku. Kukira dengan mengabaikanmu, kamu tidak lagi diincar mereka. Ternyata mereka sangat nekat. Aku sama sekali tidak pernah berharap penculikan menimpamu."


"Nyatanya hampir tiap bulan aku diculik."


Usai mengatakan itu, hanya terdengar suara tangis yang saling bersahutan.


Aden terbangun karena rintihan tertahan dari tangis ayahnya.


Bayi itu langsung menangis kencang. Mengiringi suara tangis ayahnya.


Aku bangun dan menggendongnya.


Sulit sekali menenangkan Aden, karena ayahnya terus saja menangis.


Aku tidak pernah membayangkan hal ini.


Mas Indra yang dingin dan berwibawa, sekarang sedang menangis sesegukan.


Seperti anak kecil.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2