
"Faridah, coba kamu tunjukkan tarianmu," kataku bertitah.
Dia cemberut. Tanpa Nenenda di sampingnya, dia hanya bisa menurut.
Tampilan tarinya indah daripada aku yang tidak bisa. Mungkin keputusan baik menjadikan dia suami Mas Indra, seperti kata Nenenda.
Aku menepuk tangan dengan ringan.
"Sekarang Faridah dan Ratna lakukan tarian bersama."
"Anda ingin hamba menari bersama rakyat jelata!?" protes Faridah.
"Di sini kalian berdua itu penari. Kalian sudah sama- sama melakukan satu set tarian. Sekarang lakukan tarian bersama dan biarkan para pandai tari di sini menilai kalian."
Dengan enggan Faridah melakukan tarian di samping Ratna.
Lenggak lenggok badannya terlampau gemulai. Dia pasti hanya berfokus pada Mas Indra di sini.
Menjadikan dia tidak dipilih oleh para penari.
Untuk dipertontonkan ke publik, tidak mungkin memilih gaya tari yang seperti sun da l.
Gerakan pinggul Faridah terlalu banyak, sementara Ratna melakukannya hanya sekali. Menunjukkan rasa kuat dalam diri wanita kami.
Di tengah sana Faridah terjatuh pingsan. Dia dibawa ke klinik sebelum mendengar hasil voting.
Mungkin karena ketiadaannya di sini, semua penari lebih leluasa berekspresi.
Mereka juga tidak akan bisa mengelak, setelah guru tari senior mengomentari gerak gemulai Faridah.
"Kamu tidak menyusulnya, Mas? Nanti dia mengadu."
"Apanya yang harus diadukan? Dia pingsan dan ditolong oleh pengelola. Lebih baik kamu terjemahkan barisan kata ini. Kita kedatangan dari Kerajaan Adaka. Kamu pandai dengan bahasa mereka kan?"
Kerajaan Adaka...
Jadi teringat masa kecil yang samar.
Kakek pernah membawa seorang anak laki- laki dengan emas di sepanjang tubuhnya, kumarahi dia karena tidaklah boleh lelaki memakai emas.
Pria itu marah balik, mengatakan perhiasannya adalah kebanggaannya.
Kami pun bertengkar dengan hebat.
Si gendut yang manis. Begitu sebutanku padanya.
Kami berteman sampai kelulusan sekolah dasar. Secara alami aku belajar bahasanya dan kakek mengarahkan aku pada guru yang mampu.
Dia, apa kabar?
Apa dia masih mengingatku?
Tulisanku tentang bahasanya lebih baik dari tulisan tentang bahasa sendiri.
Mas Indra mengacungkan jempolnya. Dia membaca dengan baik.
"Tidak curiga aku tulis kata- kata aneh?" tanyaku padanya.
"Ini masalah dua negara. Hanya orang yang hilang akal yang bakal membuat kegaduhan. Siapa yang suka perang?"
Aku hanya tersenyum simpul.
Nyatanya banyak wanita suka mencari masalah di depan delegasi. Menginjak untuk dipuji. Lupa dengan persaudaraan, demi mendapat pengakuan.
Aku sudah merasakan sesak itu.
Lebih baik berkumpul bersama pria bangsawan dibanding wanita bangsawan.
Kelicikan mereka mampu menghanguskan suatu wilayah.
Aku berpikir keras, bagaimana caranya supaya tidak tinggal bersama wanita -wanita ruwet itu?
"Hei, Mas. Aku ingin temani kamu menerjemahkan kalimat. Boleh kan aku mendampingimu sampai akhir?"
"Istri Pangeran memang harus menemani sampai akhir," katanya menggodaku sambil mengedipkan mata.
__ADS_1
Bukannya tergerak, aku malah menaikkan alis dan tersenyum miris.
"Jadi tiga tahun ini, aku hanya dianggap selir?"
Sekak mat. Dia tidak bisa menjawab.
"Maaf."
Ck. Hatiku malah makin sakit mendengarnya.
"Jadi, itu benar."
Untuk menghilangkan sesak dan canggung, lebih baik aku pergi mencari makanan healing terbaik. Ice cream.
Menyendok langsung dari tempatnya secara besar- besaran.
Tiba- tiba ada mencolek bahuku.
Aku melotot.
Walau berpakaian belum sepanjang orang- orang sholihah, aku bukan wanita yang bisa dicolek- colek!
"Maaf," ucap si pencolek sambil mengangkat tangannya.
Bahasa Adak. Apakah dia orang Adaka?
"Boleh minta vanila dan melon? Saya menunggu di pojok ruang."
"Hei! Aku—"
Ish! Bukannya mendengarkanku, dia malah melenggang pergi.
"Kanjeng Nyonya, hamba yang akan melayani tuan tamu," tutur pelayan.
Aku mengangkat tangan. Menyuruh mereka mengerjakan hal lainnya.
Membawa nampan yang berisi dua mangkuk. Punyaku dan punyanya.
Mungkin dengannya aku bisa berkenalan dan menambah teman baru.
"Apa!?" Suaraku dan suara seorang perempuan melengking bersama.
Rupanya pria itu bersama seorang wanita cantik!
"Mana mungkin!? Dia memakai tudung di kepalanya!" Wanita cantik itu menudingku dengan jari telunjuknya.
"Kamu mempertanyakanku?" kata si pria dengan sombong.
Sepertinya aku harus kabur dari mereka.
Tapi wanita itu sudah kadung berdiri dan berlalu di depanku.
"Awas kamu!"
Dia pergi tanpa menoleh.
"Silakan duduk, Nona. Maaf membawamu dalam masalahku. Katakan saja di mana rumahmu. Aku akan bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab apa?"
Aku duduk di depannya. Sudah dimusuhi wanita itu, lebih baik aku mencari tahu.
"Wanita itu bukan wanita biasa. Dia bangsawan yang bisa mengerahkan segalanya."
"Sekampung denganmu?"
"Ya. Hanya saja bibinya berkeluarga dengan penguasa sini."
Mm. Pantas dia percaya diri. Dia punya kuasa di dua daerah.
Kupancing terus dia supaya bercerita, agar aku tahu duduk masalahnya dan menghindari masalah untuk diri sendiri.
Ternyata mereka dijodohkan, tapi pria ini tidak suka dengan si perempuan karena tabiatnya yang tak baik pada ibunya yang hanya seorang rakyat jelata.
Neneknya mengabaikan itu, karena memang kasta tinggi tidak pantas untuk rakyat jelata.
__ADS_1
Menarik juga. Ibunya sama sepertiku.
Untungnya ibu mertua tidak demikian.
Yah, tapi si Nenenda yang ribet seperti neneknya.
"Katakan di mana tempat tinggalmu biar aku bisa bertanggung jawab!"
"Nggak usah. Aku bisa melindungi diri sendiri."
Aku berlalu pergi setelah meninggalkan tip untuk pelayan.
Pria itu mengikutiku, namun mendadak kebingungan di tengah jalan.
Dia benar- benar turis asing.
"Pasti bangsawan yang manja," komentarku terkekeh.
Karena tidak melihat jalanan di depan, aku menabrak sebuah dinding.
Eh bukan. Aku ternyata menabrak Mas Indra.
"Siapa yang manja?!" katanya dengan intonasi rendah yang menyeramkan.
Aku menelan udara dengan kesusahan. Saat ini, aku seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh saja.
Tapi tidak!! Aku dan dia tidak ada hubungan apa pun.
Kuberlalu tanpa menjawabnya.
Membasuh seluruh tubuh sebelum bermain dengan Aden.
Mata Mas Indra terus mengawasiku. Dia menelisik bagian punggungku yang basah.
"Kamu keramas?"
Aku memutar bola mata jengah.
Sudah tahu rambutku basah, masih saja tanya.
"Sugiwa, jawab aku! Siapa pria itu? Dia mengatakan kamu kekasihnya!"
"Sudah sih, Mas. Kita jangan saling lewatin border kita. Kamu dan aku sudah tidak punya hubungan. Dan jangan mendesis di depan Aden!"
Mas Indra melunak saat kusinggung Aden.
Kami bermain bersama hingga putraku tertidur di pangkuanku.
Kumainkan pipi gembilnya dengan gemas.
Bagaimana dahulu aku hendak membenci bayi lucu ini?
Malam harinya kami turun ke bawah. Mencari penyegaran untuk Aden. Di tengah jalan kami papasan dengan Mbak Aini dan suaminya.
Kami hanya saling melempar senyum karena terlalu jauh untuk saling menyapa.
Dari ruang privat resto tujuan kami, muncul sosok yang menghantui pikiranku, setelah siang tadi cucu kesayangannya tidak terpilih dalam pemilihan yang aku adakan.
Nenenda mendekati kami. Dia tersenyum ramah.
"Ayo, sayang. Kami sudah menunggu."
Sepertinya Mbak Aini habis bertemu bandot tua ini. Apa dia turut merendahkan Mbak Aini yang hanya seorang rakyat jelata sepertiku? Atau justru menjilat pada negeri besar itu?
Wajah ramah Nenenda hilang seketika pintu ruang privat tertutup.
Dia merah padam. Bagai banteng hendak mengadu tanduknya.
"Bagaimana bisa kamu begitu kejam? Membully Faridah sampai masuk ke rumah sakit? Dan Indra! Disiplinkan istrimu! Begini istri yang kamu pilih?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1