(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
009


__ADS_3

"Pulanglah, Giwa. Aden demam.."


"Aden demam? Bagaimana bisa? Ada bakteri yang lolos? Bagaimana bisa begitu, Mas!?"


Tanpa sadar aku meninggikan suara. Entahlah. Meski aku sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan Aden di rumahnya, aku tetap khawatir.


Apa ini yang dinamakan naluri ibu?


"Aku kecelakaan bersama Aden. Dia sudah melewati masa kritis tapi sekarang demamnya tinggi."


"Bagaimana mungkin?!"


Aku langsung mematikan sambungan telepon dari Mas Indra. Menyambungkan telepon lain ke nomor Ratih.


Tidak diangkat.


Tak kehabisan akal, aku menelepon bawahanku yang lain. Jawaban yang meluncur keluar dari mulutnya membuat lututku lemas.


"Benar Aden kecelakaan!?" tanyaku tanpa basa -basi.


"Iya benar, Nyonya. Tuan Muda bersama Ratih disupiri Kanjeng Pangeran. Ratih masih tidak sadarkan diri, sementara Tuan Muda masih dirawat.."


Aku menjatuhkan ponsel di tangan kala mendengar penjelasan bawahanku yang menjelaskan tanpa perlu diperintahkan.


Bergegas aku ke dapur. Mencengkeram kuat kerah baju Kusuma. Lauk yang sedang dipegang Kusuma berjatuhan.


Tak kupedulikan meski minyak menciprat ke seluruh pakaian.


"Aduh! Kanjeng Nyonya kenapa?"


"Tumpah semua ini."


"Tinggal terakhir loh."


"Kotak lain jadi kena kan."


"Sabar dong, jangan asal nyo sor."


Gigiku bergemelatuk. Aku terlalu marah untuk bersuara. Kusuma terus saja membualkan kalimat- kalimat dari mulut busuknya.


Masih kunetralkan irama jantungku, yang serasa akan meledak.


Kusuma akhirnya berhenti berceloteh kala melihat raut wajahku.


Suasana mendadak hening.


Wati yang sepertinya tahu situasi memanas, bersegera membawa pergi kotak makanan yang telah siap.


Aku masih membisu. Tanganku masih mencengkeram kerah leher Kusuma.


Sulit mulutku untuk bertutur.


Tiba- tiba air mata luruh dari mataku yang telah memerah.


"Kamu apakan anakku?" tanyaku pada akhirnya.


Kusuma sejenak berpikir. Lantas air mukanya berubah. Nampaknya dia baru mendapatkan ilham dari perkataanku.


"Dia bersama Indra?" lirih Kusuma hampir tak bersuara.


"Bagaimana bisa kamu tak tahu!?"


"Aku hanya menyabotase remnya! Lagian kulihat dia bolak -balik sendirian. Mencarimu. Demi Tuhan, Nyonyaku. Andai Anda bawa Tuan Muda ke sini, akan kuperlakukan seperti anakku. Aku .. aku ., a-aku tidak ada niat menyakiti bayi itu."


"Bohong!" sentakku kemudian menamparnya.


Anak laki- laki adalah kebanggaan bagi banyak orang serta ancaman bagi pihak di seberangnya.

__ADS_1


Widjianto termasuk keluarga yang hendak menyingkirkanku.


Dalam hal ini, bagaimana bisa aku percaya.


Kutinggalkan Kusuma yang jatuh karena tak siap menerima tamparanku.


Tanganku meraih kunci dan helm yang tergeletak di meja.


Baru tubuhku mendarat di jok motor, Kusuma menahan gerak stang motorku.


Aku menatap tajam wajahnya.


"Tenanglah. Kamu sedang emosi. Tidak baik berkendara sendiri. Aku antarkan."


"Heh. Kamu ingin memastikan anakku sudah mati atau belum!?"


"Demi Allah, Sugiwa. Aku tidak berniat mencelakai Aden!"


"Minggir!"


"Lihat matamu, Susu! Matamu berbahaya!"


Spontan aku mengusap kasar mataku. Memang sejak tadi mataku berembun. Berjalan saja tidak dapat lurus. Sesekali hampir mentok ke tembok.


"Aku antar."


Kubiarkan Kusuma membawa sepeda motor. Sudah kucoba untuk memesan transportasi online, namun tanganku sangat termor. Tidak dapat menyentuh dengan benar.


Terpaksa aku memeluk tubuh yang baunya mirip dengan mantan suamiku, speedometer telah menunjuk ke angka seratus lima puluh.


Hanya satu jam kami telah sampai di tempat yang ramai oleh pengunjung.


Keraton lawas paling luar yang diperuntukkan untuk pengunjung.


Langkahku terus terayun. Dapat kurasakan banyak pasang mata memandangku bingung dan ada pula beberapa pengunjung memperingatiku, untuk jangan masuk ke dalam pintu berwarna hijau.


Aku menyentak kesal tanganku yang ditahan pengunjung.


Pintu ini memang terlarang. Orang ndalem pun tidak seharusnya masuk di waktu pengunjung berdatangan.


Tapi melewati pintu samping lebih memakan waktu. Di sana harus melewati berbagai prosedur.


Sekalipun mungkin aku masih dapat lolos dari prosedur, jalannya berliku.


Pintu hijau di depanku adalah jalan pintas yang jarang digunakan, kecuali masa upacara ataupun di luar jam kerja keraton lawas.


"Apa punggawa di sini memakan gaji buta!?" bentakku.


Kulihat sekeliling tidak ada punggawa, pemandu pun hanya orang- orang luar yang bukan jebolan akademik keraton.


Jam bebas?


Sial.


Akan banyak wartawan dadakan bila terus terjadi keributan. Kulihat mereka bahkan sudah siap dengan ponsel- ponsel mereka.


Kunci pintu hijau tidak kumiliki, sudah kukembalikan kepada pemiliknya. Biasanya ada seorang punggawa berdiri di depan pintu.


"Mohon jangan buat keributan!" ucap Kusuma yang baru datang.


Aku memang meninggalkannya di parkiran kala baru saja sampai di pintu gerbang. Dia pasti kesulitan mencari cela parkir di hari yang ramai ini. Makanya, baru sampai ketika keributan sudah terjadi.


"Wanita ini mas yang buat masalah. Bukan teman saya. Dia mau masuk- masuk ke dalam keraton. Sok banget."


"Lebih baik Anda diam! Dan jangan ada satu pun yang menyebarkan apa yang terjadi!"


Kusuma memberikan peringatan pada semua orang.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu pintu hijau terbuka lebar. Suara berisik di sini pasti terdengar, pintu itu adalah pintu model zaman dahulu. Tidak berganti kendatipun sebagian bangunan di luarnya telah dipugar.


Seorang punggawa keluar dari dalam pintu itu. Dia tampak tersentak kaget.


"Mari masuk, Kanjeng Ayu. Mohon maaf hamba terlambat."


Aku mengangguk singkat dan pergi mengikutinya.


Kusuma tidak mengikuti kami. Mungkin masih menangani video di ponsel orang- orang.


Lima orang punggawa melewati kami sembari memberi salam.


Mereka pasti hendak membantu Kusuma.


Kuedarkan pandangan di bangunan yang pernah kutempati. Jantungku berdetak kala runguku mendengar suara monitor yang khas.


"Sudah datang?" sambut Mas Indra.


Aku mengangguk singkat. Mas Indra mengarahkan jalan untukku. Suara monitor itu tak terdengar lagi.


Bayi kecilku tergolek lemah. Aku membasuh tangan dengan hati- hati, sebelum mendekati bayi yang terlelap lemah di tengah ranjang.


Panas sekali. Mas Indra tidak berbohong.


Tak dapat kubayangkan apa yang telah terjadi padanya.


Aden jarang sekali sakit.


"Bagaimana bisa begini, Mas!?"


"Aden kehujanan di luar. Aden dan Ratih meloncat keluar saat mobil yang aku kendarai tidak dapat dihentikan. Mobilku menabrak pembatas jalan. Hampir saja aku meledak bersamanya jika tidak ada warga yang sigap menolong. Padahal hari sudah tengah malam."


Aku merutuki rencana gila Kusuma. Kukira Kusuma hanya menyuruh sekumpulan orang untuk menahan Mas Indra dan memberinya luka sedikit.


Ternyata senekat itu!


Sampai remnya blong dan menabrak pembatas jalan, yang menyebabkan penghuni mobil hampir meledak bersamaan dengan mobil itu.


Aku harus benar- benar mengawasinya. Nyawa Mas Indra harus tetap bertahan, dengan posisi dan kekuasaan Mas Indra, hidup Aden akan terjamin dan aman selayaknya wanita yang dicintai pria itu.


Aku tidak pernah melihat bekas luka pada tubuhnya.


Mas Indra pasti menjaganya dengan sangat baik.


Berbeda dengan tubuhku yang dipenuhi goresan oleh para penculik dan tukang makar.


"Aku mencarimu."


"Aku mencarimu ke seluruh kota."


"Hingga kamu datang ke rumah sakit, aku mencarimu ke sana."


"Bukankah kamu senang sekali berada di rumah sakit?"


"Hampir setiap bulan kamu menginap di sana."


Aku tersenyum miring melihat tatapan terluka pria itu.


"Tentu saja aku terus berada di rumah sakit. Bukankah itu tugasku untuk tinggal di rumah sakit, menggantikan ga.dis.mu yang cantik?"


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


Hola kakak bunda, maaf baru update. Author baru mendingan nih. Qadarullah kemarin- kemarin abis jatuh mencium aspal. Do'akan author supaya cepat pulih ya!

__ADS_1


Terima kasih banyak sudah membaca sampai bab ini.


__ADS_2