(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
038


__ADS_3

Menjadi istri pangeran tidak melulu harus mengerjakan tugas- tugas memusingkan, bila ia dari rakyat jelata sepertiku.


Selama ini tugasku hanya membantu mantan mertua di belakang layar.


Mengatur hal- hal yang sebenarnya penting, tapi tidak harus dilakukan keluarga.


Mengawasi jalannya masak- memasak di dapur.


Kalaulah di tempat lain, biasanya ini dilaksanakan oleh seorang selir.


Memastikan keamanan sampai ke dalam perut tuan dan nyonyanya.


Itulah kenapa aku tidak punya teman yang sesungguhnya di dalam lingkar atas daerah sini.


Jika kalian menebak ada kejadian aneh yang terjadi, maka aku katakan salah.


Sekarang saja ibuku sedang bermain di aula belakang bersama Aden.


Beliau enggan memasuki lagi rumah yang pernah kutinggali.


Selain rumah utama, tempat tinggal Sultan.


Rumah ini adalah titik pusat paling ramai.


Nenenda bahkan menginap di sini. Mengawasi kami.


Apa dia sumber gelisahku?


Tiada salah.


Tapi wanita itu tidak akan melakukan apa pun selagi aku dibutuhkan.


Wajahnya tergantung kehadiranku.


Sebuah pilihan buruk ketika aku memutuskan menuruti mereka untuk tidak memberitakan tentang masalah perceraian.


Tapi aku hanya perlu bersabar.


Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi.


"Kanjeng Nyonya, Anda di sini? Tidak sekalian makan siang?"


"Tidak. Sedang puasa," jawabku sekenanya.


Bagaimana bisa puasa? Aku saja sedang haid.


Pertanyaan di atas bagi rakyat mungkin bisa dibilang basa basi.


Sedangkan dalam lingkup ini ada banyak makna.


Secara sederhana berarti, "Kamu ga diajak ya? Haha."


Rasa ingin menamparnya begitu tinggi. Dia tersenyum ramah, berbicara lembut, tapi jangan ditanya perihal maksudnya.


Entah kebetulan atau bukan, Mas Indra berjalan ke tempat kami bersama para pelayan yang memegang nampan- nampan berisi makanan.


Dia menyuruh mereka untuk meletakkannya ke atas lantai.


Duduk lesehan untuk makan bersama.


Mas Indra bahkan menyisihkan cabai yang tak kusuka.


Membawa daging yang bersih dari cabai untuk letak di piringku.


"Terima kasih, sayang," kataku menggoda makhluk di sana.


Dari sudut mata, kulihat gerembolan perempuan, yang katanya tersasar di aula belakang ini, sebagiannya terdengar menghentakkan kaki. Pergi keluar.


Kasihan pelayan mereka. Menanggung malu karena alasan tak masuk akal.


Plang nama terpasang sebesar kepala. Plang larangan berderet bagai lukisan.


Dan mereka bilang tak tahu?


Katakan padaku jika kucing dapat bertelur!

__ADS_1


"Kalau masih cinta, kenapa melepaskan?"


Ibuku bersuara. Tatapan matanya lurus pada Mas Indra.


Aku bergerak salah tingkah saat ibu menatapku.


"Salahku, Bu. Memberi masalah pada anak ibu."


"Kamu selingkuh?"


Mas Indra lamat menatapku. Lantas menunduk di hadapan ibu.


Dia bercerita tentang semuanya.


Wajah ibu merah padam sejak mendengar cerita dari mulut Mas Indra.


Beliau tidak mengatakan apa pun.


Tapi pasti sangat kecewa.


Menantunya yang hormat padanya, yang selalu terlihat mesra bersama putrinya, ternyata begitu kejam bersama wanita lain.


Meski Mas Indra berkata hanya pada tahun pertama masih berhubungan dengan kekasihnya, dia juga mengakui terus gelisah hati pada bulan- bulan setelah melepaskan wanitanya.


Mengabaikan seseorang yang sedang mengandung anaknya.


Sebelum memasuki pintu hotel, kulihat Kusuma berdiri menunggu. Kubiarkan ibu masuk terlebih dahulu.


Kusuma menyuruhku mengikutinya dengan menggerakkan kepala.


Kami minum kopi sebentar. Tanpa mengeluarkan kata.


"Kamu tidak mau menarik delik aduanmu?"


Aku menggeleng dengan tegas.


"Aku minta maaf atasnya. Dia hanya anak polos. Yang selalu mengikuti sekitarnya, dengan gerak yang tidak dapat mengelabui."


"Itu bukan polos. Dia hanya bodoh."


"Tidak. Perbuatannya bisa membuat nyawa banyak orang mati sia- sia. Sebuah bangunan rusak. Dan bisa jadi sebuah kaum tertuduh atas lakunya. Kamu tahu kan, bom adalah hal sensitif."


"Itulah polosnya Kamala. Menggoda pria seolah sedang menggoda anak- anak. Menggunakan benda mencolok demi mencapai ambisinya. Dia tidak berpikir dampak ke depannya," kata Kusuma mengiyakan alasanku.


"Dia sudah berusia dua puluh tahun dan tidak dapat berpikir dampak ke depannya?"


Aku tersenyum miring.


"Lalu? Dia akan menjadi ibu negara ini? Jika kelak ada yang melirik Tuannya, kurasa dia akan mencerabut seluruh keluarganya."


Kusuma tidak membantah.


Pasti seperti kataku, sikap dan pemikiran adik 'polos'nya.


"Kusuma, bagaimana kalau aku jadi dia? Mencabut nyawa semua orang yang melirik Mas Indra? Kamu akan berdiri di sampingku, seperti saat kamu berdiri di samping adikmu?"


"Kalau kamu mau membebaskan Kamala."


"Ha!" Aku menyentak napas.


Tersenyum mencemooh pada Kusuma.


"Kamu tidak mengerti? Yang bodoh itu kamu!"


Aku tidak mau melanjutkan percakapan ini.


Tidakkah dia paham, bila aku berlaku seperti adiknya, dia dan keluarganya akan turut serta aku hancurkan?


Tapi aku tidak mau demikian. Bila lah seseorang hendak menggoda suamiku, biarkan saja.


Lihat bagaimana suami bertindak. Setia kah dia?


Baru setelah suami bertindak, entah membuka kan pintu bagi orang ketiga ataupun menutup pintu. Aku tinggal melabrak mereka.


Karena bagi seorang yang setia, tidak akan tergoda.

__ADS_1


Dan bila seseorang suka berselingkuh, akan tidak dapat dipertahankan walaupun mengikatnya dengan sebuah mata- mata.


Kalaupun orang dapat berubah, aku tidak mau menunggu peselingkuh berubah menjadi seorang yang setia.


Waktunya terlampau lama.


Mungkin saat dia jatuh sakit, mungkin saat dia jatuh miskin, mungkin saat dia sudah masuk ke dalam liang lahat.


Yang sehat, yang kaya, yang berkuasa, adakah yang mampu berubah dari peselingkuh menjadi seorang yang setia?


"Tunggu!" seru Kusuma menahan langkahku.


Kutajamkan telinga tanpa berbalik. Kusuma mengerti. Dia melanjutkan bicaranya tanpa menungguku menatapnya.


"Aku tahu siapa dalangnya."


"Katakan."


"Lepaskan dulu adikku."


Aku tersenyum miring, lagi. Kutatap rendah dirinya. Mengintimidasinya.


"Kamu pikir, aku tidak tahu siapa dalangnya?"


"Kamu tahu dan tetap memenjarakan adikku?" katanya dengan kaget.


"Rasanya, ada dalang ataupun tidak, tindakan adikmu sudah di luar batas. Kusuma, berpikir bijak lah. Jangan hanya karena dia adikmu, kamu menutup mata."


"Aku lakukan apa pun supaya adikku bebas."


"Bagaimana kalau suruh adikmu merangkak di hari jadi nanti?"


Aku berkata asal. Mana bisa mereka menurunkan harga diri?


Kujejaki lantai marmer satu persatu diiringi banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.


Angin semilir tidak dapat kunikmati.


Ada hati yang harus terus waspada.


Hotel yang ramai. Serasa seperti pasar.


Apa begini hotel dengan kualitas terbaik di ibu kota?


Hatiku cenat- cenut saat melihat segerombolan pria berseragam keluar dari lift.


Di lantai kamar kami, sebuah garis larangan melintas melintang di lorong masuk.


"Nak, adik dan ayahmu... adikmu.. ayahmu.."


Ibu menyusulku dengan tangis di wajahnya.


Mengguncang lenganku dengan kasar.


Seorang wanita berseragam datang menenangkan ibu.


"Ada apa ini, Bu?" tanyaku pada wanita yang masih tampak cantik itu.


"Dua pria dewasa ditemukan tak bernyawa oleh ibu Anda. Kami sedang mengolah tempat kejadian perkara. Silakan ajak ibunya untuk menenangkan diri."


"Tidak! Tolong ambil lagi barang- barang kalian! Sebagai keluarga mereka, aku menarik aduan. Biarkan semua kami yang mengurusnya!"


"Nak..?"


Ibu menatapku dengan sorot bertanya diiringi kecewa, yang mungkin masih tidak percaya dengan ucapanku.


Aku tidak akan tergugah.


Hal ini, bukan sesuatu yang akan diselesaikan polisi.


Dua pengawal terbaikku menjaga dari dekat dan ada seseorang yang lolos?


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2