
Double up hari ini? Ditunggu 250 vote nya. 🤗
Happy readings!
.
.
"Kanjeng, apakah tidak lebih dahulu mencari tahu jati diri Nona Gendhis? Kita harus berhati- hati."
"Kamu menyelidikinya?"
"Hamba tidak berani."
"Kalau begitu selidiki dan laporkan padaku."
Percakapanku dan Fadlan sudah berlalu empat bulan lamanya.
Terlalu sibuk mengurus penggusuran di pinggiran wilayah, sejenak melupakan perbincangan kami.
Penghuni desa pinggiran itu sangat alot untuk diajak bekerja sama.
Mereka berpikir sedang dirampas hak tanah milik mereka.
"Hah! Sejak kapan tanah negara bisa dimiliki banyak orang?" jengkelku.
Tanah adalah kemutlakan milik Sultan.
Tentu saja dengan tanggung jawab besar di dalamnya.
Rakyat baru boleh memberontak bila Sultan tidak memberikan hak tinggal dan hak bekerja di tanah tempat mereka.
Selayaknya salah mendiang Sultan di Kesultanan sebelah.
Memberikan sawah dan kebun untuk dikelola orang yang berdatangan dari Dinasti Yuan.
Digantikan kain dan permata yang bergengsi.
Sungguh bodoh.
"Mereka kembali tinggal di rumah mereka?" tanyaku melihat laporan pegawai desa setempat.
"Ya, Kanjeng. Mereka masih sama. Takut tanah keluarganya diambil negara," jawab Fadlan.
"Kalau begitu sewa preman setempat. Katakan pada mereka, dosa- dosa mereka akan diampuni bila membantu pemerintah menertibkan warga," titahku.
Akhirnya hari berdarah itu datang.
Ya. Sebagian warga yang ngeyel bentrok dengan preman yang kusewa, dipukul dan diseret untuk keluar dari lokasi proyek.
Empat bulan sudah mereka diajak bekerja sama tapi tak mau mengikuti.
Kesabaranku mungkin seluas itu, tapi tidak dengan waktuku.
Masih banyak masalah yang harus diselesaikan aku dan timku.
Bukan hanya membuatkan mereka rumah yang sehat.
"Gila kalian ya! Gitu caranya Sultan mengayomi? Masa warga sendiri dipukul!?"
"Jangan ikut campur, Nona. Atau Anda mau kami seret juga?" ucap salah satu pria berbadan besar.
Melawan ia, pemilik mata hitam yang indah itu.
Ya. Dia cucu Mbah Gedhe.
Kudengar dia hanyalah wanita lemah yang malu- malu bila diajak berkumpul.
Ternyata dia bisa mengaum juga.
"Nyonya-"
"Nyonya matamu. Aku sudah setua itu kah?"
"Emmm. Nona.. setiap orang sudah diberikan proposal pembangunan dan diperbolehkan memilih tipe rumah yang diinginkan. Tapi sebagian warga memilih tinggal dan membuat proyek sulit berjalan. Mereka adalah orang- orang yang tinggal di depan gang. Sedangkan bagian gang lain, ujungnya adalah tanggul sungai. Sisi kanan dan kiri ditembok besar yang kokoh. Sayang sekali jika harus menghancurkan tembok- tembok ini."
Fadlan menjelaskan panjang lebar.
Wanita itu seketika terdiam.
Dia berbisik- bisik dengan kawannya dan langsung menyingkir.
Wajah galaknya masih saja dia pasang.
Sungguh, sangat lucu.
"Tuan, apa sudah bisa dimulai?" tanya Fadlan.
Sengaja dia memanggil berbeda, agar identitasku tetap tersembunyi.
Kuangguk singkat dan pergi dari sana.
Akhirnya masalah itu selesai.
__ADS_1
Pembangunan dapat berjalan dengan lancar.
Dan pemilik mata indah itu tidak lagi muncul.
Malu kah ia?
"Kangmas, kenapa senyum- senyum sendiri?" tegur Gendhis.
Benarkah aku senyum- senyum sendiri?
Kuraba wajah ini dan ternyata benar segaris melengkung terbentuk pada bibir ini.
"Kangmas hanya senang proyek di pinggir wilayah sudah selesai."
"Wah yang berbula itu?"
"Iya," jawabku disertai anggukan.
"Pasti pusing.." ucapnya penuh perhatian.
Gendhis memijat kepala ini dengan telaten.
Dia selalu saja dapat membuat nyaman.
Apalagi bibir merah merona itu.
Bagaikan candu.
Dan yah, lagi- lagi entah siapa yang memulai.
Aku kah yang sedang mendongak ini ataukah dia yang sedang merunduk.
Kami saling menyesap.
Ada yang sesak di bawah sini.
Tapi, aku menahan diri.
Kujauhkan wajah. Menarik lembut Gendhis agar duduk di sampingku.
Kuberi dia kue yang dipenuhi selai cokelat.
Agar bibir merah meronanya tertutupi cokelat.
Sial. Kenapa jilatannya pada cokelat yang menempel di ujung bibir, sangat menggoda?
Jakun ini naik turun, meraup udara yang seketika berkurang drastis.
Gendhis seketika bermuram durja.
Dia selalu murung kala menyangkut kedua orang tuanya.
"Mereka menjualku, Kangmas. Apa masih perlu izin? Kalau saja ga ada Kangmas. Entah gimana aku di tangan pria tua itu."
Wanitaku menangis kencang.
Sesakit itu kah kisah hidupnya?
Baru aku tahu ada manusia kejam berjuluk orang tua.
Nenenda yang tegas saja tidak pernah berlaku keterlaluan.
"Jangan menangis, sayang. Baiklah. Nanti aku usahakan untuk mendapat pernyataan walimu digantikan wali hakim," janjiku.
"Apakah bisa? Bukankah surat pernyataan juga harus memiliki enam saksi yang terpercaya? Mereka adalah orang- orang sibuk."
Aku mengulas senyum.
Lihatlah wanitaku yang polos ini. Tidak tahu jika prianya bukan orang sembarangan.
Memang enam saksi yang ditunjuk negara di tiap daerah, untuk bergantian menyaksikan kejadian- kejadian penting, kadang sulit dijumpai karena masih banyak hal penting lain dibanding pernikahan tanpa wali.
Kalaupun boleh memakai surat pernyataan pemindahan kuasa wali pada wali hakim, wali yang bersangkutan harus tetap datang menyaksikan.
Sedang wanitaku ini tidak mau berjumpa dengan orang tuanya.
"Sayang, kamu tenang saja."
Tidak perlu waktu dua puluh empat jam, Fadlan sudah menyelesaikan surat pernyataan kuasa wali hakim dan tiga saksi dari kampung halaman wanitaku.
"Anda yakin mau menikahi Nona Gendhis?" kata Fadlan seperti hendak menyampaikan berita.
Teringat titahku padanya untuk menyelidiki latar belakang Gendhis.
"Baik. Tunjukan beritanya."
Sudah kuperintahkan begitu, Fadlan malah terlihat ragu.
Aku menjadi gemas dengannya.
"Kanjeng Pangeran ... bagaimana kalau di istana? Hamba tidak membawa berkasnya ke sini," katanya beralasan.
"Kamu tidak memasukkan informasi itu ke dalam tabletmu?" Aku merasa aneh.
__ADS_1
Tablet di tangannya bagai jiwa dan nyawanya.
Segala tugasnya berada di situ.
Apa informasi Gendhis tidak sepenting itu?
"Maaf..." lirihnya menunduk.
"Baik. Setelah ini. Kamu pulang saja dan siapkan semua informasinya. Jangan kecewakan aku."
"Siap, Kanjeng."
Tugas. Tugas. Dan tugas.
Kulirik tumpukan kertas di sekitar.
Mereka semua harus selesai kuperiksa hari ini.
Nanti kalau sudah menikah, pasti menyenangkan.
Ada istri yang akan menunggu dan berbagi penat yang memusingkan ini.
Lalu akan hadir anak- anak lucu yang berlarian menyambutku.
"Jadi tak sabar," gumamku.
Apa kupercepat saja?
Akad dulu barulah saat resepsi aku memberi tahu Kanjeng Ibu.
Tapi pasti Kanjeng Ibu akan mengamuk.
Aku bersiul - siul senang sepanjang perjalanan.
Sup racun yang disediakan Nenenda bahkan rasanya sangat manis.
"Anda berbeda, Paduka," ucap dayang senior.
Aku membalasnya dengan senyuman.
Sholat dan duduk bersantai di belakang istana.
Padang rumput yang luas adalah pemandangan yang kunikmati
Mungkin nanti Gendhis akan menanam bunga sebagaimana kebanyakan wanita lakukan.
Dan akan kubangun tempat permainan anak- anak supaya anakku kelak tidak kesepian sepertiku.
Tiap keturunan pertama, apalagi seorang pria. Mereka dilarang keluar sampai pada usia baligh.
Anak- anak bangsawan lainnya tidak akan betah bila hanya minum dan makan dengan formal.
Bila nanti banyak mainan di istana ini, anak- anak yang polos itu pasti turut kerasan di dalam sini dan menemani anakku sehingga dia tidak akan kesepian.
"Kanjeng Pangeran!"
Suara Fadlan menyentak khayalku.
"Biasa aja dong," sahutku mengusap daun telinga yang terasa berdengung.
"Anda sudah hamba panggil berulang kali," gerutunya.
"Ada apa?"
"Ini. Laporan tentang Nona Gendhis."
Fadlan menyerahkan sebuah map yang tebal isinya.
Membuka isinya.
Mata ini berulang kali membaca kata demi kata yang tak dapat kupercayai.
"Berapa persen keasliannya?" kataku tanpa melepas pandangan dari bait -bait kata yang menyentak kewarasan jiwa.
"Seratus persen, Kanjeng."
Map tebal itu dipenuhi oleh data pria.
Pria- pria yang telah menghabiskan malam dengan Gendhisku.
Gendhis sudah belasan tahun menjadi wanita malam?
Bukankah dia bercerita baru saja dipaksa untuk melayani De' Epu demi melunasi hutang kedua orang tuanya?
Kenapa menjadi belasan tahun, sejak dia baru saja mendapatkan haidnya?
Ah, bagaimana mungkin?
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1