(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
017


__ADS_3

"Dek, bukannya itu suamimu?"


Aku menatap horor Mbak Aini yang sudah berdiri di sisiku.


Ternyata beliau sudah menyelesaikan kegiatannya.


Tadi Mbak Aini sedang serius mencoba gamelan wilayah kami yang lumayan berbeda dengan gamelan wilayahnya.


Aku pun berniat menyiapkan hidangan malam untuknya.


Ternyata menemukan dua sosok, yang kupikir salah satunya tidak akan pernah kujumpai lagi —menilik perkataan Mas Indra yang sudah mengusirnya pergi.


Namun di sinilah aku. Melihat keduanya, lantas dipergoki Mbak Aini.


Wajah calon ibu negara negeri sebelah, merah membara.


Mbak Aini tampak sangat marah.


"Berani- beraninya pria itu berduaan dengan wanita lain, sementara anaknya sedang sakit! Apa dia tidak punya otak!?"


Waw, baru kali ini aku mendengar Mbak Aini mengumpat.


Rupanya wanita lembut itu bisa marah.


Aku diam tidak menanggapi umpatan Mbak Aini. Bingung, haruskah bersikap marah karena melihat suami berduaan ataukah harus sedih karena suami terlihat berpaling?


Aku merasa tidak pantas untuk dua hal itu.


Karena sejak awal Mas Indra sudah mendeklarasikan diri untuk tidak berharap lebih.


Meski akhirnya pria itu menyentuhku dengan dalih memberikan nafkah bathin, agar tidak menjadi suami yang durhaka.


Kuingat hari itu.


Tujuh hari setelah kami resmi menjadi suami istri, dia mendatangiku dengan wajah yang teduh.


Kami baru saja selesai menyambut kedatangan ustadz kondang. Beliau menjelaskan makna pemimpin dalam negara dan rumah tangga.


Untuk kali pertama Mas Indra datang tanpa tatapan merendahkan.


Dia bahkan duduk di sampingku. Memegang tanganku.


"Kamu dengar sendiri yang disampaikan ustadz ... dua anak manusia yang menikah, akadnya mengguncang arsy Yang Kuasa. Ikatan ini bukan main- main. Tidak boleh kita permainkan dengan yang namanya kontrak."


Aku tertegun mendengar ucapan Mas Indra. Setahuku juga begitu. Haram namanya pernikahan kontrak.


Jika pernikahan kontrak dibenarkan, lantas mengapa para ulama melaknat nikah mut'ah kaum syi'ah?


"Kamu mau 'kan memenuhi ibadah wajib kita yang satu ini? Sudah sepekan kita menunda kewajiban kita."


Tatapan matanya yang memuja, membuatku tak kuasa untuk menyerahkan diri.


Aku mengangguk atas ajakannya.


"Segarkan badanmu. Lalu kita sholat dua raka'at. Sunnah yang juga kita lupakan."


Aku melakoni segala yang dia perintahkan. Mandi dengan banyak wewangian, berwudhu dan sholat dua raka'at di belakangnya.


Malu- malu aku mengenakan pakaian tipis pemberian ibu mertua.


Ketika Mas Indra sampai di dalam kamar, bergegas aku memakai kembali mukenah yang sebelumnya telah kugantung di belakang pintu.

__ADS_1


Kami melakukan sholat dua raka'at di ruang tamu. Kamarku terlalu sempit untuk melakukan sholat jama'ah.


Sejenak tadi Mas Indra dipanggil ayah, mereka berbincang sebentar lalu terdengar deru motor milik ayah pergi menjauh. Orang rumah semuanya pergi.


Meninggalkan kami hanya berduaan saja.


"Kamu siap?" tanya Mas Indra.


Tatapan matanya menilai. Matanya bagai berkata, "Apa kau yakin mengenakan mukenah untuk memulai ritual malam pertama?"


"Matikan lampunya, Mas."


Mas Indra pun mematikan lampunya. Gelap langsung menyapa. Namun terdapat cahaya remang dari atap rumah yang dibiarkan terbuka.


Rumah tipe lawas yang masih mengandalkan cahaya bulan di malam hari.


Aku biasa tidur ditemani cahaya rembulan. Tidak pernah menutup genting yang terbuka di atas sana.


Aku menarik leher mukenahku. Membukanya ragu ketika lubang wajah telah menjauh.


Lalu kurasakan mukenah itu menjauh dari tubuhku.


Mas Indra membuangnya dengan asal.


Mataku langsung bertabrakan dengan dada kokoh yang tel anjang.


Rupanya bukan hanya aku yang menanggalkan pakaian.


Kala mendongak, kulihat sebuah kelereng yang terbalut kain dan daging, naik turun tidak beraturan.


Di bawah sinar rembulan, kulihat mata Mas Indra membara.


Akhirnya, malam yang seharusnya hadir tujuh hari lalu ... terjadi malam ini.


Mungkin karena Mas Indra sudah menyelesaikan bab pernikahan, penyatuan kami tidak terasa sakit.


Dia berperangai bagai menggenggam sekuntum bunga.


Begitu hati- hati.


Geraknya lembut dan manis.


Suasananya terasa sangat syahdu.


Mungkin karena iman kami sedang tinggi, setelah mendengar nasihat- nasihat agama oleh ustadz kondang undangan ayah mertua.


Pun hati kami sedang dilanda bahagia, setelah berbagi ke sekitar. Para tetangga dan orang- orang kurang mampu, undangan ibu mertua.


Malam menjelang pagi itu akan berkesan di hati, jika saja Mas Indra tidak membuka mulutnya —sebelum melangkah ke luar untuk menemui para tamu.


"Selalu ada hak dan kewajiban di dalam tiap- tiap ikatan. Walau pernikahan kita berakhir di kemudian hari, sekarang kita sah sebagai suami istri. Kamu penuhi kewajibanmu, maka aku akan selalu memenuhi kewajibanku. Jadilah istri yang patuh!"


Sedih hatiku mendengar perkataannya. Dia masih saja membahas akhir pernikahan setelah kegiatan manis kami semalam.


Tapi hal mengejutkan selanjutnya terjadi.


Saat keluar dari kamar, kulihat Mas Indra sarapan bersama keluargaku. Duduk mengemper beralaskan tikar.


Menikmati hidangan sarapan pagi yang sederhana.


Wajahnya tidak tampak keengganan. Bahkan beberapa kali menyendok ulang masakan ibu, tanpa rasa malu.

__ADS_1


Ketika dibungkuskan makanan pun, di rumahnya Mas Indra menghabiskan semua hidangan seorang diri.


Mas Indra menyukai masakan ibu.


"Kemarilah.."


Mas Indra menyuruhku duduk ketika aku kebingungan dengan luasnya kamar.


Kamar milik Mas Indra seluas seluruh bagian rumah. Membuatku merasa kecil. Takut sikap kampunganku merusak material indah yang memenuhi kamar.


Mas Indra sama sekali tidak memedulikan semua itu. Dia meraih tanganku. Menyuruhku duduk di sisi ranjang.


"Kamu penuhi kewajibanmu. Jadilah istri yang kuat. Jangan lemah. Kamu istriku. Tidak boleh lemah. Segala sesuatu harus kamu hadapi dengan membusungkan dada. Ingat, tidak perlu takut!"


"Iya, Mas."


"Besok, aturlah rumah sesuka hatimu. Ingat, hanya mengatur. Tidak perlu masak, tidak perlu beberes. Kamu hanya menyuruh para bawahan. Jangan ragu tiap kali kamu butuh sesuatu."


Aku mengangguk dengan patuh. Meski ragu, karena selama ini aku tidak pernah menyuruh- nyuruh orang.


Siklus hidupku hanya di sekitaran rumah.


Mana ada orang yang bisa kusuruh- suruh. Aku biasa melakukan semuanya seorang diri.


Agak ragu dapat memerintah orang demi kepentingan pribadi.


Tapi tentu aku tidak bisa membalas ucapan suamiku. Aku hanya dapat mengangguk tiap kali mendengar ceramahnya untuk mulai bekerja seperti seorang nyonya.


Keesokan harinya Mas Indra pergi pagi- pagi buta. Aku bangun ba'da subuh. Hampir telat untuk menunaikan sholat subuh.


Ketika air menyala, yang keluar adalah air yang sangat panas. Kulitku memerah karena menggunakan air panas sebagai air wudhu.


Tidak sempat berpindah ke kamar lain untuk mencari pancuran air yang normal.


Takut waktu subuh semakin berlalu.


Beruntung panasnya tidak meninggalkan luka.


Aku bergegas mencari embun es di dalam kulkas untuk menenangkan kulitku.


Saat berbalik, aku baru menyadari begitu banyak orang di sana.


Mereka berdiri bagai patung porselen.


Sungguh cantik bagai lukisan. Tubuh mereka tegap, tampaknya tidak akan terbang meski terkena badai.


Teringat perkataan Mas Indra untukku mengatur rumah.


Apa mereka sedari tadi berdiri untuk mendengar perintah?


Ragu aku memikirkan harus berbuat apa. Karena untuk makanan sudah tersedia. Aku dapat mencium aromanya.


Lantai di sepanjang pijakan kakiku, bersih tanpa cela.


Aku harus memerintahkan apa lagi?


Suasana ini sangat mencekam. Mereka hanya diam menunduk tanpa berkata- kata.


Aku jadi sangsi, mereka patung atau manusia?


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2