
"Kedatangan saya adalah berniat melamar putri bapak, Sugiwa."
Fadlan yang sedang menikmati hidangan, tersedak air yang diminumnya.
Orang yang kuajak bicara, menatap bingung putrinya, Sugiwa, gadis yang kulamar.
Sebelumnya, tak sampai setengah jam, Fadlan mampu merangkum kisah hidup Sugiwa.
Aku memutuskan dia sangat cocok untuk menjadi istri pangeran.
Walau belum terbentuk sempurna untuk tampil mendampingi di acara- acara besar, dia punya dasar yang kukuh.
Dia tidak akan tergoda oleh apa pun usai dirinya meyakini sesuatu.
Niat awal mengunjungi guruku, malah berubah jadi sesi lamaran.
"Beliau adalah Kanjeng Pangeran Anunga..."
Fadlan mengambil alih sesi perkenalan.
Sepasang ayah dan anak itu mendengarkan Fadlan dengan saksama.
Aku mangut- mangut mendengar Fadlan menyebutkan berbagai kelebihanku sebagai suami.
Pintar sekali dia menilai.
"...beliau murid Mbah Gedhe."
Fadlan menyudahi penjelasannya.
"Di mana Mbah Gedhe?" tanyaku kemudian.
Biasanya beliau duduk bersantai di teras rumah.
Dulu aku masih bisa mengawasi rumah ini, karena belum dibangun sekitarnya.
Sekarang sisi kanan dan kiri sudah sangat padat.
Membuat gerah kalau berlama- lama duduk di sini.
Tapi tak apa. Wanita ini, dia pantas diperjuangkan.
Mbah Gedhe selalu menceritakan betapa pintar cucu perempuannya ini.
Kuingat juga dia pernah dibawa dalam rapat penting dan tiba- tiba mengemukakan pendapat yang disetujui semua orang.
Padahal saat itu aku yang berusia lebih tua darinya, tidak mengerti pembicaraan orang dewasa.
"Mbah Gedhe sudah mangkat sepuluh tahun lalu," jawab Sugiwa dengan nada rendah.
Tidak akan terdengar bila kami berbincang.
"Innalillahi... aku tidak tahu..."
"Emm. Pesan Mbah tidak mau diberitakan kematiannya, kecuali pada tetangga sekitar," jelas Sugiwa.
Aku mengangguk paham. Kadang mata- mata akan mendedikasikan hidupnya sampai akhir.
Pria yang masa mudanya menghabiskan waktu lebih banyak di medan perang itu, awalnya menolak untuk kembali berkecimpung dalam dunia atas.
Tidak aneh bila beliau menyembunyikan identitasnya sampai akhir.
"Bagaimana dengan lamaranku? Apa kamu mau menjadi istriku? Menjadi calon ibu negara di sampingku?" tanyaku menegaskan.
"Saya belum mengenal Anda.. pernikahan bukan ajang uji coba. Saya mau menikah satu kali seumur hidup. Ada beberapa hal yang tidak bisa dibeli oleh harta dan kuasa," kata Sugiwa menolakku halus.
"Baik. Kita akan saling mengenal selama tiga bulan ke depan. Bagaimana, Pak?" tanyaku pada ayahnya Sugiwa.
"Yang memutuskan adalah Sugiwa. Asal kalian tidak melewati batas," ucapnya mengizinkan.
"Saya setuju. Dengan syarat Anda tidak boleh protes dengan jawaban saya dan kita berteman baik, bagaimana?" tawar Sugiwa.
Heh. Rupanya pandai sekali menawar wanita ini.
Dia juga sepertinya hendak menolak dengan halus.
Aku menarik sudut bibir.
Menarik.
Wanita yang menarik.
"Baik. Aku terima apa pun keputusanmu."
__ADS_1
Lamaran yang setengah gagal itu menjadi penghujung pembicaraan serius kami.
Mereka mengajak makan dan sholat di masjid terdekat.
Sepanjang perjalanan, banyak yang menyapa ayah Sugiwa.
Dari yang kudengar, beliau pernah menjadi guru namun keluar karena peraturan negara yang mengharuskan guru melanjutkan sekolah, beliau tak punya waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan.
"Kalau Bapak mau, bisa meneruskan pendidikan di negeri kami. Kami tidak membatasi usia pelajar," usulku.
"Tidak usah. Bapak sudah senang menjadi petani saja. Sore masih bisa mengajar ngaji," jawabnya.
"Resmi?"
"Hanya sukarela bersama anak muda lainnya."
Hmmm. Ternyata di zaman ini masih ada orang yang tidak mau digaji.
Pengalaman yang luar biasa.
Ternyata di desa yang sesak ini, banyak kisah menarik.
"Tuan, bagaimana dengan Nona Gendhis?" tanya Fadlan.
Pria ini sepertinya gencar sekali menyuruh aku berpisah dengan Gendhis.
Bertanya terus.
Seolah aku memiliki jawaban lain.
Kusenderkan punggung ke kursi kayu.
"Emmhh.."
Nikmat sekali punggung ini bersandar pada kayu yang keras.
Meninggalkan Gendhis? Entahlah.
Ada yang berat di dalam sini.
Tapi bagaimanapun, benar. Dia tidak pantas jadi istri pangeran.
"Tidak perlu bertanya. Gendhis adalah gadisku. Jangan terus ingatkan masa lalunya. Karena aku sendiri yang memutuskan untuk menerimanya ..." ucapku menggantung.
"... kamu tidak bisa lihat binar matanya? Sangat polos. Kamu membaca kisah hidupnya, tapi tidak dengan hatinya. Entah mengapa, kuyakin dia juga tak mau menjalani hidupnya yang kelam. Dan ucapannya tidak salah sepenuhnya bukan? Dia benar- benar dijual orang tuanya ... sejak kecil."
Aku tidak bisa membayangkan betapa kelamnya hidup Gendhis.
Dia telah mengulurkan tangan padaku. Dan selama ini tidak menunjukkan sifat nekatnya.
Bisa jadi dia hendak berubah kan?
Dan aku dapat menolongnya.
Lalu mengapa aku tidak membantunya?
"Lalu Nona Sugiwa???"
"Dia kuat. Dia bisa mengatasi masalah dengan baik. Cocok jadi Istri Pangeran."
Aku yakin itu.
"Tapi Tuan, Nona Sugiwa dibesarkan dalam keluarga sederhana. Dia tidak paham makna poligami. Pun pasti sensitif bila sekali saja Anda ketahuan punya wanita lain..." kata Fadlan memberikan opini.
"Siapa yang mau poligami? Itu memberatkan hidup," ketusku.
Jangan ditanya berapa kali aku menghadapi kitab yang menyangkut tentang poligami.
Hari- hari saat mendekati baligh. Selalu membahas itu- itu saja.
Apa isinya tentang janji surga untuk istri yang ikhlas menjalani?
Iya.
Tapi tidak hanya itu.
Nyatanya tanggung jawab bagi laki- laki yang berpoligami, lebih mengerikan dibanding menyongsong musuh di medan perang.
Kalau di dalam kabut yang pekat, tidak sengaja membunuh kawan seiman, maka dapat menggantinya dengan diyat.
Tapi kalau tak dapat memberikan keadilan pada ratu- ratu di atas bahtera yang samar benarnya, siapa yang dapat menyelamatkan diri ini?
Hanya mereka yang telah lulus standar keimanan lah yang pantas.
__ADS_1
Aku belum sesholeh itu.
"Maka kenapa Tuan melamar Nona Sugiwa?!!" teriak Fadlan.
Emosi sekali kawanku ini.
Kutepuk bahunya agar dia tersadar.
Wajah merah itu berpaling.
Kuberikan dia segelas air.
"Guru tidak mau menerima gaji dari Romo. Anggap saja aku memberikan melalui cucunya."
Seketika Fadlan yang telah tenang, menukikan alisnya.
"Maksudnya membalas budi?" selidik Fadlan.
"Anggap begitu. Lagi pula sebagai Pangeran aku butuh wanita yang pantas."
"Anda sadar kalau Nona Gendhis tak pantas. Tapi masih saja berhubungan," cibir Fadlan.
"Ini tentang hati.." balasku.
Kuhembuskan napas.
Terbayang lagi wajah jelita Gendhis.
Wajah yang selalu tersipu ketika melihatku datang.
Binar mata yang polos, bagai kucing yang minta dilindungi.
"Kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah jatuh cinta.." imbuhku.
"Kata siapa saya tidak pernah jatuh cinta?!"
Haih. Pria kaku itu ternyata bisa jatuh cinta juga.
Fadlan menghilang di balik pintu setelah mengutarakan protesnya.
Kutatap bintang di langit.
Nasihat Fadlan tidak salah.
Aku hanya kalah oleh hatiku.
Gendhis...
Sugiwa...
Keduanya punya karakter berbeda.
Bila Sugiwa malu- malu pada semua pria yang ditemuinya, Gendhis berani menatap pria selainku.
Membuatku merasa spesial.
Dia tertunduk malu hanya di hadapanku.
Tak berselang lama Fadlan keluar mengenakan baju koko dan sarung.
Dia mengeluarkan sepeda yang sejak kemarin menjadi pajangan.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Masjid," balasnya pendek.
"Tapi, masjid cuma lima langkah."
Kutunjuk masjid yang megah di depan dengan mataku.
Fadlan melirik masjid itu kemudian melirikku.
"Masjid yang lain. Mau ngalap berkah."
Aku mengernyit heran.
Pernyataan yang aneh.
Ngapain ngalap berkah jauh- jauh kalau ada masjid di depan mata?
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran