(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
028


__ADS_3

Panggilan itu mati dan menampilkan sederet nomor yang sangat kuhafal.


"Ponsel Mas Indra?" tebakku.


Mbak Aini mengangguk singkat.


Wajahnya sangat serius, mengutak atik layar komputernya sekali lagi.


Ya ampun. Aku sekarang memahami apa yang sedang Mbak Aini lakukan.


Mbak Aini sedang meretas sederet alat elektronik dari jarak jauh!


Tak lama, pintu yang kami tempati terbuka.


Seorang ajudan perempuan masuk memberikan ponselku.


Benar saja, sesuai gambaran di laptop Mbak Aini, Mas Indra sedang meneleponku.


Gegas kuangkat karena kulihat tadi Aden sedang menangis kencang.


["Kanjeng Nyonya, Pangeran Aden merindukanmu. Coba nyanyikan lagu pengantar tidur. Siapa tahu dia nyenyak lagi."]


Kudekatkan lubang mic pada mulut. Bersenandung dengan acak, yang kiranya lembut di dengar pada telinga bayi.


Tidak ada kata- kata. Hanya suara mulut yang mengalun dari tenggorokanku.


Setelah memastikan Aden tidur nyenyak, aku matikan ponsel. Tak peduli gombalan Mas Indra.


Mendekat pada Mbak Aini yang masih sibuk dengan layar hitam putihnya.


"Aku tidak tahu Mbak Aini sangat mahir dalam hal ini. Kukira cuma pandai berkebun," selorohku sambil terkekeh.


"Kamu juga bisa kok kalo belajar."


Mbak Aini berucap tanpa memalingkan wajahnya. Rupanya begini saat serius dan fokus pada targetnya.


Menunggu satu jam dengan terkantuk- kantuk, aku kaget dengan suara seruakan Mbak Aini.


"INI DIA!"


"Ada apa, Mbak?"


"Identitas kang sniper di gedung z. Dia anak buah Widjianto. Kamu kenal kan keluarga itu?"


"Widjianto?"


"Ya"


Mbak Aini menjawab masih dengan wajah seriusnya.


"Lihat saja rekam jejaknya dan latar belakangnya. Dia dididik oleh Epung Widjianto."


Haaaa.


Membuatku pusing saja.


Aku menampung pria dewasa Widjianto di rumah dan pengawalnya mengincar keluargaku pakai senapan terbaru?


Jika saja boleh memilih, ingin sekali aku kabur ke luar negeri.


Tapi, jika aku pergi dan orang di sini bersekongkol lebih dalam lagi, akan sulit untuk mendapatkan hak bagi Aden.


Aku sudah berpayah- payah tiga tahun ini, setiap saat nyawaku hampir saja melayang, aku tidak akan biarkan hak Aden jatuh ke tangan orang lain.


Tak peduli meski orang menyebutkan haus dan ambisi!


"Apa mereka pelakunya?"

__ADS_1


"Tidak bisa asal menuduh. Zaman sekarang tidak ada kesetiaan buta seperti zaman dahulu. Sebaiknya cari tahu dulu."


"Ajari aku, mbak. Cara meretas seperti Mbak."


"Nanti. Kita harus cari tahu sebaik mungkin dari sumber daya yang ada. Kamu punya anak buah di sisi orang tuamu kan? Usut mereka."


"Usut?" tanyaku heran.


"Kita tidak akan pernah tahu yang mana musuh kita yang mana kawan kita. Bahkan kawan bisa jadi lawan asal ada ini."


Mbak Aini menggerakkan dua jari seirama.


Simbol cuan yang melegenda.


Tapi, apa iya?


Dengan besaran gaji pejabat berserta pesangonnya, anak buahku berkhianat hanya karena cuan?


Aku bahkan merelakan keuntungan sebagian besar mahar dan hadiahku, untuk menggaji mereka.


Demi keamanan si kecil, Raden Sri Sugih Adenu.


"Aku tidak akan mengampuni mereka, Mbak. Bahkan jika tangan yang bersih ini, tumpah dengan darah."


"Akan lebih cepat jika kamu mengutarakan hal ini pada suamimu."


"Rasanya kalau CCTV saja bisa Mbak retas, tak mungkin Mbak tak tahu yang terjadi antara aku dan suamiku," kataku ketus.


Mbak Aini masih saja berpura- pura tak tahu, masih berpikir aku dan pria itu masih dalam keadaan baik.


"Ilmuku ini bukan untuk mengintai hidup seseorang. Hanya saja tak sengaja saat akan lepas landas kemarin, pulpenku terjatuh di halaman bandara dan mendengar namamu disebut- sebut."


"Terima kasih, Mbak."


Aku sangat terharu mendengar Mbak Aini begitu perhatian.


Mbak Aini mengulas senyum. Sebelum menjawab dia memberikan gambar dua orang pemuda tampan dengan gaya kuno dan warna gambar hitam putih yang khas.


Foto zaman dahulu.


"ini kakekku. Ini kakekmu."


"Maksud Mbak??"


"Coba tebak.." goda Mbak Aini saat melihat wajah bingungku.


Aku menekan- nekan isi kepalaku. Membongkarnya, mencoba mencari maksud Mbak Aini.


Lantas aku sampai pada satu kesimpulan.


Gambar kuno tentang dua orang pemuda yang merupakan kakekku dan kakeknya.


Kuperhatikan gambar itu.


Mirip dengan wajah pamanku, yang katanya bagai pinang dibelah dua dengan kakek tercinta.


"Kakek Mbak mata- mata juga?"


"Tepat sekali. Memang cerdas adekku ini."


Aku tersipu mendengarnya.


"Walau aku dari tempat lain yang tidak ada hubungan dengan Kesultanan seperti daerah ini dan daerah Mas Amir, ternyata kakekku adalah mata- mata Kesultanan yang mati terpenggal."


Aku menatap sendu Mbak Aini. Pasti sedih hatinya.


"Tidak usah berwajah muram! Kakekku mati syahid. Kenapa aku harus bersedih?"

__ADS_1


"Iya, ya. Beruntung sekali kakek Mbak."


"Emm."


"Lalu Mbak Aini tahu dari mana?"


"Sebenarnya nenek sudah tahu dari dulu jika kakek mata- mata. Tepatnya sebelum kakek ditangkap. Saat itu kondisinya sudah gawat. Tapi beliau memutuskan untuk menyembunyikan identitas kakek."


Aku mengangguk paham. Tentu saja karena identitas itu berbahaya.


"Aku pun tahunya dari kakek tetangga. Beliau yang sudah pikun akhirnya bercerita. Walau banyak yang tak percaya, karena emm apa ya, beliau hidupnya kurang makmur dan saat itu sudah sering merancau tak jelas.'


Tentu saja pasti tidak banyak orang percaya dengan orang tua yang sudah pikun.


"Mbak juga awalnya mendengar hanya sebagai bentuk kesopanan. Tapi lama- lama saat menatap matanya, beliau tidak seperti orang ling lung saat bercerita tentang perjuangannya."


"Kadang ingatan paling penting, tidak akan terlupa meski yang lainnya dilupakan," cetusku.


"Ya. Apa kamu tahu yang sering beliau katakan saat bercerita?"


"Apa tuh mbak?"


"Beliau bercerita jika dirinya, kakekku, dan kakekmu, selalu berharap anak keturunan mereka terus bersatu dan saling melindungi satu sama lain. Dekat tanpa sekat. Menolong tanpa pamrih. Menjadi saudara walau tak sekandung."


Dekat tanpa sekat.


Menolong tanpa pamrih.


Menjadi saudara walau tak sekandung.


Aku meneteskan air mata ketika mengulang kalimat itu dalam benakku.


Benar. Itu kalimat yang sama dengan yang kakekku ucapkan kala di ujung senja hendak menidurkan aku yang terkantuk- kantuk.


Dalam lagam yang melodinya sehalus kapas.


Menguasai udara dengan cepat kala disemburkan oleh angin yang kencang.


"Mbah..." lirihku menahan tangis.


Kadang, rindu pada yang telah tiada lebih berat dibanding terbentang oleh jarak ratusan kilometer.


Kadang juga rindu pada yang tiada begitu mudah didekap.


Pinta pada Ilahi untuk dipertemukan dalam mimpi.


Alam yang segalanya menjadi satu.


Jiwa yang hidup, jiwa yang mati, pun jiwa -jiwa dari makhluk tak kasat mata.


Dapat berjumpa tanpa sekat.


Mengurai rindu di dalam kalbu.


Bercerita panjang lebar.


Tak jarang meminta pertolongan, dari mereka yang mendapat siksa pada mereka yang masih hidup.


"Kirim Al- Fatihah untuk Mbahmu. Insya Allah di alam kubur, beliau lapang dan mendapat nikmat."


"Aamiin."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2