
"Tuan! Cepat bangun! Bukannya Anda mau kenalan dengan Nona Sugiwa!? Hari sudah terik. Sore kita harus pulang ke ibu kota."
Aku bangun dengan malas setelah pagi tadi tertidur lagi.
Menguap dan merenggangkan badan.
Bunyi tulang bergesekan terdengar.
Tubuh terasa lebih baik.
Kulirik ke depan pintu, Fadlan sudah siap.
Tapi...
"Kamu harum sekali. Emang sekarang hari Jum'at?" sarkasku usai menghidu aroma harum yang sangat pekat.
Tidak membuat gatal hidung. Pokoknya sangat harum, meski dia sekarang sudah berdiri di depan pintu.
Jarang sekali anak itu memakai wewangian.
Kecuali saat Jum'at telah datang.
"Em. Tuan harus bersiap. Kalau sudah siap, juga wangi."
Aku menaikkan alis kananku.
Sejak kapan Fadlan senang beralasan?
Aku kembali menilai.
Fadlan bahkan sudah siap dengan tas di gendongannya.
"Fadlan.. entah kenapa rasanya kamu lebih bersemangat dariku? Sudah siap semua. Pakaian ini ... bahkan kamu baru membelinya kan? Pakaian khas negri sebelah," komentarku. Menatap penuh selidik.
Padahal, saat aku bertemu Gendhis dia hanya mengingatkan dengan bermalas- malasan.
Sekarang, entah jam berapa dia beli pakaian ini.
Sebenarnya tak perlu pula memakai baju khas negeri seberang.
"Tuan, Anda mau bertemu calon istri. Tentu harus rapi supaya berkesan. Baju khas juga akan menambah meyakinkan Nona bahwa Anda serius bersamanya," balasnya dengan meyakinkan.
"Emm.."
Benar juga. Kalau aku memakai baju khas sana, perempuan itu akan terkesan denganku.
"Cepat, Tuan!"
Dengan paksaan, aku mandi dan bersiap.
Baju dengan benang yang licin, langsung jatuh ke bawah saat aku melepasnya dari genggaman.
Padahal mata ini masih mengantuk, Fadlan sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk sarapan.
Dia tidak menyuruh pelayan, yang entah ke mana. Langsung melayani mempersiapkan piringku.
"Kamu benar- benar terlihat bersemangat," ucapku.
"Terima kasih, Tuan."
Aku mendengus.
Sedang disindir malah berterima kasih.
Setelah mengisi perut, aku bersantai sejenak.
Beberapa menit kemudian, pelayan rumah ini muncul dengan membawa bingkisan.
Aroma wangi masakan tradisional negeriku tercium harum.
"Untuk buah tangan," ucap Fadlan sebelum ditanya.
Aku tidak jadi bertanya. Membiarkan dia membawa bingkisan itu.
Berjalan mendahului ke dalam mobil.
__ADS_1
Aku dan Fadlan sampai di rumah Sugiwa ketika ia sedang bersantai meminum teh.
Dia tidak repot- repot menurunkan kakinya, yang nangkring di atas kursi, saat kami sudah berada tepat di depannya.
"Minum?" tawar Sugiwa menunjuk sisi kursi yang kosong.
"Tidak usah gugup, Nona. Tuan saya tidak akan memakan Nona," lirih Fadlan masih tertangkap indra pendengarku.
Kutatap mereka bergantian.
Seperti paham saja Fadlan ini.
Memangnya Sugiwa tidak menurunkan kakinya karena gugup atau karena malas?
Sugiwa dan Fadlan masih saling menatap.
Lantas perempuan itu menurunkan pandangannya seraya menurunkan kakinya.
Meracik teh dan memberikannya pada kami.
Tanpa kata dia masuk ke dalam rumah.
Lantas keluar bersama adik laki- lakinya, yang bernama Damara.
"Ehm.. jadi Nona, apa Nona memiliki harapan untuk menikah di usia baru beranjak dua puluh tahun ini?" ucap Fadlan setelah berbasa- basi menanyakan kabar keluarga Sugiwa.
"... kalau jodoh saya sudah datang. Saya tidak masalah," jawab Sugiwa.
"Kalau diboyong jauh ke negeri suami, bagaimana?" Lagi. Fadlan bertanya.
"Tentu saya harus mengikuti suami.." Sugiwa membalas tanpa menatap sang penanya.
Terus saja menunduk.
"Meninggalkan kampung halaman?" tanya Fadlan lagi.
"Ya," jawab Sugiwa.
Kenapa jadi Fadlan yang melakukan sesi tanya jawab?
Aku akhirnya hanya diam mendengarkan mereka.
Memang bawahan yang pengertian.
Setelah bertanya- tanya, kami pergi menuju masjid.
Ayahnya Sugiwa ternyata berada di sini.
Mengajar kitab kuning pada sekumpulan bapak- bapak dan ibu- ibu.
"Wah Nak Fadlan belum pulang, katanya hari ini mau kembali ke negri sebelah?" ucap seseibu.
Kulirik Fadlan dengan tatapan bertanya.
Dia malah berbincang dengan ibu- ibu.
Sampai akhirnya kami melaksanakan sholat dan kembali ke rumah Sugiwa untuk mengambil barang- barang Fadlan yang dititipkan.
Pria, yang juga pernah jadi murid Mbah Gedhe, begitu percaya dengan keluarga Sugiwa.
Menitipkan barang- barang pribadinya, kala Sugiwa menyuruh Fadlan untuk tidak repot- repot membawa tas besarnya.
"Kalian mau pulang atau menunggu petang?" tanya ayah Sugiwa.
"Petang ini, Pak," jawab Fadlan.
"Ya sudah. Kalau begitu Nak ..."
"Emm.." Fadlan berkata ragu. Tampaknya segan untuk menyebut nama asliku.
Kuulas senyum ramah pada calon ayah mertua.
"Panggil saja Indra. Tak apa, Pak. Tidak usah segan begitu.."
"Emmm. Nak Indra ayo ikut bapak untuk melihat yang putri bapak lakukan. Bapak jamin dia tidak tahu. Dan dia tidak akan merangkai sikap. Nak Indra bisa lihat sikap aslinya dan menentukan ingin lanjut perkenalan ini ataukah menyudahi.." jelas ayah Sugiwa.
__ADS_1
Aku menyetujui.
Kami pergi ke pinggir sawah.
Terlihat dari kejauhan, Sugiwa sedang membawa rantang.
Dia mendekati ibunya dan beberapa orang.
Duduk meleseh dengan makanan di tengah tikar.
Angin semilir berhembus. Rupanya dia berbagi makanan yang dibawa Fadlan bersama tetangga- tetangganya.
Dia banyak tersenyum...
Ketika senja beranjak. Aku dan Fadlan pamit pada ayah Sugiwa.
Menaiki mobil. Menatap perkampungan yang padat.
Sugiwa belum kembali. Tadi kulihat dia sedang menggiring kerbau.
"Wanita yang kuat," gumamku.
Kusandarkan tubuh pada kursi mobil yang empuk, setelah hampir sepekan duduk pada kursi yang keras.
Dering ponsel memekakan telinga kala kunyalakan ponsel pribadi.
Sengaja tak kuaktifkan tiap kali ke luar kota untuk menyelesaikan misi.
Kembali ke rumah setelah memastikan bahan- bahan bangunan seluruhnya sudah datang dan segala alat berat tidak bermasalah.
Nama Gendhis terpampang di layar kala dering ponsel kembali terdengar.
Kugulir layar menjawab panggilannya.
Ah. Baru ingat. Aku tidak punya nomor Sugiwa.
["Halo, Kangmas! Maaf ganggu, ya?"] kata Gendhis dari seberang sana.
"Tidak. Kenapa?"
["Emm. Gendhis rindu.. Kangmas, apa bisa mampir?"]
"Aku masih di luar kota, Sayang.."
Kulirik ke spion depan.
Entah kenapa aku merasa Fadlan mencibirku padahal dia sedang sibuk menyetir mobil.
["Maaf kalau masih sibuk. Gendhis bisa nunggu lagi, kok. Maaf yaaa kalau Gendhis tidak memahami Kangmas. Hanya saja Gendhis kangeeeen... Mau ketemu..."]
Kalau wanita ini sudah berkata sendu begitu, bagaimana aku tidak bisa menjumpainya?
"Tenang. Sepulang dari luar kota, Kangmas akan mampir," janjiku.
["Terima kasih, Kangmas. Love, you. Hehe.."]
Aku tersenyum kecil. Membayangkan gadisku itu tersenyum malu- malu dengan wajah memerah.
Penat raga ini melintasi jalanan sepuluh jam lamanya, terbalas oleh senyum merekah bagai bunga milik kekasihku.
Saat aku datang, dia menunggu di sofa. Kepalanya yang terkantuk- kantuk membuatku terharu.
Dia pasti menunggu sejak aku berjanji datang padanya.
Satu buket mawar mampu menumbuhkan senyumnya.
Dia berhambur memelukku erat.
Amat senang dengan sebuket bunga.
Sungguh wanita yang sederhana.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
Author tunggu sampai 250 vote, ga usah banyak- banyak..