(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
005


__ADS_3

Kami menuju kamar kedua, kamar kosong yang kujadikan sebagai kamar tamu. Dengan gerak lambat, Faris membuka pintu.


Kami dibuat tercengang dengan isian di dalam kamar.


Darah berceceran di atas sprei putih. Orang itu tergeletak tak berdaya di atas kasur. Kepalanya bahkan mengeluarkan darah.


Tanpa suara dia menggumamkan kata tolong.


Semua orang menatapku.


Dengan rasa kemanusiaan, aku mengangguk.


Faris segera menelepon bidan kenalannya.


Dokter? Hanya ada di puskesmas dan rumah sakit umum daerah di desa yang jauh.


Mereka sibuk.


Aku belum mendapat kenalan dokter di sekitar sini.


Biarkan Faris yang melakukan semuanya.


Demi kenyamanan, kusuruh dua teman Faris mengganti pakaian pria itu dan menyiapkan sofa di luar yang dapat menjadi kasur kecil.


Seprai yang penuh darah disimpan di pojok kamar. Tak dicuci sebagai pegangan.


Bidan datang tak lama kemudian. Aku menyerahkan orang itu pada para lelaki. Wati menemaniku melihat- lihat isian kamar.


Tidak mengubah bagian dalamnya, hanya melihat barangkali ada petunjuk.


Barang- barang ini ... bukan sembarang barang.


Baru kusadari bahkan kaos hitamnya yang penuh darah, harganya sangat mencekik jiwaku yang kecilnya hidup dalam keadaan pas- pasan.


Jam tangan, tas selempang, serta pistol keluaran terbaru, semua itu bukan punya pencuri.


Mungkin, pria itu bukan pencuri.


Akan kutanyakan bila dia sudah terbangun.


Aku tidak memedulikan kesibukan di sana. Mengajak Wati mangisi perut, lebih mengeyangkan.


Bukan maksud tak peduli, isi perut lebih penting. Aku dan Wati makan sampai kenyang. Lalu aku pun membungkuskan makanan untuk mereka, sekalian untuk si Item yang kulihat terlelap di teras tetangga.


Bocah itu memang tidak tahu takut.


Aku membiarkan pria asing itu mengisi energinya, sebelum aku interogasi sampai ke tulang belulang.


Sengaja barang pribadinya tak kusentuh dan kuperiksa, karena takut dia mati dan semua barangnya akan menjadi barang bukti.


Darah di atas seprai terlalu banyak bersimbah. Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak darah yang habis.


Dan dia masih selamat.


"Katanya tidak terlalu kritis, tapi harus dirawat, bu."


"Kita bahkan tidak tahu namanya. Kita tidak bisa sembarangan membantu orang. Ada orang- orang yang bahkan pantas untuk mati," kataku dengan dingin.


Pada para penculik itu, jangan dikata aku adalah orang yang sangat baik hati, melupakan segala 'kebaikan' mereka.

__ADS_1


Aku membenci mereka.


Sehingga jika memungkinkan, aku ingin sekali menghancurkan mereka untuk mendapat kedamaian.


Sayangnya, sindikat mereka telah mengakar di negeri ini.


Tentu saja, yang menyewa mereka bukan orang kaleng- kaleng.


"Jadi, siapa namamu? Jelaskan identitasmu! Kenapa ada di rumahku? Satu saja mengucapkan kebohongan, aku tidak akan membantumu. Biarkan saja kamu mati di jalanan."


Pria yang sudah memiliki kekuatan itu, terkekeh geli. Wajahnya yang pucat tersenyum lembut.


Aku seperti pernah melihatnya. Namun semuanya abu- abu.


Tiga tahun belakangan, aku sibuk dengan duniaku. Tidak terlalu memperhatikan sekitar, meski bercengkerama dengan banyak orang.


Teman kecil? Aku mengingat mereka.


"Saya Robert Widjianto. Asal Gunungan. Maaf sudah lancang. Saya masuk ke dalam rumah ini menghindari kejaran orang jahat. Saya lihat tidak ada orang di sini, saya pun menumpang."


Aku tidak langsung menyahuti. Mendengar suaranya sudah terisi energi, aku beranjak pergi. Melihat kartu identitas yang terselip di antara tas dan kasur.


Menghubungi seseorang. Sejurus kemudian sederet informasi terpampang di ponselku.


"Sepertinya aku tidak perlu mengantarmu ke dokter," ucapku dingin.


Memegang kartu tanda penduduk dengan bagian di samping nama tertulis nama, 'Kusuma Widjianto'.


"Robert adalah nama pemberian ibu saya. Bapak saya yang menuliskan nama Kusuma, Kanjeng Ibu nan Muda atau ... Raden Ayu?"


Kusuma Widjianto, putra ketujuh Mas Epung Widjianto, keluarga Yarto yang mulia. Salah satu keluarga besar di tempat suamiku.


Aku menumpuk tanganku di depan dada.


Widjianto. Mereka pernah mengirimkan penculik.


"Jadi, kamu ingin menculikku agar kakakmu menjadi istri dari Raden Sri Indraputra?"


Kudengar Kusuma adalah anak yang cerdas. Pasti sulit mengelabuinya. Lebih baik kubuang dia. Peduli amat dengan keselamatannya.


"Kenapa saya harus melakukan itu?"


Kusuma membalik perkataanku.


Aku semakin yakin dengan keputusanku.


"Kusuma Widjianto, putra dari pasangan Mas Epung Widjianto dan Dariyah. Ibumu istri muda?"


Aku tersenyum meremehkan. Tidak ada gelar dalam nama ibunya. Sudah dipastikan ibunya dari kalangan sepertiku. Rakyat jelata.


Biarlah pria itu marah dan pergi dengan sendirinya. Maka aku dan yang lain tak perlu repot- repot mengantarkannya.


Aku tidak mau lagi berhubungan dengan masa lalu.


"Ya. Ibu saya istri keempat ayah saya. Tepatnya mantan istri."


Oooh. Aku membulatkan mulut. Bukan terkejut atas jawabannya, melainkan wajahnya yang tenang dalam membalas perkataanku.


Yah. Perkataanku tidak terlalu nyelekit dan pria itu bukan pria bodoh yang emosional hanya karena membicarakan kenyataan, yang kurang menyenangkan.

__ADS_1


Selain istri pertama, istri lain akan dipandang sebelah mata oleh penduduk.


Kusuma sama sekali tidak tersinggung. Dia biasa saja karena itu merupakan fakta jika ibunya bukan istri pertama.


"Saya sudah menjawab semua pertaaan Anda, Kanjeng Nyonya. Berarti Anda akan membantu rakyat Anda yang lemah ini kan?"


"Aku tidak mempunyai rakyat."


"Kalau begitu, aku memohon sangat. Bahkan aku akan memberikan seribu rakyat khusus untukmu, bila kamu bersedia menyelamatkanku."


Aku berpikir sejenak.


Kondisi pria itu semakin menurun, seiring lamanya waktu yang kami buang. Aku melihat bibirnya memucat.


Mengesampingkan ego dan curigaku, aku dan yang lain membawa Faris ke rumah sakit umum daerah.


Sampai di sana Kusuma jatuh kritis.


Kata dokter beruntung tepat waktu. Bila tidak, pasien hanya tinggal nama.


Syukur dan sesal bercampur jadi satu.


Syukur karena pasien yang kubawa telah melewati masa kritis.


Sesal karena hampir saja aku menghilangkan nyawa seseorang, hanya karena traumaku.


Aku meletakkan barang- barang milik Kusuma di meja rawat.


Aku sudah mengantarnya, selanjutnya adalah hidupnya.


Dia bukan orang tak mampu yang membutuhkan sumbangan.


Kutinggalkan ia setelah resepsionis tahu siapa yang sedang mereka tangani.


Tuan muda mereka.


Terdengar suara bom atom yang menggelitik, ketika kami berjalan melewati hutan.


Aku dan kelompok Faris menoleh serempak ke arah lain. Agar Wati tak salah tingkah akibat perutnya sembarang mengeluarkan kata- kata.


Laper. Itu kondisi Wati sekarang.


"Aku laper. Di pintu masuk kulihat ada warung makan. Kita jalan kaki saja sekalian olahraga sehat- sehat."


Semua orang mengangguk setuju. Mereka tak pilah pilih masakan, asal ada logo halal pada kemasan dan toko yang terbuka.


Menjadi penjual makanan, berarti menjadi tanggung jawab untuknya atas segala kehalalan yang ada.


Langkah terus terayum melewati lorong- lorong yang membuat begidik ngeri.


Aku merasa diawasi.


Kutepis pikiran itu. Sebentar lagi kami akan sampai. Jika pun ada musuhnya, mereka tidak akan sembarang secara terang- terangan di tengah kumpulan warga sipil. Apalagi ini adalah rumah sakit.


Saat melewati lorong terakhir, sebuah lengan kerar berotot melingkar di perutku, tangannya yang bebas membekap mulutku.


Dia melepaskan tangannya, menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri, menyuruhku untuk tetap diam.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2