
Terkadang manusia itu lupa. Bahwa ilmu itu bisa terlupa.
Bacaan sholat yang diucapkan tiap hari saja kadang tidak pas.
Lazimnya, minimal setahun sekali, kita memperbaharui bacaan sholat pada kyai yang mumpuni.
Setua apa pun kita.
Jangan malu.
***
"Maaf, Pangeran. Meski tidak ada kewajiban buat dipisah sebelum menikah dalam agama kita. Tapi kita juga adalah manusia berbudaya. Mohon hormati keinginan kami untuk melakukan pingitan," ucap ayah Sugiwa tegas.
Ayah Sugiwa langsung menolakku untuk bertemu putrinya.
Dan anehnya aku manut saja!
Aku gugup padanya.
Kenapa harus gugup!?
Dia hanya seorang petani. Bukan seorang besar yang punya kekuasaan.
Tanpa membantah, kini aku kembali pulang ke negeriku.
Sama sekali tidak kulihat wajah Sugiwa.
Semua orang seolah menyembunyikannya.
Padahal pintu rumahnya terbuka lebar.
Banyak orang silih berganti masuk ke dalam rumah, juga kamarnya.
Apa dia tidak pengap berada di kamar sempit itu, dengan banyaknya orang?
"Kanjeng, apakah selanjutnya pergi ke villa?" tanya supir membuatku kembali fokus pada jalanan yang familiar.
Aku melempar pandangan ke luar jendela.
Rupanya kami telah sampai ke ibu kota.
Kugelengkan kepala. Menolak ajakannya untuk berjumpa Gendhis.
Entahlah. Kenapa rasanya tak bersemangat untuk melakukan apa pun.
Aku pulang ke rumah. Membersihkan diri dengan kilat. Lantas tertelungkup di atas ranjang.
Sepekan lagi..
Aku akan menikahi Sugiwa. Statusku akan berubah.
Menjadi seorang suami. Juga menjadi Pangeran Mahkota.
Kuraih ponsel yang berada di dekatku.
Memastikan harga yang dibayarkan untuk Sugiwa sangat pantas.
Nafkah lahir sudah pasti kupenuhi.
Lalu nafkah bathin..
Aku tidak mungkin menyentuh sosok yang tidak kucintai.
Apa yang harus kulakukan?
Sejenak berpikir tentang nafkah bathin.
Teringat kalau nafkah bathin bukan hanya perihal hubungan badan.
Kebahagiaan adalah yang utama.
Gendhis selalu senang saat diberikan materi. Juga Faridah, bangsawan wanita kesayangan Nenenda.
Setiap mengunjungi Nenenda, haruslah memberikan wanita kesayangannya itu sebuah hadiah.
Keduanya selalu tersenyum lebar dan memuji tiap kali kuberikan tas ataupun emas.
"Emmm. Hadiah.." gumamku.
Kalau tas dan emas, dia bisa membeli dari nafkah perbulan yang kupersiapkan.
Harusnya dia mendapatkan lebih.
Karena dia akan menjadi Istri Pangeran.
Di luar harta pribadi, Pangeran juga mendapat hak sebagai keluarga inti Sultan.
Tidak mungkin hanya memberinya tas dan emas.
__ADS_1
Kudial nomor Dedi Widjianto, putra sulung De' Epu, bawahanku yang mengepalai beberapa bisnis di bawahku.
Berbasa- basi sedikit menanyakan perkembangan bisnisku yang dipegangnya.
"Menurutmu, bisnis milikku yang mana yang menguntungkan tiga tahun lagi?" tanyaku langsung pada intinya.
"Kalau bisnis, sepertinya taman bermain sangat menjanjikan, Kanjeng. Tapi seperti kita tahu, dunia bisnis jaman sekarang bisa dimainkan siapa saja. Mungkin nanti muncul pesaing dari kalangan biasa yang saling berkolaborasi. Menjadikan dasar bisnis mereka lebih kuat karena saling melindungi. Kita tidak dapat memprediksi di era seperti ini. Semuanya adalah pemain," jelas Dedi panjang lebar.
"Baik. Baik. Ladangku bagaimana?"
Wanita itu dari kalangan biasa. Mana bisa dia mengurus bisnis yang rumit.
Kalau ladang, sepertinya dia bisa mengurusnya. Dia suka sekali berada di sawah.
"Hutan jati di dekat keraton milik Kanjeng. Genap dua puluh tahun pada tiga tahun mendatang. Ditanam saat Kanjeng baru saja menaiki kuda pertama Kanjeng," jawab Dedi.
Aku mengangguk- angguk meski lawan bicaraku tak melihat.
Baiklah. Hutan jati di dekat Keraton akan menjadi milik wanita itu.
Maka dia akan bersenang hati.
Dan aku pun tidak akan terbebani.
"Balik nama hutan jati itu menjadi nama Sugiwa," ucapku.
Di seberang sana mendadak hening.
Kulihat panggilan masih menyala.
Apa dia terlampau terkejut jadi tak mampu berkata?
"Tapi Paduka .... sembilan puluh sembilan hektare, Anda berikan secara percuma?"
"Aku tidak minta pendapatmu, Dedi."
"Maaf, Kanjeng. Hamba akan laksanakan."
Aku pun mematikan ponsel.
Karena ayah Sugiwa minta untuk melakukan pingitan.
Aku pun akan berdiam diri di kamar ini.
Menunggu hari pernikahan kami.
Aku ada kesibukan, sayang. Sabar, ya. Nanti kita ketemu saat aku sudah selesai.
Kutatap ponsel yang tidak kunjung mendapat balasan.
Beralih pada aplikasi pengintai yang terpasang pada seluruh asetku.
Kutekan nama villa tempat Gendhis menginap.
Memperhatikan dia yang ternyata sedang sibuk menjahit.
Selama aku perhatikan, Gendhis tak pernah neko- neko.
Kesehariannya pun amat sederhana.
Bangun pagi, memasak, dan merawat tanamannya. Kadang dia membaca buku dan menyibukkan diri dengan kegiatan positif.
Sesederhana itu kehidupannya.
Selama belasan tahun belakangan, pasti amat berat untuknya.
Ada rasa ingin melindungi dia yang lemah itu.
Apalagi tiap melihat wajah polosnya, kadang disertai mendung, bila berbincang tentang De' Epu.
Aku belum mengatakan apa pun perihal aku yang sudah tahu tentang semua jalan hidupnya.
Dia pasti minder bila aku tahu.
Dan entah sejak kapan, timbul rasa takut dalam diri ini, andai dia melakukan tindakan bunuh diri lagi.
Dengan rupanya yang manis, dia dapat memanjakan mata.
Sikap lembutnya menghidupkan rasa ingin melindungi.
Sudah cukup aku melihatnya.
Menutup aplikasi pengintai dan bersantai sejenak mencari berita terbaru tentang yang terjadi dalam negara.
"Berita pernikahanku semua," gumamku malas.
Semua orang penasaran dengan identitas calon pengantin wanita.
Sengaja tidak diekspos terlebih dahulu demi keamanan Sugiwa dan keluarganya.
__ADS_1
Lalu mengingat tentang kelas pra nikah yang dibicarakan Fadlan, aku lebih penasaran dengan kejutan -kejutan hidup yang terjadi pada sebuah pernikahan.
Aku mencarinya pada mesin pencarian.
Berderet curhatan -curhatan muncul pada layar ponselku.
Cinta itu buta. Salahkah aku mencintainya?
Aku menekan judul artikel itu, karena penggalan katanya mengusik batinku.
...wajah cantiknya, tubuh montoknya, hingga penampilan seronoknya terus menjajah pikiranku..
Katanya dia seorang mahasiswa psikolog yang jatuh cinta pada seorang pelacur.
Dia hidup di kalangan keluarga yang baik- baik. Yang tak pernah minum ataupun main wanita, meski keluarganya terbilang berada.
Tiba- tiba saja dia jatuh cinta pada wanita penjaja diri yang sedang diwawancarainya.
Mengajaknya makan, berjalan- jalan ke tempat favoritnya, dan memberikan banyak belanjaan tanpa disuruh oleh si wanita.
Bagai terhipnotis, pria itu terus mendekat.
Ditentang keluarga dan mendapat kecaman, dia tetap memperjuangkan si wanita malam.
Katanya, kalau dia boleh memilih. Dia juga tidak akan mau mencintai wanita yang telah disentuh banyak pria, sedang dia adalah pria suci yang dijaga keluarganya.
Yah. Bukan wanita saja yang bisa jatuh cinta pada pria bad boy.
Aku tercenung usai membaca kisahnya.
Kisah yang mirip...
Menengadahkan kepala ke langit. Membayangkan ekspresi Romo dan Ibu saat tahu yang sebenarnya bersemayam dalam hati ini.
Pelac*r itu bagai toilet umum...
Semuanya ditampung demi uang recehan, yang tak sebesar harga diri manusia..
Tapi, bukankah manusia itu tempatnya dosa!?
Aku uring- uringan setelah membaca kisah itu, tepatnya komentar orang- orang yang menyudutkan si mahasiswa.
Dalam keadaan kalut, aku pergi menuju Villa. Mencari ketenangan.
Di sana sangat sepi. Tidak sepeti keratonku yang mulai kemarin telah ramai oleh bagian Ndalem, untuk mempersiapkan pernikahanku dan Sugiwa.
Gendhis tertidur dalam posisi terakhir yang aku lihat dari kamera pengintai.
Dia tertidur di atas sofa dengan jarum jahit di tangannya.
Lama aku menatap wajah cantiknya, mata itu perlahan bergerak.
Bola mata bundarnya menatapku kaget.
Apalagi detik selanjutnya aku sudah menyergapnya.
Mencium bibir merah yang selalu mengganggu pikiranku.
Tak hanya mencium bibirnya.
Tangan ini lancang turun membuka kancing baju tidurnya.
Mencari- cari yang pas dalam genggaman.
Melepaskan pagutan. Memperhatikan dia yang telah berantakan.
Benarkah kalau kami, aku dan mahasiswa itu, hanyalah memiliki rasa penasaran pada wanita- wanita nakal?
Bukan cinta, seperti yang kami pikirkan?
"Kamu ... cantik," ucapku asal. Berusaha mengenyahkan bisik- bisik dalam kepala yang membuat pening.
Gendhis tiba- tiba berdiri.
Dia merapatkan dadanya pada dadaku. Tangannya merangkul leherku. Menyatukan bibirnya pada bibirku.
Menelusupkan lidah dengan nakalnya.
Membuat suhu ruangan menjadi panas.
Ini kali pertama dia berani menciumku terlebih dahulu.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
Author tunggu sampai 250 vote, ga usah banyak- banyak..
__ADS_1