(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
039


__ADS_3

"Nak..?"


Ibu menatapku dengan sorot bertanya diiringi kecewa, yang mungkin masih tidak percaya dengan ucapanku.


Aku tidak akan tergugah.


Hal ini, bukan sesuatu yang akan diselesaikan polisi.


Dua pengawal terbaikku menjaga dari dekat dan ada seseorang yang lolos?


Jika dua pengawalku mati, barulah terjadi semua ini.


"Andi, Adit, kalian masih di sini kan?"


"Siap, Nyonya!"


Dua pengawalku muncul setelah pihak keamanan terpaksa membubarkan diri oleh titah dariku. Istri atasan mereka.


"Kami tidak melihat siapa pun melintas. Baik dari dalam gedung ataupun luar gedung."


Kuanggukkan kepala mendengar penjelasannya.


Mengelilingi ruang kamar. Memperhatikan adakah atap yang rusak.


Di dalam sana, ayah dan adikku tergeletak di dua tempat berbeda.


Ayah dengan posisi tidur menyampingnya dan adikku yang terpejam di atas sofa.


Mulut keduanya berbusa.


Dua pengawalku sedang menyeleksi staf yang mahir dalam bidang medis.


Sementara dokter belum juga sampai. Dia terjebak macet di jalanan.


Entah kenapa aku sepertinya mencium sesuatu yang manis.


Kudekati hidung ini pada aromanya.


Hampir terjungkal kala sepasang mata tiba- tiba membeliak dan memelototiku.


"Halo, Mbak," katanya dengan horor.


Refleks kupukul kepala Damara.


Dia bisa- bisanya bercanda dengan genting begini!


"DAMARAAAAA!!!" teriakku sengit.


"Ssst. Jangan keras- keras, Mbak."


"Kenapa?" tanyaku mulai memahami ada yang tidak beres.


Mata Damara terus bergerak mengintai sisi kanan dan kiri walau tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.


"Eneng kritis, Mbak. Kedua kakinya lumpuh."


"Eneng? Eneng siapa?"


Otak ini berpikir dengan keras.


Siapa Eneng?


Aku tidak punya teman bernama Eneng!


Teman Damara?


"Seperti pada Eneng, aku juga diincarnya."


"Yang jelas, Ara!"


"Ish! Nanti kujelaskan. Yang pasti kabarkan saja aku dan ayah sedang dalam masa pemulihan."


"Kamu apakan ayah!?"


"Memberi ayah obat tidur." Damara tersenyum konyol.


"NI ANAK MEMANG MINTA DIPUKUL!!!"


Aku memukulinya dengan brutal.


Tidak ada otak dia!


"Nak, ayahmu sudah sadar. Loh Damar juga sudah bangun? Alhamdulillah! Cepet kamu periksa. Dokter di sebelah sudah periksa ayah kalian. Dia bilang hanya keletihan."

__ADS_1


"Dokter siapa, Bu?" tanya Damara pada ibu.


"Dokter Udin."


"Kalau begitu, mohon kerja samanya, Mbak!"


Anak itu melipir setelah memberikan senyum kudanya.


Sesuai perkataan Damara, aku berikan dia juga ibu dan ayah tiket untuk 'memulihkan diri' di pulau komodo.


Ya. Kamu tidak menyangka. Mereka pun tidak akan menyangkanya.


Kubuat juga penerbangan kosong untuk mereka.


Untuk mengelabui siapa pun yang mengincar mereka.


Penjelasan belum kudapatkan dari adikku. Semuanya serba terburu- buru.


Aku menghadapi hari jadi seorang diri.


Mantan mertua yang seharusnya jadi bintang, malah aku yang terus diwawancarai.


Mereka menanyakan kehebohan di hotel.


"Ayah dan adik saya baik- baik. Hanya mengalami jet lag akibat dari perjalanan jauh," jelasku pada awak media.


"Tapi bukannya rumah Kanjeng Nyonya tidak perlu menaiki pesawat?"


"Kami dengar ayah dan adik Kanjeng Nyonya sampai berbusa, itu benar tidak apa?"


"Katanya polisi juga angkat tangan untuk kasus ini? Apa melibatkan para petinggi Kesultanan?"


"Rupanya kalian senang memata- matai Orang Ndalem?"


Kalimatku singkat. Namun membungkam mereka.


Sesi wawancara berakhir begitu saja.


Aku keluar dari gedung sambil merenggangkan kepalaku. Capek juga hanya menatap satu titik saat diwawancarai.


Kami tidak boleh melihat wajah yang bertanya, sebuah etiket agar menjawab laksana pertanyaan orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita.


Karena wartawan di negeri ini ialah dari golongan atas.


Siapa yang berani menanyakan ini dan itu pada keluarga Kesultanan?


Wartawan di sini tidak dilindungi.


Siapa pun yang berani mengeluarkan pendapat yang tidak sejalan dengan kami, mereka sekurang- kurangnya akan kehilangan hak untuk menjadi pewawancara.


"Mau tinggal di kediamanku?"


Mas Indra bersuara.


Sebagai pasangan yang masih diketahui sah dalam ikatan pernikahan, tentu saja dia harus menemaniku.


Hanya bedanya kali ini, aku tidak lagi jaim atau sok santun di depannya. Nguap tinggal nguap.


Aku menggeleng dengan tegas.


Selain enggan bersamanya, hotel pun sudah dibayar sampai acara selesai.


Malaslah kalau mau refund. Hanya dapat setengah.


Dua kamar ayah, ibu, dan Damara, kuserahkan pada teman masa sekolahku.


Mereka akan datang siang ini.


Sampai di depan lobi, aku berdecak sebal.


Aroma sambal dan masak- masakan tercium di dalam lobi yang full dengan AC.


Ini, hotel berbintang, masa mereka tidak bisa menjaga kualitas udara di sini?


"Apa ada kebocoran dari ruang dapur?" tanyaku pada resepsionis.


"Ti- tidak, Kanjeng Nyonya. Maafkan atas ketidaknyamanan Anda. Kami akan berlaku tegas-"


"Tapi, Kanjeng Nyonya... mereka mengaku sebagai tamu Anda!"


Ketika seorang resepsionis hendak menjelaskan, temannya yang sedari tadi menunduk mengangkat kepalanya menatapku.


Resepsionis itu menyikut lengan temannya.

__ADS_1


Mendengar celetukan yang menyangkutkan si tamu denganku, kutolehkan kepala pada kerumunan yang tadi kulewati.


Dua orang di sana, aku sangat mengenalnya.


Denisya dan Halimah.


Teman sekolahku yang paling kekinian.


Sekarang hanya mengenakan daster lusuh. Tangan mereka menenteng tas yang sama lusuhnya. Dan sebuah keranjang makanan, sumber bau yang mengganggu, tergeletak di dekat mereka.


Walau aku suka sambal, membawanya ke dalam ruangan berAC adalah hal terburuk.


"SUGIWA!"


"Ya Tuhan!"


Hampir saja aku akan mundur dari tempatku, jika tidak ada pengawal yang menghalangi langkah keduanya.


Memalukan.


Berteriak di muka umum dan berlari- lari. Melupakan anak yang mereka pegang, sehingga terjengkang dan hampir terjatuh, andai ayah mereka tidak sigap memegangi mereka.


"Langsung saja ke kamar kalian. Aku hendak melakukan hal lain."


Ya ampun. Ada- ada saja.


Kukira mereka paling tahu tata krama ibu kota karena dahulu selalu update tentang segala hal.


Bahkan aku juga pernah bertemu mereka di ruang koleksi permata ibu kota.


Kenapa mereka sangat berubah?


Walau pakaian tak apik, jika bisa membawa diri, tidak akan terlihat norak!


Baju lusuh tetap akan terlihat elegan dengan pembawaan diri orang yang memakainya!


Selayaknya baju- baju dengan model pudar yang terpajang di mall -mall terkenal.


"Walau Anda sekalian adalah teman Kanjeng Nyonya. Memanggil nama keluarga Kesultanan secara langsung adalah sebuah dosa besar. Lima hari penjara adalah hukuman paling ringan. Yang paling berat, lidah kalian akan dipotong."


Suara terakhir yang kudengar sebelum pintu lift tertutup dan membawa ragaku pergi.


Ya. Memanggil nama keluarga Kesultanan adalah sebuah larangan.


Hal ini selain untuk menghormati, juga sebuah warisan nenek moyang, yang mana untuk menghindari praktik- praktik hitam yang dilakukan musuh.


Tanpa nama lengkap, seorang dukun tidak akan bisa menjalani proses santetnya.


Itulah kenapa, jika kamu membuka buku sejarah, kamu akan menyadari jikalau tokoh- tokoh negeri ini, jarang sekali yang terukir nama aslinya


Pangeran. Ratu. Raja. Bahkan Sultan sekalipun.


Nama asli mereka tidak akan tertulis.


Yang tertulis di buku ialah nama julukan saja.


"Apa ada perkembangan dari pelacakan tentang Damara, Mbak?"


Aku bertanya pada Mbak Aini yang sedang menyesap cokelat panasnya.


Tamu kehormatan negeri kami yang seharusnya datang cukup di hari H, rela terbang setelah aku menyampaikan kebingungan.


Menginap di hotel yang sama.


"Ini Eneng."


Mbak Aini menunjukkan sebuah foto yang sangat aku kenal. Ya. Eneng si anak Pak RT.


"Dia lumpuh setelah kecelakaan."


Aku mengangguk. Ternyata Eneng yang Damara maksud adalah anak Pak RT.


Tunggu! Dari mana mereka mengenal?


"Sepertinya kamu punya adik yang luar biasa, Dek."


Mbak Aini berdecak kagum saat membaca barisan kertas di tangannya.


Mau mengintip?


Tidak akan bisa!


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2