(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
064


__ADS_3

Sst. Tahu ga sih? Kebanyakan, kruntuhan Kesultanan di Tanah Jawi itu, kalau bukan karena perang saudara, ya karena rebutan wanita.


Sialnya wanita- wanita itu kebanyakan kupu- kupu malam yang tipu muslihat.


Bukan karena hutang ya.


ꦲꦲ


***


Pagi hari aku telah bersiap dengan pakaian lengkap.


Sebenarnya semalam aku uring- uringan dengan tidur semalaman bersama seorang wanita.


Aku enggan pindah ke sofa, juga kasihan bila menyuruh wanita itu untuk tidur di sofa.


Aku yang sering berinteraksi dengan orang banyak dari pagi hingga sore hari, tetap saja letih menghadapi banyak ritual.


Apalagi wanita ini.


Kasihan bila dia harus tidur di sofa.


Akhirnya kami tidur di atas ranjang.


Anehnya wanita itu sama sekali tidak menyentuh pakaian yang diletakkan pelayan di sisi ranjang.


Malah beranjak masuk pada kamar ganti dan memakai mukenah yang menutupi seluruh tubuhnya.


Sialnya kenapa aku menganggap dia cukup seksi?


Dia berpakaian tertutup!


"Bi, boleh aku mengambil pakaianku?"


Suara wanita itu terdengar dari luar kamar.


Pintu ini memang tidak tertutup rapat.


Aku dapat mendengar bisik- bisik di ujung lorong, saking heningnya lorong kamarku yang sepi.


"Pakaian apa, Kanjeng Nyonya?" balas dayang utama yang diundang bibi oleh wanita itu.


"Emh. Koperku. Kenapa semuanya berisi yang bukan pakaianku? Itu sangat terbuka."


"Itu adalah pakaian dinas, Kanjeng Nyonya. Anda sudah memakai salah satu untuk semalam kan? Anda tidak melewatkan malam ini kan? Kanjeng Ibu sudah menyediakan pakaian dinas terbaik malam sebelumnya.."


"I- iya. Sudah, bi. Tolong ya pakaianku.."


Perbincangan terputus. Sepertinya bibi menyetujui permintaan Sugiwa.


Ternyata wanita ini dapat berbohong juga.


Kukira dia adalah gadis yang polos.


"Aku ada tugas sampai beberapa hari ke depan. Kamu tak apa ditinggal sendiri? Tidak usah kamu kerjakan pekerjaan rumah. Cukup perintahkan saja semua orang. Mengerti?" ucapku kala Sugiwa memasuki kamar kami.


Sugiwa tercenung.


Apa dia sedih karena ditinggal usai menikah?


Wanita itu mengangguk tanpa membalas, ketika aku menuntut jawab padanya.


Akan memalukan bila istriku mengerjakan pekerjaan rumah, sedang aku sangat mampu memberikan banyak pelayan.


Tak kuhiraukan ponsel yang berdering nyaring di dalam koper.


Gendhisku. Nama yang selalu muncul pada layar ponsel.


Dia pasti sudah melihat televisi dan bertanya- tanya tentang hubungan kami.


Semalaman aku memikirkan semua ini dan haruskah aku menjumpai Gendhis?


Tapi setelah lama berpikir, rasanya sangat picik bila bertemu wanita lain, sedang statusku baru hangat- hangatnya menjadi wanita lain.


Aku seperti tidak menghargai istriku sendiri.


Akhirnya aku terdampar di pulau pribadi.


Menenangkan diri dan meyakinkan diri bahwa keputusanku tidak salah sama sekali.


Toh aku sudah berjanji pada Sugiwa untuk tidak menyentuhnya.


Dia tidak akan kekurangan apa pun.


Justru relasi dan hartanya akan semakin banyak.


Berhari- hari aku santai di tempat ini.

__ADS_1


Sampai pada hari ketiga di pulau pribadiku ini, Fadlan datang menyusul dengan tergesa- gesa.


"Kanjeng, Yang Mulia Paduka Sultan mendatangi Keraton Anda! Beliau terlihat murka mendapati Kanjeng Nyonya seorang diri."


Aku menelan udara dengan susah payah.


Aku tak pernah mau mengecewakan kedua orang tua yang amat sayang padaku.


Itulah mengapa aku amat berat membawa Gendhis ke hadapan mereka.


Sebisa mungkin aku tak mau mengecewakan harapan mereka.


Karena mereka menyayangiku selayaknya orang tua normal, meski kami tinggal di dunia yang penuh tipu muslihat.


Romo selalu percaya padaku, meski sering beredar kabar bahwa aku melakukan dosa- dosa besar yang mencoreng wajah Sultan.


Beliau percaya aku tidak akan melakukan semua itu.


Dan aku akan terus menjaga kepercayaan beliau.


Maka aku tidak akan membuat posisi Sugiwa makin sulit.


Biarlah ketika dia menjanda, dia masih memiliki kehormatan yang dibanggakan seluruh wanita.


Kami pulang dengan tergesa- gesa.


Aku bahkan tak sempat mempersiapkan pakaian yang kubawa.


Kemeja dikancing dengan asal. Rambut pun tidak kusisir.


Sesampainya pada halaman istana, benar saja Kanjeng Romo sedang menungguku.


Sedangkan Kanjeng Ibu nampaknya sedang bersama menantunya.


Mereka terlihat akrab.


Kanjeng Ibu memang tak pernah membedakan orang.


Statusnya sebagai perawat sering terjun ke dunia bawah.


Mengenal banyak orang.


Beliau pun mengajarkanku untuk mengetahui luasnya dunia dan menyuruhku untuk tidak memandang berbeda orang- orang yang tak punya harta dan kuasa.


Karena mereka kadang memiliki yang tidak dimiliki kalangan atas.


Mungkin seperti Sugiwa yang polos- polos saja ketika aku meninggalkan dia di hari pertama setelah pernikahan.


Bila itu orang lain, mungkin dia akan menahan dan mencecarku.


"Ananda menghadap Kanjeng Romo," salamku pada bayangan masa tuaku.


Aku dan Romo begitu mirip. Sampai kadang orang salah mengenali aku.


Kadang ada yang memanggilku Sultan, menjadikan cela buat musuhku menuduh aku hendak mengkudeta ayahku sendiri.


Amat beruntung bagiku, ayahku sangat percaya padaku dan hubungan kami.


Tidak ada fitnahan mereka yang mampu memisahkan kami.


"Kenapa meninggalkan istrimu sendiri?" tanya Kanjeng Romo.


"Ananda hanya belum terbiasa dengan status ini.." kilahku.


Tidak mungkin aku bertutur takut tergoda aurat Sugiwa yang selama ini tak pernah kulihat.


Meski dia tak mengenakan jilbab lebar ataupun baju besar yang menutup lekuk tubuhnya.


Tetap saja berbeda antara dia yang pakai pakaian tertutup dengan dia yang hanya mengenakan baju handuk selutut.


Hanya dengan memakai itu dia begitu menggoda.


Bagaimana bila dia mengenakan kebaya dan jarik yang mengepres di tubuh?


Bisa- bisa aku tak kuasa menahan diri!


"Sri Sugiwa.. kamu sendiri yang memilihnya.. jangan kecewakan kami, Pangeran. Kamu tentu ingat peraturan keluarga kita bukan?"


Napasku tercekat.


Apa Kanjeng Romo tahu tentang rencanaku?


Tidak!


Beliau tidak akan tahu.


Aku mengulas senyum dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kanjeng Romo.

__ADS_1


Aku harus diam- diam melakukan segala rencanaku.


Sugiwa tidak akan berani mengadu.


Fadlan juga. Dia anak buahku yang setia.


Bisa saja Kanjeng Romo hanya menduga- duga, karena aku mengambil seorang gadis desa, yang tak terlalu cantik seperti wanita- wanita yang biasanya hadir dalam perjamuan kami.


Untunglah kemudian aku tahu bahwa Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu datang untuk ngunduh mantu. Bukan menginterogasi aku ataupun Sugiwa.


Semua berjalan lancar, karena ternyata orang tua Sugiwa dapat cepat beradaptasi.


Mereka tidak berperilaku memalukan.


Mereka dapat menyeimbangi kami untuk melakukan upacara adat dengan anggun dan tidak banyak grasa grusu.


Terpaksa aku kembali sekamar dengan Sugiwa.


Kali ini dia mengenakan gamis yang panjang menjuntai.


"Apa tidak panas?" komentarku.


"Ada AC di sini, Tuan."


"Tuan!? Kenapa kamu memanggilku begitu?"


"Emh. Bukannya begitu, ya? Yang saya baca, kalau orang rendahan seperti saya dinikahi pria dengan derajat tinggi. Maka hasilnya tetap berputar pada Tuan dan Hamba. Hanya saja, dalam agama kita memang tidak boleh ada selir dan budak. Jadi pernikahan memang dilakukan. Tapi bukankah semua itu hanya formalitas?" ucapnya panjang lebar.


Panas dadaku mendengar ucapan Sugiwa.


Apa aku serendah itu untuk menjadikan pernikahan sebuah permainan?


Menghadirkan hamba dalam istanaku!?


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang hamba. Kamu istriku. Bukan hamba!" geramku.


Pelayan- pelayanku saja bukan budak!


Kenapa dia merendahkan dirinya sendiri dengan berkata dia adalah budak!?


Aku sangat membenci orang yang merendahkan diri sendiri.


Itulah mengapa aku sangat senang dengan kepercayaan diri yang dimiliki Gendhis.


Bukannya merendahkan diri sendiri seperti Sugiwa!


"Tapi, Tuan.."


"Panggil Mas saja. Seperti sebelumnya!"


"Emh. Mas..."


Aku melirik tajam padanya.


Kenapa suara dia saat memanggil Mas sangat mendayu- dayu seperti itu?!


Ingin menggodaku?!


"... bukankah dalam perjanjian mengatakan saya tidak boleh berlaku seperti istri? Lalu, bukankah pernikahan kita hanyalah landasan untuk melegalkan tuan memiliki kekuasaan atas saya, sebagai seorang hamba?"


Sugiwa masih saja kukuh pada pendapatnya sendiri.


Aku mengusap wajah dengan kasar.


Tak suka dengan perkataannya yang merendahkan diri.


"Kenapa kamu bertindak begini!?" kesalku.


"Saya menerima banyak harta dari Tuan. Kalau bukan menjadi hamba, memangnya saya di sini harus melakukan apa?"


"Bertindak lah seperti Istri Pangeran!"


Ck. Begitu saja sampai harus bertanya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ​ ꧉​꧉​꧉​


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


Mampir ke marketplace author yuk..


Shopee, Lazada, Tiktok:


alsetripfa4


Tokopedia:

__ADS_1


Roro Mendut Jatibarang


__ADS_2