(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
003


__ADS_3

"Giwa.." panggil suamiku menyapa.


Suaranya lembut. Persis seperti yang kuharapkan selama ini.


Tapi sekarang, jijik sekali mendengarnya.


Hidupnya penuh kepura- puraan. Paling benci aku dengan hal itu.


Terlebih tingkahnya bersama sang kekasih, tak dapat kubayangkan sudah sejauh mana hubungan mereka.


Menilik latar belakang kekasihnya yang berasal dari dunia hitam, mungkin melakukan hubungan suami istri tidaklah tabu mereka lakukan.


Benar. Wanita itu seorang pel*cur. Mereka jatuh cinta sebagai pelanggan dan penjual jasa.


Itu yang kutahu dan yang kudengar dari sekitar.


Mudah saja menjatuhkan mantan suamiku di muka umum, sebagai ajang balas dendam.


Namun, untuk apa? Yang ada musuhku dari kalangan atas akan terus bertambah.


Aku tidak menggubris panggilannya dan memilih pergi.


Gendhis, nama wanita itu. Dia mengangkat sudut bibirnya. Jari -jari lentiknya mengusap lengan kebaya merah yang dikenakannya.


Kebaya dengan aksen bunga sedap malam.


Sedap malam yang hanya mekar di malam hari.


Wanita malam yang hanya keluar di malam hari.


Sedap malam untuk si wanita malam.


"Sangat cocok," desisku.


Sidang ketuk palu hari ini pas sekali dengan ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, beserta anniversary hari jadi mereka yang keempat.


Aku tertawa miris mengingat bertahun silam, sang pangeran yang keluarganya masih mengikuti penanggalan kuno, bersikeras ingin menikah di hari terlarang.


Rupanya, agar dia dan sang kekasih dapat merayakan hari bahagia mereka secara terselubung.


Tahun lalu, pesta ulang tahun pernikahan terhelat dengan sangat meriah.


Memang, dia terus berada di tempat pesta sampai akhir, menemani Aden putranya.


Tidak mengendap pergi seperti pesta sebelumnya.


Tapi malamnya? Entah. Dia masuk ke kamar Aden, aku pun masuk ke kamar dan terlelap.


Yang kulihat dia menghabiskan malam anniversary nya bersama sang kekasih.


Pagi- pagi buta datang dari pintu belakang, dengan rambut yang basah.


Dan sekarang, hari bahagia mereka bercampur dengan kebebasan yang telah lama mereka tunggu.


Dua peristiwa besar dalam satu hari, mereka berdua pasti akan merayakannya secara besar- besaran.


Lihatlah dandanan perempuan itu, persis seperti akan pergi ke pesta besar.


Sangat ramai.


Kalung, gelang, anting, dan sebuah tusuk konde emas dipakainya.


Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Indra, membawa lac*rnya bersegera masuk ke rumah, sebelum akta cerai kami tiba.


Entah bagaimana nanti pandangan para tetuanya.


Membawaku masuk saja, sudah menyudutkan posisinya. Meski tidak secara terang- terangan dilakukan, karena bagaimana pun yang berkuasa adalah ayah mertua.


Menjadikanku istri kesayangan, supaya bayanganku terus tercetak dalam benak musuh- musuhnya, sementara dia dan kekasihnya bersenang- senang di balik layar.


Aku tidak peduli lagi.

__ADS_1


Aku terus melangkah pergi.


Sebuah tangan besar tiba- tiba mencekal lenganku. Langsung kuhempaskan tangan itu, karena kutahu tangan itu milik suamiku.


Jijik! Tak sudi aku disentuhnya, selain ia dan aku sudah tidak lagi memiliki ikatan yang memperbolehkan saling bersentuhan.


"Maaf," ucap Mas Indra melepaskan tangannya.


Gayanya salah tingkah.


Aku tersenyum miring. Masih jelas di ingatan, setelah malam ulang tahun pernikahan kami, aku dibawa pulang.


Matanya terus mengawasiku. Meneliti tubuhku.


"Kulitmu kenapa rusak seperti itu?"


Dia berkata dengan mengerutkan keningnya, menampilkan ekspresi jijik. Lantas melenggang pergi dari kamar, entah ke mana.


Kuakui tubuhku memang banyak berubah. Dari perut membesar, sampai kulit rusak. Terlihat keriput, kering, dan terdapat beberapa luka garuk.


Mungkin, dia menjadi jijik untuk menyentuhku. Aku pun bersyukur untuk tak lagi dekat dengannya.


Jujur, satu sudut hatiku terluka karena tahu ada wanita lain di sisinya, pun harga diriku sebagai seorang istri terusik karena hal itu.


Dengan kepergiannya, aku dapat menata hati, serta mempersiapkan diri untuk melangkah jauh ke depan.


Kehamilan itu aku jalani sendiri. Dia hanya melihat dari kejauhan. Bahkan mencium punggung tangannya pun tidak kulakukan. Dia selalu menolak.


Baru setelah melahirkan, dia tidak lagi berpandangan sinis. Tubuhku kembali bugar dan bersih, tidak ada hari tanpa makanan yang bergizi.


Bodohnya aku, masih menerima benihnya.


Hanya berharap tidak ada janin lain yang akan tumbuh.


"Aku permisi. Maaf mengganggu kemesraan kalian."


Sebelum pergi, sudut mataku menangkap bayangan wanita itu keluar dari dalam rumah.


Seolah sudah menjadi tuan rumah.


"Kamu sepertinya harus menikahi dia sebelum muharram datang. Yang menjadi kadiv administrasi selanjutnya adalah Pak Yusman."


Pak Yusman, dia orang yang sangat penting. Darah birunya tersembunyi. Merangkak dari bawah, menjadi pejabat negara yang jujur.


Tingkat demi tingkat dijalaninya. Sama sekali tidak pernah mau menerima suap.


Mas Indra tidak mungkin diperbolehkan menikahi seorang pel*cur. Akan ada suap menyuap di bagian pencatatan.


Jika tak bergerak cepat, dia tidak akan bisa menikahi kekasihnya itu. Pak Yusman tidak akan mentolerir.


Sekarang aku mengerti kenapa dia begitu tidak sabar membawa si l*cur ke dalam rumahnya.


Usai mengemukakan pendapat, aku tidak lagi membuang waktu. Pergi menjauh secepat kilat.


Pria itu nampak mematung di tempatnya. Tak lama si pel*cur datang menghampiri.


Setelahnya aku tak tahu, mobil yang kutumpangi sudah meluncur pergi.


Kupandangi jalan sekitar. Ada hutan jati yang menjadi mahar nikahku.


Melewati satu kelokan, tampak tempat wisata kekinian. Hadiah darinya untukku dalam ulang tahun kedua pernikahan kami.


Kalau hanya demi harta, ingin sekali aku bertahan. Aku tak menampik betapa menggiurkannya harta di tangan Mas Indra.


Tapi, aku hanya wanita biasa. Aku juga butuh perhatian. Aku ingin dicintai.


"Bu, setelah ini akan pergi ke mana?"


"Saya lapar."


"Baik, bu. Ke Adem Semeliwir?"

__ADS_1


"Tidak. Tidak. Saya mau ke angkringan saja."


"Siang- siang, bu?"


"Ada yang buka toh? Cari aja sampe dapet. Abis itu kita pulang, pak."


"Bu... tidak bisa kah nanti saja pulangnya?"


Aku memutar bola mata. Suara Pak Mamat lagi- lagi menyendu. Aku yang pergi jauh dari kota, dia yang menangis sedih. Padahal aku tidak sedih- sedih amat.


Tangis itu sudah habis saat penculikan terakhir.


"Sekarang atau nanti sama saja, pak. Saya mau buru- buru cari kerja. Ada toko kelontong lagi buka lamaran."


"Ibu sudah punya banyak uang. Jangan capek- capek lagi kerja di orang."


"Itu untuk gaji kalian. Kalau untukku, tentu saja beda."


Aku tidak mengembalikan yang mereka berikan, namun aku juga tidak menggunakan semua itu.


Semua uang yang dihasilkan dipergunakan untuk membayar orang- orangku.


Mobil berhenti di sebuah angkringan pinggir jalan.


Aku turun dan merenggangkan tubuhku.


Telingaku menangkap desingan peluru mendekat.


Beruntung, gerakku sangat cepat. Menunduk. Bersembunyi di samping mobil.


Pak Mamat mengambil pistol di sakunya. Balas menembak mereka.


Sebuah peluru kembali melesat.


Aku menoleh ke arah angkringan. Pemilik angkringan bersembunyi di bawah gerobaknya dan ada dua pengunjung yang berjongkok di tanah. Mengangkat tangannya sambil memohon ampun.


Keterlaluan. Di siang bolong menyerang seperti ini. Lebih- lebih ada warga yang sama sekali tidak paham.


Mendengar suara tembakan saja, mereka sudah ketakutan.


Mataku liar mencari dua peluru yang menyasar ke belakang tubuhku. Takut ada korban yang terkena dan membutuhkan pertolongan.


Aku menghela napas. Dua peluru itu bersarang di pohon, bukan tubuh manusia.


"Bu, mereka sudah kabur. Kita harus pergi juga. Mereka pasti mengundang bala bantuan," ucap Pak Mamat sambil membukakan pintu untukku.


Aku melirik ke arah angkringan. Pak Mamat tanpa bertanya langsung mendatangi si penjual.


Memborong habis dagangannya dan menyuruh mereka pulang secepat mungkin.


Ribet bila sudah masuk dalam pertengkaran kami.


"Sudah telepon Anjas dan Angga?" tanyaku tentang dua bodyguardku.


"Sudah, bu. Mereka akan mengikuti."


"Tidak. Suruh mereka menemani orang- orang di angkringan."


"Tapi bu.."


"Pak Mamat," ucapku memperingati. Aku tidak suka mengulang perintah.


Pak Mamat terlihat gusar. Tapi dia tidak punya pilihan selain mengangguk.


"Baik, bu."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2