
"Kanjeng, kenapa harus meminta izin? Kanjeng kan putra langsung Paduka Sultan. Minta kan saja surat izin di rumah."
Aku tersenyum simpul mendengar rengekan Fadlan.
Dia pasti sudah kepalang lelah bolak- balik minta perizinan perusahaan farmasi, yang tak kunjung ditanda tangani.
Kali ini aku berbelok dalam bisnis. Bukan lagi pada bisnis properti yang biasanya aku geluti.
Selain ingin mengembangkan kemajuan kesehatan negara, yang aku canangkan dalam penobatan kelak, aku pun ingin tahu sesulit apa orang biasa membuka bisnisnya.
Pada bidang kesehatan, perusahaanku sudah lulus uji.
Hanya dalam hal legalitas izin bisnis yang tak kunjung turun.
Aku mengangkat tangan. Menyuruh diam seorang pelayan yang hendak memberitakan kedatanganku.
Epung Widjianto.
Menteri perdagangan era Romo.
Pantaskah dia melanjutkan karirnya pada eraku?
Pemikiranku berbeda dengan Romo. Aku tidak suka bekerja dengan seseorang yang tidak mumpuni. Meski itu keluarga sendiri.
Widjianto masih meneruskan garis keturunan Keluarga Kesultanan, akan tetapi darah mereka sudah berkurang banyak.
Seseorang berlari kencang dari arah ruang kerja De' Epu, panggilan kerabatku untuk Menteri Perdagangan. Panggilan di luar pekerjaan.
Bayangan itu menabrak bahuku.
Tanganku refleks menangkap sosok yang hampir terjatuh itu.
Mataku memindai.
Dia rupanya seorang wanita. Dengan pakaian yang berantakan melekat di tubuh putihnya.
Matanya memerah. Seperti menahan tangis.
"Tolong saya!"
Dia sesegukan dan lantas tidak sadarkan diri.
"Kanjeng, berikan pada hamba," pinta Fadlan yang sudah heboh sedari tadi.
Ini kali pertama aku menyentuh kulit lawa jenisku.
Ternyata sangat lembut? Seperti whidan dari Kadiri.
Ada hati yang segan melihat dia rapuh begitu.
Kusuruh pelayan rumah ini untuk membawanya ke tempat istirahat.
Aku mengikuti mereka dari belakang. Wanita itu sudah berada di tangan Fadlan.
Ingin kudengar alasan wanita itu menangis.
Aku tak suka melihat wanita menangis.
De' Epu akhirnya datang sesudah dipanggilkan pelayannya.
Dia tampak terkejut melihat keberadaan wanita yang masih tidak sadarkan diri.
"Kalau hamba tahu Kanjeng Pangeran mau ke sini, hamba akan siapkan sajian," cetusnya mengurai hening.
Hm. Ya sudah. Kubahas lebih dulu proses perizinan yang sudah berbulan lalu kuajukan.
Di depan mataku, De' Epu menandatangani semua dokumen.
Semudah itu?
Ck.
Pria ini tak layak.
Alasan besar pria ini menolak menandatangani ialah karena orang farmasi yang kurekrut ialah orang- orang baru dalam dunia kedokteran Kesultanan Kanana.
Mungkin saja mereka baru muncul. Tapi mereka adalah anak buahku yang ahli dalam bidangnya.
__ADS_1
De' Epu pergi untuk mempersiapkan makan malam kami.
Itu adalah salah satu tujuanku kemari.
Melihat langsung seluruh anggota inti keluarga Widjianto.
Belakangan kalangan bisnis lebih disegani daripada beberapa pejabat daerah yang sudah jelas darah birunya.
Ingin kulihat apakah dia menjadi pembangkang.
Kami tidak menggubris olokan di daerah bukan berarti tidak bertindak.
Adalah hal konyol bila melakukan pembersihan secara terang- terangan.
Tanganku dipegang oleh benda lembut.
Ternyata wanita itu sudah bangun.
Binar matanya menunjukkan ketakutan.
Dia semakin merapat kala De' Epu mendekat.
"Tolong saya, Tuan! Pria itu hendak melecehkan saya. Saya hanya datang untuk bekerja."
Kulirik De' Epu yang tidak membalas.
Hanya tangannya terkepal, tanda dia menahan amarah.
Sebenarnya sudah biasa pemandangan seperti ini.
Para pria mendapatkan wanita hanya untuk bersenang- senang.
Walau aku sendiri tidak memahami makna kesenangan itu.
Meski aku bisa memilih banyak wanita dan memiliki mereka, aku sudah dididik keras untuk menghormati wanita.
Dan mengingat besarnya beban yang akan terjatuh bila salah meletakkan makuta pada wanita, yang hancur bukan hanya keluargaku. Melainkan seluruh negara.
Pun belajar dari negeri- negeri yang telah hancur.
Ketika ada wanita yang disodorkan padaku, aku hanya perlu menatap tajam mereka. Dan mereka menciut dengan sendirinya.
Sejauh ini, baru wanita ini yang berani memegangku. Tak mengindahkan tatapan tajamku.
"Bisa jelaskan De' Epu?" tanyaku.
"Hamba tidak melakukan—"
"BOHONG TUAN. BOHONG. DIA SANGAT KEJAM, TUAN."
Wanita itu memotong perkataan De' Epu.
Dia tampak frustasi dengan terus berteriak -teriak.
De' Epu mendekat. Dia hampir menampar keras wanita itu kalau saja refleks Fadlan tidak bekerja.
Kejadiannya begitu cepat. Aku tidak sempat berekspresi.
"Jangan hiraukan wanita ini, Kanjeng! Hamba berani bersumpah tidak melakukan yang dia tuduhkan!"
Dua manusia lawan jenis itu saling bersahutan.
Wanita itu dengan tuduhan pelecehannya.
Dan De' Epu dengan bantahannya.
"Fadlan, bawa Nona ini ke Pendopo. Aku masih ada hal yang hendak didiskusikan dengan De' Epu."
Fadlan sedikit meyeret wanita itu.
Lantas suasana kembali tenang.
"Kanjeng..." De' Epu berkata dengan ragu.
"Ini masalah pribadi kalian. Aku tidak peduli," balasku cepat.
Ya. Ini hanyalah masalah mereka. Kenapa pula aku harus ribet?
__ADS_1
Kalau mau meribetkan hal ini, sudah berapa ratus pejabat yang harus didisiplinkan?
Ini bukan komik, yang kisahnya satu keluarga kerajaan dapat mengendalikan seluruh hal.
Ada beberapa batasan yang tidak boleh dilanggar, salah satunya dosa yang telah umum dilakukan orang atas; bermain wanita.
Selama tidak ketahuan publik, hal itu sama sekali bukan menjadi urusan kami.
Aku akhirnya kembali mendiskusikan bisnis.
Kali ini bisnis pariwisata yang sedang berkembang; dunia air.
Rencananya baru kuajukan setelah perusahaan farmasi pribadiku selesai.
Namun sekarang, De' Epu nampaknya tidak akan menolak proposalku.
Setelah menyelesaikan perkara izin bisnis dan menikmati hidangan, aku bergegas pergi kembali ke istanaku.
Sudah aku katakan. Wanita itu dan De' Epu bukan urusanku.
Bukan urusanku.
"Argh! Kenapa aku kepikiran tangisnya?" gumamku geram pada diri sendiri.
Dokumen kepemerintahan jadi rusak karena pikiranku.
Romo masih menggunakan dokumen tulis untuk dokumen- dokumen berharga, agar sulit dimanipulasi oleh teknologi yang semakin maju.
Ada teknik dalam menulis dokumen penting kami. Yang jika sekali dilihat dapat terlihat perbedaannya.
Sekarang, aku harus menulis ulang dokumen tersebut.
Bukan hal mudah untuk mengeringkannya!
Kupinta Fadlan untuk mengambil kertas baru di Istana Romo.
Dokumen rahasia ini terbatas kertasnya, bahkan untukku putra tunggalnya.
Ada batasan antara Pangeran dan Sultan, agar keduanya berada pada satu rel.
Tidak mungkin akan berada dalam satu rel, bila keduanya berjalan bersisian.
Aku tetap gerbong di belakang yang mengikuti segala perintah Romo.
Fadlan terlambat dua menit dari biasanya dia menempuh waktu perjalanan dari Istana Utama ke Istanaku.
Sekilas kudapati darah pada kemejanya.
"Kenapa?" tanyaku datar, namun aku juga khawatir padanya.
Dia bawahan sekaligus sahabatku.
Segala marabahaya yang menimpaku, pasti dia juga melewatinya.
Aku dan dia berada di perahu yang sama, tentu saja musuh kami akan menganggap kami berdua adalah satu kesatuan.
Fadlan nampak bimbang dengan kisah di balik darah pada kemejanya.
Sesekali matanya melirik ke arah lain.
Biasanya dia bimbang bila berlaku demikian.
"Ceritakan saja, Fadlan." Kalimatku tegas. Dia tidak dapat membantah bila sudah kupanggil namanya.
Benar saja dia langsung memandangku. Lantas menunduk dan bercerita.
"Sebenarnya bukan hal besar. Nona Gendhis, wanita yang berada di Pendopo pinggir kota, dia melakukan tindak bunuh diri dan hamba baru saja mengantarnya ke rumah sakit."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
Author up setelah vote nya mencapai 250 vote.
Yuk vote yuk. 🥰🥰🥰
__ADS_1