
"Apa ibu mau menemui Aden?"
Aku menegang mendengar pertanyaan Pak Mamat.
Aden...
Aku menepis bayangannya.
Tanpa menjawab pertanyaan sopirku, aku melangkah masuk ke dalam rumah besar yang kusebut istana kuno, karena bentuknya tak pernah berubah semenjak ratusan tahun silam.
Melangkah terus hingga sampai pada halaman belakang istana.
Terdapat pendopo joglo yang didirikan khusus untuk penerus keraton ndalem.
Langkahku terus terayun memasuki rumah bentuk joglo dengan bentukan yang lebih baru. Memasuki kamar yang terang oleh sinar mentari.
Sirkulasi udara terasa sejuk meski tanpa pendingin ruangan.
Seorang gadis muda berdiri dari tempat tidur yang terletak di tengah ruangan.
Aku mengangkat tangan sebelum dia melakukan hal tak berguna. Bersimpuh di hadapanku.
"Nyonya, apakah tidak masalah saya tinggal di sini?"
"Kamu bertanya?"
Aku melipat tangan di dada. Memperhatikan gadis putih yang pucat wajahnya.
Dia menunduk. Menyadari salah bicaranya.
Aku paling tidak suka mengulang perkataan.
Mataku memindai sekitar. Memperhatikan kamar yang didominasi warna hijau dan cokelat pastel.
Kamar ini masih sama seperti biasanya.
Letaknya sesuai dengan yang kuatur kali pertama.
Sisi tembok yang polos, diletakkan meja belajar lengkap dengan perpustakaan kecil yang dipenuhi buku- buku wawasan.
Sisi tembok yang ramai dengan bermacam karakter bunga dan gedung, terdapat cermin besar agar mudah memperhatikan kualitas diri.
Menjaga tubuh berarti menjaga berkah dari Allah.
Tiap hari memastikan tubuh sehat dan lengkap adalah cara bersyukur.
Terutama kesehatan kulit.
Aku teringat betapa nikmatnya makanan cepat saji di kota, sehingga satu tahun penuh tak menyentuh makanan sehat, kecuali saat di depan orang lain.
Aku tak begitu perhatian akan perubahan tubuhku yang mulai tak enak.
Karena dampak buruk makanan cepat saji, pun dampak dari kehamilanku.
Merubah tubuhku secara drastis.
Kulitku rusak dan tubuhku membesar. Tanpa tahu itu, aku mengenakan pakaian seperti biasanya.
Kebaya merah adalah kesukaanku. Warnanya pas dengan kulit kuning langsatku.
Sayangnya hari itu aku tidak memperhatikan tubuhku. Mengenakan kebaya seperti biasa.
Melupakan perut yang membuncit karena makanan dan faktor kehamilan, yang kala itu belum aku ketahui.
Berjalan pergi menuju aula pesta ulang tahun pernikahan, didampingi dia yang memakai beskap senada.
Seperti biasa, setelah berbasa- basi aku mencari makan. Mundur alon-alon ketika dia sibuk berbincang dengan orang lain.
Makanan adalah tujuan utamaku di tiap pesta. Mencicipi tiap menu yang ada. Hingga perut terasa begah.
Lalu tiba- tiba terasa ikatan jarik di perutku mengendur.
Aku mundur ke belakang, menuju toilet untuk membenarkan pakaian.
Di sana, kudengar orang- orang berkolusi, ingin menculikku.
Mereka menyadari keberadaanku. Tangan- tangan mereka berusaha menggapaiku.
__ADS_1
Pontang -panting aku berlari.
Aku melarikan diri menuju gudang penyimpanan, karena tidak ada waktu untuk kembali ke aula utama.
Mereka akan menemukanku di jalan menuju aula pesta.
Tak mungkin meminta tolong pada sekitar. Jarak menuju keramaian lumayan jauh. Lorong toilet sangat panjang.
Menuju aula sama saja menyerahkan diri.
Sebelum memasuki aula, hanya ada ruangan yang terbentang luas tanpa jarak.
Aku lebih memilih berlari menuju gudang penyimpanan. Ada jalan rahasia menuju dapur. Aku yakin akan selamat di sana.
Kenyataan yang kudapati justru sangat menyakitkan. Melihat suamiku bersama gadis lain dalam cahaya yang keremangan.
Mereka terlihat sangat intim.
Wanita yang kebayanya sama denganku, bergelayut manja di lengan suamiku, seolah sudah terbiasa.
Tidak ada gesture penolakan dari suamiku. Bahkan sesekali mengusap rambutnya yang tergerai.
"Sayang, kudengar pamanmu berkolusi lagi. Tadi saat di toilet sempat kudengar orang- orang ingin menculik istrimu. Kamu mau pergi? Ini anniv kedua kita loh! Aku sudah cukup bersabar melihat kamu menikah dengan wanita lain!"
"Iya, sayang. Tenang saja. Paman tidak akan sembarangan membunuh."
"Kamu tidak akan menyelamatkannya?"
"Besok saja."
"Jadi, kapan aku bisa menikah denganmu??"
"Sabar ya. Dua tahun lagi sudah cukup meyakinkan mereka."
"Lama banget. Kamu tidak akan jatuh cinta padanya kan?"
"Aku tidak ingin kamu menjadi sasaran mereka. Biarkan Giwa yang menjadi penggantimu, di mata mereka."
Sakit.
Sangat sakit mengetahui kenyataan suamiku bersikap dingin bukan karena karakternya, melainkan karena dia mencintai wanita lain.
Aku dapat mendengar percakapan mereka dari jarak yang lumayan jauh, karena tidak banyak barang dan orang di sekitar.
Dua kejadian besar dalam waktu bersamaan, membuat otak dan hatiku tak tahan untuk tetap tersadar.
Aku pingsan.
Ketika terbangun, berita besar disampaikan dokter.
Wajah pria itu terlihat mengeras. Mungkin karena merasa telah ditelanjangi, ketahuan busuknya olehku.
Atau karena berita besar yang disampaikan dokter, tidak menyenangkan untuk didengarnya.
Aku mengandung benihnya, yang kini telah berwujud menjadi bayi tampan yang sehat.
"Saya ... sungkan bila tinggal di sini tanpa nyonya. Anda yang menyelamatkan saya dan membantu keluarga saya, mana bisa saya meninggalkan Anda?"
"Tenang. Kamu di sini digaji dari penghasilan saya. Jadi, jangan sungkan."
Perempuan muda itu mengangguk. Ekspresinya berubah lega.
Mungkin dia berpikir akan kutinggalkan di rumah megah ini, setelah kusuruh dia tetap mengasuh bayi yang tak direncanakan untuk hadir ke dunia.
"Jika nyonya baru mengusirmu, katakan saja aku dan suaminya memiliki perjanjian. Kamu akan tinggal di sini sebagai pengasuh anak kami. Anakku."
"Baik, Nyonya.."
Lalu hening. Kami terdiam tanpa banyak bercakap- cakap. Ratih, salah satu bawahanku, yang biasanya ceria menjadi bungkam. Mungkin takut kembali salah bicara.
Ratih bergegas mendekati ranjang kala bayi, yang baru genap usia satu tahun tiga bulan lalu, hampir melewati batas ranjang.
Aden, panggilan semua orang pada putraku.
Aku memandangi Ratih, pengasuh putraku, yang sedang bermain dengan putraku.
Tanpa banyak gerakan, Ratih telah memindahkan Aden ke tengah ranjang.
__ADS_1
Memastikan keamanannya.
"Apa Nyonya ingin bermain bersama Aden?"
Suara Ratih terdengar sungkan. Mungkin dia berpikir aku datang untuk bermain dengan putraku.
Anak yang aku lahirkan.
Anak yang hadir tanpa direncanakan.
Aku menatap wajahnya sebentar, lantas memandangi Ratih dan menggeleng.
"Tidak," jawabku tegas.
Mungkin, aku adalah ibu terburuk. Membiarkan putraku dekat dengan orang lain, sedangkan aku menjauhi dirinya.
Aku bukan orang yang sekuat itu.
Tidak mau menghalangi putraku untuk mendapatkan pendidikan terbaik dan hidup yang sangat layak.
Jika hatiku tertaut padanya, aku takut akan memaksakan diri membawanya pergi.
Sementara, dia adalah putra yang ditunggu semua orang.
Hidup kami di jalanan tidak akan damai. Semua orang akan mengincar kami, baik dari kalangan yang menginginkannya ataupun kalangan yang ingin melenyapkannya.
Kukeraskan hati. Membiarkan putraku berada di sisi ayahnya, yang segalanya lebih baik dariku.
Bahkan aku sengaja jarang berdekatan dengannya, sejak dia keluar dari rahimku.
Mungkin, aku benar- benar ibu terburuk.
Namun setidaknya, satu tahun belakangan aku sudah memastikan ketulusan Mas Indra pada putranya, anak kami.
Ada sisi hati yang lega setelah memastikan keamanannya.
Aku menempatkan seluruh bawahanku berada di sisinya.
Untuk itulah, para penjahat dapat menculikku bahkan di siang yang bolong.
Aku mengumpulkan banyak kekuatan hanya untuk putraku.
Aku, tidak terlalu buruk kan?
"Setelah keluar dari sini, Anda harus baik- baik saja.." ucap Ratih.
Kali ini dia tak sungkan menggenggam tanganku.
Gadis mantan penjaja liur itu pasti merasa khawatir.
Semua orang menargetkanku sebagai sosok yang mengganggu putri- putri mereka untuk bersanding dengan Mas Indra.
Hidupku tidak akan damai, kendatipun sudah terlepas dari status istri Mas Indra.
Pria itu, menunjukkan drama yang sangat manis.
Membuat semua orang mempercayai kisah tentang cintanya yang luar biasa padaku.
Dan di balik kegelapan, cinta sejatinya tetap hidup dalam damai.
"Haha."
Aku tertawa miris.
Pernah ada harap setelah tahu diriku hamil, dia akan balik meninggalkan kekasihnya.
Ternyata tidak ada yang berbeda.
Bahkan kini dia sedang asyik bercengkerama dengan wanita yang memakai kebaya merah.
Kebaya merah yang selalu digunakan wanita itu di hari anniversary mereka.
Seolah mengolokku.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran