(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
007


__ADS_3

"Kalau begitu, hehe."


"Hehe hehe APA??"


"Bayarkan uang rumah sakitku."


"Hah?"


"Dokter tahu alamat rumah ini. Para petugas akan mendatangi kita jika tidak sanggup bayar."


Merepotkan.


Akhirnya aku menyerahkan cincin kawin yang sengaja kubawa untuk kenang- kenangan.


Modelnya sangat bagus. Tidak pasaran. Aku menyukai bentuknya, bukan kenangannya.


Sekarang aku harus merelakan semua itu.


Tidak mungkin aku mengambil uang laba dari tempat- tempat pemberian Mas Indra.


Posisiku akan ketahuan.


Biarlah kali ini aku berkorban dan bertaruh Mas Indra tidak akan mengetahui posisiku dengan adanya Kusuma.


Dengan setengah hati aku kembali ke rumah sakit umum daerah. Menjejakkan kaki dengan hati yang was- was.


Mataku mengelilingi sekitar. Takut kembali ditangkap oleh Mas Indra.


Kala hatiku terlampau takut, indra mataku menangkap keberadaan pria itu. Dalam posisi yang mengenaskan.


Tubuhnya terbaring di atas brankar. Balutan tubuhnya terlihat mengerikan.


Mata kami sempat bertemu.


Buru- buru aku memalingkan wajah.


Tanpa sadar aku menarik tangan Kusuma untuk menjauhi ruang instalasi gawat darurat.


Aku tidak mau melihatnya lagi.


Nanti hatiku menjadi goyah.


Melihat wajahnya mengingatkanku akan Aden. Kudial nomor Ratih yang selalu terangkat pada dering ketiga.


Setelah berbasa -basi, aku menunjukkan alasanku yang sebenarnya menghubungi dirinya.


"Apa Aden baik- baik saja? Bisa kulihat dia?"


Kendatipun dapat dihitung jari saat aku melakukan kontak fisik dengannya, kadang hati ini merindukan Aden dan ingin melihatnya.


Terlebih saat Mas Indra memaksa Aden untuk tinggal di kamar kami, yang kala itu kamar kecilnya sedang diperbaiki untuk disesuaikan dengan template yang aku buat.


Padahal banyak kamar yang lain.


Aku jadi terngiang- ngiang terus wajah polosnya.


Ketika malam, Mas Indra akan bangun dan memberikan asi bantal yang telah kuperah pada Aden.


Tingkahnya sangat lihai dan penuh kasih dalam mengasuh anak.

__ADS_1


Maka dari itu, aku merasa baik saat meninggalkan Aden di sana.


Kasih sayang dan curahan materi akan didapatkannya. Mungkin termasuk kasih sayang ibu, karena menerima Mas Indra harus juga menerima Aden.


Tidak baik bila memperlakukannya buruk.


Jika istri Mas Indra, kelak, dapat berpura- pura baik di hadapan Mas Indra, aku dapat menjaganya saat Mas Indra pergi.


Ratih dan yang lain, akan terus berada di istana megahnya, selama mereka tidak membunuh dan berperilaku amoral dengan sengaja.


"Totalnya tiga belas juta empat ratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah, kak."


Aku mengangguk. Membaca rinciannya secara saksama. Ada obat jalan yang diperuntukkan dalam sepekan, sebagai observasi tingkat keringnya luka.


Duduk diam menunggu. Wanita tinggi semampai dengan setelan jas hitam mengkilat, mendatangi tempat dudukku.


Tanpa basa basi, aku menyodorkan cincin kawinku.


Dia terperangah.


Tentu saja, Gina yang elok ini adalah desainer cincin yang hendak kujual.


Wanita yang cantik dengan balutan pakaian modern itu, nyatanya tidak lepas dari mitos dan cerita- ceritanya yang konyol.


Berkata cincin itu dibuat setelah bertapa sebulan penuh, agar yang memakainya langgeng sampai mati.


Bualan itu, sejak awal aku tidak mempercayainya.


Bukan karena berpikir Mas Indra akan memiliki wanita lain, aku hanya tidak percaya dengan yang namanya mitos.


"Sudah kuduga. Wajahmu yang ga percayaan akan membuat tapaanku sia- sia. Kamu dan suamimu berpisah? Sampai harus menjual cincin kawin berharga ini."


"Aku hanya minta nilaimu."


"Karena hanya satu dan sudah dipakai oleh sepasang orang, saya tidak bisa menghargai setinggi dahulu."


"Saya terima," sergapku cepat.


Untuk membayar rumah sakit\, pasti cukup. Jika benar\, aku malah bisa membuat warung kecil- kecilan. Warung p*p ic*d misalnya.


"Hanya dua puluh—"


"Tujuh ratus delapan puluh delapan juta. Itu harga tawaran saya. Anda bisa menawar lebih tinggi."


Aku tidak mampu berkata. Dua puluh juta, kurasa sudah cukup untuk cincin kecil yang bertabur mutiara kecil itu. Terlihat elegan dan tidak menarik banyak mata.


Permatanya dicukupkan agar tidak menghilangkan kesan sederhananya.


Ratusan juta?


Dan itu harga second?!


"Saya akan jujur. Harga permata ini bisa mencapai satu setengah, tapi karena kami membuat cincin pasangan yang tak pasaran, jika hanya dijual satu, harganya akan sangat turun. Anda dapat meminta nilai penuh jika menjual keduanya."


"Satu setengah miliyar?"


"Ya. Jika sepasang bahkan dapat tiga koma dua, lebih mahal dua ratus juta. Tapi karena satu, paling- paling saya hargai sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta. Tidak sampai satu miliyar."


"Baik segitu saja."

__ADS_1


"Kebetulan saya bawa semuanya. Silakan diterima."


Aku menukar cincin dan surat kepemilikannya dengan sebuah koper berisi uang.


Perempuan itu pamit dengan senyum yang sangat lebar.


Aku membayarkan uang rawat Kusuma dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Aku bukannya tidak pernah memegang uang sebanyak itu. Hanya saja, cincin itu adalah cincin pernikahan. Cincin yang tak semestinya terlalu berharga, karena Mas Indra hanya menggunakanku sebagai pengganti kekasihnya.


Kenapa aku berkata sepesimis itu?


Karena seperangkat alat sholat yang kudapatkan dari ikrar kabulnya, hanyalah alat sholat berkisaran satu atau dua juta.


Dulu aku menganggapnya sangat spesial. Setelah melihat banyaknya kekayaan dia, aku jadi tahu satu dua juta tidak terlalu berharga.


Uang mahar seratus juta pun bukan hal besar baginya, satu jam bisa didapatkannya dengan mudah sejumlah itu.


Cincin kawin itu sangat enteng.


Tak terkira harganya sampai satu miliyar.


"Karena uangnya lebih, mau buat sekalian usaha? Kayanya jualan es seger- seger di sana belum ada. P*p ice misalnya," usul si pria yang pipinya masih saja lebam.


Aku tercengang. Ternyata isi kepala kami sama.


Bagaimana bisa aku dan dia sama- sama memikirkan usaha p*p ice!?


"Sudah nanti saja. Kita amankan dulu uang ini ke rekening baru. Kamu kalau tidak kuat pulang saja. Tubuhmu masih banyak luka."


"Halah. Luka segini mah kecil. Kamu meremehkan kekuatan fisikku?"


"Aku tidak memaksa."


Aku akan acuh saja jika dia memang sudah memutuskan demikian.


Luka di tubuhnya, sangat mengerikan. Tidak dapat terbayangkan apa saja yang dialaminya sehingga mendapatkan luka itu.


Jahitannya pasti ada di mana- mana. Aku melihat darahnya terus berceceran dari berbagai sisi, kala dia dipindahkan dari kamar ke ruang tamu.


Sepraiku pun berubah warna menjadi memerah.


Sempat pula kudengar tulang rahangnya bergeser akibat hantaman benda yang keras, mungkin karena itu bekas makannya sangat berantakan.


Dia pasti kesusahan untuk makan.


Didampingi oleh si pesakitan, akhirnya aku tabungkan semua hasil penjualan cincin kawinku dengan rekening baru.


Menyisakan beberapa gepok untuk membeli bahan masakan baru yang mudah ditelan Kusuma.


Aku sudah merekrutnya, maka aku harus memperhatikan kesehatannya.


Meski tidak meyakini dia benar- benar dapat menjadi bawahanku seperti yang lain, setidaknya aku dapat berbuat baik padanya dan memberikan kesan yang baik.


Jadi, jika dia kembali pulang dan berkuasa, aku memiliki teman yang mampu melindungiku.


Rumahku bukan tempat amal. Kupastikan dia berguna selama dalam istana kekuasaanku, walau tak sebesar istananya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2