(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
048


__ADS_3

"Siapa pelakunya, Mas?" cecarku setelah berhasil menidurkan Aden.


Sepanjang sore, aku memeluknya erat. Aden tidak bercerita apa pun.


Dia hanya diam.


Aku takut sekali mentalnya terganggu.


Memikirkannya saja, aku sudah sakit.


"Dia sudah ditangkap."


Penasaran dengan ucapan Mas Indra yang terbelit- belit, aku menyusup masuk ke dalam penjara.


Ingin melihat sendiri siapakah yang begitu kejam dengan anak kecil.


Ah. Lupa. Di atas sini, kamu tidak akan melihat rasa kasihan.


Siapa yang kutemukan di dalam sini?


Tidak ada orang di dalam Kunjara Dhedet, penjara di dalam keraton, kecuali pria yang sangat aku kenal.


Ya. Kusuma Widjianto.


"Kenapa kamu di sini?" tanyaku.


"Karena sebuah kesalahan yang besar."


Kesalahan besar?


Benarkah dia yang menculik Aden?


Untuk apa?


Masalah adiknya?


Aku sudah menyiapkan ribuan kata bila seandainya yang ada di sini adalah Nenenda, si wanita tua.


Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.


Amarahku hilang? Tidak. Aku hanya terlampau bingung berekspresi.


Kusuma, si bocah yang serampangan, mampu melakukan hal ini?


Dari warga yang diundang ke Keraton, mereka bahkan memberitakan Kusuma yang masih tinggal di rumah dan membuat masakan.


Ya. Pria keras kepala itu tak mengindahkan peringatan Mas Indra.


Menyusup masuk ke dalam rumah lewat jalan bawah tanah yang aku buat.


Dia tahu pintu rahasia itu.


Lonceng tanda pergantian pengawal berbunyi. Aku tidak bisa berlama- lama di sini.


Kulirik Kusuma yang tertunduk.


Raganya diborgol dari kepala, tangan, kaki, dan juga perutnya.


Dia tidak akan dapat bergerak.


Kulangkahkan kaki tepat sebelum barisan pengawal baru masuk meramaikan tempat ini.


Sepasang penjaga yang bertugas mengangguk singkat padaku, sebelum mereka membukakan pintu bagi kawan- kawan mereka.


Berseluncur menggunakan kaki pada bidang yang miring.


Andai saja dapat menjumpai secara resmi, aku tidak perlu repot melewati jalanan yang rumit ini.


Penjara dalam Keraton, Kunjara Dhedet, diperuntukkan bagi orang yang berbuat dosa sangat besar.


Biasanya mengancam nyawa keluarga inti Keraton.


Tidak dapat ditemui kecuali pada hari keputusan.


Karena dianggap berbahaya, tidak boleh ada satu orang pun yang mendekat.


Memikirkan Kusuma di dalam sana, gamang rasaku berpikir dia seburuk itu pada anak kecil.


Selama mengenalnya, kurasa dia tidak akan sekejam itu.


Tapi mungkin, sembilan pekan mengenalnya tak lantas aku benar- benar mengetahui pribadinya.

__ADS_1


Siapa tahu dia sangat tega pada Aden sampai pria kecilku itu hanya diam sepanjang hari?


Aku melesat pergi ke luar gerbang. Masuk ke dalam rumah pembantu yang sedang kosong karena semuanya sangat sibuk.


Mengendap- endap ke luar gerbang.


Seolah baru saja pulang dari kesibukan.


Ternyata, Mas Indra sudah berdiri dengan wajah yang tegang.


Apa dia tahu perilakuku?


Aku dan dia makan malam bersama, tanpa aku sempat mengganti pakaian.


Risi sebenarnya karena tubuh ini baru saja memasuki sel penjara.


Berapa banyak bakteri yang menempel?


Aku tidak betah mengganti pakaian di ruang ganti luar.


Takut ada mata kamera membidik tanpa kusadari.


Lekuk tubuhku belum sempurna tertutup, tapi selalu kupastikan tidak ada kulit aurat yang tampak pada gambar- gambar yang berseliweran dalam tiga tahun belakangan.


"Kenapa tidak sabaran?"


Mas Indra bertanya dengan wajah yang datar.


Duh. Dia pasti tahu kelakuanku hari ini.


Aku tidak menjawab karena merasa bersalah.


Untungnya Mas Indra tidak membahas lebih jauh.


Kami sama- sama diam.


Teringat lagi Aden yang masih belum bicara pada kami, tanpa aba- aba, aku dan Mas Indra menghabiskan akan lebih cepat.


Sesampainya di kamar, pemandangan di sana sungguh menakjubkan.


Ratih, pengasuh pangeranku sudah bangun.


Aku dan Mas Indra saling berpandangan.


Kami serempak menutup rapat pintu kamar. Tidak ingin mengganggu sesi terapi yang entah sadar atau tidak sadar, sedang diberikan Ratih, pasien dokter yang baru bangun.


"Respon tubuh Ratih sebenarnya sudah baik sejak beberapa hari lalu. Hanya saja baru membuka mata pagi ini dan kami melakukan pemeriksaan terbaik. Dia sudah tak sabar bertemu Kanjeng Pangeran."


Ratih, cintanya pada Aden begitu dalam.


Apakah aku masih bisa disebut ibu bagi Aden?


Ratih bahkan bisa bicara dengan Aden yang terus diam pada kami.


"Tentu saja ada semangat besar pada diri wanita itu. Penolongnya sedang kesulitan, dia pasti merasakan waktunya berbalas budi sudah datang. Terapis terbaik juga bisa memulihkan Aden."


Kalimat ketus Mas Indra, entah mengapa terasa menghangatkan.


Pria itu seolah berkata, aku tidak terganti oleh sosok yang lebih paham. Mereka hanya melakukan tugas mereka.


Dokter itu berlalu pergi. Mungkin takut dengan Mas Indra yang tidak terlihat ramah seperti sebelum- sebelumnya.


Tidak ada senyum pada wajah tampan itu.


Hilangnya Aden pasti membekas pada dirinya.


Sesayang itu dia pada Aden.


"Kamu adalah ibu terbaik. Kalau saja publik menargetkan berita hilangnya Aden dari awal, musuh kita akan berlomba mencari Aden terlebih dahulu," tutur Mas Indra tiba- tiba.


Wajahnya berubah teduh.


Perihal berita hilangnya Aden dapat ditutup dengan cepat oleh konferensi pers resmi yang menyatakan keberadaan Pangeran di Keraton.


Berita tentang kami pun kembali surut. Tergantikan oleh megahnya pesta hari jadi.


"Dan harus aku akui, bawahanmu dari Kepengawalan adalah sosok yang pertama kali menjumpai Aden," sambung Mas Indra.


Aku belum mendengar berita ini karena fokusku hanya pada kondisi Aden yang tidak mau bicara.


Ketika kelompok pencarian pulang, aku tidak memedulikan para pengawal.

__ADS_1


Hanya Aden dalam pikiranku.


"Tidak semua orang harus turun lapangan," imbuhnya.


Mas Indra menggenggam tanganku dan memelukku dari samping.


Ingin kudorong dia, tapi banyak mata memperhatikan kami.


Dan...


rasanya sangat nyaman.


Beberapa hari terakhir aku merasa sangat tegang.


Terus memikirkan Aden yang hilang di luaran sana.


Kalau saja Wisesa tidak merecok ke kamarku dan memaksaku untuk menemaninya makan, aku mungkin sudah di opname karena kurangnya asupan gizi.


"Siapa pelakunya, Mas?"


"Besok, sayang. Kita akan melihat wajahnya."


"Kalau begitu biarkan aku yang menjadi algojo."


"Ya?!" sahut Mas Indra.


Wajahnya penuh keterkejutan.


Memang, menjadi algojo tak semudah melampiaskan emosi.


Cambuk hukuman sangat berat.


Dan bila itu hukuman mati, harus melakukan dalam sekali gerakan.


Entah menjatuhkan beban pada hukuman gantung diri atau menusukkan keris ke leher si terdakwa.


Memberikan kematian yang mudah.


Sedangkan aku belum pernah membunuh.


Apa hukuman terbaik bagi penculik pangeran selain kematian?


"Itu pekerjaan yang berat. Kamu tahu sendiri berapa banyak algojo menjadi gila karena tidak kuasa menahan beban mental dari tugas yang mereka lakukan?" terang Mas Indra.


"Kalau algojo menjatuhi hukuman semena- mena tanpa penuh pertimbangan, apalagi dasar hukum yang jelas, tentu dia akan menjadi gila."


Algojo menjadi gila setelah menjatuhi hukuman mati adalah rahasia umum di negara asalku.


Karena kebanyakan dari mereka tahu, kalau terdakwa yang mereka bunuh bukanlah pelaku sesungguhnya.


"Meski kita tidak sedekat itu pada Tuhan. Dalam menjatuhi hukuman, bukankah harus berdasar Kitab Suci? Agar kelak tidak sulit dalam mempertanggung jawabkan hal ini."


Walau Mas Indra terus menolak dan berusaha menghalangi, dia tidak akan berhasil melawan tekadku yang ingin menghukum langsung pelaku penculikan Aden.


Kupandangi pakaian serba hitam dengan kain penutup kepala yang tidak akan terlihat dari luar, namun sangat nyaman digunakan di dalam pakaian.


Seluruh tubuhku tertutup kain hitam.


Berjalan memegang cambuk di tangan kanan dan keris di tangan kiri.


Menghukum para pelaku, serta dalang di baliknya.


Sengaja tidak ingin aku kulik siapa pelakunya.


Aku tidak akan gentar di atas panggung hukuman ini.


Menatap tajam tubuh- tubuh polos yang tertutup rapat wajahnya.


Mereka semuanya adalah laki- laki.


Jarik mereka tampak lusuh.


Sepertinya mereka adalah pesuruh rendahan.


Ataukah mereka orang tinggi yang telah mencicipi hukuman di dalam penjara sebelum sampai di panggung hukuman?


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2