
"Mas, aku boleh kan tinggal di sini?"
"Tapi Mas tidak bisa tinggal lama."
"Aku seorang saja."
"Baiklah."
Aku yang lewat sepulang dari dapur, tidak sengaja mendengar percakapan mereka, tamu mantan suamiku.
Entah kenapa wajah Mas Amir sangat kaku. Seperti tidak mau melepas Mbak Aini di rumah pamannya.
Biasanya dalam enam bulan sekali Mbak Aini akan menginap, ketika ada pertemuan antara keluarga. Kadang juga menemaniku yang sendirian ditinggal berpekan- pekan oleh Mas Indra.
Apa ada hal gawat dalam diri Mbak Aini?
Apa Mbak Aini mengalami sakit lanjutan?
Aku harus memberinya support.
Mereka tidak meninggalkanku di waktu susah. Aku juga tidak boleh meninggalkan mereka di waktu sulit.
Mas Amir akhirnya pulang. Pagi- pagi sekali. Setelah sholat subuh berjama'ah bersama Mas Indra.
Pria itu sungguh penjilat handal.
Mandi sebelum subuh dan berangkat ke masjid dengan gesit.
Bahkan dzuhur ini, tanpa disuruh, Mas Indra pergi sholat ke masjid.
"Munafik," gumamku memandangi Mas Indra yang telah menjauh dengan sepeda motornya.
Masjid di sini berada di perkampungan. Harus ke luar dari komplek istana.
Di dalam istana apakah ada masjid?
Ya. Tapi untuk perempuan. Para pria harus berjama'ah di luar. Berbaur dengan warga sekitar.
Walau sekarang, sudah suka- suka semua orang.
Kebebasan pendapat katanya.
Mau sholat, mau tidak. Tidak terlalu dikengkang.
Katanya, sholat itu ibadah antara hamba dan Tuhan yang tidak boleh disinggung dan diurus oleh manusia, termasuk Sultan.
Berbeda dengan tempat kuasa Mas Amir. Di sanalah Kesultanan sesungguhnya berada.
Kendatipun diterpa riba di sana di sini, tonggak syari'at tetap berkuasa pada ekonominya, termasuk syari'at mengurus sholat masyarakatnya.
Tidak ada satu pun perusahaan yang bergerak ketika adzan berkumandang. Seluruh pria harus berkumpul di masjid.
Jika ada perusahaan yang memaksa umat muslim untuk bekerja di waktu sholat, tidak tanggung- tanggung, izinnya langsung dicabut.
"Dek, sedang apa?"
Suara Mbak Aini mengagetkanku yang sedang mencibir si mantan suami.
"Aku bingung juga mbak mau ngapain."
"Kok bingung? Biasanya jam segini sudah siap- siap jadi tukang kebun," kata Mbak Aini terkekeh geli.
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Benar. Biasanya ba'da dzuhur aku akan siap- siap berkebun. Memastikan segala perlengkapan tempur siaga di tempatnya. Lantas makan siang lalu memilah sampah organik bekas masakan di dapur.
__ADS_1
Itu selalu kulakukan tiap kali Mbak Aini menginap. Agar dirinya tak bosan saat berada di istana Mas Indra.
Istana yang besarnya tidak sampai setengah istana suami Mbak Aini.
"Kalau dipikir- pikir aku terus yang menginap di sini. Kamu mau menginap di Istana Wukir?"
Oh. Baru saja aku terpikir begitu. Ternyata Mbak Aini satu frekuensi denganku.
Aku memang tak pernah menginap di rumah megah itu. Selama tiga tahun ini, menginap di kampung saja dapat dihitung jari. Mana bisa bepergian jauh ke negeri tetangga.
Ternyata tiga tahun aku habiskan dengan sia- sia.
Hanya harta yang berkumpul, tidak dengan kenangan.
Memang ilmuku bertambah banyak seiring banyaknya macam manusia yang aku jumpai.
Terutama tentang ilmu mental dan pengendalian diri.
Yang kurang hanya kenangannya saja. Sedikit sekali kenangan manis dengan makhluk bernama suami.
Bersama Aden pun tak banyak kenangan, sengaja aku menjauhkan diri agar dia hidup dengan damai di istana ayahnya.
Aku tidak mau menjadi gila karena tidak bisa menggapai putraku.
"Suatu kehormatan buatku, mbak. Tapi belum ada waktu nih."
"Iya deh. Ibu Aden mah sibuk terus."
Refleks aku menangkap tangan Mbak Aini dan menggosok punggung tangannya.
Tiap kali menyinggung kata ibu dan anak, Mbak Aini selalu terasa muram. Walau wajah dan suaranya datar- datar saja.
Mbak Aini mengulas senyum padaku.
Aku bernafas lega.
Salah- salah bisa terjadi pertikaian. Karena aku masih dipandang istri pangeran yang mulia.
Bukan mantan istri pangeran yang tidak lagi terikat.
"Ayo makan, Mbak."
"Nggak tunggu suamimu?"
Hampir saja aku menepuk jidatku bila tidak ingat ilmu kesopanan.
Suami. Orang yang sudah berpekan menjadi mantan. Tidak perlu lagi mematuhinya, pun termasuk menunggunya makan.
Terpaksa aku menampilkan senyum bodoh. Seolah lupa kalau ada suami yang harus diperhatikan.
"Mas Indra pasti tidak keberatan. Sudah ayo kita makan dulu. Tadi pagi ada pesan ingin hadir pada acara di desa barat."
Mbak Aini yang mendengar alasanku, mangut- mangut paham. Tidak lagi bertanya dan kami mulai untuk makan siang.
Sudut mataku berkedut. Melirik sosok yang hampir menggapai gagang pintu utama.
Mas Indra memundurkan langkahnya ketika aku mengeluarkan alasan yang membuat dia tak seharusnya muncul sampai sore hari.
Siluet itu menghilang dan menjauh.
Aku tertawa dalam hati.
Pagi- pagi tadi Mas Indra sangat gencar menjilat Mas Amir. Tidak sempat sarapan karena sangat antusias mengantarkan Mas Amir ke bandara.
Menunggu pesawat hingga masuk ke radar tempat kuasa Mas Amir.
__ADS_1
Biarlah dia kelaparan. Siapa suruh semalaman begitu lancang.
Tidur memelukku.
"Jangan buat masalah. Kalau kita tidak terlihat harmonis, nanti Mbak dan Mas mu itu bertanya. Mereka punya indra keenam untuk menebus pintu di depan sana."
Salahku tidak langsung memukul orang itu. Malah mempercayai ucapannya dengan naif. Semalaman dipeluk bagai guling tak bernyawa.
Erat sekali dekapannya.
Aku merutuki diriku yang cepat sekali terlelap kala berjumpa dengan pulau bernama kasur.
Setelah makan berdua dengan Mbak Aini, kami pergi ke dapur. Mengambil sampah organik, yang telah dipilih tentunya.
Hanya yang masih segar dan aromanya harum yang dibiarkan di dalam plastik yang kami eksekusi.
Memuluskannya. Lantas menimbunnya langsung ke dalam tanah.
Mbak Aini sama sekali tidak geli ketika memindahkan pupuk sampah ke dalam tanah. Mencampurnya dengan remahan yang baru kami blender.
Bahkan wanita besar itu memegang cacing.
Masih aneh dalam pandanganku karena tidak ada tampang jijik pada wajahnya.
"Mbak Aini berani banget."
"Haha. Nggak juga. Ini kan nggak berbahaya. Kalo yang berbahaya tuh ngeri."
"Bener juga."
Kami menanam sayur sambil berbincang ringan.
Sudah bukan hal aneh jika keluarga Mas Indra memakan hidangan langsung tanpa zat pengawet, termasuk semprotan zat kimia.
Yang membedakan ialah aku menjadikan sebagian taman belakang sebagai kebun sayur. Padahal kebun sayur sudah ada tempatnya sendiri. Di belakang bangunan.
"Mbak, gimana kalau malam ini kita ke luar? Mbak baru satu kali kan jalan malam di sini?"
Aku mengingat hari itu. Karena memang baru satu kali Mbak Aini keluar dari istana untuk berjalan- jalan. Biasanya hanya di dalam istana. Melakukan pekerjaan kebun yang aku tunjukkan.
Mbak Aini tampak berpikir sejenak.
Matanya melirik meminta pendapat ajudan perempuannya.
Ketika perempuan itu mengangguk. Mbak Aini pun mengangguk.
"Aku penasaran dengan malam hari di sini."
"Aku tunjukkan tempat- tempat bagus, Mbak. Semoga tidak mengecewakan!"
"Sip!"
Aku lega karena akhirnya bisa keluar dari kurungan emas ini.
Usai memastikan Aden aman, aku langsung menyongsong kehadiran Mbak Aini di depan kamarnya.
Lihatlah wajah yang lembut itu.
Seolah tak pernah marah.
Kuharap tidak ada rintangan pada perjalanan malam ini!
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran