
"Apa yang akan kamu lakukan setelah habis masa iddahmu? Kamu akan menikah lagi?"
"Entah pria mana lagi yang jadi jodohku. Saat ini aku hanya ingin menjadikan Aden sebagai penerusmu. Bukankah aku ini istri pangeran? Sedangkan kekasihmu hanyalah milikmu, bukan milik seorang penguasa. Tidak ada yang mengenalnya."
"Aku tidak tahu ternyata kamu sangat ambisius. Tidak seperti Sugiwa yang kukenal."
"Aku hanya mempertahankan hak anakku. Andaikan aku bawa Aden pun, orang- orang di belakangmu, pasti akan mencarinya sampai ke ujung dunia. Bagaimanapun, dia adalah Pangeran Pertama. Anakmu yang sah. Bukan anak di luar nikah."
"Berapa kaliharus kukatakan, Sugiwa. Aku tidak pernah berzina! Baik sebelum bertemu denganmu ataupun sesudahnya."
"Bukankah zina banyak macamnya? Ciu man kamu dan dia, apa tidak termasuk zina?"
Kulihat Mas Indra terbungkam. Tidak dapat membalas perkataanku.
Dia yang ilmunya lebih banyak dariku pasti paham perkataanku, tanpa perlu diulang.
"Aku memohon ampun pada- Nya dan aku meminta maaf padamu. Apa kamu tidak bisa selapang Dia? Maafkan segala kesalahanku dan kita mulai lagi dari awal. Ya, Giwa?"
"Tidak bisa, Mas. Hanya keledai bodoh yang jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. Aku manusia, diberi akal untuk berpikir."
"Dan manusia seharusnya tahu, ada namanya tobat untuk jadi yang lebih baik."
Mas Indra membalas perkataanku dengan cepatnya.
Mata pria itu berkaca- kaca.
Oh tidak.
Apa dia akan menangis seperti anak kecil. Lagi?
Kami berada di kamar yang terbuka lebar!
Apa dia tidak punya rasa malu?
"Mas..."
"Giwa..."
Kami memanggil dalam waktu yang bersamaan.
Belum sempat kami saling berbicara, sebuah suara menginterupsi kami.
Kalimatku yang ingin memperingati dia untuk tidak kekanakan, tertahan.
Pun begitu sepertinya bagi Mas Indra untuk tidak mengatakan yang ingin dia katakan.
"Yang Mulia. Mohon maaf mengganggu. Tuan Epung menunggu di depan. Katanya rapat akan segera dimulai. Orang- orang telah berkumpul di aula depan."
Setelah drama panjang penolakan Mas Indra untuk melepasku, akhirnya aku dapat pergi dari sana kala Mas Indra dipanggil untuk pertemuan pengadilan.
Aku sekali lagi memastikan Aden berada dalam naungan yang baik. Dan memastikan keperluan bulanannya.
Nanti aku akan sering- sering ke tempat ini jika memiliki waktu luang.
Bocah kecil yang coba kuabaikan itu mempunyai daya tarik yang sangat besar.
Aku tiada dapat lepas dari mata beningnya.
Ingin selalu mencurahkan kasih dan sayang padanya.
Hanya dapat meminta maaf kala mata itu berkaca- kaca, seperti ayahnya.
Nampaknya Aden mengerti ibunya ini ingin pergi lagi.
"Sayang, jangan bersedih. Nanti langkah ibu berat. Kamu yang kuat, ya. Ada banyak orang mencintai dan memperhatikanmu di sini. Ibu akan sering ke sini."
__ADS_1
Bukannya tenang. Aden malah menangis kencang.
Kuambil dia dari dekapan pengasuhnya.
Menimang -nimang dan mencoba menennagkannya.
Aden, putraku. Kamu kenapa sangat sensitif begini? Selalu menangisi ibu yang selalu mengabaikanmu.
Daripada Ratih yang selalu di sisinya, Aden lebih lengket padaku, ibu kandungnya.
Bukankah seharusnya anak- anak lebih mengenali mereka yang terus berada di sisinya?
Hatiku menghangat menatap wajah Aden.
Putraku menyayangiku.
Akankah kudapat meninggalkan dia lagi?
Atau kubawa saja dia pergi dari sini?
Tidak.
Tidak pernah ada pilihan bagi Aden dan aku untuk bersama, kecuali aku kembali lagi bersama ayahnya.
Kuturunkan Aden yang sudah terlelap.
Tangan kecil itu meraih jemariku saat hendak kutinggal.
Dengan gerakan sangat pelan, kubuka satu persatu jari mungilnya.
Adenku, maafkan ibumu ini.
Dengan hati bercampur aduk. Kuseret koperku.
"Tidak perlu."
Kutolak uluran tangan ajudan.
Jika aku melepas sesuatu, aku tidak akan lagi mengambil manfaatnya. Sedikit pun.
Kuseret koper sampai jalan raya. Lumayan berkeringat setelah melewati tembok tinggi yang panjang.
Rumah- rumah sekitar sangat lenggang. Tentu saja karena penghuninya sedang rapat di aula.
Dan para wanitanya mencari perhatian Mas Indra.
Meski sudah menikah dan mempunyai aku, para orang tua di sana tetap kekeuh mendekatkan anak- anak mereka pada Mas Indra.
Apa mereka ingin menanamkan bibit pelakor pada anaknya?
Rasanya jika netizen mengetahui hal ini, rumah mereka akan diseruduk.
Aku tahu poligami itu boleh. Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.
Layaknya perang.
Tidak bisa semua orang terjun ke medan perang.
Bahkan seseorang yang menguasai ilmu bela diri dan ilmu tembak menembak; ilmu perang, bila orang tua di rumahnya sedang sakit atau membutuhkan dirinya, Nabi mengharamkan dia untuk pergi berjihad di medan perang.
Aku sama seperti kebanyakan manusia awam di luar sana. Masih banyak ilmu yang belum kutahu, pun ibadah yang banyak dan mudah itu belum banyak kucicipi.
Bagaimana bisa aku tiba- tiba melakukan ibadah paling berat sepanjang hidupku?
Aku tidak menentang poligami, hanya tidak mampu melakukannya.
__ADS_1
Dan wanita baik- baik, tidak akan mencari perhatian pria beristri.
Kalaupun menjadi istri kedua atau ketiga atau mungkin keempat, tidak pantas dia mendekati pria itu sebelum sah menjadi suaminya.
Bila seorang wanita menggoda pria beristri dan lantas menjadi istri keduanya, ketika hubungan mereka sudah terlampau jauh, sudah barang tentu dia bukan wanita baik- baik.
Yang kulihat selama berada di antara para petinggi yang mumpuni dalam harta, kuasa, dan ilmu agama serta dunia, mereka menikah lagi bukan karena tergoda.
Ada perantara yang menghubungkan mereka.
Baru berjumpa ketika lamaran telah saling bertukar.
Bukannya saling tergoda.
Tapi, tetap saja aku yang sedikit imannya ini, tidak dapat memahami nikmatnya ibadah poligami.
Tak terasa perjalananku menuju rumah sudah tersingkat oleh renunganku.
Rumah yang ditinggal sebulan lebih.
Tidak kotor karena sudah ada yang membersihkan.
Tak terbayang jika aku masih berada di bawah. Harus kubersihkan sendiri rumah yang kotor itu.
Ya. Seenak itu berada di atas. Segala tersedia tanpa perlu berletih- letih.
Hanya perlu memoles diri dan fokus mengembangkan bakat di dalam diri.
Maka, bukan hal aneh jika orang atas lebih mahir banyak hal dibanding orang bawah.
Meski, seringnya orang yang mabuk dengan kemewahan, bawaannya selalu malas dan tidak mau berkembang.
Aku mengernyit kala menghidu aroma harum di seluruh rumah.
Seorang wanita paruh baya mendekat padaku. Aku bersyukur dalam hati.
Aku bisa memeriksa rumah bersamanya.
"Udah dateng, bu? Gimana kabar keluarga di kampung? Kasihan loh suaminya sendiri aja ngurus warung."
Wanita itu menyamakan langkahnya denganku. Aku balas tersenyum padanya sembari mencerna ucapannya.
Suami..
Warung..
Dia masih di rumah ini!?
Kubuka pintu ketika seseorang di dalam rumah juga membuka pintu.
Wajah itu tersenyum canggung. Memberikan bingkisan pada ibu yang datang bersamaku, berbincang dengan basa- basi. Lantas menerima uang darinya.
"Kamu—"
"Yakin mau marah di depan rumah?" potong dia, Kusuma.
Wajahnya dipenuhi dengan garis kemenangan.
Aku terpaksa masuk. Mengekor di belakangnya.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1