(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
019


__ADS_3

Aku tak lagi sungkan.


Dilayani itu rasanya sangat enak.


Kini aku paham, betapa banyak orang melakukan segalanya agar kenikmatan seperti ini tidak diusik oleh pihak lain.


Menghalalkan segala cara.


Apa ke depannya aku akan menghalalkan segala cara demi bersama dengan Mas Indra, menjadi wanitanya seorang?


Tidak tahu.


Sejenak kuberpikir, apa pantas aku di posisi ini?


Berderet wanita yang menyalamiku di atas pelaminan, mereka semua adalah wanita berkelas, anggun, dan berwawasan luas.


Aku berjodoh dengan Mas Indra dengan alasan yang klasik.


Mas Indra tertarik dengan kakekku.


Seorang mbah yang sangat menyayangiku, ternyata seorang mata- mata kesultanan.


Ilmu beliau sangat tinggi. Duniawi ataupun akhirat, aku cucunya saja baru tahu ketika masa perkenalan dan Mas Indra terus saja menyanjung kakekku.


Kakekku bukan pemuka agama, hanya punya banyak sawah, yang kini telah habis dibagi- bagikan pada tujuh belas anaknya dan sebagian besarnya disumbangkan untuk warga.


Ketika kecil sampai remaja, aku hanya melihat kakekku sebagai seorang petani sederhana.


Ketika akal telah sempurna dan mampu memahami perkataan masyarakat yang sering memberi jajanan tanpa ada acara khusus, aku pun tahu kakek begitu kaya.


Kaya dalam artian sesungguhnya.


Menitipkan bekal pada khalayak ramai.


Kakek yang hanya sibuk bertani, mengajariku ilmu pertanian, ternyata sangat luar biasa.


Kakek mampu berfatwa dan mengemukakan dalil, tapi tidak pernah menunjukkannya di depan para ustadz kampung yang terkenal.


Mendengarkan, bahkan meminta pendapat.


Aku tidak sempat menimba ilmu darinya. Kakek telah wafat ketika aku belum memahami, kenapa seluruh desa menangis bersedih atas kematiannya.


"Aku akan meeting di luar kota dalam sepekan ini. Kamu baik- baik di rumah."


Walau Mas Indra mengatakan hal itu dengan wajah yang datar, aku merasakan perhatian di tiap kalimatnya.


Aku sangat percaya diri.


Hari- hariku berlalu dengan terasa sangat senang.


Kala satu hari sebelum kedatangan Mas Indra dari tempat kerjanya, ayah dan ibu mertua, maksudku Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu datang.


Kehebohan langsung terjadi di rumahku. Rumah suamiku, maksudku.


Chef yang biasa menangani urusan makan keluarga Mas Indra sedang berlibur.


Aku yang tidak terlalu pilah pilih dalam makanan, memberikan jatah libur padanya saat dia meminta izin.


Tidak terbayang kali ini aku akan menghadapi mertua. Sendirian.


Makanan mereka itu khusus, tidak bisa sembarangan. Aku benar- benar pusing.


"Bagaimana kalau nyonya buatkan sup dan makanan yang nyonya bisa. Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu, pasti suka," nasihat seorang dayang senior,

__ADS_1


"Apa bisa?" gumamku ragu.


Masakanku tidak pandai. Walau mereka menjuluki aku sebagai gadis desa, aku hanya tahu bercocok tanam di ladang.


Jarang memasak karena sudah kukatakan, aku tidak pilah pilih.


Sayur yang tak matang, mie yang setengah matang, nasi yang keras ataupun terlalu lembut.


Asal tidak basi, aku pasti melahap habis yang terhidang di depanku. Kecuali jengkol.


Ya. Sangat tidak mencerminkan wanita desa kan?


Dengan mengucap basmalah, aku mulai memotong wortel. Aku akan membuat sayur sop.


Aku sangat fokus dan berhati- hati dalam membuat hidangan pertama untuk dua mertuaku. Telingaku sibuk mendengarkan arahan chef yang telah tersambung dengan ponselku.


Dia sedang berada di pulau yang jauh. Butuh waktu yang lama untuk menyiapkan hidangan.


Memang, perjalanan dari sana ke sini hanya butuh waktu tiga jam.


Namun setelah itu, orang yang baru kembali dari luar haruslah mensterilkan dirinya. Pakaiannya, tubuhnya.


Orang- orang menyebutnya rumah oven. Sebab di rumah itu dipenuhi uap panas. Segala bakteri haruslah hilang.


Setelah itu mereka harus mandi kembang tujuh rupa di tujuh pemandian.


Barulah memakai jarik yang dipersiapkan.


Sedangkan jarik chef belum keluar dari pengasapan.


"Nyonya ... mengapa Anda meletakkan penggaris di atas meja?"


Suara orang di belakangku sangat lembut. Tapi tetap saja yang namanya bersuara tiba- tiba akan membuat jantung melompat.


Ujung jariku tergores pisau.


Sedangkan yang lain...


membuang potongan wortel simetrisku.


Mereka berkata sayuran itu tidak lagi higienis.


Padahal ... darah di tanganku sama sekali tidak mengucur ke bawah.


Ingin marah. Percuma. Aku dikejar waktu.


Akhirnya aku memotong sayuran baru.


Rasa dongkol hilang ketika hidanganku selesai dibuat dan rasanya tidak terlalu kacau.


Ada sayur sop, tempe, tahu, sambal, dan lalapan.


Tidak keburu membuat ayam goreng.


Bagiku ini sudah termasuk istimewa. Untuk skil masakku.


Tapi tidak mungkin masakan ini berarti bagi kalangan mereka.


Aku terduduk lesu di ujung meja. Pakaianku dipenuhi aroma bau keringat.


Berjalan gontai memasuki kamar. Mandi dan berganti pakaian.


Di kala air berjatuhan ke atas kepalaku, rasa pusing dan penat langsung menghilang. Tubuhku kembali rileks. Aku akan menghadapi mertua dengan semangat membara.

__ADS_1


Katanya para mertua senang sekali menilai masakan mertua dengan nilai yang tak adil.


Aku akan membentengi hatiku.


Merapalkan dua kalimat secara berulang.


"Masakanku memang tak enak. Tak perlu diambil hati."


Aku bersiul- siul ketika keluar dari kamar mandi. Kebiasaanku saat pikiran dipenuhi berbagai prasangka.


Kubuang segala pikiran yang tak perlu.


Melenggang masuk ke ruang ganti dengan hati yang berusaha riang.


Kendatipun sebenarnya, jantung ini bertalu- talu.


Bagai ada genderang dibunyikan di dalamnya.


Kupilah dan kupilih gamis yang tergantung di ruangan ini. Gamis- gamis itu harganya jutaan, pemberian mas Indra untukku.


Bukankah luar biasa?


Baru pertama kali berjumpa, sudah memberi begitu banyak kejutan.


Sebenarnya aku terhitung jarang mengenakan gamis, tapi untuk memakai pakaian lainnya, lebih tak mungkin.


Di ruangan ini, selain pakaian Mas Indra, hanya ada gamis dan kebaya.


Sekali lagi, aku bukan gadis desa yang mereka pikirkan. Aku lebih suka mengenakan celana panjang dan baju panjang serta rambut dibaluti kain persegi panjang, yang kadang tak tertutup sempurna.


Sulit sekali bergerak dengan kebaya, aku lebih memilih mengenakan gamis, meski itu pasti sama saja sulitnya.


"Nyonya, Kanjeng Ibu dan Kanjeng Romo hampir sampai."


"Ya. Saya sudah siap," sahutku sebelum membuka pintu.


Aku melempar senyum canggung pada dayang senior yang mendadak membisu dan memperhatikanku dari atas ke bawah.


Dia berdeham, sebelum mengucapkan sebuah kalimat.


"Mohon maaf, nyonya. Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu berkunjung pribadi. Tidak perlu tertutup seperti itu. Anda harus mengenakan kebaya."


Aku tidak sempat memprotes. Dayang senior sudah membawa kawanannya untuk masuk ke dalam kamarku.


"Nyonya, Anda yang memakai kemben ini sendiri atau kami pakaikan?"


Aku bergidik ngeri mendengar pilihannya.


Meski tidak sempurna menutup aurat, aku sangat malu untuk memperlihatkan bagian yang lain.


Bahkan ketika sakit, aku lebih memilih bebersih di kamar mandi seorang diri daripada ditemani ibuku.


Ada rasa malu yang besar di dalam sini.


"Aku pakai," ucapku pasrah.


Wajah dayang senior sangat sangar. Aku tidak dapat membantah.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


Bantu subs guys:


@Al-Fa4


__ADS_2