(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
043


__ADS_3

"Bagaimana bisa kamu begitu kejam? Membully Faridah sampai masuk ke rumah sakit? Dan Indra! Disiplinkan istrimu! Begini istri yang kamu pilih?"


"Mantan, Ne."


"Kamu..!" Nenenda menunjuk wajahku.


"Sudah, Nenenda. Istriku tidak salah. Memang Nona Faridah yang tidak kuat menari. Tidak mungkin kan membiarkannya tampil?" kata Mas Indra dengan santai.


"Mantan, Say. Bukan Istri," sungutku.


"Ananda memang agak pusing belakangan ini, Nenda. Boleh tidak nanti ananda duduk- duduk saja di perayaan?" Faridah rupanya dapat bersuara. Kukira dia hanya bisa terdiam.


"Wah boleh banget. Nanti kamu dampingi Indra. Bukankah kamu sendiri, Ndra? Sekalian saja umumkan perceraianmu dengan istrimu."


"Mantan, Ne."


Orang- orang ini sudah dibilangin masih aja tidak menyematkan mantan!


Biarkan sajalah mereka berbincang. Aku sibuk menyuapi Aden yang anteng di pangkuan bapaknya.


Sepertinya Aden sudah terbiasa mendengar keramaian, dia tidak terganggu dengan perdebatan orang dewasa di depannya.


"Jangan menggoda cucuku, Sugiwa! Kamu sudah menceraikan dia! Kenapa masih saja dekat- dekat dengannya?"


Aku menaikkan satu alisku. Merasa aneh dengan ucapan Nenenda.


"Nenenda apa tidak bisa membedakan siapa yang mengejar siapa yang dikejar?" selorohku.


Aku terkekeh, mereka malah cemberut.


Sejurus kemudian aku menatap Mas Indra. Ingin makan dengan tenang malah diperdengarkan ocehan si nenek tua.


Mas Indra sepertinya paham. Dia meletakkan bill dan memencet bel ruangan.


"Bungkuskan semuanya," kata Mas Indra pada pelayan.


Pelayan itu mengangguk dalam. Meraih makanan yang terhidang dengan tangan kosongnya.


Menumpuknya sampai ke lengan atas.


"Kami permisi dulu, Nek. Aden sudah harus tidur," tutur Mas Indra saat pintu belum tertutup rapat.


Nenenda tidak akan bisa berkelit. Sama seperti cucunya, dia selalu menunjukkan hubungan baik denganku di depan publik.


Nenenda mengangguk singkat. Memberikan izin tanpa kata.


"Aku mau cari minuman dingin di luar," ucapku pada Mas Indra.


Pria yang sudah kadung masuk lift itu tidak mampu mencegahku.


Daripada bikin ribet pergi bersama Mas Indra, lebih baik aku melakukan me time.


Menyuruh orangku yang bekerja di sini untuk mencarikan baju ganti sederhana. Polos tanpa ornamen apa pun.


Aku menjajakan kaki ke setiap gerobak. Mencicipi minuman dingin dan makanan jalanan, yang sudah lama kutinggalkan.


Saat makan aku hampir tersedak ketika ada seseorang dengan lancangnya mencolek bahuku.


Aku semakin jengkel melihat pria yang sama siang tadi. Dia senang sekali mencolek- colek!


"Wisesa!"


"Eh. Bener ini kamu Wong Sugih! Padahal tadi aku cuma nebak."


"Jangan colek- colek begitu. Kamu mau dipotong tangannya?!"


"Kalian ini ketat sekali."


"Setiap kaum punya peraturannya sendiri."


"Aku menyerah." Wisesa mengangkat tangannya. Dia tersenyum konyol seperti Kusuma saja.

__ADS_1


Baru dipikirkan, Kusuma muncul di depanku.


Akhirnya kami duduk bertiga dengan jajananku sebagai jamuan.


Mereka melahapnya tanpa meminta izin!


Sedang aku sudah bercapek- capek jalan dari ujung ke ujung!!


"Kenapa kalian makan kepunyaanku hah? Kere kah kalian?"


"Memang!"


Ih! Malah kompak menjawab perkataanku.


"Aku ga bawa uang," kata Kusuma mencari pembelaan.


"Uangku belum ditukar." Wisesa turut menyatakan keluhannya.


Setelah saling bersuara, mereka malah berbincang- bincang khas pria. Tertawa pada lelucon nan receh.


"Tuan, rupanya Anda di sini!"


Seorang pria dengan baju adat Adaka mendekati meja kami. Sudah jelas dia hendak menjemput Wisesa.


"Kamu panggilkan pedagang tersisa."


Pria itu mau apa?


Ajudannya langsung bergerak, menyuruh seluruh gerobak mendekat ke tempat kami.


Aku merasa hal yang tidak beres saat dia tersenyum lebar.


"Nona, silakan makan sepuasnya. Kamu juga, bro. Makanan mereka semuanya sedap- sedap."


Melihat wajah berharap para pedagang, aku membiarkan mereka melayani kami.


"Gratis kan ini?"


Haram bagiku mengganggu jalannya uang- uang itu!


"Gratis, Nona."


Tak terasa bersama mereka sampai dini hari.


Karena jalanan sangat ramai menjelang hari jadi keesokan hari, aku sampai tidak sadar waktu.


Di dalam kamar, Mas Indra sudah tertidur bersama Aden.


Ya sudah aku mengalah saja tidur di luar.


Memakai baju berlapis, diakhiri mukena. Ruang depan sangat dingin di malam hari.


Ketika matahari belum menyapa, ruangan ini sudah dipenuhi oleh suara- suara kesibukan.


Aku menggeliat. Menatap jam dinding yang menunjukkan aku baru tidur dua jam lamanya.


Luruh aku ke kasur di kamar. Tercium bekas aroma bayi yang menenangkan. Aku kembali tidur sampai terasa tubuhku diguncang hebat.


Aku terbelalak melihat Mbak Aini di kamar ini.


"Dua jam lagi upacara dimulai! Kamu tidak berniat bolos kan?"


Meski kepala ini pening, aku tetap menyiapkan diriku dengan maksimal.


Mbak Aini rupanya membawa penata rias buatku.


Aku kembali memakai kebaya merah yang dahulu sangat kusukai.


Aku bercermin memperhatikan riasan yang sempurna ini.


Melihat ke nakas, tergeletak kotak beludru merah yang diantarkan bawahanku.

__ADS_1


Cincin milik pelaku pengeboman.


Aku mengenakannya.


Lantas keluar dengan elegan. Menatap lurus, mengabaikan bisikan dan panggilan.


Sampailah aku pada Mas Indra.


"Cantik sekali kamu, sayangku," pujinya.


Tidak ada waktu membahas gombalannya, upacara hari jadi akan dimulai kembali.


Entah mengapa, Mas Indra mematung seharian ini.


Dia tidak menggodaku seperti yang lalu lalu, apa dia sedang memerankan pria dingin yang misterius?


Hal aneh yang terjadi lainnya ialah aku sedikit sekali mendengar suara berbisik.


Aku tetap ke daerah wanita untuk menyampaikan sambutan.


Mereka menutup mulutnya dengan rapi. Tatapan sinis pun tidak kurasakan, kecuali dari Faridah.


"Kanjeng Nyonya, hamba hendak bertanya. Apakah Anda dan Kanjeng Pangeran sudah tidak bersama? Hamba mendengar desas desusnya."


"Yang Mulia Kanjeng Nyonya! Izinkan hamba menghukum Nona Faridah! Mulutnya tidak bisa dibiarkan."


Sulistya, wanita satu geng dengan Faridah itu angkat suara untuk membela kehormatanku?


Faridah nampaknya sama syoknya denganku.


Apakah mereka semua di sini sedang memainkan peran?


Kulirik Nenenda yang selalu membersamai Faridah. Dia juga diam saja.


"Baik, Nona Tya. Bawa pelaku ke ruang hukuman."


Kutatap Nenenda. Dia sama sekali tidak membantu Faridah.


Kutinggalkan aula ini. Muak bersama dengan para wanita yang licik.


Para pria lebih menghargai keberadaan seseorang yang sudah dipilih menjadi pasangan.


Tidak peduli walau hanya rakyat jelata, bangsawan pria yang lebih rendah dapat menghormati mereka. Mungkin karena sudah menjadi tugas untuk manut pada yang lebih tinggi.


"Wisesa..." panggilku.


Wajah yang banyak senyum itu menatapku tanpa ekspresi.


Rupanya sedang bermain ekspresi seperti Mas Indra.


Kami akhirnya berhadapan dalam perjamuan. Menerjemahkan kalimat Adak adalah tugasku.


"Istri Anda sangat pandai," puji Wisesa menggunakan bahasa kami.


Aku tersipu malu. Sangat jarang orang menyanjungku dengan tulus.


"Dan dia sangat cantik. Sampai kukira masih seorang gadis," imbuhnya.


"Memang sangat cantik. Itulah mengapa Anda harus menjaga mata di sini. Wanita kami tidak bisa terus dipandangi."


"Mas..." bisikku seraya memperingati.


Dia sedang mengancam pangeran bangsa lain!


Jangan karena saling sindir lalu tercetus perang besar yang tak berkesudahan!


Tidak lucu.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2