(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
037


__ADS_3

Jika padaku, demi wanita pilihannya untuk sang cucu, Nenenda berani berlaku dengan keji.


Apakah janin itu milik Gendhis?


Mencoba mencari pengakuan pada Nenenda?


Dia sungguh tidak punya akal. Langsung datang ke lubang buaya tanpa memeriksa latar belakang Nenenda.


Dia wanita kejam yang rela menghabisi adiknya sendiri supaya dapat bersanding dengan pemilik tanah ini.


Kusingkirkan dahulu masalah dengan keluarga mantan, untuk menghadapi orang keji yang hendak membunuhku.


Sampailah aku pada rumah yang kubeli setahun lalu.


Bersih mengkilap dengan aroma makanan harum, seperti biasanya.


Di depan pintu aku berpapasan dengan sosok wanita yang cantik parasnya.


Kutatap tajam ia dan dirinya diam bergeming.


Tiada rasa takut pada wajahnya.


Kujulurkan tangan menodong tas jinjing yang dibawanya.


Dia sosok yang kucari.


Wanita yang membujuk Gendis.


"Apa sih?!" sentaknya.


Aku melempar foto- foto yang baru saja kucetak di persimpangan jalan.


Kertas- kertas tebal itu beterbangan.


Dalam lengahnya, aku merampas tas jinjing itu.


Menjatuhkan segala isinya.


Sekilas tidak ada yang aneh. Perias wajah, pemutih gigi.


Kupanjangkan kaki ke arah bedak padat yang terbungkus rapi oleh kemasan anti pecah.


"BERHENTIIIIII!" teriaknya penuh dengan ketakutan.


"Sepertinya kamu telah memahami yang terjadi," kataku pada Kusuma yang tergopoh mendekat.


Mungkin dia penasaran.


Kenapa adik tercintanya berteriak sekencang itu.


"Kumohon jangan membawa berita ini. Dia anak yang polos. Dia hanya diperalat."


"Anak polos bisa meminta kakaknya untuk membiarkannya menggoda seorang pria?"


Aku tidak mendengarkan pintaan Kusuma.


Membiarkan Kamala menghadapi hukumannya mengancam nyawaku.


Apa yang akan didapatkannya?


Dia salah satu orang yang punya darah kebangsawanan!


Tapi seperti kata Kusuma, dia hanya diperalat.


Kumasuki kamar yang terkunci rapat. Mengambil cincin bermata merah yang tersimpan rapat di balik pakaian dalamku.


Mengenakannya di jari manisku.


Ukiran cincin ini sangat rumit. Tidak pernah kulihat di pasaran. Bertanya pada ahli perhiasan pun mereka berdecak kagum.


"Dari jauh terlihat sederhana. Tapi saat mengenakan lensa kamera, di dalamnya ada aksara yang saya tidak mengerti."


"Bisa tuliskan?"


"Ya!"

__ADS_1



Begitu ukirannya.


"Nampaknya Nyonya tahu?" tanya si ahli emas.


"Terima kasih, Pak!" kataku dengan misterius.


Mobil yang kutumpangi membelah jalanan lebih lama dari perjalanan kemarin.


Aku kembali ke rumah masa kecil yang sudah banyak berubah. Satu rumah tetangga bahkan sudah menyatu dengan rumah kami.


Niatnya dua rumah yang lain ingin ditebus supaya langsung menghadap jalan.


Mereka terus menaikkan harga.


Ratih tak kunjung membuka mata. Benturan di kepalanya sangat hebat.


Ibu, ayah, dan adikku sudah legowo menerima perceraianku.


Adikku itu bahkan sangat mendukung.


Ritme hidupku kembali pada detak yang normal.


Hanya masalah pengeboman yang belum nampak pelakunya.


Perihal pernikahan dadakan yang direncanakan Nenenda untuk mantan, tentu saja gagal.


Wanita paruh baya itu bahkan kena tegur anaknya sendiri.


Malu, melakukan kehendak tanpa bertanya pada orang yang terlibat. Semakin tua seharusnya makin bermartabat, bukannya memaksakan kehendak.


Kanjeng Romo juga mendapat desakan dari dua arah.


Ada yang bertanya- tanya. Kenapa keluarga yang menjalankan monogami akan menikah lagi? Apa terjadi perceraian yang menghinakan?


Yang lain justru menyodorkan putri- putrinya tanpa malu.


Begitulah kisah yang kuterima dari bawahanku.


Berada jauh di Timur, mendengar kisah di Barat. Punya mata dan telinga.


Lalu, anehkah bila orang- orang saling berebut dan membunuh?


Dering ponsel berbunyi kala aku sedang rebah di bawah pohon.


Suatu hal menakjubkan, bisa sesantai ini.


"Halo.." kataku mendahulu.


["Kamu tidak lupa kan? Besok hari jadi Kesultanan. Hadirlah."]


Sampai lupa aku tentang masalah itu.


Kami menikah dan bercerai menjelang hari jadi. Kanjeng Ibu, selain ga mau ikut campur rumah tangga anaknya, beliau juga sibuk mempersiapkan segalanya.


"Kamu beneran tidak mau ambil hak asuh Aden? Kamu ibunya, punya hak untuk itu."


"Kalau Giwa mengambil Aden. Bukan hanya nyawa Aden, bu. Tapi kita semua. Kita tidak punya kekuatan untuk itu."


"Kita punya Allah, Giwa."


"Giwa tahu, Bu. Tapi kita juga harus ikhtiar. Bohong kalau cuma mengandalkan do'a."


"Tapi ibu rindu Aden, Nak. Pengen lihat. Pengen meluk. Anak selucu itu, siapa yang akan mencelakakannya?"


"Banyak, Bu."


"Terus kalau mantan suamimu nikah lagi, apa Aden bisa selamat??!" cecar ibu.


"Mas Indra akan menjaganya, Bu. Sudah, jangan meminta yang sulit. Kalau ibu mau mengunjungi Aden, keluarga mereka tidak akan melarang. Bilang saja kalau ada yang demikian."


"Nenendamu itu."


"Dia melarang??"

__ADS_1


"Ya. Kamu pikir kenapa kami tidak menanyakan kehadiran Aden saat kamu dan Nak Indra datang? Sang Nyonya melarang kami berjumpa dengannya. Katanya kita sudah putus hubungan dengan mereka dan dilarang dekat- dekat lagi. Nanti cucu menantu barunya menjadi gelisah."


Haih. Nenenda ini memang suka sekali ikut campur.


Aku meyakini ibu untuk dapat bertemu Aden.


Akhirnya kami memutuskan pergi lebih awal ke ibu kota. Menginap di hotel yang lumayan jauh tentunya.


Perkataan cucu sangat disayang nenek rupanya benar sekali.


Ibu yang punya prinsip tidak mau mencari muka di depan keluarga Mas Indra, enggan menginap kalau bukan ada acara, sekarang mengunjungi ibu kota demi cucu tersayangnya.


Dua orang tuaku begitu antusias, berbanding dengan adik tersayangku yang justru pucat pasi.


"Kenapa?" tanyaku setengah berbisik.


Dia menggeleng lamat -lamat.


Wajahnya masih pucat pasi.


"Kak, kamu akan melindungiku kalau aku terkena masalah kan?"


"Asal bukan membunuh orang, kamu masih bisa diselamatkan."


"Akan kupastikan bukan pembunuhan, kak."


"Lalu apa? Menghamili seorang gadis?"


"Dih! Walau suka bolos, aku juga mengharapkan istri baik- baik kali."


Aku mengulum senyum. Akhirnya wajah adikku kembali tampan.


Kami berkendara dengan sesekali mampir ke rumah makan dan tempat oleh- oleh.


Ibu membeli banyak buah tangan.


Kebanyakan adalah mainan anak- anak yang belum bisa dipakai Aden.


Sesampainya di hotel, ibu masih saja tidak bisa diam. Merengek ingin berjumpa dengan cucunya.


Berkali- kali aku memastikan adakah Aden di rumah Mas Indra, pria yang tidak pernah mati ponselnya itu, tidak menjawab dering telepon dariku.


Mas Indra sudah pulang, tidak mungkin terus menitipkan Aden pada kedua orang tuanya kan?


"Cepat, Giwa!"


"Mas Indra belum jawab, bu."


"Udah lah! Seperti katamu, kita punya hak menjumpai Aden selama tidak mengganggu! Ini siang hari. Mana boleh mereka melarang!"


"Baik, bu.."


Ayah tidak sanggup mengikuti keinginan istrinya. Tubuh rentanya tidak kuat menahan diri dari istirahat. Damara turut mengangkat tangan.


Kuhubungi pengawal yang ada di sekitar sini. Dua orang mengiringi kami.


Aku tidak mau menurunkan waspada di tanah ini.


Lebih lagi, banyak yang sudah menduga nasib pernikahanku dan Mas Indra. Mereka akan menghalangi kami untuk kembali dekat dengan keluarga Mas Indra, walau ada anak di antara kami.


"Ibu ga sampe mikir kamu sampe punya pengawal begini, Nak. Pasti hebat- hebat, ya," kata ibu menatap takjub badan- badan besar yang duduk di depan kami.


Kedua pria besar itu tersipu malu.


Aku mengangguk singkat.


Bukan menyombongkan diri di depan ibuku.


Ada resah dalam hati ini yang menahan senyum dan kalimat yang hendak keluar.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


Maaf baru update, guys!


__ADS_2