
"Kamu 'kan sudah melakukan khulu' pada Kangmas Indra, kenapa kamu masih saja ganjen dan mengundangnya tinggal? Kamu harusnya tahu, ibu hamil tidak boleh banyak pikiran."
"Pertama, hubungan aku dan Mas Indra sudah berakhir. Tapi tidak tentang Aden di antara kami."
"Kedua, rasa- rasanya bukan urusanmu mau Mas Indra melakukan apa. Kamu sebegitu takutnya Mas Indra berpaling?"
"Bagaimana rasanya pria yang kamu cintai berpaling pada wanita lain? Sementara kamu telah membuat banyak keluarga retak. Tak lagi hangat, seperti sebelumnya.
"Dan rasa- rasanya hamil di luar nikah tidak akan seberat itu."
"Silakan lahirkan bayi itu untuk mengetahui siapa ayah dari bayi itu."
Gendhis, wanita yang katanya sudah dibuang Mas Indra, masih saja membuat kekacauan.
Salah satu kafe pemberian Mas Indra untukku, dikacaukannya ketika baru saja buka.
Andai sama seperti kebanyakan tokoku yang lain, tidak terlalu ramai di pagi hari. Tidak perlu aku datang ke tempat ini.
Kafe ini terletak begitu strategis. Banyak orang senang bercengkerama dan mengerjakan tugas sebelum masuk waktu kantor.
Waktu umum kantor masuk di wilayah ini adalah pukul sembilan pagi sebagai pertimbangan, banyaknya pria karir yang juga harus mengurus rumah.
Ya. Pria lah yang mengurus rumah, wanita yang membantu.
Namanya membantu, tidak semua dibebankan pada wanita. Hanya sebagian dikerjakan wanita.
Hanya saja, memang sudah menjadi kebiasaan jika wanita diharuskan mampu mengerjakan banyak hal. Dan tetap saja wanita yang mendominasi pekerjaan di rumahnya.
Tahun lalu telah keluar Maklumat Sultan jika kewajiban haruslah dikembalikan pada orangnya.
Maklumat ini dikeluarkan setelah perhitungan panjang dari satu kasus yang tak juga surut; Begitu banyaknya para ibu yang depresi dan jatuh sakit karena dibebankan tugas yang banyak, yang bukan tanggung jawabnya.
Beberapa kali diadakan seminar, namun para pria masih saja abai dan menganggap pekerjaan rumah adalah kewajiban istri. Apalagi ditambah dukungan para mertua yang ingin anaknya menjadi raja.
Membuat seorang istri mengabaikan tugas yang sesungguhnya, menjadi madrasah pertama bagi anak- anaknya.
Akhirnya ayah mertua mengeluarkan maklumat untuk para suami melakukan tugasnya di dalam rumah.
Agar jumlah ibu yang depresi rendah, begitu pula tingkat depresi di kalangan anak dan remaja akan menurun drastis.
Dan ini telah terbukti.
Ketika para ibu senang dan tenang, anak- anak yang murung di sekolah pun berkurang.
Rumah- rumah yang awalnya sumpek, kini menjadi segar dipandang, usai dua insan dewasa di dalamnya saling bekerja sama.
Ketika dua pasang tangan bekerja, maka akan lebih cepat selesai daripada satu pasang tangan yang bekerja.
Setelah rumah rapi, para pria bekerja di luar dan para wanita mengasuh anak- anaknya.
Mengurus dan mendidik anak bukanlah hal mudah.
Satu kali salah mendidik, akan sulit merubah karakter anak yang telah terbentuk.
Angka kekerasan di sekolah sesama anak telah menurun, pun begitu kumpul- kumpul tak patut di warung remang- remang telah berkurang.
Anak- anak nakal sejatinya hanya butuh tempat yang tenang untuk hati mereka.
Terhitung hanya kurang dari sepuluh bayi di luar nikah yang hadir usai diterapkannya peraturan itu.
__ADS_1
Termasuk salah satunya adalah di depanku ini.
Bayi yang entah punya siapa.
Meski Mas Indra telah mengambilnya dari lubang gelap bernama pela curan, beberapa kali kulihat Gendhis jalan bersama dengan jajaran petinggi di dalam kantor, ketika Mas Indra sibuk di luar kota.
Wanita yang selalu kulihat mengenakan pakaian serba merah itu masih saja meneriakkan sumpah serapahnya.
Kami sudah ada di ruangan manajer yang kedap suara.
Kubiarkan dia melampiaskan emosinya.
Ibu hamil harus melepaskan emosinya kan?
Kutatap dia yang terus mengeluarkan suara dengan minum es yang menyegarkan dan memakan bolu panggang favoritku.
Saat mencapai puncak emosinya, dia jatuh terpengkur di atas sofa.
"Sudah?" tanyaku dengan enteng.
Mata itu mendelik, tapi sepertinya tak mampu lagi bersuara.
Terbukti dia meminum teh tawar panas yang kusediakan gratis untuknya.
"Tinggalkan Kangmas, Sugi!"
"Apa aku mendekatinya?" tanyaku dengan sarkas.
Aku melipat tangan di dada dan memperhatikan dia yang matanya sedang tak fokus.
Terus saja sesekali berganti antara menatap wajahku dan bolu di piring.
"Tidak kan?"
"Kamu membuatnya penasaran dengan hilangnya dirimu! Asal kamu tahu, dia itu hanya penasaran padamu. Pe. na. sa. ran."
"Kalau begitu katakan padanya untuk tidak datang padaku. Dia kan yang penasaran? Aku sudah ketemu dan tidak seharusnya dia terus penasaran."
"Jangan besar kepala, Sugiwa. Kamu didatangi hanya penasaran. Kalau dia secinta itu padamu, dia akan meninggalkan aku begitu menjalin ikatan suci denganmu. Kamu tidak lupa apa posisimu kan!?"
"Tidak usah mengulang perkataan sampai berbusa. Pergi dan katakan padanya untuk tidak berdekatan denganku. Aku akan berterima kasih padamu, ca.lon nyonya."
"Ingat, Sugiwa! Aku akan mengambil semua milikmu! Kamu sudah bukan bagian dari keluarga Raden Sri. Semua ini akan kuambil!!"
Apa dia sudah menjadi gila?
Berteriak seperti itu dan berlari keluar setelah capek seorang diri.
Hais. Pagiku yang tenang harus mendengar ocehan radio bodol.
"Kosongkan kafe ini," titahku pada manajer yang bertugas.
Kedatangan Gendhis ke kafe ini pasti bukan tanpa alasan.
Dia selalu menganggap dirinya terhormat. Tak mau terlihat menguasai suami orang.
Di luar, jika bertemu Mas Indra, dia seolah tak mengenalnya.
Sekarang dia sedang menaikkan derajat kehormatannya dengan menjadi guru baca tulis bagi tuna aksara di desa terpencil.
__ADS_1
Namanya sempat masuk dalam upacara hari jadi sebagai guru terbaik, yang telah menetaskan seribu orang tuna aksara, menjadi dapat membaca dengan lancar hanya dalam waktu satu tahun lamanya.
Ketika para tamu kafe telah keluar. Kusuruh semua orang untuk menghentikan kegiatan mereka.
Lalu terdengar suara denting yang berbisik.
Begitu lemah.
Namun kuyakin itu adalah suara khas yang keluar dari sebuah benda merah lonjong, yang akan meledak bila waktunya habis.
"Kalian semua keluar. Panggil satpam dan polisi di pos."
"Tidak, Nyonya ... maksud saya ibu. Biarkan kami membantu. Untuk memanggil mereka, cukup Aji seorang."
"Iya, bu. Kami ada banyak orang. Bisa mencari sumbernya dengan cepat."
Suara- suara mendukungku untuk mencari tahu sumber benda itu, membuatku tak punya pilihan lain.
Kubiarkan mereka pergi berpencar, sembari berdo'a suara itu hanya rekaman peringatan.
Satu menit berlalu terasa seperti satu jam lamanya.
Kami sudah mengitari ruang demi ruang, tapi tak kunjung bertemu.
Kuputuskan mencari benda itu di luar bangunan.
Tapi tak juga bertemu. Dan waktu telah berlalu lima menit lamanya.
Aku berniat masuk dan menyuruh mereka bubar. Namun pintu gudang yang terbuka menyorot perhatianku.
Aku masuk ke sana. Kudapati ruangannya gelap gulita.
Padahal hari sudah siang.
Tidak ada yang membuka jendela gudang!?
Tidak mungkin.
Aku meraih ATM andalanku dan berjalan dengan hati- hati.
Saat saklar dinyalakan, benar saja ada orang di sana.
Orang yang tidak pernah kubayangkan ada di sana.
Seorang remaja tanggung yang hampir merenggang nyawa, karena dipaksa teman- teman gengnya untuk memakan satu botol penuh obat terlarang.
Salah satu orang yang katanya akan setia bersamaku.
Dia berjongkok di depan benda merah, yang sama persis seperti pikirku.
Tangannya menyentuh tombol ON dan tanpa sadar aku memekik kaget memanggil namanya.
"AJI!?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1