
"Kalau ada yang ingin disampaikan. Sampaikan saja," tutur Mas Indra seolah dapat membaca pikiranku.
"Tidak," jawabku.
Aku tidak mau lagi terlibat dengan pria itu.
Bertahun- tahun bersamanya, selalu terkena masalah. Padahal aku hanya istrinya yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Bagaimana jika aku bekerja sama dengannya? Menjadi parter bisnisnya?
Yang ada hidupku hanyalah jadi sasaran tembak para penjilat yang rakus.
Mungkin, aku akan berbisnis tanaman. Aku senang bercocok tanam. Tanganku dingin. Jarang sekali merusak tanaman.
Setelahnya aku tidak lagi menanggapi Mas Indra.
Pria itu terus saja mengucapkan sya'ir -sya'ir cinta.
Dalam bahasa Jawa kuno yang tidak kumengerti seluruhnya. Hanya kata tresno yang aku mengerti.
Ya. Sebodoh itu untuk menjadi seorang pendamping pangeran. Terlebih pangeran mahkota sepertinya.
"Kamu kalo ngegombal yang bener. Kasihan lawan bicaramu tidak mengerti ucapanmu."
Saat mendengar suara itu, aku mendongak.
Di sana tampak perempuan dengan balutan busana muslim yang sempurna, muncul dan melemparkan senyuman.
"Mbak Aini.." sambutku.
"Pantas saja kami mengucap salam tidak ada jawaban. Ibu bapak Aden rupanya sedang mencuri waktu," canda Mas Amir, suami Mbak Aini.
Mas Amir adalah sepupu Mas Indra. Ibunya adalah adik kandung ayah mertua.
Beliau menikah dengan penguasa negeri sebelah.
Walau jauh, hubunganku dan mereka lebih dekat dibanding saudara- saudara Mas Indra yang lainnya.
Seolah Mbak Aini adalah kakak perempuanku.
Candaannya tadi sama sekali tidak mengena di hati. Kami sedekat itu.
"Wa'alaikumussalam," ucapku dan Mas Indra serempak.
Mbak Aini dan suaminya terkekeh.
"Kalian emang jodoh. Nggak denger barengan. Jawab telatnya juga barengan," seloroh Mbak Aini membuat kami tertawa bersama.
Kami berbincang ringan. Para pria sesekali menyinggung pembangunan di tempat mereka.
Mbak Aini berbeda denganku. Walau jarang menampilkan kesan Bangsawan Jawa dengan pakaiannya, tutur kata dan keilmuannya melampaui banyak wanita berbakat di negeriku.
Dia memahami Jawa lebih dari mereka yang berpakaian ala Jawa. Sepertiku.
"Aduh. Aduh. Si ganteng bangun rupanya. Hayo masih inget nggak sama kakak."
"Budhe dong. Masa kakak," timpal Mas Amir.
Mbak Aini memberikan cengir kuda pada suaminya. Perempuan yang masih betah berduaan saja dengan suaminya itu menimang- nimang anakku.
Sholawat syahdu langsung terdengar.
Mas Amir dan Mas Indra pergi dari kamar saat kumandang adzan terdengar.
Huh. Tadi aja disuruh sholat dzuhur berjama'ah di masjid, susahnya minta ampun.
Sekarang ada kakak iparnya yang lebih sukses darinya, ikut- ikutan ke masjid dan menjilat.
__ADS_1
Eh. Astaghfirullah.
"Dek, kalo butuh ibu susu, mbak bisa kok."
Aku kaget dengan ucapan Mbak Aini yang tiba- tiba. Lantas mataku menyambar pada botol susu di meja.
Apa Mbak Aini berpikir aku menggunakan susu formula?
"Tidak, mbak. Alhamdulillah ASIku lancar. Ini saja kuperah dan kutaruh ke botol."
"Oh. Kukira kamu pakai susu formula," ucap Mbak Aini membuat tebakanku menjadi benar.
"Tidak kok."
Aku terkekeh kecil sebagai bentuk kesopanan.
Kukira Mbak Aini mengajakku bercanda.
Ternyata tidak. Wajahnya entah kenapa murung.
"Apa Mbak keluar ASI?"
"Iya..."
Kutangkap kesedihan di wajahnya.
Raut wajahnya sangat mendung.
"Ada apa, Mbak?" tanyaku lembut kala Mbak Aini menyerahkan Aden padaku.
Kuberi dia haknya sambil memandangi Mbak Aini yang duduk di kursi. Berhadapan dengan kami.
"...aku keguguran, dek."
Mbak Aini tampak mengambil napas. Dia sepertinya ingin teman cerita. Kuusap lengannya. Tidak membalas kabar sedih itu karena terlalu syok.
Dan lagi, sepertinya Mbak Aini ingin banyak cerita.
Kututup rapat- rapat mulut ini.
"Kamu tahu... aku sangat muna, sangat naif. Berpikir semua orang menerimaku. Berpikir semua orang memperlakukanku sama seperti memperlakukan mereka. Nyatanya, mata- mata jahat itu berkeliaran. Di dekatku."
Mbak Aini memandang Aden dengan wajah yang sendu.
Sepertinya perempuan lembut itu memikirkan jabang bayinya. Mendiang anaknya.
"Pekan lalu kali ketigaku keguguran."
"Astaghfirullah!" pekikku tertahan.
Aku tidak tahu berita tentang kehamilannya dan tiba- tiba saja mendengar kabar tentang kegugurannya yang ketiga kali.
Wajar kan bila aku sangat syok?
Apalagi kudengar mereka berdua menunda momongan dahulu tiga sampai empat tahun pertama untuk saling mengenal dan mendalami karakter masing- masing.
Ini baru awal tahun kelima. Kupikir tak secepat itu mereka mendapatkan calon anak.
Ternyata sampai tiga kali keguguran!?
"Ya. Tiga kali, dek. Dan semuanya meninggal karena ketidakwajaran. Bukan karena lelah. Bukan karena lemah. Walau kami memberitakan demikian."
Mbak Aini menangkup wajahnya. Menumpahkan air mata yang telah berkumpul di pelupuk mata.
"Makanan, dek. Karena makanan dan diffuser. Mereka sangat kejam. Padahal bayi kami bahkan belum bernyawa."
Mengalirlah cerita yang Mbak Aini tahan seorang diri.
__ADS_1
Di tempatnya, Mbak Aini sama sepertiku. Tidak punya teman yang berkuasa.
Mengandalkan suami seorang, kadang tidak selamanya bisa aman dari marabahaya.
Mbak Aini yang begitu disayang suaminya mampu kehilangan tiga calon bayi mereka.
Aku kurang lebih memahami kondisi Mbak Aini.
Meski hanya di panggung, aku diperlihatkan sebagai istri yang disayang. Semua orang menargetkanku.
Aku bersyukur ketika menyadari kehamilan dan kelahiranku termasuk sangat lancar, tanpa masalah berarti.
Mbak Aini, tidak sepertiku yang sulit makan di awal kehamilan.
Selalu saja Mbak Aini lapar dan ingin makan banyak hal.
Dengan keinginan sebesar itu, ada cela yang dilakukan pembencinya. Menjadikan janin di perut Mbak Aini luruh hanya dalam waktu satu malam.
Sangat kejam.
Kehamilan keduanya datang sangat cepat. Seolah Tuhan mengizinkannya memiliki anak. Hanya dalam satu bulan setelah keguguran, Mbak Aini kembali hamil.
Tapi, tubuh Mbak Aini ternyata lemah. Jatuh keguguran dengan diagnosa terlalu lemah.
Di kehamilan ketiga, kehamilannya yang terakhir, barulah Mbak Aini dan Mas Amir tahu ternyata diffuser yang mereka gunakan mengandung racun, yang tidak mematikan tapi dapat melemahkan hingga menggugurkan kandungan.
Aku terdiam mendengar seluruh cerita Mbak Aini tanpa memotongnya.
Dunia yang kami masuki ternyata begitu kejam.
Kami berdua awalnya hanya manusia normal. Melihat pagi yang hidup dan malam yang lelap. Namun setelah masuk ke dunia ini, malam dan siang tiada bedanya.
Selalu diliputi waspada dan rasa was- was berlebihan.
"Maaf ya. Membuatmu mendengar cerita kelamku. Bukan maksudku menambah beban pikiranmu. Aku hanya ingin bercerita."
"Nggak apa, Mbak. Aku turut berduka buat semua yang terjadi pada Mbak. Kalo boleh memberi saran.." ucapku meragu.
"Silakan."
"..kalau menurutku sih, mbak.. kalian lebih baik pindah sementara dari tempat tinggal kalian. Meski para pelakunya sudah tertangkap, maaf, itu tidak membuktikan tempat Mbak adalah aman. Kupikir pergi sementara adalah hal baik. Tapi ... pekerjaan suami yang jadi kendala, ya mbak?"
Aku merutuki otakku. Bisa- bisanya memberi solusi yang tidak solutif.
Tentu saja Mbak Aini sulit pergi dari jangkauan para pengkhianat. Pekerjaan suaminya tidak bisa ditinggalkan.
Jika pergi dalam waktu yang lama, akan memudahkan cela bagi para pengkhianat untuk berkuasa di dalam istana.
Satu pekan termasuk waktu yang sangat lama. Apalagi kalau pergi sampai kandungan menguat.
Mbak Aini mengulas senyum.
Wajahnya sangat teduh. Tangisnya seolah tak pernah hadir. Hanya ada senyuman hangat yang terbit di wajahnya.
"Terima kasih," lantun suara yang merdu itu.
Mbak Aini memang sangat baik akhlaknya. Padahal solusiku tidak memberi solusi, tapi tetap saja memberikan terima kasih.
"Kalau begitu, boleh kan kami menginap di sini? Mas Amir akan tenang kalau tinggal di rumah pamannya."
Aku mengangguk semangat. Aku senang mendengar permintaannya.
Di sini aku tidak akan bosan.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran