
"Aden bagaimana? Rewel lagi?"
["Tidak. Pagi sampai siang dia sudah punya kegiatan yang tidak dapat diganggu gugat. Sore barulah memikirkan ayah bundanya."]
"Em ya sudah. Hanya khawatir. Semalam tangis Aden kencang sekali."
["Dia begitu kalau sudah rindu ibunya."]
"Kamu kah yang mengajarinya?"
["Tidak boleh seorang anak melupakan ibunya. Apalagi jika itu anakku. Kalaupun kamu tidak mau melihatku. Lihatlah Aden."]
"Sudah. Aku mau berjumpa Mbak Aini dulu."
Lemah hatiku jika sudah membicarakan Aden. Walau akal berencana untuk membiarkan Aden tumbuh dengan berani seorang diri, hatiku enggan jauh darinya.
Aku harus mencari tahu siapa yang begitu nekad mengincar kami dengan bom.
Dari ponsel si tukang sniper di gedung z, Mbak Aini menjumpai pesan jika target itu bukan hanya aku, melainkan juga Aden.
Dalam pekan ini seharusnya Mas Indra terbang untuk pertemuan internasional, menampakkan wajahnya sebagai penerus.
Tidak boleh ketinggalan.
Andai ingin dikenal dalam kancah internasional.
Aku baru teringat saat melihat ramainya jagat sosial media dengan wajah- wajah rupawan dari negeri kami.
Biasa. Gosip tak bermutu. Membicarakan wajah tanpa melirik prestasi yang telah dibuat.
Padahal yang mereka bicarakan adalah orang -orang tinggi.
Punya sederet prestasi.
Aku meringis.
Lenganku ketumpahan air panas. Melepuh sudah sebagian jaringan kulitku.
Bagaimana bisa ada orang membawa air panas di tengah lorong!?
Kecerobohan ini, kalau anak kecil yang terkena, mungkin kepalanya yang melepuh!
"Aduh. Aduh. Maaf...."
Suara maaf itu menggantung kala mata kami saling berjumpa.
Warna mata keabuan mendelik tajam padaku.
Lantas dia menarik raut wajah memelasnya, berdiri dengan angkuh.
"Ternyata ratu jelata yang kena. Kukira orang berkuasa yang mana."
Masih saja gadis itu berkata kasar padaku.
Jelas saja berani.
Kakeknya adalah penasihat. Ayahnya penguasa pertokoan di ujung barat wilayah ini.
Lebih baik aku cepat mengobati lukaku daripada meladeni ocehannya.
Dari ekor mataku, kulihat wanita bergaun hitam itu menghempaskan gelasnya. Meninggalkan pecahannya begitu saja.
Sempat kulihat senyumnya kala mata kami saling bertemu.
Pikiran kami selayaknya saling mengadu, kendatipun tidak terlihat bertengkar.
Dia salah satu kandidat istri Mas Indra yang telah diikat janji secara lisan.
Walau hanya sekadar candaan.
Dia paling dekat dengan Nenenda, ibu kandung ayah mertua.
Sikap di depan Nenenda selalu lembut. Ibarat kelinci lemah yang tidak dapat menggigit.
Jangan ingatkan aku betapa dia paling sering mengerjai di tengah pesta.
__ADS_1
Dan aku harus menghadapi kegilaan itu seorang diri.
Sementara Mas Indra yang kupikir berjumpa kliennya, ternyata berjumpa dengan pujaan hatinya.
Air panas kali ini bukan yang pertama.
Dahulu ada dokter terbaik seantero negeri yang mampu mengobati bekas luka ini.
Sekarang siapa?
Rokku yang menjuntai, menyapu debu- debu halus di lantai. Kutinggalkan sepatu hak tinggi di tengah aula lantai, selayaknya seorang cinderella yang meninggalkan sepatu kacanya.
Aku tidak nyaman berlari dengan sepatu berhak.
Memasuki lift untuk menuju klinik.
Sialnya ada orang di lantai atas menggunakan kartu prioritas.
Sesosok pemuda dengan tatapan tajam memasuki ruang lift. Suasana seketika terasa sesak.
Tatapan tajam mata itu seolah dapat membelah tubuhku.
Aku menahan ringisan agar tidak mengganggu singa yang sedang terdiam.
Melihatnya mengenakan kartu prioritas, tampaknya dia adalah pelanggan tetap di hotel berbintang ini.
Orang besar.
Sosok yang tak boleh aku terlibat di dalamnya.
Kala lift sampai di lantai bawah, pintu terbuka dengan lebar menampakkan Mbak Aini yang sedang berbincang dengan salah satu pengawalnya.
Entah apa yang dibicarakannya, kala dia menatapku dengan raut khawatir.
Mataku menggelap. Di ujung kesadaranku, aku merasakan dekapan nan hangat.
"Alhamdulillah.."
Seruan pada ilahi terkumandang kala mataku terbuka dan memindai sekitar.
Mbak Aini mengunjungiku tapi tidak stay di kamar. Nampaknya punya kesibukan.
Saat sore menjelang, seorang dokter wanita memeriksa keadaanku dan menanyakan segala keluhanku.
"Nyonya hanya kelelahan dalam mental. Terlalu banyak berpikir. Walau tidur lama, kualitas tidur Nyonya tak baik. Mata Nyonya mungkin terpejam, tapi otak Nyonya terus aktif mengawasi sekitar."
"Sejatinya tidur adalah mengistirahatkan seluruh anggota tubuh dari berbagai macam aktivitas. Bahkan dalam tidur Nyonya, Nyonya memukul wajah saya dengan sekuat tenaga."
"Saya sarankan untuk mencari ahli agar tidak terus berlanjut."
"Tidur tak tenang membawa banyak masalah."
Aku memijat keningku setelah visit dokter untuk yang ketiga kali dengan ceramah panjangnya di sesi ini.
Mentang- mentang melihat wajahku sudah normal dan lenganku sudah tak lagi sakit!
Tapi tunggu..
wajah dokter wanita itu sangat familiar.
Ada di mana dia pertama kali kulihat?
Aku memukul pelan isi kepala yang terasa banyak, namun begitu berantakan. Sulit mencari ingatan, yang sebenarnya hanya butuh waktu sekilas.
Aku menjadi pelupa pada hal -hal tak penting.
Apa ini efek dari yang disebutkan dokter?
Hah sudahlah.
Lebih baik aku mendengar suara yang dapat menjadi pelipur laraku.
Kudial nomor yang sangat kuhafal di luar kepala.
"Assalamu'alaikum.."
__ADS_1
["Wa'alaikumussalam. Sehat, Nak?"]
"Sehat, bu. Ibu gimana?"
["Alhamdulillah."]
"Maaf ya bu baru telepon lagi."
["ibu tahu nak kesibukanmu di sana. Mana boleh ibu menganggu. Kami di sini saja tidak bisa setiap saat pegang ponsel."]
"Aman, bu?"
["Haha. Memang ibu siapa harus diamankan? Presiden juga bukan."]
Ibu memang tak tahu kalau beliau sedang diamkan dari ancaman yang dapat merenggut nyawa.
Anak buahku itu mampu sekali meyakinkan ibu dan keluargaku untuk sementara pindah ke lokasi vila yang kubeli.
Edisi liburan menjenguk adik di pesantren.
Itu adalah alasan anak buahku untuk memberikan tiket menginap di villa.
Aku memang membeli vila di kawasan dekat dengan pesantren adikku.
Di sana masih leggang rumah warganya.
Jarang ada yang menyangka ada harta karun tersembunyi di dalam hutan yang dikelilingi perkampungan sederhana. Menengah ke bawah.
Jika ingin dijabarkan, orang- orang atas tidak senang dengan bisingnya kota.
Mereka banyak sekali yang membangun rumah di tengah hutan.
Tak jarang mereka menyebar mitos agar jarang ada warga yang mau melalang buana masuk ke dalam hutan yang mereka kuasai dalam diam.
Ingin ketenangan juga keamanan.
Jarak tempuhnya selalu berjam- jam dari perkampungan.
Aku yang dahulu takut dengan gelapnya malam di dalam hutan, sekarang justru punya tempat tersembunyi di sana.
Benar kata orang. Lebih baik berjumpa setan dibanding berjumpa penjahat.
Setan tidak akan bisa membunuh.
Kuurai rindu pada ibu dan bapakku, juga pada Aden yang mulai merengek pada ayahnya.
Benar kata Mas Indra, pada pagi hari Aden selalu sibuk dengan dunianya, ketika sore menjelang, mulai mencari ke mana ibu dan ayahnya.
Mungkin karena saat malam, sepi dan dingin menyapa, ingin didekap dengan hangat oleh orang tuanya.
Sementara para pengasuh dan pelayan, tak boleh sedekat itu pada Pangeran.
Harus ada jarak, meski memandikan dan memberinya makan.
Kutatap foto Aden yang tertidur lelap. Mas Indra rajin sekali memberikan foto- foto Aden dalam kesehariannya.
Tunas rindu semakin mengakar.
Aku ingin pembunuh itu cepat ditemukan.
Setidaknya, untuk satu kali lagi, aku bisa sejenak beristirahat.
Orang besar selalu memperhitungkan segalanya dengan matang.
Ketika satu penjahat telah tertangkap, yang lain akan seketika berhenti.
Karena satu kesalahan yang diperbuat, tidak menutup kemungkinan dituduhkannya kejahatan- kejahatan lain yang baru saja tertumpah.
Ibarat baru menodongkan pisau, sudah tertuduh menancapkan peluru pada lawan.
Padahal jelas, tidak berkesinambungan antara pisau dan peluru.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran