
"Kalau aku mengambil villa itu, apa kamu keberatan, Mas?" tanyaku seiring senyum yang penuh dengan rencana.
Memangnya apa yang diberi Gendhis pada Mas Indra sehingga dia berhak mendapat villa yang bagus itu?
Aku akan mengambilnya!
"Tidak baik mengambil kembali. Kalau kamu mau villa, aku belikan yang lain."
"Nampaknya villa itu sangat spesial, sehingga kamu larang- larang begini!"
Aku melipat tangan di dada. Mencibirnya.
"Sungguh tak ada apa pun di sana," kata Mas Indra mencoba meyakinkanku.
"Kenanganmu," cibirku.
"Oke. Fine. Silakan ambil. Tapi..."
"Apa?"
"..biarkan aku kasih dia uang buat kontrakannya, ya?"
"Siapa kamu untuknya, mas?"
"Lunakan hatimu. Dia itu sedang hamil. Kasihan kalau terlunta- lunta."
"Biarkan ayah bayi itu yang mengurus dia. Atau kamu ayah bayi itu?"
"Baiklah..."
Setelah mengatakan itu, Mas Indra menyerahkan Aden yang terlelap padaku.
Kenapa dia?
Mengamuk?
Mengambek?
"Ini..."
Mas Indra menyerahkan sebuah kartu yang sangat familiar.
Berwarna hijau dengan lambang bunga yang terkenal.
Bunga Wijaya Kusuma.
"Pakailah," katanya dengan ringan.
Itu adalah uang gajinya yang tersimpan dan tak dicairkan sejak dia bekerja di pemerintahan pada usia tiga belas tahun.
Bagaimana aku bisa tahu?
Tentu saja karena aku memegang uang pengeluaran di rumahnya.
Bahkan permen yang diam- diam dimakan pelayan, aku tahu jumlahnya.
Hanya saja malas menghukum karena hal sepela, padahal dayang senior sudah menyuruhku menurunkan peringatan bagi mereka.
Mas Indra sendiri sudah mendapatkan penghasilan dari toko yang dihibahkan ayah mertua. Dia turut menyerahkan kartu itu, kartu berwarna kuning.
Jangan tanya berapa banyak uangnya.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Aku akan menggunakan besaran uang yang kamu suruh. Selebihnya, kamu bisa memantau pengeluaranku, agar kamu merasa yakin."
"Itu uangmu. Tidak ada urusannya denganku."
Bukannya mendengar penolakanku, Mas Indra justru meletakkan kartu- kartunya ke dalam tas gendongku.
Aku yang sedang menggendong Aden, begitu kesulitan untuk bergerak.
Dia pun kabur membawa koperku, masuk ke dalam rumah, ketika aku hendak memintakan tolong padanya untuk menggendong Aden.
Aku keluar dengan kartu- kartu Mas Indra yang masih bertahan di dalam tasku.
Kakiku menjejakkan teras yang sudah banyak berubah.
Terdapat warung kecil di depannya.
Aroma harum masakan langsung tercium.
Kulihat Kusuma sedang melayani pembeli.
Ternyata dia tidak apa- apa.
__ADS_1
"Sudah jangan dilihati. Kalau dia tak buat masalah, buat apa aku mempermasalahkannya? Selama dia tidak berbuat makar, aku tidak akan melahapnya."
"Dia tidak ada hubungannya?" kataku menanyakan perihal bom merah itu.
"Sejauh ini tidak ada."
"Apa mas sudah menduga sesuatu?" Aku menyelidik dia yang terlihat lebih tenang dibanding sepekan lalu saat berteriak di dalam ponselku.
Mas Indra hanya diam saja. Namun sangat jelas terlihat, dia tahu sesuatu.
Mas Indra mengambil Aden yang sudah segar dan siap memporak -porandakan segala yang sudah rapi.
Dia membawanya masuk, menurunkannya ke atas karpet berbulu lembut.
Saat melintasi kamar Kusuma, kukerutkan dahi ini. Tidak ada tanda- tanda orang tinggal di dalamnya.
Sangat bersih.
"Pengawalmu itu tinggal di depan," cetus Mas Indra seolah tahu bingungku.
Di depan?
Warung buatan itu?
Walau di sana terlihat nyaman untuk ukuran warung di sekitar sini, tidak lah patut tinggal di dalamnya.
Begitu sempit.
Karena khawatir dengan kenyamanan tamu tak diundangku, kuputuskan untuk melihatnya.
Dari arah luar tidak terlihat peralatan tidur yang begitu sesak di bagian yang terpisahkan oleh triplek.
"Ya ampun, Kusuma. Kamu yakin tinggal di sini?" ucapku kala warung makannya telah sepi.
Warung makan ini hanyalah berisi sebuah etalase kaca yang memenuhi warung.
Ada pula kompor satu tungku. Nampaknya untuk membuat mie, karena ada menu itu dalam tulisan besar nan aesthetic di dinding warung.
"Sudah lima hari aku di sini."
Wah. Aku tidak terbayang Mas Indra akan segercap itu mengusir Kusuma dari rumahku. Walau hanya sampai depan halaman rumah.
Tidak membiarkan dia tinggal lebih lama.
"Kamu pulang saja. Bukankah ukuran kamar ini tidak sampai seluas kamar gantimu di rumah Widjianto? Aku tahu kamu merasa tak nyaman. Aku pun tidak nyaman lagi bersama denganmu."
Sepertinya dia seorang pendengar yang baik.
Tidak menyela.
"Dalam benakku selalu terbayang kesakitan Aden. Sementara kamu pelakunya."
"Aku minta maaf."
"Aku maafkan. Sayangnya, tetap saja bayangan itu tidak hilang dari benakku."
"Kalau begitu izinkan aku menghilangkan trauma itu. Seperti kataku pada Kanjeng Pangeran, aku akan menjadi pengawalmu. Kujanjikan kesetiaan padamu."
"Tapi, kamu seorang Widjianto."
Aku tahu ini terdengar kasar. Mengusir orang karena identitasnya.
"Aku minta maaf. Aku tidak bisa menolak keinginan adikku. Tidak terpikir akan ada hati yang tersakiti."
"Kemudian kalau adikmu meminta kamu menyelakai aku dan Aden, kamu tidak bisa menolaknya?"
"Tidak akan. Aku benar akan bersumpah setia padamu."
Apa kuterima saja?
Memiliki pedang dari tempat paling bahaya, dapat melindungi dengan sangat baik.
Tapi bagaimana jika ini termasuk makar?
Bagaimana bila yang kemarin terjadi adalah salah satu rencana yang dilakukan Kusuma?
Dia tahu kegiatanku di sini. Dapat membuat makar dengan paling baik.
Mencelakai dengan sangat mudah.
"Aku sudah betah tinggal dengan sederhana seperti ini," gumam Kusuma dengan lirih.
Wajahnya terlihat menyakinkan. Dan itu sangat menyebalkan.
Berada di atas sini, sulit sekali melihat wajah orang.
__ADS_1
Jika dahulu aku bisa minta tolong pada orang- orang yang tulus.
Tiada orang yang benar- benar tulus di ketinggian yang amat ini.
Hampir semuanya bertopeng.
Pun termasuk aku.
Tidak suka dengan sesuatu, masih harus tersenyum.
Ingin marah, tidak dapat meluapkannya.
Lelah, sulit mengistirahatkan penat.
"Kusuma, jika kamu ingin hidup sederhana. Ada kos -kosan di ujung jalan. Makananmu ini sudah terkenal. Tak akan sulit membiayai dirimu."
"Kumohon. Tolong jangan usir aku. Rasanya aku akan dihantui rasa bersalah kalau tidak menebusnya. Kamu dan putramu, akan kulindungi dengan nyawaku."
"Kalau begitu beri aku bukti. Siapa yang menyerang keluargaku?"
"Apa kamu akan mempercayaiku?"
"Katakan saja. Akan kupertimbangkan."
"Kusala. Kakak pertamaku. Orang yang berafilasi dengan suamimu."
Aku tidak terlalu terkejut jika dia yang melakukan.
Tapi ini barulah ucapan Kusuma.
Tidak ada bukti di dalamnya.
"Kutahu itu. Kamu tidak percaya."
"Apa kita hidup di dunia yang sekadar berucap lalu terpercaya?"
Seorang sederhana saja bisa membual.
Apalagi yang punya kepentingan?
"Kuambil perkataanmu. Kamu boleh tinggal. Buktikan perkataanmu."
"Siap, Nyonya!"
Kusuma berseru senang. Segitu saja dia terlihat bersemu?
Atau hanya aktingnya?
"Berlebihan," cibirku.
"Jadi, aku boleh tinggal di dalam rumah?"
"TIDAK!"
Bukan aku yang mengeluarkan suara itu.
Mas Indra datang seorang diri.
Mendatangi kami dengan wajah memerah.
Dia melihat Kusuma dan aku secara bergantian.
Menghakimi kami dengan tatapan tajamnya.
Kusuma gentar oleh tatapannya.
Masa?
Aku yang wanita saja biasa saja.
Apa Kusuma berpura- pura takut?
Kemarin- kemarin saja menantang Mas Indra dengan beraninya.
Kuputar kepala ini, sedikit berjinjit untuk menyamai wajah Mas Indra.
Dia beneran marah?
"Ini rumahku. Aku yang akan memutuskan, Tuan Pangeran."
Kusulut amarahnya.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran