
"AJI!?"
Remaja itu ikut terkaget akan teriakanku dan melemparkan benda merah itu ke arahku.
Aku terpejam dalam, kala hampir saja benda itu mengenai tubuhku.
Tunggu punya tunggu, ternyata tiada terasa sakitnya.
Kuberanikan membuka mata.
Apa aku sudah di surga?
Kulihat punggung Aji berdiri di depanku. Apa dia menghalau untukku?
Tapi kenapa tidak terjadi apa- apa?
Suara denting bom pun sudah tak lagi terdengar.
"Ibu tidak apa- apa?" tanya Aji seolah dia tak tahu aku telah melihat tabiatnya.
Tapi, apa benar penglihatanku?
"Apa yang kamu lakukan, Aji?"
"Saya mematikan bomnya."
"Mematikan??"
"Sebenarnya, Tuan Rian telah membuat kami siap dengan situasi seperti ini. Mau diangkat jadi anak buah ibu berarti harus siap dengan segala kondisi. Tuan Rian memberikan pada saya alat pendeteksi bom dan mengajarkan cara menjinakkannya."
Aji menjelaskan dengan panjang lebar. Dia menunjukkan sebuah gelang yang katanya dapat mencari bom.
Rian adalah anak buah pertamaku yang menjadi kepala anak buah.
Kami bertemu hanya ketika aku memasukkan anak baru di kamp kami.
Dengannya aku tidak melakukan hal heroik. Hanya membangun bisnis bodyguard bersama.
Aku yang senggang ini mencarikan anak untuknya.
Bisa dibilang aku sering keluar masuk daerah bermasalah, hanya untuk memilah milih orang- orang yang terpaksa pergi ke sana.
Menyelamatkan mereka dan mereka akan merasa berhutang budi. Lantas suka rela menjadi bagian penjaga yang melindungi.
Apakah itu kejam?
Entah. Karena bukan aku yang memasukkan mereka ke sana.
Awalnya aku hanya kebetulan berjumpa orang- orang yang butuh perlindungan dari kuasaku di jalan- jalan yang kulewati.
Lantas aku berpikir untuk pergi ke sumbernya dan mencari anak buah lebih banyak lagi.
Pada Aji, kutatap dia dengan pandangan ragu.
Aji, anak remaja yang baru tanggung, tidak ada rasa takut pada wajahnya untuk menjinakkan bom itu.
Apa pantas aku tidak ragu padanya?
Akhirnya kubawa dia pada Rian. Menanyakan kebenaran langsung dari mulutnya.
"Benar. Alat ini kubuat untuk anak buahmu. Kamu tidak berpikir sudah aman kan?"
"Kenapa tidak konfirmasi dulu?" kataku menurunkan bahu. Menghilangkan waspada.
Aji masih menundukkan pandangannya.
Selayaknya para abdi zaman dahulu, pengawal dan pelayan tidak boleh melihat pada keluarga kerajaan.
"Kamu sibuk dengan perceraianmu, mana mungkin aku ganggu? Seharusnya kamu dapat memikirkan ini."
__ADS_1
Kuhela napas pendek. Membenarkan perkataan Rian.
Perceraian kemarin sangat alot.
Masalah bom ini, aku sama sekali belum pernah mengalaminya.
Kuterka siapa yang begitu tidak punya otak melakukan kejahatan ini.
Jika berhasil, ceritanya akan tersebar ke seluruh pelosok negeri.
Pembicaraan kami tidak selesai. Rian tidak menemukan titik terang karena tidak ada jejak sidik jari di bom itu.
Seolah sejak dari pembuatannya, memang dirancang untuk kejahatan. Bukan untuk meledakkan bendungan seperti harusnya benda itu dikerjakan.
Bukan bom panci yang tidak akan menyebabkan kerusakan yang parah, ini adalah bom besar yang akan menghancurkan sebagian bangunan.
Di dalam taksi, ponselku berdering. Nama Mbak Aini tertera di layar.
Sesungguhnya kami jarang berhubungan di luar waktu libur. Maka dari itu, aku mengernyit heran.
"Kusarankan kamu tidak pulang ke rumah."
Pesan yang begitu misterius. Karena Mbak Aini hanya menyampaikan itu dan mematikan sambungan teleponnya.
Mencurigakan jika itu bukan Mbak Aini yang melakukannya. Tapi karena dia, wanita tangguh yang sudah kukenal dengan baik.
Maka kudial nomor Mas Indra. Hendak menghubunginya untuk memberi tahu.
"Lebih baik kamu tidak pulang, sayang. Carilah penginapan terbaik."
Mas Indra pun berkata dengan misterius. Dia langsung mematikan sambungan. Persis seperti yang dilakukan Mbak Aini.
Ingin menelepon Kusuma, nomornya tidak aktif.
Dua pria itu, tidak sedang berselisih kan?
Dalam perjalanan yang memutar, aku berpikir dengan keras, siapakah dalang dari kekejaman kali ini?
Kusuma? Mungkin.
Semua orang menjadi tersangka dalam benakku.
Aku bahkan harus mencari sejarah hotel berbintang sebelum kutempati. Memastikan keamanannya.
Tapi, semua hotel terasa mencurigakan.
Seolah ada pembunuh yang siap siaga di setiap tempat.
Lelah sekali harus hidup serba ketakutan seperti ini.
Bagiku, tempat paling aman adalah rumah orang tuaku.
Selain karena tempat masa kecilku, rumah itu dikelilingi rumah- rumah yang jaraknya tidak seberapa.
Hanya sejarak tubuh orang.
Jika berteriak dan berisik, akan terdengar dari sekeliling.
Orang jahat akan berpikir berulang kali.
Kepedulian sesama yang tinggi dan tingkat kecepatan mengatasi masalah terhadap sesama, membuat logika semakin yakin untuk tinggal di sana.
Namun hatiku menolak memberikan masalah pada mereka.
Takut ada keluarga yang nekat demi mencelakaiku.
"Hotel melati," gumamku.
Di sana tempatnya maksiat, tidak mungkin kan mereka berpikir aku akan tinggal di sana?
__ADS_1
Tapi, di sana juga sarangnya orang jahat. Bisa jadi mereka bermarkas di sana.
"Arrrghhh!!"
Kuteriak dengan harapan suara- suara di kepala ini menghilang dan biarkan aku berpikir dengan tenang sejenak.
Aji yang menyetir di depan hanya melihat sekilas.
Sudah biasa baginya melihat aku berpusing ria seperti ini.
Apa aku akan menjadi gila seperti Mas Indra yang sering bertingkah aneh begitu?
Dari : Mbak Aini
Menginaplah di Suka Tidur. Itu hotel Mas Amir kalau kamu bingung.
Wajahku bagai diserbu angin dingin. Begitu menyejukkan.
Sejak dahulu Mbak Aini senang sekali membantuku.
Kusuruh Aji berhenti di persimpangan.
Bukan tak percaya padanya, aku hanya perlu berhati- hati.
Aku harus hidup sampai putraku mampu berdiri di kakinya sendiri.
Aku akan terus hidup dengan hati- hati.
Selagi membiarkan seluruh penjagaku menjaga dirinya.
Kalau melihat ritme aku yang berjumpa dengan Gendhis lalu teror itu datang, apa mungkin De' Epu pelakunya?
Paman jauh Mas Indra sekaligus ayah Kusuma.
Tapi untuk apa?
Aku bermalam dengan hati yang kosong. Semalam tidur mendekap Aden agar tidak terjatuh, aku jadi betah dengan posisi itu.
Tidak ada peralatan bayi di rumahku, terpaksa Aden tinggal di ranjang bersamaku dengan tingkat keamanan yang kurang baik.
Sementara Mas Indra, entahlah, mendadak dia sadar diri dan tidur di bawah. Memastikan Aden tidak jatuh di sisi yang lain.
Mau menggeser kasur hingga ke pojok, lumayan sulit karena di pojokan ada barang- barang, sedang hari sudah malam.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Mas Indra menelepon dan langsung menampilkan wajah Aden yang kurindukan.
["Aden kangen ibu katanya,"] celoteh Mas Indra seolah tahu isi kepala Aden.
Wajah Aden memerah, apa dia habis menangis.
Kusahuti ocehannya yang tak jelas sampai bayi kecil itu sesekali menguap dan akhirnya tertidur.
Ponsel nampaknya disenderkan di meja. Aku bisa melihat Mas Indra begitu hati- hatinya menurunkan Aden ke kasur bayi.
Ohh. Nampaknya dia tak perlu izin pemilik rumah untuk meletakkan barang- barang baru di rumah itu.
Nampak di kamera, bukan hanya ranjang bayi yang berubah. Meja belajar pun bertambah. Ada laptop kerja milik Mas Indra di sana.
["Aku merindukanmu."]
Suara Mas Indra mengagetkan aku yang sedang fokus menatap seisi kamarku.
Wajahnya ternyata sudah memenuhi sebagian layar kamera.
Kutatap dia dengan datar. Dia tidak memedulikan delikanku,
["Bukan cuma bayi kecil itu yang rindu. Ayah si bayi juga rindu. Lihatlah ayahnya ini."]
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran