(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
006


__ADS_3

Saat melewati lorong terakhir, sebuah lengan kerar berotot melingkar di perutku, tangannya yang bebas membekap mulutku.


Dia melepaskan tangannya, menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri, menyuruhku untuk tetap diam.


"Mas Indra.." panggilku. Antara kaget dan lega.


Lega, karena dia tak mungkin menyakiti fisikku.


Meski dingin dan menyakiti hatiku, Mas Indra tak pernah berkata kasar dan berlaku kasar.


Aku tenang.


"Iya, sayang."


Wajahnya berkata dengan keyakinan besar. Aku melengos. Kutarik jika aku dapat tenang di sisinya.


Jika dia kira dengan terus berkata lembut dan menyebutkan kata- kata yang manis akan membuatku luluh kembali, aku tidak lagi seperti itu.


"Kamu benar- benar baj—"


"Sutiwejo mengincarmu."


Aku terpaksa menutup mulutku. Tidak jadi mengumpatinya.


Bernapas pun terasa sulit.


Sutiwejo adalah salah satu pamannya, paman yang paling kasar dalam tindakan.


Tidak takut dengan hukum yang ada.


Anak perempuannya sering kali terang- terangan menghinaku.


Dan anak buahnya berhasil memukuliku. Dia dalang penculikan terakhir.


Aku menatap datar Mas Indra yang terus mendekatkan wajahnya.


Dia berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Matanya dipenuhi kabut.


Aku pun mengambil kesempatan.


Kutampar wajahnya yang semakin mendekat. Hampir menyentuh kulit wajahku.


Dia terhuyung dan jatuh. Lima jari tercetak sempurna di wajahnya.


Setelah memastikan keadaan aman dengan memperhatikan sekitar, aku mengendap- endap pergi dari perkarangan rumah sakit umum daerah.


Dua orang yang pergi bersamaku terlihat mencariku.


Aku berjongkok di tepi mobil, agar tak mencuri perhatian para penculik yang mungkin masih ada di sekitaranku.


Kudial nomor Wati dan suaminya. Beruntung mereka sedang memegang ponsel dan langsung menyahut.


Aku mengawasi arah jalan Wati dan Faris. Takut mereka ketahuan Mas Indra yang masih menyisir sekitar, mencari keberadaanku.


Syukur kuucap dalam hati. Wati dan Faris berlagak seperti biasanya, tak bertindak gegabah.


Mereka melewati Mas Indra dengan sukses.


Memperhatikan Mas Indra yang masih menyisir sekitar, aku jadi berpiki, dia menemukanku di halaman rumah sakit ini, apakah kebetulan ataukah memang sudah tahu sejak aku pertama pergi?


Apa dia membuntutiku?


Aku memijat keningku.


Persembunyian yang kukira akan bertahan selama satu tahun, pupus sudah. Setidaknya selama enam bulan ke depan.


Aku harus bersembunyi dan dapat pulang ke kampung dengan damai bila dua manusia itu telah menikah.


Tiada peduli bila kelak orang kampung mengataiku.


Mereka selalu mewanti- wanti agar aku baik pada suamiku.


Karena apa? Tentu saja mereka mendapat keuntungan. Cipratan dana dari sang pewaris tahta.


Pasrah. Aku kembali ke rumah persembunyian dengan wajah yang kusut.


Sepasang suami istri yang biasanya ceria dan saling menggoda, mendadak terdiam.

__ADS_1


Masalah terus datang bertubi- tubi. Sekadar bertanya pun, mungkin mereka sungkan.


Aku berjalan gontai masuk ke rumah. Ada teriakan dalam hati yang menyuruh untuk segera pergi. Menyelamatkan diri sendiri dari penculikan yang mengerikan.


Tapi, capek.


Belum seharian menempati, sudah harus pergi.


Kupandangi isian rumah. Semua kubeli dengan menyisihkan uang secara tunai, menaruhnya di bawah tumpukan pakaian.


Semua perabotan sudah bersih dan nyaman. Tidak ada tanda- tanda keributan seperti tadi.


Darah di atas seprai telah bersih. Kain bekas noda dibuang jauh- jauh. Barang- barang milik Kusuma telah dikemas rapi, tinggal menunggu kurir yang telah dipanggil.


Wati memang bisa diandalkan.


Bahkan makanan sudah tersaji, perempuan itu membelinya di ujung gang.


Makanan, minuman, dan kebersihan rumah, semua terjamin meski aku tidak punya banyak pelayan seperti dahulu.


Makan tinggal beli ke depan. Minuman banyak anekanya ketika sore menjelang. Ada taman yang biasa digunakan warga sekitar untuk melepas penat.


Kebanyakan warga sekitar pekerja keras. berdagang ataupun bekerja pada orang, mereka sibuk sedari pagi sampai sore.


Jarang ada emak- emak tukang gosip.


Hidup yang damai.


Hidup yang aku inginkan setelah tiga tahun bagai dikejar kereta setan. Kereta yang ingin sekali meremukkan tubuh hingga berkeping- keping.


Dan sekarang hidupku kembali dikejar setan yang menginginkan nyawaku.


"Sudahlah. Mati ya mati. Ribet amat," gumamku kesal usai kulempar tubuhku di atas karpet bulu yang lembut.


Ini juga telah dibersihkan Wati dari tumpahan kuah mie si penyusup.


"Mulutnya dijaga. Mulut itu do'akan?"


Mendengar suara itu, aku terlonjak kaget. Duduk dengan tergesa.


Kulihat orang yang seharusnya berbaring di ranjang rumah sakit. Dia muncul di teras rumah.


"Aku sudah bersih dari darah, kok. Boleh ya numpang di sini?"


"Gak!"


"Aku bisa buat ide- ide menarik."


Ide- ide?!


Belum sempat menjawab perkataan absurd Kusuma, dia melanjutkan dengan kalimat yang mencengangkan.


"Kamu kabur kan dari istana? Mau hidup seperti apa? Mengandalkan pemberikan si Indra? Nanti kamu akan ketahuan!"


"Kamu sudah bosan hidup?!" cecarku. Rupanya berani juga dia menguping urusan keluarga pamannya.


"Aku hanya menawarkan."


Aku diam tidak menjawab. Sebenarnya ini bagus, tanpa aku koar- koar ke seluruh dunia. Mereka akan mengetahuinya sendiri.


Mungkin, Kusuma bisa menjadi perantara.


Lalu, orang- orang tidak akan lagi menargetkanku.


Aku bisa benar- benar lepas dari Mas Indra.


"Aku bisa merahasiakan keberadaanmu. Mas Indra mu itu sudah kukelabui. Dia tidak menyusul datang kan? Dia sedang terlelap damai."


Kusuma mengakhiri kalimat dengan suara yang rendah.


Mataku seperti akan meloncat keluar.


Kusuma mengatakan, dia sedang terlelap damai.


Mas Indra sedang terlelap damai.


Terlelap damai bukankah artinya meninggal!?!


"Kamu mencelakainya?!" sentakku tanpa sadar.

__ADS_1


Aku ternyata masih mengkhawatirkannya.


"Aku hanya membuatnya sulit berjalan sedikit," kata Kusuma dengan enteng.


Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.


"Gila kamu!" hardikku.


Mau menyembunyikan serapat apa pun, Kusuma pasti ditangkap. Cepat atau lambat.


Kekuasaan ayah mertua tidak main- main.


"Aku bisa berbuat semua yang kamu suruh, asalkan kamu tampung aku." Lagi, Kusuma berusaha membujukku.


Orang waras mana yang mau menerima orang ed*n sepertinya?


Yang ada dia akan terseret oleh perilaku kejam Kusuma pada sang pewaris tahta kekuasaan Kesultanan Bukakundha.


"Rasanya kamu lebih pandai dariku, hartamu juga banyak. Kenapa kamu harus ke sini?"


"Aku menawarkan, Kanjeng Ratu."


"Aku menolak."


"Maka, kukasih tahu keberadaanmu pada keluarga suamimu, eh apa udah mantan?"


Tidak benar!


Seharusnya aku tidak menolongnya!


Dia mengancam dengan wajah yang ceria.


"Kamu mengancamku!?" desisku.


"Kamu sendiri yang bilang aku mampu, Kanjeng Ratu."


"CK. Ya sudah."


Membiarkannya pergi, pasti akan menimbulkan masalah.


Bila dia tetap tinggal di rumah ini, sebisa mungkin aku akan membuatnya patuh.


Dia juga sudah berjanji akan melakukan segenap yang kuperintahkan.


Janji adalah harga diri pria.


Golongan mereka tidak bermudah membuat janji, apalagi melanggarnya.


Bila aku kembali salah mengira, biarlah itu menjadi takdir yang tak terhindar.


Aku sudah capek bermawas diri di hadapan banyak orang, bahkan ketika aku sendiri.


Aku hanya ingin istirahat tanpa gangguan, tanpa memikirkan tugas yang menumpuk, tanpa ancaman yang mengerikan.


Hidup selayaknya wanita pada umumnya. Hidup selayaknya istri pada umumnya.


Bangun, memasak, menyiapkan rumah, menyiapkan perbekalan, mengantar bekal yang ketinggalan, menyambut suami.


Mungkin, ini adalah kehidupan yang monoton bagi sebagian wanita.


Tapi buatku yang lelah dengan derai air mata dan drama bahkan ketika di waktu istirahat, aku menganggap aktivitas itu adalah hal yang istimewa.


"Kalau begitu, hehe."


"Hehe hehe APA??"


"Bayarkan uang rumah sakitku."


"Hah?"


"Dokter tahu alamat rumah ini. Para petugas akan mendatangi kita jika tidak sanggup bayar."


Merepotkan.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2