(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
044


__ADS_3

"Aku benar- benar tidak menyangka kamu istri orang."


"Kukira kamu masih gadis."


"Sendirian di kedai. Sendirian di taman."


"Siapa menyangka ternyata kamu sudah dipunyai?"


"Padahal aku serius dengan perkataanku di kedai, Wanita Cantik."


Wisesa berceloteh dengan lancar setelah Mas Indra meninggalkan kami untuk menghadap ayahnya.


Kulirik sekitar. Berharap tidak ada yang mengerti perkataannya.


Dia bisa masuk penjara dengan pasal pelecehan terhadap anggota keluarga sultan.


"Masih banyak gadis cantik di negeri kami jika memang kamu ingin menikahi salah satunya."


"Kamu tidak melarang?"


Dia mungkin terkejut dengan ucapanku yang lurus- lurus saja. Wajahnya sampai melongo.


"Kalian sudah diakui oleh Sultan Besar."


Sultan Besar adalah Sultan Kesultanan Gladri Makkah, yang merupakan perwakilan Khalifah di tanah ini. Tanah Jawi.


Mendapat pengakuannya berarti telah siap antara politik, sipil, dan militer untuk tampil bersama negeri lain yang sudah ada lebih dahulu.


Mau itu Kesultanan baru ataupun Kerajaan baru.


Kerajaan Adaka baru diakui sekitar sepuluh tahun lalu dan baru- baru sekarang tampil dalam kancah antar negara.


Sebenarnya sudah ada sebelum sekarang, hanya saja dahulu serupa desa kecil.


Entah bagaimana perkembangan tiga tahun ini melejit cepat. Banyak kawasan hutan mereka dibongkar untuk membuat perumahan dan membangun pertahanan negara.


Mungkin oleh sebab pria di depanku ini.


Alasan orang negeri kami tidak dapat berbahasa mereka, bukan karena tertinggal. Justru karena menganggap mereka tidaklah lebih dari kelompok pedalaman, yang tidak berharga.


Sekarang, nampaknya pemikiran itu harus diubah.


Akan ada bintang yang baru.


"Karena kita sudah saling mengenal, apa boleh saya meminta tolong?"


"Ya. Katakan saja."


"Saya mencari kakak dari mendiang nenek saya. Namanya Mbah Gedhe."


Mbah Gedhe? Kakekku? Tidak mungkin. Beliau tiada punya saudara perempuan.


Yah. Nama Gedhe dipunyai oleh bawahan- bawahan Sultan yang sudah terjamin kesetiaannya.


Bisa saja bangsawan dari kerajaan itu pergi menatap di kesultanan dan mendapatkan simpati dari Sultan oleh karena kemampuannya.


"Sebutkan nama lengkapnya. Asalnya. Dan kalau bisa nama ayahnya."


"Ismel Gedhe Ghana, putra dari Kyai Longkrang. Asal dari Wanua Jati."


"Kamu ... Surya!? Nama depanmu Surya!!?"


Aku berseru tanpa sadar.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"

__ADS_1


"Ismel Gedhe Ghana adalah kakekku."


"Loh? Kamu si botak? Bukannya botak itu laki- laki?"


"Ih!!!!"


Rasanya aku pengen meng- hih- kan bocah di depan ini.


Ternyata pria ini kawan lamaku.


Sudah lama tak berjumpa, berubah banget bocah cungkring itu menjadi segagah ini.


Dan ya, dulu kepalaku itu botak karena aku sering mandi di kali dan menjadikan rambutku banyak kutunya.


Daripada gatal, aku memilih botak.


Tidak sedikit orang asing mengira aku seorang anak laki -laki.


"Bagaimana kabar Mbah?"


"Setahun setelah kamu pergi, Mbah Gedhe meninggal."


"Turut berduka cita. Ternyata ada kabar seperti itu dan aku tak tahu."


"Wajar saja. Tempat tinggalmu jauh."


Wisesa atau bocah laki- laki yang biasa kupanggil Surya terdiam setelah kukabarkan berita tentang kematian Mbah Gedhe.


Dia mungkin berdo'a untuk Mbah.


"Aku tidak tahu Mbah punya adik perempuan. Semuanya laki- laki," ucapku setelah beberapa saat terdiam.


Wisesa tersenyum miris. Dia lantas menunduk.


"Bukan hal aneh bagi saudara yang berpaling untuk ditinggalkan. Mendiang nenek terlampau cinta, jadi tidak bisa memandang perbedaan."


Wisesa mengendurkan punggungnya. Dia bersandar pada kursi.


"Tidak. Untuk itulah jasadnya dimakamkan di tanah tak bertuan."


"Apa karena itu kamu dibawa Mbah?"


"Ya. Karena nenek berbeda, dia tinggal di luar tempat kuasa, siapa menyangka anak laki- lakinya tetap mendapat tahta? Lalu menikahi gadis yang sering bersamanya. Setahun kemudian lahirlah aku di rumah sederhana itu."


Aku diam mendengarkan. Bisa dikatakan Wisesa ini sepupuku. Walau pernikahan nenek terbilang rumit.


"Ayah dapat menang dari pertarungan saudaranya karena dia memiliki pasukan bayangan dari kakek. Nenek tidak dapat lagi mengancam ayah, karena dia pria yang tersisa."


Sudah biasa perang saudara di atas sini. Kamu tidak akan terkejut bila mendengar seorang kakak membunuh adiknya, bahkan seorang ayah tidak segan mencegat perkembangan putranya, bila melampaui dirinya.


Nampaknya suami nenek sangat cinta padanya sehingga tidak segan memberikan bantuan pada anak mereka. Sementara anak- anak yang lain dibiarkan berjuang seorang diri.


Tidak adil. Tapi begitulah adanya. Orang tua akan selalu condong pada satu orang. Entah karena pasangannya sangat dicintai ataupun karena anaknya memiliki kelebihan yang membanggakan.


"Setelah kakek mangkat, Yang Mulia Nenek memaksa ayah untuk menikahi anak gadisnya, adik kandung ayah sendiri. Kekacauan itu terjadi. Nenek terbunuh dan aku pun dipulangkan ke kampung halaman nenek."


Pantas saja anak ini sangat ketus dan terbilang kasar saat berjumpa pertama kali.


Sekecil itu sudah mendapatkan pengalaman yang tak mengenakan.


Aku semakin mengerti kenapa Mbah menutupi identitasnya sebagai orang besar.


Padahal jika saja beliau mau, kami tidak perlu hidup di bawah garis kemiskinan.


Hanya dengan menunjukkan pekerjaannya, orang akan menjadi segan dan hidup kami akan terjamin.

__ADS_1


Tapi beliau lebih memilih kenyamanan.


"Dan kamu memukuli aku untuk melampiaskan amarahmu?" kataku bercanda.


Dia malah menanggapi serius. Kepalanya tertunduk malu.


"Kukira kamu laki- laki. Ternyata aku malah memukuli perempuan."


"Memangnya kenapa kamu mau berjumpa Mbah?"


Aku lebih baik mengalihkan pembicaraan. Wajah menyesalnya membuat aku tidak enak hati karena menyinggung yang telah lalu.


"Bertemu keluarga apa harus ada hal khusus terlebih dahulu?"


Pernyataannya cukup menohok. Cerita kami usai saat waktu menunjukkan kami harus beristirahat terlebih dahulu.


Dia mengatakan akan mengunjungi kedua orang tuaku setelah acara selesai.


Mas Indra dan aku pergi ke perjamuan inti.


Yang aneh bagiku ialah di sini tidak ada orang- orang penting.


Hanya ada kedua orang tua Mas Indra dan nenek tua itu.


Apa ada masalah yang urgen?


Tidak biasanya para pelayan pergi.


Aku makan siang dengan hati yang bertanya- tanya.


"Dari mana kamu dapatkan cincin itu?" tanya Nenenda menunjuk cincin merah melingkar di tanganku.


"Kamu mencuri harta negara?" cecarnya lagi.


Bukan kali pertama dia mencoba menjebakku dengan kasus pencurian harta.


Biasanya kedua orang tua Mas Indra membelaku dengan berkata, "Tidak apa, Nda. Sugiwa menantu keluarga kita. Berhak menikmati setiap harta kita."


Kali ini mereka terdiam. Wajah mereka menyiratkan ketegangan.


Karena tak tahan dengan ocehan Nenenda yang mulai ngalor ngidul, aku mengeluarkan foto bentuk awal cincin yang kugunakan.


Kulihat Nenenda mulai terdiam. Matanya membeliak.


"Apa Nenenda mengenal cincin ini?" kataku dengan tenang.


"Lihat! Dia bahkan mencuri cincinku!"


Nenenda yang mulai melempem kembali bersuara. Dia nampaknya menggunakan ini sebagai kartu AS untuk menuduhku.


Aku mengeluarkan foto cincin lainnya.


"Ini saya temukan-"


"Halah! Bagaimana bisa kamu menemukan cincin itu, sementara cincin itu hanya kulepas saat mandi berendam!? Kamu mencurinya kan waktu berkunjung?"


"Nenenda ini lucu sekali. Kapan saya pernah berkunjung ke rumah Nenenda?"


"Kamu .. kamu berjunjung waktu..." Nenenda sangat gelisah. Dia sepertinya tak paham jadwalku dan kesulitan berbohong.


"Saya temukan cincin ini terjatuh di lokasi bom merah yang hampir meledak."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2