
"Kamu benaran tidak apa, Nak?" tanya ibu mengkhawatirkanku.
Nenek Mas Indra kalau di depan khalayak tidak pernah kehilangan senyumnya.
Awalnya aku sama mengira seperti ibu dan ayah, nenek adalah pribadi yang baik karena wajah teduhnya.
Bagai seorang ibu yang tidak akan marah pada anak- anaknya.
Sampai hari itu datang.
Ketika Mas Indra sudah dipanggil oleh ayah mertua.
Ngunduh mantu pun diadakan.
Nenek menginap di rumah kami, sedang ayah dan ibu mertua tidak.
"Sugiwa, bisa bereskan bekas makan nenda, Nak?" tanya Nenenda dengan lembut kala itu.
"Baik, Nenda."
"Sekalian bekas suamimu."
"Baik, Nenda."
Hari itu setelah acara meletihkan, harus aku sendiri yang melakukan.
Sampai dengan satu pekan kemudian, sebagian besar harus aku yang melakukan.
Apakah Mas Indra tahu? Entah.
"Aku awalnya hendak mengizinkan Indra memilih pasangan hidupnya sendiri. Tapi melihatmu tidak punya kebanggaan seperti ini, sangat berharap tidak ada keturunan Keraton yang lahir darimu. Bisa- bisa mereka tidak punya kebanggaan. Sepertimu. Juga orang tuamu."
Itu perkataan terakhir yang kudengar darinya bertahun lalu.
Kukira hanya kata- kata seorang nenek yang enggan berpisah dari cucunya.
Saat aku memutuskan menghimpun kekuatan untuk putraku, kudapati kenyataan jika si nenek tua itu beberapa kali di tahun awal mengadakan pesta, hanya untuk memperlihatkan jurang perbedaan di antara kami.
Sedang ibu dan ayah secara polos menganggap semua itu sebagai cara mendekatkan diri nenek.
"Ayah mertua dan ibu mertua baik kok. Tidak usah khawatir, bu."
"Bagaimana bisa tidak khawatir?! Ibumu ini melihat sendiri dua mertuamu bertemu dengan perempuan itu, siapalah namanya. Memberikan set kotak perhiasan, seperti maharmu. Kata Nenenda, mereka akan menikah dua hari lagi! Lihatlah! Suamimu pergi bersama mereka."
"Biarkan saja lah, bu. Toh Mbak sudah cerai dari suaminya, kan?" Damara, adikku bersuara.
"Enteng sekali kamu berkata, Nak! Ini pernikahan!"
"Apa kita bisa melawan mereka?"
Aku menghembus napas pendek- pendek. Damara selalu berpikiran logis, pernyataannya kali ini tidak salah.
Siapa kita bisa melawan mereka?
"Damara benar, Bu. Kita sudah tidak perlu mengurusi mereka lagi. Bahkan akan sangat menyenangkan jika mereka mau cepat membuka status kami saat ini," sahutku yang mendapatkan delikan tajam dari wanita terkasihku.
Permainan bom kali ini sudah di luar ambang batas kuasaku.
Allah tidak akan menguji hamba Nya di luar batas kemampuannya.
Aku yakin bisa melewati ini dan akan melepasnya secara menyeluruh. Memilih jalan ujian lain. Tidak ingin keluargaku menjadi taruhannya.
Sebuah keajaiban selama tiga tahun ini tidak ada keluargaku yang jatuh sakit karena ulah mereka.
Sambil mendengar omelan ibu, sebuah firasat tiba- tiba menelusup masuk dalam relung hatiku.
Kuabaikan teriakannya yang memanggil namaku.
Maaf, Bu. Kaki ini melangkah pergi bagai punya otak sendiri.
__ADS_1
Dari gorden yang berkibar kencang, kudapati sesosok bayangan pergi berlari memasuki pekarangan liar milik salah seorang warga.
Gegas kaki ini makin cepat melangkah.
Kosong.
Tidak ada apa pun di halaman.
Namun taluan dalam hati ini makin berdendang.
Kususuri seluruh sisi halaman, takut tragedi di kafe terulang di rumah ini.
Kugigit jari dengan rasa cemas.
Damara rupanya mengikutiku. Tatapannya bertanya- tanya.
"Jangan bertanya. Carilah sebuah bom seperti yang kamu lihat di film- film."
Damara sepertinya tidak terlalu terkejut?
Dia menyusuri lahan luas ini dengan entengnya.
Apa dia tidak takut?
Aku saja deg- degan.
Ayah nampaknya sedang menenangkan ibu, mereka berdua tidak keluar mengejar kami.
"Kamu cari di dalam saja, Damara. Aku khawatir justru di sana tempatnya."
Aku juga memanggil pengurus vila yang tahu seluk beluk tiap ruangan untuk membantu Damara memeriksa bagian dalam.
Padanya kusampaikan untuk mencari benda mencurigakan.
Dalam pesan teks yang dikirimkan Damara, tidak nampak benda aneh di dalam ruangan.
Kalaupun ada penyusup masuk ke dalam bangunan, kami akan melihatnya.
Selama vila kosong, aku tidak mau membebani pengurus untuk terus mengawasinya.
Membiarkan dia menjaga dari satu arah.
Saat sampai pada bagian samping rumah yang dipenuhi daun- daun kering, kudapati seonggok plastik hitam.
Tidak ada sampah di sekitarnya, jadi tentu itu mencurigakan.
Kudekati dengan hati bimbang.
Bom bukan benda rapuh yang jika disentuh akan langsung meledak, kan?
Lamat- lamat kakiku mencapai keresek hitam yang digunakan jutaan umat di dunia.
Kenyal. Bukan benda keras seperti bom di kafe.
Apa ada orang dari luar membuang sampah ke dalam sini?
Bisa jadi.
Sisi samping rumah langsung bertemu dengan jalan kecil yang masuk ke perkampungan warga.
Pemilik sebelumnya mengusung tema rumah tanpa pagar. Sesekali liburan dan ingin bersosialisasi dengan warga sekitar.
Tidak aman? Mungkin. Tapi di banyak negara rumah tanpa pagar adalah harus. Selain lebih besar, warga yang jarang bersosialisasi di sana, dapat saling mengetahui andai terjadi yang tidak diinginkan.
Aku berbalik. Ingin mengundang pengurus vila ini, tapi tidak mampu.
Segerombol warga datang. Memegang tanganku tanpa mau mendengar penjelasanku.
"Itu orang mencurigakannya, Pak!"
__ADS_1
Aku tersenyum tenang. Memang belum memperkenalkan diri pada warga sekitar. Dealnya pun di luar rumah.
Hanya sekali melihatnya dan jatuh cinta.
"Saya-"
"Ngapain hah kamu di rumah Haji Agus?"
"Ini-"
"Sudah ga udah banyak cingcong! Geledah aja!"
Hah? Ini orang- orang ga punya akhlak ya?
Baru berjumpa bukannya tanya baik- baik.
Atau bisa saja orang- orang ini suruhan seseorang!
Sial. Aku tidak bisa melawan bapak- bapak yang mengunciku.
Gila sekali. Memegang wanita asing tanpa rasa bersalah.
Aku meringis. Cengkeraman mereka sangat kuat.
Seiring itu, seseorang membuka keresek hitam di atas tumpukan dedaunan.
Amis langsung terhidu di hidung kami.
Dengan tangan kosong dia menarik benda kenyal di dalamnya.
Segumpal daging tak berbentuk.
"Ckck. Masih ngelawan kamu?"
Sekarang aku yakin. Mereka bukan hanya warga sekitar. Sebagiannya pasti orang- orang suruhan.
"Stop! Jangan berlaku kasar!!"
Sesosok pria paruh baya dengan peci hitam bertengger di kepalanya menghentikan aksi brutal warga.
Aku bernafas lega. Dia Pak RT daerah sini. Didatangkan putri Pak Haji Agus saat kami melakukan jual beli.
Setelah dijelaskan Pak RT, warga terdiam dengan wajah tak enak hati.
"Tapi dia membawa daging aneh, Pak RT! Anda ga bisa biarin ini berlalu begitu aja! Bisa saja dia hendak melakukan guna- guna."
Seseorang memprovokasi dari dalam kerumunan.
Kulihat dia adalah ibu- ibu berdaster merah.
Kenapa musuhku senang sekali berpakaian merah?
Atau hendak menunjukkan siapa dalangnya?
Warga yang terdiam karena malu dan melupakan kejadian lain yang tak kala anehnya. Kembali bereaksi.
Yang dapat kupastikan hanya untuk menutupi rasa malu mereka.
Kantong keresek yang berisi segumpal daging dibuka lebar. Pak RT tampak bingung membuat keputusan. Warga terus saja mendesak untuk dilakukan pemeriksaan.
"Dengan meminta maaf, saya selaku ketua RT di sini ingin meminta Ibu Iwa untuk ikut ke rumah kami sampai masalah ini selesai."
Sayang sekali aku belum memasang CCTV di sini. Tidak punya bukti yang kuat.
Tak ada pilihan lain.
Kuikuti permainan mereka.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran