(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
061


__ADS_3

Setelah berbulan- bulan mendekati Sugiwa, akhirnya cucu dari guruku itu mau menerima pinanganku.


Sekarang aku sedang bersimpuh di depan Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu yang sedang memakai pakaian resmi mereka di kursi kebesaran mereka.


Sengaja meminta izin di depan para petinggi agar tak ribet mendatangi mereka satu persatu.


Bagi keturunan Sultan, apalagi yang memegang monogami penuh sepertiku, haruslah melewati izin para petinggi karena istriku akan menjadi satu- satunya ibu negara di masa depan.


Mereka akan menilai pantaskah tidak ia menjadi pendamping pangeran.


Dan tentu saja latar belakang Gendhis tidak dapat membuatnya lolos.


"Kanjeng Romo, bila seekor elang mendekati pipit, apa yang akan terjadi?"


"Tentu mereka akan beterbangan ketakutan ataupun terdiam karena tidak mampu menguasai diri, anakku.."


"Apa mereka bisa terbang bersama?"


"Tidak akan bisa."


"Tiada satu pun?" tanyaku menegaskan.


Kanjeng Romo tidak membalasku. Beliau memandangi Kanjeng Ibu.


Keduanya telah paham maksud perkataanku.


Kanjeng Romo tampak meragu, Kanjeng Ibu memegang tangannya dan mengulas senyum.


"Memang ada. Tapi itu sangat jarang dan orang tidak akan percaya begitu saja. Kebanyakan .... ditambahi bumbu yang lain, agar masuk dalam akal mereka," jawab Kanjeng Romo.


Aku terdiam. Menjeda waktu agar semua orang berpikir.


Juga menyiapkan keberanian untuk bersuara.


Padahal pernikahan ini hanyalah manfaat untuk memuluskan jalanku bersatu dengan kekasihku, serta agar aku bersegera mengambil posisiku.


Terlalu lama bila aku diangkat pada umur dua puluh tujuh tahun, andaikan belum juga bertemu pasangan.


Tapi kenapa degub jantung ini tidak dapat kukendalikan?


Kutatap kedua orang tuaku yang menuntut tanya.


Orang- orang di sekitar kami sudah nampak menegang.


Tanpa menoleh pun, kutahu mereka memasang kuping dengan baik.


Tidak ada interupsi, meski seharusnya mereka melaporkan kegiatan dan masalah selama sepekan lamanya pada pagi ini.


Mereka penasaran.


"Kanjeng Romo, maafkan kelancangan ananda. Ananda telah jatuh hati pada burung pipit yang kecil. Ananda ingin menikahinya. Mohon restu dari Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu.." pintaku.


Hah. Lega sekali. Kalimat yang terangkai telah mulus keluar dari mulut.


Ganti berdebar dengan jawaban yang akan diberikan Romo dan Ibu.


Walau memberikan pilihan istri ke tanganku, mereka pasti memiliki kriteria menantu idaman.


Kenapa harus burung pipit, sedang elang betina banyak berkeliaran di sekitarku?


Mungkin itu yang ditanya dalam hati mereka.


Ya. Kenapa harus Sugiwa?


Padahal jika hanya pengganti sementara, banyak wanita yang mungkin mau melakukan segalanya, demi beberapa waktu bersanding denganku.


Tapi, akan sulit lepas dari mereka bila terlalu lama terikat.


Dengan Sugiwa, kuyakin dia akan paham posisinya, bila kelak aku menjatuhkan talak padanya.


Dia ... tidak akan berani membantah.


Aku akan menjalani pernikahan ini, sampai kelak semua orang tidak sadar bahwa yang menjadi istriku ialah orang lain.


Bukan lagi Sugiwa.

__ADS_1


"Siapa wanita itu?" tanya Kanjeng Romo.


"Menjawab Kanjeng Romo. Wanita yang hendak ananda persinting adalah Sugiwa, cucu Mbah Gedhe.." jawabku menyeret nama orang yang berpengaruh.


Kanjeng Romo tentu hafal dengan Mbah Gedhe. Kanjeng Ibu pun sangat menghormatinya.


Tak mungkin mereka menolak.


"Berikan nama Sri di depan namanya," jawab Kanjeng Romo.


Aku tersenyum lebar.


Benar kan Kanjeng Romo menyetujui pernikahan kami.


Meski status dan kasta menghalangi, ada yang tak terbatas untuk dimiliki; ilmu.


Bunga- bunga tumbuh dalam hati ini.


Bermekaran.


Aku sangat bahagia.


Hah. Kenapa aku ini? Bukankah ini hanya pernikahan sementara?


Kenapa aku sangat bahagia!?


Perhelatan besar langsung terjadwal begitu aku menyampaikan niatku.


Berita aku meminta restu langsung tersiar.


Kanjeng Ibu rupanya amat antusias dengan berita ini.


Aku kira beliau tak mau bermenatukan orang biasa.


Beliau mempersiapkan semuanya tanpa mempertanyakan identitas calon menantunya yang biasa-biasa saja.


Semua prosedur terbilang sangat mulus.


Tidak ada pemeriksaan lebih dalam.


Monogami lebih dekat pada agama daripada Poligami.


Dan perceraian adalah aib yang sangat besar.


Hanya kematian yang membolehkan kami menikahi pasangan lain...


Aku akan mematahkan semua itu.


Bahwa di zaman ini, perceraian bukanlah hal tabu.


Semua orang akan menerima berita perceraian hanya dalam kurun waktu yang sebentar.


"Kanjeng, apakah Anda akan mengikuti kelas pra nikah? Kelasnya dimulai dua jam lagi. Pengampunya adalah Ustadz Biruz," papar Fadlan.


"Apa kamu pikir aku sudah melupakan semua pelajaran yang aku dapatkan!?" Aku tersinggung dengan perkataannya.


"Maaf, Kanjeng. Hanya saja di sini sudah terjadwal.. Jadi ... Kanjeng tidak ikut?" tanyanya hati- hati.


"Tidak."


Aneh- aneh saja bocah ini.


Dikiranya aku tak paham dengan makna pernikahan?


Toh pernikahan ini hanyalah sementara.


Lebih baik kujumpai kekasih hatiku.


Kemarin bunga yang ditanamnya sudah tumbuh, aku mau mengajari dia cara membuat wewangian.


Tapi di ruang tamu rupanya ada Kanjeng Ibu yang datang tanpa kabar.


Kucium punggung tangan beliau dan duduk di sisi beliau. Dari mata beliau, beliau memerintahkanku untuk menemani beliau.


"Ini. Cincin permata yang akan kamu berikan pada istrimu. Pilihlah," titah Kanjeng Ibu.

__ADS_1


Kulihat satu persatu cincin yang ditunjukkan pegawai.


Ini kan cincin permata yang berharga?


Ibu betulan mau memberikan pada calon menantunya permata yang berharga ini?


Kutuntut beliau jawaban atas semua ini.


Menatap beliau dengan pandangan bingung.


"Seperti yang Kanjeng Ibu katakan. Siapa pun pilihanmu ... asalkan dia wanita baik -baik. Mau strata rendah ataupun setara dengan kita, dia tetap akan menjadi menantu Ibu. Berikan yang terbaik untuk istrimu.."


Kanjeng Ibu sangat tulus.


Aku jadi merasa tak nyaman.


Kuraih saja cincin dengan permata yang kecil.


Pelayan itu malah tersenyum lebar. Seolah menang dalam pertempuran.


"Memang penglihatan yang tajam! Yang Mulia Kanjeng Pangeran sungguh punya penilaian," pujinya.


"Begitulah pria pendiam kalau sudah jatuh cinta. Diam- diam memberikan semuanya," komentar Kanjeng Ibu.


Mereka terkekeh bersama.


Aku mengusap lenganku dengan bingung.


Baru kusadari, saat menggesek kartu. Setengah tabunganku lenyap untuk membeli cincin itu.


Aku menahan napas melihatnya.


Walaupun tabungan ini adalah yang paling kecil dibanding tabungan milikku lainnya.


Tetap saja satu setengah miliar untuk cincin amatlah berlebihan!


Bagaimana bila benda kecil itu hilang?!


Kanjeng Ibu berseri- seri, membuatku tak jadi protes padanya.


Kutatap mesin edc yang menunjukkan angka yang sama dengan angka yang kukeluarkan untuk membeli cincin.


Niatku, uang ini dipergunakan sebagai nafkah selama tiga tahun untuk Sugiwa.


Tapi kalau dipikir- pikir, ternyata memang terlampau sedikit.


Satu setengah miliar saja hanya cukup untuk membeli cincin.


Nanti dia juga akan nimbrung bersama para bangsawan lain.


Kubuka rekening mobile pada ponselku. Mentransfer beberapa receh dari tabunganku yang lain.


"Sudahlah. Nanti kalau beli di luar kebutuhan, dia bakal bilang sendiri," gumamku saat menimbang cukupkah semua nilai yang kukeluarkan?


Daripada bingung, kenapa tidak kusamperin saja dia?


Akhirnya kusuruh supir untuk memutar haluan.


Pergi ke rumah Sugiwa.


Ini kali pertama aku pergi tanpa Fadlan, juru bicaraku.


Apakah Sugiwa akan mau berbincang denganku?


Dia selalu terlihat malu- malu.


Tidak seperti Gendhis yang berani meminta yang dia butuhkan.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


Author tunggu sampai 250 vote, ga usah banyak- banyak..

__ADS_1


__ADS_2