
"Maaf. Aku hanya tidak percaya Nenenda melakukan itu. Beliau ... selalu memiliki alasan yang baik pada tiap tindakannya."
"Baik buatmu!" seruku.
Hampir saja aku mengencangkan suara kalau tak ingat saat ini aku masih di rumah sakit.
Walau berada di lantai atas tak berpenghuni, tetap saja tidak merasa enak hati untuk membuat kegaduhan.
"Ingat, Mas. Wanita tua itu mengatakan hendak membunuhku dan Aden. Bagaimana bisa aku menyerahkan Aden pada kamu begitu saja?"
Aku menyentak tangannya.
Karena terburu- buru mengingat Aden bersama susternya di keramaian, lupa kalau di sini juga sudah terlampau ramai.
Orang- orang berduyun- duyun mempertanyakan keadaan Nenenda.
Dalam hal ini, para pengawal bayangan itu tidak merasa aku dalam bahaya.
Aku sungguh kewalahan.
"Nenenda hanya kelelahan."
Suara Mas Indra terdengar tepat di belakangku. Dia lantas meraih tanganku dan membimbingku pergi.
Ingin kulepaskan pegangannya, tapi kami berada di luar.
Tak etis menyebarkan aib pribadi saat kita menjadi sorotan.
Di dalam mobil barulah aku dapat menjauhinya. Walau hanya sebatas mepet ke pintu mobil.
Kami saling berdiam diri. Tidak ada satu kata keluar dari mulutku.
"Suster, kenapa kamu sendirian?" selidikku kala kudapati suster yang entah siapa namanya, sedang menikmati makanan tanpa ada Aden di sekitarnya.
Suster itu tersedak karena kedatangan dan pertanyaanku yang tiba- tiba.
Kemudian dia berdiri dengan menundukkan kepalanya, "Pengawal Ndalem datang dan meminta Kanjeng Pangeran. Katanya beliau dipanggil untuk makan siang bersama."
"BODOH!!" sentakku.
Kutepis tangan Mas Indra yang hendak menyentuh bahuku.
Kutunjuk wajah suster yang memelas itu.
Di mana akalnya membiarkan tanggung jawabnya begitu saja?!
"Kamu tidak punya otak, hah? Sudah diwanti- wanti untuk jangan berikan Aden pada siapa pun! Apa kamu tidak mendapatkan pengajaran sebelum datang ke sini!?"
"Sudah, sayang. Lebih baik kita cari Aden."
"Begini suster yang kamu pilih?" Aku balik menyerangnya.
Tapi aku benar- benar mempertanyakan, Ratih saja rela melanggar peraturan untuk tidak memberikan Aden pada pemangku acara, tiap kali diadakan acara dalam Keraton.
Sehingga perlu aku atau Mas Indra yang langsung menjemputnya.
Aku tidak percaya pada siapa pun.
Dan Mas Indra terlampau yakin dengan keamanan negerinya!
"Kamu harunya mikir, Mas! Kamu sering menggusur warga tanpa memberikan kesempatan diskusi. Pendendam itu tidak kenal rasa takut!"
Yah, Mas Indra selalu memberikan kompensasi tempat tinggal baru untuk warga yang digusurnya.
Sayangnya semua itu hanya berdasarkan data penduduk.
Tempat tinggal yang baru tidak muat untuk mereka semua, karena ada beberapa orang tidak mempunyai identitas yang jelas.
Hasilnya mereka luntang lantung di jalanan.
Bukan tak mungkin mereka membalas dendam di sela keramaian acara!
Jangan kamu pikir rumah yang digusur itu hanya berdirikan kayu dan kapur. Banyak pula rumah mewah yang dimiliki orang kaya baru.
Preman dan tokoh setempat, juga tak lepas dari rencana Mas Indra membangun ulang sebuah kota.
Tidak sadarkah dia? Kadang seorang tokoh lebih dipatuhi daripada sebuah peraturan kenegaraan. Menuhankan mereka.
Sedikit saja diusik, bertindak di luar nalar.
__ADS_1
"Aden sayang, kamu di mana?"
Sesuai kiraku, Aden tidak ada di aula pribadi Sultan.
Dia entah ke mana. Bersama siapa.
"Kanjeng Nyonya, Kanjeng Pangeran memanggil Anda," tutur Ratna.
Rupanya Mas Indra sudah tahu tentang orang kepercayaanku yang hadir dalam acara ini.
Dia bukannya menyuruh dayang, namun menyuruh Ratna yang notabene bukan pelayan ataupun anggota bangsawan.
Kami menyusuri jalan dan mendapati sebuah ruang tertutup di balik lemari kaca dalam aula pribadi Sultan.
Awalnya jalan itu gelap gulita, lantas kami menemukan ruang benderang dari pencahayaan matahari langsung.
Di sebuah dinding, terpaku tangan seorang pria bertubuh besar.
Mas Indra berdiri dengan rahangnya yang mengetat.
"Kanjeng Pangeran. Hamba berani bersumpah. Hamba diperintahkan Kanjeng Nenenda untuk menjemput Kanjeng Pangeran Kecil."
"Jangan mengarang cerita!"
Ck. Rupanya Mas Indra masih saja tidak percaya neneknya begitu kejam.
Kudiam di ujung pintu. Ingin mendengarkan percakapan mereka.
"DEMI ALLAH, hamba diperintahkan Kanjeng Nenenda untuk menjemput Kanjeng Pangeran Kecil, tapi beliau melepaskan diri di tengah jalan dan hilang."
Aku tidak mengalihkan pandangan ketika Mas Indra menodongkan kerisnya tepat ke mulut si pengawal.
Gerakannya nampak ingin menyobek mulut pengawal itu.
"Hamba, juga yang lain, sudah menyusuri bangunan ini... Takutnya beliau dibawa ke luar.."
"Sudahlah, Mas. Serahkan ini pada bagiannya. Kamu tidak ingin lekas mencari Aden?" selaku.
Panas telingaku karena pengawal itu mengucapkan hal berulang- ulang.
"Kemari, sayang."
Lalu mataku silau oleh cahaya lampu.
Udara dalam ruangan ini hampir sedingin es.
Mas Indra membuka kancing beskapnya dan memakaikan padaku.
Dia bertelanjang dada masuk ke ruang dingin ini.
Di dalamnya berjajar puluhan monitor.
"Aku tidak mau kamu tergesa- gesa mencari di jalanan. Duduk dan carilah Aden di dalam sini. Koordinasikan tim ini. Aku yang akan pergi ke lapangan."
Sekelompok orang yang serius dengan monitor di depan mereka, seketika menatap tak setuju pada keputusan Mas Indra.
Tapi mereka tak bersuara. Mereka diam mendengarkan.
"Kalian dengarkan Kanjeng Nyonya!"
Apa aku bisa mencari Aden dengan berdiam diri di ruangan ini? Bisa saja Aden tidak berada di dalam Keraton!
Rasanya tidak nyaman.
Seperti tidak ada effort untuk anakku.
Kususul Mas Indra yang pergi ke Selatan.
Aku menjadi bingung karena dia telah menghilang.
Namun telingaku mendengar suara dari balik tembok kayu di depanku.
Sepertinya ini pintu rahasia.
"Kanjeng Pangeran...! Anda membawa Kanjeng Nyonya?! Tempat ini bukan untuk orang sembarangan. Bahkan Kanjeng Sultan saja membawa Kanjeng Ibu setelah resmi menjadi pemimpin! Anda baru penerus Sultan!"
"Kamu tidak berhak mempertanyakanku. Lakukan tugasmu!"
"Tapi...!"
__ADS_1
"Aku tidak mau mengulang kata!"
"Pangeran! Tempat ini tempat rahasia!! Apa Anda lupa kalau tempat ini adalah mata negara!? Semua jalan tidak luput dapat dilihat!"
Aku membekap mulutku karena terlampau terkejut.
Ternyata negara memata- matai dengan CCTV?
Aku baru tahu!
Pantas saja peraturan negeri ini sedikit longgar, tapi kadang penjahat tiba- tiba hilang di tengah malam.
Aku mundur teratur dan kembali ke ruangan.
Dari pintu masuk, seorang wanita muda muncul. Dari salamnya, sepertinya dia yang tadi berada di ruangan bersama Mas Indra.
Wajahnya sangat ramah. Sapaannya padaku pun ramah.
Di mana suara sumbangnya ketika protes pada Mas Indra?
"Kanjeng Nyonya, di sini adalah CCTV Keraton. Harap menggunakannya dengan baik. Anda bisa melihat Keraton dari segala sisi. Kita sudah menset jam pada menit terakhir Kanjeng Pangeran bersama pengasuhnya."
Aku mengangguk singkat. Rupanya dia tidak mau memberi tahu kalau CCTV di ruangan ini tidak hanya dapat melihat Keraton, tapi juga seluruh Kesultanan.
Mungkin itu akan menjadi rahasia kecuali pada Sultan dan istrinya, seperti yang kudengar tadi.
Matanya terus awas pada gambar bergerak di depanku.
Bahkan aku dapat menghitung berapa kali aku berkedip selama sepuluh menit terakhir.
Seperti kata Pengawal Ndalem, rupanya Aden melepaskan diri darinya.
Bocah kecilku itu berlari menuju luar.
Pengawal Ndalem mencarinya bersama rekan- rekan yang dia hubungi.
Aden tidak terlihat saat masuk dalam keramaian. Tubuh kecilnya tertimbun di antara lalu lalang orang deswasa.
Aku mencoba bagian CCTV lain.
Sangat sulit.
Sejernih itu namun karena posisinya di atas dan sedang terlalu ramai, Aden tenggelam dalam lautan manusia.
Yang ada di sisi bangunan itu sebagiannya adalah bangsawan tingkat bawah dan para rakyat yang punya prestasi untuk diundang ke dalam Keraton.
Tidak seperti bangsawan tinggi atau yang satu tingkat di bawahnya yang menikmati pesta di dalam ruangan, mereka hanya dapat berpesta di halaman.
Wajah Aden pun sudah aku dan Mas Indra sepakati untuk tidak mempublikasikannya sampai dia dewasa.
Sekarang, lautan manusia itu tidak memedulikan Pangeran Tunggal yang berlalu lalang di sela- sela kaki mereka.
Aku mengernyit kala dalam layar menampilkan sosok yang tiba- tiba menghilang kepalanya.
Kulihat dari CCTV bagian lain, rupanya dia membungkuk dengan wajah yang masam.
Jantungku berdebar tak karuan, apa dia sedang memarahi Aden?
Di tengah keramaian?!
Orang- orang seperti memberikan cela, entah takut atau menjadikan ini bahan media sosial mereka.
Memundurkan diri membentuk lingkaran kosong dengan wanita itu dan
.
.
Aden!
Tanpa melihat waktu kejadian, aku berlari menuju halaman samping, tempat putraku sedang dimarahi di depan umum dan orang dewasa di sekitarnya justru merekam adegan itu!
Sesampainya di halaman sebelah, Aden tidak ada. Begitu pun orang -orang dewasa di dalam layar.
Halaman ini kosong melompong.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran