(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
056


__ADS_3

Aku tak pintar. Tapi aku memiliki sahabat yang sangat cerdas. Aku menggunakan metode yang diajarkannya untuk menggeledah isi ponsel suamiku.


Pagi-pagi buta suamiku pergi ke stasiun tanpa memberitahukannya padaku.


Dan ternyata yang dia jemput ...?


Ketika Suamiku Pagi-Pagi Buta Pergi Ke STASIUN


Baca yuk kisah sahabatnya Mbak Aini.


Cek profil author Al-Fa4 untuk membaca novelnya. GRATIS.


Happy Reading.


***


"Jadi, kamu masih belum memutuskan siapa yang hendak kamu nikahi?"


Kanjeng Ibu mulai mengomel lagi.


Terbiasa belajar dan berbisnis serta dibangunkan batas yang amat tinggi, menjadikan aku sama sekali tidak mempunyai kekasih.


Giliran sudah menginjak usia baligh, Kanjeng Ibu mulai mengomel menyuruhku mencari pendamping hidup.


Kuserahkan pada beliau. Akan tetapi beliau hanya membuat acara pertemuan rutin.


Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menggugah hati ini.


Jika memuji, itu hanya karena mereka ahli dalam suatu bidang.


"Bagaimana kalau Faridah Giany? Dia mendapatkan dua kali pujian dari Pangeran kan? Pujian yang banyak sekali," sindir Kanjeng Ibu.


Aku memang sulit memuji.


Dalam pandangan dan pengetahuanku, banyak gadis bangsawan kehilangan jati dirinya karena terlampau sibuk dengan dunia dalam genggaman; ponsel.


Jarang sekali di antara mereka benar- benar menguasai satu bidang.


Seperti tarian, mereka mungkin menghafalnya tapi tidak mampu menafsirkannya apalagi membuat gerakan baru.


Faridah adalah anak didik Nenenda. Wajar saja dia lebih paham dari rekan- rekannya.


"Itu karena dia memang ahli, Kanjeng Ibu," balasku agar Kanjeng Ibu tidak main menjodohkan aku dengan wanita itu.


Faridah terlampau ambisius.


Bukan aku tak tahu dia beberapa kali menahan wanita- wanita dari desa yang punya keahlian mendalam lebih baik dari para bangsawan.


Kubiarkan saja dia menahan datangnya wanita ke tempat ini, aku pun malas meladeni mereka.


"Lalu siapa, Pangeran? Cepatlah! Kamu sudah berumur tujuh belas tahun. Sudah empat tahun berlalu sejak balighmu. Kapan kamu mau mengambil gelar Pangeran Mahkota? Lalu, jangan kira memiliki anak itu ... mudah."


Aku menggenggam jemari Kanjeng Ibu.


Meski beliau menikah di usia baru baligh, nyatanya beliau baru mempunyai anak di usia manusia pada umumnya pada masa kini, dua puluh lima tahun.


Belasan tahun beliau berperang melawan orang- orang tak kasat mata.


Hamil dan keguguran adalah hal yang beliau hadapi selama belasan tahun.


Gelisah beliau masih sama; takut istriku sulit punya anak.


Maafkan anakmu ini, bu. Tapi benar- benar belum ada wanita yang mampu merasuki pikiran ini.


"Kanjeng Ibu, beri ananda waktu tiga tahun. Ananda hendak mengembangkan farmasi untuk kesehatan warga yang tahun belakangan menurun. Setelah itu, jika ananda tidak menemukan jodoh. Ananda akan manut pada Kanjeng Ibu."


Kanjeng Ibu tersenyum puas.


Setelah hari itu beliau tidak pernah membahas pernikahan.


Aku bersantai sejenak di pinggir laut. Menikmati aroma bakaran yang sedang dikipasi Fadlan.


Mengingat janji pada Kanjeng Ibu berarti aku harus legowo pada apa pun bentukan istri yang dipilihkan beliau.


Kanjeng Ibu tidak terlalu suka Faridah yang terus menempel pada Nenenda.


Mungkin beliau akan merekomendasikan wanita lainnya.


Menapaki pasir yang panas, aku sampai pada resort privat milik keluarga Widjianto.


Mungkin mampir sebentar tak masalah.


Hanya saja, kenapa terlihat tutup?


Semua orang tampak tergopoh saat kuputuskan singgah untuk beristirahat dan meminta layanan rendaman.


Saat santai di dalam air, telinga ini menangkap derap langkah yang kencang.


Lalu terdengar pintu tertutup keras.


Fadlan belum tahu tuannya ini pergi ke dalam resort.


Masak bukanlah keahliannya. Dia terlalu lama.


"Sudah selesai?" tanyaku pada Fadlan.

__ADS_1


Tapi tidak ada suara.


Kemudian terdengar lagi suara pintu berdebam.


Sebuah bayangan masuk meloncat ke dalam airku.


Kutangkap langsung kerah bajunya.


Khawatir dia melakukan tindak kejahatan di dalam sana.


"Kamu!" seruku kala mengetahui ternyata ia adalah Gendhis.


"Tuan.. saya mohon... jangan kasih tahu mereka..."


Matanya berbinar penuh harap.


Kenapa jantungku jadi berdetak?


Apa karena kami terlampau dekat dengan kondisi yang tidak seharusnya?


Wanita itu kembali masuk ke air saat suara derap langkah makin mendekat.


Aku tercekat kala ia memeluk kakiku.


Aku hanya mengenakan celana pendek!


"Ya-.. ng Mulia!"


Suara itu terdengar terkejut.


Rupanya De' Epu ada di sini.


Dia mendelik tajam pada pelayan di sampingnya.


Sepertinya mereka tidak sempat mengabarkan keberadaanku.


De' Epu langsung meminta maaf dan keluar.


Wanita itu seketika menjulurkan kepalanya dari dalam air.


Mata kami saling memandang.


Entah bagaimana hawa panas di luar masuk ke dalam sini.


Kurasakan deru napasku meningkat.


Aku langsung berjingkat keluar dari dalam kolam.


Kuberikan ia handuk dan teh.


Wajahnya menampilkan rona merah.


Hidung bangir, mata bulat yang menampilkan kesan lemah, serta semburat merah menampilkan pesona dalam dirinya.


Mata ini tak lepas dari bibir merahnya yang telah basah oleh air.


Meja yang menyela tampaknya tidak berguna.


Wajahku sudah berada tepat di depan wajahnya.


Entah aku kah yang memulai atau kah dia, bibir kami telah tertaut.


Matanya terpejam.


Takut kah atau justru menikmati?


Pelan tapi pasti, li ur kami telah bercampur.


Rupanya ciu man semanis ini.


Sebelum terjerumus lebih dalam, aku menarik diri.


Dia tertunduk dalam. Aku jadi merasa bersalah.


Di sini dia tertekan, aku malah membuatnya makin tidak nyaman.


"Jadi kenapa kamu ketakutan?" ucapku setelah lama kami saling terdiam.


Dia bercerita tentang De' Epu yang selalu memaksanya.


Bila biasanya aku enggan ikut campur.


Entah mengapa kali ini tidak.


"Kamu tinggal saja di tempatku."


"Terima kasih, Tuan."


Sampailah kami di sebuah Villa yang dekat dengan Keraton.


Tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman.


Aku menempatkan dia di Villa dekat Keraton karena Kanjeng Ibu selalu memintaku menginap di sana daripada meninggali Villa pribadi milik beliau.


Setiap ke Ibu Kota, aku tinggal bersama mereka.

__ADS_1


Setelah itu, entah mengapa aku selalu ingin di dekatnya.


Selalu memikirkannya...


Apa dia wanita yang tepat untuk menjadi pendampingku?


Hari ini kami kembali minum kopi bersama seperti hari- hari sebelumnya.


Kejadian itu pun tak pernah terulang.


Dia selalu malu- malu di dekatku dan sedikit menjauh.


Mungkin dia takut aku memaksakan kehendak.


Seperti sekarang, dia memilih meja panjang yang memisahkan kami.


Wajahnya terus tertunduk ke bawah.


Padahal, aku ingin melihat wajah cantiknya.


Ya. Cantik.


Dia adalah wanita yang cantik.


"Kamu tidak ingin mencari keluargamu?" tanyaku.


Selama ini aku tak sempat mencari tahu tentang gadis ini.


Kehidupanku sudah terlampau sibuk.


Saat hendak memerintahkan Fadlan, selalu saja teralihkan oleh masalah yang tiada hentinya.


Gendhis menggelengkan kepalanya.


"Ini aib, Tuan... tapi kedua orang tua saya adalah orang yang menjual saya. Saya takut, Tuan..."


"Bukannya kata kamu, kamu diculik?" tanyaku meragukan jawabannya.


Sebelumnya dia bercerita sedang sekolah dan diculik, hingga sampailah dia ke tangan De' Epu.


Lantas sekarang jadi dijual?


"Keduanya benar, Tuan. Saya diculik lantas penculik itu memberi tahu saya kalau saya telah dijual untuk melunasi hutang mereka."


Ah. Aku jadi merasa bersalah.


Wajah yang aku rindukan itu malah menitikan air mata.


Aku menyerahkan sapu tangan untuknya.


Dia mengusap dengan anggun.


Lihatlah. Dia hidup di luaran sana, tapi mampu bersikap sangat anggun.


Dia pasti out of the box, di dalam pergaulannya.


Bukankah jika kupoles sedikit saja, dia akan mampu bersinar?


Kanjeng Ibu dan Kanjeng Romo tidak akan membatasi latar belakang calon istriku.


Aku menjetikan jari dengan pelan.


Rombongan pelayan masuk membawa banyak kue terbaik dan sebuah nampan emas dengan kain merah di atasnya.


Lucu sekali wanita di seberangku.


Dia memandang bingung dengan mata bulatnya.


"Kalau kamu mau, izinkan aku jadi pelindungmu."


Seorang pelayan wanita memberikan kotak cincin pada Gendhis.


Sengaja bukan aku yang melakukan. Takut melewati batas seperti hari itu.


Hari yang tak pernah kulupakan dan selalu terbayang dalam benakku.


Gendhis mengangguk dengan ekspresinya yang masih malu- malu.


Dia memasang sendiri cincin di jarinya.


"Terima kasih, Tu.. an."


"Panggil Kangmas saja," kataku tak suka dengan panggilan hormatnya.


Gendhis mengangguk patuh.


"Baik, Kangmas. Terima kasih banyak.."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


Up hari ini? Ditunggu 250 vote nya. 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2