(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
058


__ADS_3

Selama ini kukira Gendhis hanya diam menerima kelakuanku di luar batas, karena dia lebih memilih berlindung di bawahku daripada menjadi budak De' Epu.


Semua orang tahu bagaimana penyimpangan De' Epu dalam berhubungan badan.


Itulah mengapa dia bisa leluasa mencari wanita, meski istrinya sama kuat posisinya.


Istrinya sudah angkat tangan untuk melayani suaminya yang abnormal.


Dunia luar tahu De' Epu memiliki lima orang istri, yang mana salah satunya mengajukan gugatan cerai dan secara ajaib dikabulkan De' Epu, si pria penggila kehormatan.


Dan dalam lingkup kami, semua orang tahu De' Epu selalu membawa satu atau dua wanita pada tiap bulannya.


"Ah. Begitu. Ternyata memang dia pandai menyenangkan pria," lirihku.


Fadlan terdiam membisu.


Dia tidak lagi berkomentar.


Biasanya selalu membujukki untuk memikirkan ulang hubungan dengan Gendhis.


Rupanya karena seperti ini.


Marah? Tentu saja.


Gumpalan panas bersarang di dada ini.


Rasanya seperti seseorang yang dilempar telur busuk.


Sangat bau.


Berani sekali dia menipuku.


Mengarang cerita dengan penuh simpati.


"Kanjeng, mohon jangan gegabah. Nona hanya wanita lemah. Dan ini kediaman Anda yang suci. Jangan tumpahkan darah di sini." Fadlan mengingatkanku ketika kami sampai pada Villa hadiah dari Kanjeng Ibu.


Aku menenangkan diri.


Benar kata Fadlan, tidak boleh mengotori kediaman hadiah dari Kanjeng Ibu.


Seharusnya tempat ini dibuka untuk pertemuan- pertemuan penting karena posisinya yang strategis ke keramaian ibu kota, pun ke keraton.


Tapi kenapa...


Kenapa saat melihat wajahnya, dia amat meneduhkan?


Segala amarah menghilang.


Telur busuk pun terasa harum.


Sejenak kupandangi dia.


Dia adalah telur busuk. Wanita yang sudah digunakan banyak pria.


Tapi, mengapa?


Mengapa dia terlihat amat lembut dan rapuh?


Yang kalau aku mengusiknya sedikit, porselen itu akan pecah.


Tawanya sangat cantik.


Rasanya, sosok dia yang sedang merawat bunga, sangat anggun.


Tidak terlihat sebagai kupu- kupu malam.


Dering ponsel Fadlan menyita perhatianku.


Dia mengaktifkan beberapa dering penting.


Benar saja.


Ada orang yang membakar alat berat. Di saat semua orang sedang melaksanakan sholat berjama'ah.


Padahal warga sudah menerima.


Para provokator ini tidak pernah lelah.


Sampai di sana anak buah Fadlan sudah mengamankan.


Ada satu wajah yang familiar.


Kuingat- ingat siapakah dia.


"Ini putra mantan kepala desa, Tuan," ucap Fadlan.


Memang ajudanku yang pegertian.

__ADS_1


Rasanya sudah lama aku tidak merenggangkan badan.


Masalah- masalah terakhir pun menambah sesak jiwa ini.


Kuhempaskan mereka dalam sekali pukulan.


Kulepaskan segala beban di jiwa.


Setelah puas membuat mereka babak belur, aku dan Fadlan pergi menuju kediamanku.


Damai sekali.


Emosi tersalurkan. Pun udara yang nyaman.


Aku terus berdiam diri di luar sampai aruna menyapa.


Fadlan datang. Menggantikan herbal yang telah dingin.


"Tuan, tentang Nona Gendhis..."


"Fadlan.." potongku.


"Ya, Tuan?" sahut Fadlan cepat.


"Memangnya apa kesalahan masa lalu seseorang?"


Fadlan diam tak menanggapi.


Dia tahu aku belum menyelesaikan kalimatku.


"Di dalam sini, tidak ada yang berubah. Hanya kecewa. Aku tidak bisa menyingkirkan wanita itu. Dia amat rapuh. Aku takut menghancurkannya."


"Tapi, Tuan. Beliau wanita malam," sanggah Fadlan.


Benar. Yang satu itu sama sekali tidak bisa dibantah.


Merenung diri ini. Membiarkan gejolak di hati.


Haruskah meneruskan ataukah berhenti di sini.


Lagi. Bayangan wajah manisnya terbesit dalam benak ini.


Bibir merah itu, aku tidak mau dia tersentuh air mata.


Kujejaki jalan untuk mengeyahkan keraguan.


Kutatap perkampungan yang amat padat.


Yang kudengar, kepala desa yang memprovokasi kemarin, awalnya adalah orang perkampungan padat ini.


Ayahnya memang masih keturunan langsung tetua desa negeriku.


Tapi hidup pria itu berantakan karena melawan kehendak ayahnya sendiri.


Menikahi wanita yang tidak sepadan dengannya. Wanita dari perkampungan kumuh di negeri seberang.


Masa kecil sang kepala desa hidup di bawah garis kemiskinan, karena sang kakek angkat tangan pada kehidupan putranya yang durhaka.


Menikahi wanita dari negara lain. Bukannya sesama bangsawan di kerajaan.


Kepala desa beruntung mendapatkan beasiswa untuk meraih ilmu lebih tinggi lagi.


Tapi ilmunya tidak dipergunakan dengan baik.


Dia menimbun uang untuk dirinya sendiri.


Hanya karena tak mau anak keturunannya kekurangan harta.


Padahal apa pun yang menjadi haknya, akan mencari jalan untuk sampai padanya.


Dan segala yang bukan haknya, akan kabur menjauh meski didekap sekali pun.


Gaji tinggi kepala desa yang dia dapat dipergunakan untuk membangun pasukan.


Memaksa saudara satu kakeknya untuk menyerahkan tanah mereka.


Segala kejahatannya menambah masa hukumannya


Karena ketamakannya, hidupnya berakhir di penjara.


Bahu ini tertabrak seorang wanita yang berjalan terburu dengan kepala menunduk.


Dia menoleh sekilas, mengatakan maaf tanpa suara.


Perempuan itu. Si pemilik mata indah. Cucu Mbah Gedhe.


Dia kembali pada setelan pabriknya.

__ADS_1


Tampak malu- malu saat berinteraksi dengan orang lain.


Jika tidak ingat lantangnya dia bersuara di depan preman- preman di waktu lalu, aku akan menganggapnya sebagai wanita yang lemah tak berdaya.


Wanita penakut.


Karena saat berbincang, dia tidak menatapku sama sekali.


Pergi tanpa mau berbincang dengan lawan jenisnya.


Tapi berkata banyak pada sesama perempuan.


Rupanya dia punya ide- ide yang baik.


Aku duduk di sebuah warung. Sedang menikmati secangkir kopi.


Memperhatikan cucu guruku, yang ternyata banyak omong bersama kawan- kawannya.


Tidak ada maksud apa pun.


Hanya saja mau menanyakan tentang guruku.


Tapi, sungguh dia seperti punya kepribadian lain.


Terus berbincang dengan kawannya tanpa ada jeda.


Sejenak pikiran ini kembali teringat akan tugas- tugas yang tertinggal di ibu kota.


Lalu teringat perkataan Kanjeng Ibu yang meminta menantu sebelum aku diresmikan sebagai Pangeran Mahkota.


Gendhis... wanita yang mengisi kepalaku, tidak mungkin kukenalkan dia sebagai Calon Istri Pangeran.


Puluhan pria di luar sana akan mentertawakanku.


Tapi kalau wanita ini ... adakah dia pernah berhubungan dengan pria lain?


Aku percaya, cucu guruku tidak akan melakukan hal rendah begitu.


"Rendah ya..?" gumamku.


Bila aku terus bersama Gendhis, bukankah aku termasuk orang rendah juga?


Tapi mengapa aku tidak bisa melepaskan wanita berwajah teduh itu?


Rasa ingin melindunginya amat besar.


Pun rasa ingin bersamanya amat besar.


Selalu ada rindu di dalam sini, sehingga ingin duduk memperhatikan lama wajah cantiknya.


Juga bibirnya..


"Tuan, hamba mencari Anda.." kata Fadlan dengan terengah.


Kulirik dokumen jalan di tangannya.


Oh. Rupanya dia melapor dahulu di perbatasan.


Tempatnya kan jauh. Mengapa pula repot- repot.


Sesekali dia harus merasakan nikmatnya melanggar aturan.


Fadlan terlalu patuh.


"Kamu cari tahu rumah wanita itu. Beri tahu padaku. Lalu cari tahu tentang masa lalunya."


Fadlan yang masih mengambil napas itu, langsung bersegera mengikuti Cucu Mbah Gedhe.


Alasanku tidak mau mengikuti, karena kudengar dia hendak main lebih dulu bersama teman- temannya.


Benar saja. Fadlan sedikit terlambat.


"Maaf, Tuan.." tuturnya.


"Kenapa keningmu?" tanyaku melihat keningnya terluka.


"Hamba tidak punya foto wanita yang Tuan maksud. Bermaksud mengambil gambarnya, malah dilempari bakiak. Untung dia pulang ke rumah. Hamba sudah tahu posisinya."


Aku terkekeh geli membayangkan wanita itu memberengut marah.


"Galak juga dia," komentarku.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2