(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
052


__ADS_3

Aku termenung mentertawakan nasib diri ini.


Teringat kala berbulan lalu menawarkan kesepakatan pada Mas Indra perihal aku yang melepas Aden sepenuhnya agar Mas Indra tidak khawatir tentang keputusan pengadilan bila bayi yang masih membutuhkan ibunya, harus berada di dalam naungan ibunya.


Aku bahkan bersumpah tidak akan menjejakkan kaki di istana ini lagi, agar tidak ada berita wira wiri tentang mantan istri pangeran yang berkeliaran di dalam keraton.


Ternyata meminum ludah sendiri itu nikmat.


Aku masih di sini.


Menemani Aden.


"Apa ibu bawa saja kamu ke kampung, Nak?" gumamku.


Aden sudah kembali mau bermain.


Bocah itu seolah lupa segala yang terjadi.


Ibu dan ayahku tidak sekali pun menjenguk Aden.


Mereka sedang berkunjung ke Kerajaan Adaka, bersama Wisesa yang sudah kembali.


Ya. Semua berjalan normal lagi.


Hukuman itu hanya sekadar memperingatkan. Tidak boleh mengganggu jalannya perayaan.


Bebas pajak pada beberapa sektor tetap berlaku.


"Kanjeng Nyonya, sarapan sudah siap."


Aku mengangguk singkat. Membawa Aden ke ruang makan.


Kami berada di Keraton utama.


Tidak ada basa- basi seperti kemarin.


Kanjeng Ibu mungkin kecewa dengan penolakanku terhadap putranya.


Waktu rujuk kami tinggal sepekan lagi.


Masa iddahku akan selesai. Kemudian tidak dapat kembali bersama, kecuali kami menikah lagi.


Dan tentu itu akan membawa kehebohan.


"Nanti malam kita pergi ke perjamuan," papar Mas Indra setelah sepasang orang paling tinggi di negeri ini telah melenggang pergi.


Ah ya. Pesta hari jadi tidak hanya sehari dua hari.


Sepanjang bulan ini selalu ada banyak pertemuan.


Entahlah. Tahun ini aku dilibatkan pada semua sektor.


Tahun kemarin, mungkin karena hamil aku hanya diperbolehkan menghadiri perjamuan di hari pertama hingga hari ketiga.


Tahun awal, aku dan Mas Indra hanya menghadiri upacara pembukaan dan penutupan.


"Aden bagaimana?"


Sungguh aku takut meninggalkan Aden seorang diri.


Ratih bukan pekerja yang direkrut sedari baligh dan tidak langsung direkrut oleh Kanjeng Romo ataupun Kanjeng Ibu, dia hanya bisa menemani Aden sebatas ruang tamu umum.


Jauh lebih dalam hanya diisikan oleh para dayang dan pelayan yang sudah tinggal sedari kecil.


Meski begitu, aku tetap merasa tidak aman.


Ada ketakutan sendiri dalam diri ini.


"Fadlan yang akan menjaga Aden," usul Mas Indra membawa nama salah satu kepala pengawalnya yang juga dekat denganku.


Mengingat jasanya yang selama ini tidak pernah mengabaikan aku, kusetujui usulan Mas Indra.


Siang ini kembali aku pergi bersama Mas Indra.


Ada Nenenda di sana.


Entah mengapa belakangan ini dia banyak diamnya.


Sedang merencanakan sesuatu?


Entah.


Wajahnya lebih banyak berekspresi dengan kosong.


Seperti ada guncangan dalam jiwanya.


Mungkin dia masih bisa berbincang secara normal, tapi binar mata kebencian yang dia tunjukan padaku ataupun binar cinta yang dia tunjukan pada Mas Indra, hilang sepenuhnya.


"Apakah nenekmu sudah menjadi gila?"


"Mungkin," jawab Mas Indra acuh.

__ADS_1


Eeeh. Tumben. Dia menyahut bukannya berceramah.


Pandangan Mas Indra pada neneknya juga berubah dingin.


Apa yang terjadi?


Ah. Sudahlah. Bukan urusanku.


Karena sudah di sini, lebih baik aku mencari makan.


Kupinta pada pelayan untuk membawa semua makanan dan minuman.


Mencicipi sedikit dari seluruh hidangan yang ada.


Acara usai pada tengah malam.


Mereka sungguh punya tubuh yang ekstra.


Tidak berhenti haha hihi sejak siang hari.


Kuputuskan undur diri.


Lebih dahulu pulang ke kamar.


Telepon berdering. Menunjukkan nomor Damara.


"Ternyata ingat aku juga," semburku setengah kantuk.


Makan banyak membuat mata ini memberat.


Aku tidak bisa lanjut ikut pesta di bawah sana.


Padahal tengah malam adalah waktu pertunjukan inti; pertunjukan wayang.


("Assalamu'alaikum,") ucap Damara di seberang sana.


"Eh iya. Wa'alaikumussalam."


Aku dan Damara saling berbasa -basi.


Betah sekali mereka tinggal di negeri orang.


Aku jadi tidak enak pada Wisesa.


Sudah kusuruh mereka pulang.


Ibu dan ayah malah menyuruhku menyusul mereka.


"Mungkin sedikit kejam. Tapi kita tidak bisa mengambil Aden untuk dibawa. Jadi tinggalkan saja anakmu bersama ayahnya. Kalau tidak, kamu akan terus terseret arus keributan mereka. Ke sini lah, Nak. Di sini kita bisa hidup damai seperti dahulu," ajak Ibuku.


"Akan kupikirkan, bu," balasku.


Kalau dulu aku bisa langsung meng iya kan pinta ibuku.


Sekarang ... makhluk imut itu terus berputar di dalam pikirku.


Aku tidak sanggup meninggalkannya.


Percakapan kami berakhir begitu saja. Rasa tak nyaman menyusup dalam hati.


Rasanya enggan membicarakan tentang Aden dan perpisahan.


Kubanting pelan ponsel ke sisi ranjangku yang kosong.


Tak lama ponsel itu berkedip.


Rupanya Fadlan menghubungi. Aden menangis merindukanku.


Kuhibur bocah kecilku itu.


Ini menjadi kegiatan yang mengasyikan.


Untunglah anak itu kembali tidur.


"Saya matikan," ucapku sebagai bentuk kesopanan.


("Maaf, Kanjeng Nyonya..")


"Ya?"


("Itu...")


"Katakan saja."


("Kanjeng Pangeran berada di kamar privat dalam gedung pertunjukan. Keadaannya kurang baik. Apa ... em Kanjeng Nyonya bisa membawa beliau masuk ke kamarnya?")


Karena hal ini seharusnya dikerjakan Fadlan, aku suka rela menggantikannya.


Mencari kamar yang dimaksud.


Buat apa sebenarnya dia di sini?

__ADS_1


Bukannya tinggal di aula untuk melihat pertunjukan.


"Hei. Pulanglah. Ribet banget dah harus dijemput segala," ocehku.


Kalau mengantuk, mulut ini memang tidak bisa diajak kompromi.


Saat pintu kamar terbuka lebar.


Ocehanku mendadak padam.


Ada Faridah di sana.


Kondisi keduanya seperti sedang mabuk?


Wajah mereka merah padam dan rancauan Faridah lebih parah dari ocehanku.


Syukurlah. Dengan begitu wanita itu tidak akan melihatku yang tidak harmonis dengan Pangeran kesayangannya.


Tapi, kenapa mereka mabuk?


Seburuknya Mas Indra, selama ini tidak pernah kudapati dia menyentuh kencing setan itu.


Ah. Entahlah.


Kubawa dia dengan kepayahan.


Ruang mereka benar- benar privat.


Di sekitar bahkan tidak ada pelayan.


Untungnya lift hotel berada dekat dengan ruang makan ini.


Mas Indra tidak banyak mengoceh.


Dia hanya diam memandangi.


Membuat risi saja.


Karena terlampau kesal dan ngantuk, tampaknya aku punya kekuatan lebih.


Tubuh yang setengah sadar itu akhirnya sampai ke kamar.


Kudial nomor kepala pelayan aula.


Menyuruhnya untuk menjemput Faridah.


Tidak mau dia menyebar kehaluan tentang malamnya bersama Mas Indra.


Kalau dia yang menjadi istri Mas Indra selanjutnya, Aden akan terus menjadi targetnya.


Setelah lima menit menunggu hasil kepulangan Faridah, bawahanku tak kunjung menelepon.


"Apa belum sampai?!" sentakku kesal pada kinerja orang di seberang sana.


Kalau Faridah kenapa- kenapa, aku pula yang akan disalahkan.


CCTV dari berbagai sudut pasti menangkap gambarku yang memasuki kamar privat yang hanya diisi Mas Indra dan Faridah.


Kalau dia koit di sana, bisa- bisa semua orang menuduhku membunuhnya.


("Maaf Nyonya. Nona Faridah mengamuk.")


Panggilan suara berubah menjadi panggilan video.


Menunjukkan wajah cemas kepala pelayan yang kemudian berubah gambar menunjukkan Faridah sedang berusaha mencium orang yang memapahnya.


Rupanya wanita itu bertingkah dan membuat repot.


Dua puluh menit berlalu dan mereka masih sulit membawa Faridah naik ke atas.


Mereka takut melakukan kekerasan. Hanya bisa membujuk Faridah untuk mengikuti mereka.


Ck. Ingin sekali kupukul kepala wanita itu supaya sadar.


Namun aku mengantuk.


Tidak punya kekuatan untuk sekadar membuka kelopak mata.


Aku merebahkan tubuh di atas sofa.


Belum sempat memasuki alam mimpi, kurasakan seseorang mengusap kakiku. Menjalar terus ke atas.


Wajah Mas Indra memenuhi retinaku.


Pria itu berada di atasku.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


Komen dong guys biar semangat.


__ADS_2