
"Ini rumahku. Aku yang akan memutuskan, Tuan Pangeran."
Kusulut amarahnya.
Dia menghela napas.
Nampak angkat tangan dengan keras kepalaku.
Baru lihat ya, Pangeran?
Mantan istrimu ini tak selalu menjadi penurut.
"Aku akan biarkan dia tinggal di kamarnya."
Dan setelah itu aku akan pulang untuk mengunjungi orang tuaku.
Mas Indra tidak lagi mendebatku. Kusuma juga langsung merapikan barang- barangnya.
Menjadikan warung itu sebagaimana fungsinya.
Kuperhatikan putraku yang sedang tidur, ingin membawanya pada sang nenek yang terus menanyakan kapan mereka berjumpa, tapi mengingat hari pengeboman waktu itu, membuatku cemas untuk membawanya.
Hanya bisa membiarkan ibuku kembali kecewa.
Apalagi sudah sepekan mereka di villa baru.
Kesadaran mereka akan muncul cepat atau lambat.
Alasan anak buahku pun pasti makin menipis.
Ibu dan bapak selalu banyak bertanya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mas Indra yang baru saja masuk ke dalam kamar dan melihatku dengan koper di atas kasur.
"Pulang," jawabku singkat.
"Aku ikut."
Aku hanya melirik sekilas pada mantan suamiku itu.
Dia ikut, orang tuaku tidak akan bertanya.
Jika tidak pun, aku akan membuat alasan dirinya sibuk.
Sebagaimana janji tidak akan memberi tahu tentang perceraian ini pada siapa pun, sebelum Mas Indra kembali menikah.
Di luar alasan sebenarnya bagi mereka kenapa aku dilarang memberitakan ini.
Selain pula karena tidak pernah ada perceraian dalam pohon keluarga Mas Indra.
Menyembunyikan status kami sangat menguntungkan bagi Mas Indra dan keluarganya.
Mereka tidak akan direpotkan oleh para penjilat yang ingin menjadi istri Mas Indra.
Kami menikah saja banyak orang tua gila kuasa, yang ingin anaknya jadi pelakor.
Apalagi jika tahu Mas Indra adalah seorang single?
Mereka tidak akan segan mendekatkan putri mereka di depan umum.
"Kenapa diam? Boleh kah maknanya?"
"Aku melarang pun, apa Mas Indra akan mendengarkanku?"
Dia nyengir dengan konyol.
"Aku juga kangen ibu dan bapak. Mereka tetap orang tuaku, gimana pun kondisi kita."
"Jadi, orang yang sudah cerai itu tetap berhubungan dengan mantan orang tua mereka?"
"Ya. Mertua itu mahram salawasna. Selalu menjadi orang tua kita. Dan jika kamu menikah dan memiliki anak dari suami barumu, anak itu adalah mahramku. Tapi ... kuharap itu tidak terjadi."
"Kamu ingin aku jadi janda selamanya!?"
Ngeselin banget!
__ADS_1
Aku kan juga ingin punya suami.
Yang perhatian. Yang mengerti.
Bukan cuma bisanya memberi uang!
"Bukan. Kamu kembali jadi istriku."
"Tidak akan!"
"Kita akan."
"Sudah. Cepat siap- siap. Tapi aku tidak mau membawa Aden."
"Bagaimana kalau ke kediaman Kanjeng Romo?"
"Apa rumahmu sudah menjadi tak aman?"
"Mungkin. Buktinya Gendhis bisa masuk."
"Alasan."
Dia ingin aku percaya Gendhis masuk ke rumah kami, rumahnya maksudku, karena keteledorannya bukan karena undangannya?
Sesuai dengan ucapan Mas Indra, kami pergi terlebih dahulu ke rumah Kanjeng Romo.
Sudah sampai mobil yang kami tumpangi ke depan rumah bangunan gaya kuno yang luasnya mencapai seluas mall terbesar di kotaku sana.
Tidak jauh beda konsepnya. Ada deretan rumah sederhana di sisi Selatan dan Utara nya.
Mulai dari gerbang, kami sudah disambut pendopo besar yang biasa dijadikan rumah belajar anak- anak para pelayan sebelum mereka menjemput ilmu di sekolah modern.
Anak- anak berdiri dengan hormat ketika mobil kami melintas.
Melewati pendopo, ada danau yang lumayan besar untuk ukuran rumah. Lebarnya sampai tujuh meter.
Di atas danau dibangun tempat makan dan tempat bersantai.
Danau yang dahulunya lenggang, sekarang terasa seperti resto makan dengan tema terapung.
Bagian depannya tak berpintu.
Kami masuk dan mendapati Kanjeng Ibu sedang bersantai membaca koran di tangannya.
Sesuatu yang jarang terlihat di masa kini.
"Assalamu'alaikum, Kanjeng Ibu."
"Wa'alaikumussalam."
Ternyata, meski aku telah mengajukan gugatan cerai untuk anaknya, mantan ibu mertua tidak menyimpan dendam untukku.
Beliau menyambutku seperti dahulu- dahulu.
Candaan kami akan menjadi kenangan.
Beliau pun masih mengajakku untuk mempersiapkan makan malam dan bekal untuk di jalan.
Bahkan meski itu adalah resto di tempat asing, bukan tak mungkin musuh- musuh Mas Indra mencari cela untuk meracuni.
Sebagai pencegahan terjadinya hal yang tidak diinginkan, kami lebih baik membawa makanan.
Dan bila pun tidak ada orang mengenal kami sebagai pembesar, makanan mereka belum tentu baik untuk tubuh.
Walau tidak terlalu taat beragama, keluarga inti Kesultanan tidak diperbolehkan memakan hal- hal haram karena itu jelas meracuni tubuh.
Di masa ini, meski owner resto yang kami datangi adalah muslim, belum barang tentu memiliki menu yang benar- benar halal.
Usai masak, aku dan Mas Indra diperintahkan oleh Kanjeng Ibu untuk menjemput Kanjeng Romo yang sedang bekerja di balainya.
Ini adalah pusat pemerintahan.
Terletak di belakang rumah.
Atau rumah yang terletak di belakang balai pemerintahan?
__ADS_1
Tergantung masuknya dari mana.
Karena posisi rumah dan balai saling membelakangi.
Hanya ada tembok besar.
Tidak dapat saling mengintip dari masing- masing tempat.
Siang itu kami makan bersama selayaknya keluarga yang masih utuh.
"Nak, percayalah pada ayahmu ini. Gendhis tidak hamil anak Indra."
Aku tidak akan kaget jika mantan mertuaku yang berkuasa tahu tentang segalanya.
"Ayah, Mas Indra dan saya hidup bersama bukan sehari dua hari. Katakanlah, meski saya memang berniat menceraikannya, nyatanya kami dalam rumah yang sama, sebelum akhirnya sampai di pengadilan.."
Aku menerawang jauh ke langit.
Mas Indra sedang membawa Aden naik ke atas. Sementara Kanjeng Ibu sedang menerima tamu.
Di sinilah aku, duduk di teras bersama beliau yang seharusnya sudah kembali masuk ke kantornya.
Ayah mertua yang sama- sama punya nama Indra di dalamnya itu menatapku dengan harap.
Walau mulutnya tak berucap, jelas sekali berharap aku dan Mas Indra kembali bersama.
"Dua tahun setelah saya tahu tentang Mas Indra dan Gendhis, Mas Indra masih sering berinteraksi dengan Gendhis. Dengan dalih tidak dapat menarik lagi hadiah yang diberikannya. Bolak -balik memeriksa operasional villa besar itu."
Kanjeng Romo tersenyum kecut.
Jelas saja, putra yang dibersarkannya dengan hati- hati malah ditolak olehku.
Pasti ada rasa sakit di hatinya.
"Kalaulah Mas Indra serius dengan saya. Dia tidak akan lagi berinteraksi dengan Gendhis, selayaknya dia bersikap pada para pelayan. Para pelayan transparan di mata Mas Indra, sedang Gendhis? Interaksi mereka begitu intens."
Aku tersenyum getir. Mengingat lagi Mas Indra yang terus bepergian di saat aku sedang hamil anaknya.
Ke mana lagi kalau bukan ke villa yang dihuni Gendhis?
Andai saat ketahuan olehku, Mas Indra menjelaskan tentang keberadaan wanita lain yang ada di sisinya dan memilih dengan tegas.
Aku akan memaafkan salahnya selama setahun itu ataupun menerima keputusannya dengan lapang dada.
Andai saat aku hamil, Mas Indra memutuskannya dan memberiku perhatian yang layak, aku akan memikirkan ulang tentang perceraian kami.
Sayangnya yang kutemukan justru Mas Indra sedang berada di rumah Gendhis.
Berbincang- bincang dengan intens.
Walau hanya melihatnya dari luar, gesture tubuh Mas Indra sama sekali tidak kaku terhadapnya.
Sementara pada para pelayan, Mas Indra bersikap dingin. Seolah mereka bukan wanita.
Bukan sekali dua kali aku lihat keberadaan Mas Indra di rumah Gendhis yang sedang berbicara intens dengan wanita itu.
Villa yang ditempati Gendhis berada di perumahan yang sama dengan dokter kandunganku.
Sengaja tidak memanggilnya ke rumah, karena aku tidak ingin terus terkurung.
Ternyata hampir di tiap pemeriksaan, kulihat Mas Indra sedang bersama dengan Gendhis.
"Mereka tidak menujukkan kedekatan di luar villa mereka. Apa Kanjeng Romo dapat memastikan juga, sedekat apa mereka di villa itu?"
"Aku tidak bisa mengatakan apa pun tentang itu.."
Hah. Sang Sultan yang berkuasa saja tidak menjamin tidak terjadi apa -apa di rumah itu, bagaimana dengan akal kepalaku sebagai seorang wanita? Sebagai seorang istri?
Selalu dipenuhi dengan praduga- praduga buruk.
"Coba pikirkan dengan baik, Nak. Kamu istrinya. Lebih memahami karakter pasanganmu, yang bahkan orang tuanya tak tahu."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran