(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
024


__ADS_3

"Bisakah kalian dewasa dikit? Masa berantem di depan anak- anak?!" omelku mengambil Aden dari pelukan Mas Indra.


Peristiwa Kamala dan Mas Indra teringat jelas di dalam benakku.


Seorang wanita dengan jarik yang sobek dan kebaya yang tak beraturan kancingnya, melangkah keluar dari ruang terlarang, yang tiada boleh satu pun orang masuk kecuali keluarga inti kesultanan.


Wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh selendang yang dikenakan di kepalanya.


Aku tiada ingin menebaknya, siapa dia?


Jelas saja, sudah hidup di dunia ini dua tahun lamanya, tabiat orang- orang besar persis seperti kata pepatah, seorang wanita diuji ketika prianya tidak punya apa- apa, sementara pria diuji ketika dia memiliki segalanya.


Ternyata Mas Indra sama saja. Kaum yang katanya berpegang teguh terhadap monogami, nyatanya punya wanita lain di luaran sana.


Apa semua pria sama saja?


Ketika wanita itu terus menolah ke kanan dan ke kiri, memastikan sekitar tiada orang melihatnya, bagian kepalanya tersingkap. Jatuh melorot ke bahunya.


Dia adalah Kamala, putri dari jenderal besar Kesultanan.


Perempuan itu keluar dengan pakaian tak patut dari kantor Mas Indra. Lalu setelahnya Mas Indra keluar dengan wajah merah padam.


Aku berpikir Mas Indra yang mengundangnya, ternyata berlainan dari pengetahuanku?


"Masuklah dulu. Angin sore tak baik untuk Aden."


Aku berjalan mendahului mereka.


"Aden menangis mencarimu. Maaf, aku terpaksa membawanya sore- sore begini."


Tangisan Aden selain membuatku sedih, selalu saja terselip tanya, kenapa anak -anak yang biasanya asing dengan orang tidak dekat dengan mereka, Aden kenapa begitu lengket denganku?


Padahal yang kutahu di luaran sana. Ada juga ibu -ibu yang mengabaikan anaknya. Tidak ada ikatan di antara mereka. Bahkan tangis pun tidak keluar dari mata anak yang telah ditinggalkan ibu mereka.


"Terima kasih sudah perhatian pada Aden, Mas," ucapku dengan sarkas.


Kenapa?


Karena salah satu bawahanku melapor jika gadis itu tampil menari di pertemuan pagi tadi.


Katanya ingin melepas gadis itu, tapi Gendhis masih saja berkeliaran di istana.


Sudahlah. Cowok memang tidak dapat dipercaya!


Kuulang terus perkataan itu. Agar tidak terlena dengan sikap baik Mas Indra.


Ya. Sangat baik.


Memberikan satu tempat wisata untukku, apa itu tidak terlalu baik?


Aku juga realistis. Semua itu sungguh di luar nalar untuk orang sederhana seperti kami.


Mungkin aku tidak akan meninggalkan Mas Indra jika bukan seorang wanita yang cemburuan.


Meski tak ada cinta di hati, tak suka milikku didekati yang lain.


Jika dia memang suka dengan orang lain, aku punya harga diri untuk tidak merendah minta diperhatikan.


"Aku saja, Wa. Kamu bawa Aden, pasti susah."

__ADS_1


Kusuma menginterupsi aku yang hendak ke belakang.


Sebenarnya tidak buat minum sendiri, ingin ke rumah sebelah untuk menyuruh asisten rumah tanggaku.


Ada tenaga gratis buat apa tidak dimanfaatkan?


Kubiarkan Kusuma membuat minuman.


Dia tidak akan buat masalah, sebab bawahan Mas Indra turut datang untuk memastikan minuman untuk tuannya.


Lemon tea.


Minuman kesukaanku. Rasanya selalu pas jika dibuat Kusuma.


Sembari menghilangkan kecanggungan dengan Mas Indra yang terus saja diam, aku minum lemon tea itu hingga habis setengahnya.


Mas Indra masih saja diam.


Matanya terus menatapku.


Apa ada yang salah denganku?


Aku sudah merapikan gendonganku dibantu suster yang dibawa Mas Indra.


Perempuan cantik itu setia menemani Mas Indra.


Apa dia penggantiku dan gadisnya?


Harus kuakui wajah suster itu bagai model dan aktris. Cantik natural tanpa polesan. Pasti akan lebih wow jika dia dipoles sedikit.


"Aku ingin berbincang berdua dengan permaisuri. Kalian pergi."


"Saya adalah pengawal Kanjeng Nyonya, eh maksudku Sugiwa... saya tidak akan pergi."


"Pergi, Widjianto! Jika kamu masih mau menjadi warga wilayah ini."


"Pergilah, Kusuma. Aku mau privasi."


Aku ikut bersuara. Tak mau kedua orang ini saling bersitegang lagi dan Aden akan menjadi korban lagi.


Kusuma pergi dengan lemah seperti kehilangan semangat.


Saat mataku bertemu dengan mata Mas Indra, matanya mendung, seperti sedang kesakitan.


Seperti hari itu, saat aku melihatnya di rumah sakit.


"Penurut sekali Kusuma di sampingmu. Apa yang sudah kamu berikan padanya?" sinis Mas Indra dengan tuduhan di mulutnya.


"Kamu menuduhku melakukan hal hina, Mas?"


Wajah Mas Indra yang merah padam, mendadak mendung.


Lagi- lagi pria yang sedang marah itu hampir menangis.


"Aku minta waktu berdua denganmu. Cuma mau katakan, kalau di sini memang belum diketahui keluarga lain. Biarkan Aden tinggal beberapa waktu denganku. Kamu bisa pulang dengan tenang, Mas."


Ini sudah kupikirkan matang- matang. Sejak terakhir hampir saja aku tertembak di warung angkringan, tidak pernah ada lagi teror yang datang terhadapku.


Kuyakin semua sudah aman.

__ADS_1


Terlebih dengan adanya Kusuma di sini, banyak keluarga yang mengincarku pasti berpikir ini adalah properti Widjianto.


Kusuma sudah dikenal sebagai calon penerus Widjianto, meski belum ada upacara resmi dan masih kakak- kakaknya yang memegang kekuasaan di tempat Widjianto.


Ini karena Kusuma selalu mendapat peringkat terbaik di akademik dan di luar yang masih dalam penilaian para panutua wilayah ini.


Ayah Kusuma pastilah ingin anaknya yang paling membanggakan menjadi penerusnya.


Tanpa berpikir akan tindakan anak- anaknya yang lain.


Dan sialnya anakku yang menjadi korban.


"Kenapa kamu terlihat tak betah denganku? Bersama Kusuma kamu baik- baik saja."


"Dia pengawalku. Kamu dengar sendiri."


Aku berencana mengusir Kusuma, tapi tidak mungkin kukatakan itu di depan Mas Indra.


Biarlah Mas Indra tahu dari anak buahnya.


"Aku akan tinggal di sini. Kudengar dari ustadz, tidak boleh wanita dan pria tinggal bersama berduaan saja. Meski dia penjagamu."


"Jangan mengajari aku yang tidak pernah kamu praktekkan."


"Mau tidak mau, aku akan tinggal di sini! Ingat, iddahmu masih dua bulan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."


"Apa- apaan kamu, Mas?!" cecarku ketika dia memasuki kamar yang aku tinggali.


Di sini hanya ada dua kamar, di mana dia akan tinggal!?


Kenapa sikapnya jadi pemaksa!?


Beberapa waktu ini, sikapnya cepat sekali berubah- ubah.


Kadang berkata kasar, kadang berucap lembut, lalu sekarang dia memaksa tinggal di rumahku!


Biasanya dia hanya menggodaku tanpa berkata kasar dan tanpa memaksakan kehendak.


Apa ada yang mengusiknya sehingga dia tidak lagi berlaku seperti biasanya!?


Sebenarnya tiga tahun ini aku tidak dapat benar- benar memahami sikap Mas Indra.


Dia lebih banyak tinggal di luar.


Kecuali setelah Aden lahir, dia selalu berlaku dengan sangat lembut.


Sikapnya selalu lembut.


Baru akhir- akhir ini kudengar dia berkata sarkas dan bertindak berlebihan seperti ini.


"Mas...!"


Aku berucap dengan tertahan. Tak mau Aden yang ada dalam gendonganku menjadi kaget karena suara ibunya.


"Kamu jangan berisik. Nanti Aden nangis!"


Sudah tahu anaknya akan berisik jika diteriaki, dia malah membuatku ingin berteriak sekencang mungkin!


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2