
"Saya temukan cincin ini terjatuh di lokasi bom merah yang hampir meledak."
Nenenda yang biasanya angkuh, sekarang wajahnya sepucat mayit.
Berarti benar dugaanku, demi melenyapkanku, dia sampai rela membayar dengan cincin kebanggaannya.
Sang Putra nampak kecewa. Sepertinya ayah Mas Indra sudah paham arah bicaraku.
Mereka sampai melupakan tujuan mereka memanggilku.
Cincin merah ini kan?
Sepertinya sangat berharga.
Apa aku sekalian memukulnya dengan telak?
"Kalau kalian bertanya kenapa aku memakai cincin ini, sebenarnya karena kupikir pelaku pengeboman sedang berusaha menutupi barang buktinya."
Seolah mengerti, Nenenda semakin terkejut dengan perkataanku.
Dia sampai berdiri, diikuti anak dan cucunya.
"Itu cincinku??" cecarnya tak sabaran.
"Cincin pelaku pengeboman," timpalku.
"Kembalikan cincinku!"
Sebelum Nenenda berhasil menggapaiku, kupalingkan wajah pada ayah Mas Indra.
Kenapa dia diam saja saat ibunya telah mengakui kejahatan yang besar?!
Apa dia hendak berbuat tidak adil?
"Ayah! Bukankah Anda dengar sendiri kalau cincin ini saya temukan di lokasi pengeboman? Kenapa Nenenda mengakuinya?! Ayah harus bersikap adil!"
"Halah! Bukannya kamu baik- baik saja? Jangan coba pengaruhi putraku! Kamu tidak punya bukti!"
"Bukti?" Aku menyunggingkan bibir dan melempar foto -foto lain.
Foto saat cincin itu berpindah dari Nenenda pada seorang pria bertopeng, dalam keadaan Nenenda sadar sesadar- sadarnya.
"Ya! Aku yang menyuruh orang untuk memusnahkanmu dan anakmu! Silsilah keluarga kami tidak ada yang dari rakyat jelata! Terlebih kamu begitu sombongnya menceraikan cucuku! Lebih baik kamu dan anakmu menghilang dari sejarah! Sekarang kembalikan cincin itu!"
Entah kenapa Nenenda terlihat sangat brutal. Dia mencoba melepaskan cincin dari jariku hingga terasa akan putus.
Tepat saat itu kulihat raga Nenenda melayang.
Seorang pria berpakaian serba hitam dengan syal penutup mulut dan kepala, berdiri di sebelahku.
"Ka- kamu! Jund! Berani kamu melawan istri pemilikmu."
Nenenda berkata dengan terbata.
Entah mengapa melihatnya memuntahkan darah, aku sama sekali tidak bersimpati.
Aku hanya mematung pada tempat berdiriku.
"Awalnya kami membiarkan. Tapi melihat Anda mengusik pemilik cincin sampai hampir kehilangan jarinya, kami tidak bisa tinggal diam."
Kami?
Secara refleks aku mencari sekitar.
__ADS_1
Saat mendongak, aku hanya dapat menahan napasku.
Di atap, banyak orang bersiap siaga.
Dari mana mereka masuk?
Tidak ada suara terdengar.
Dan tempat ini adalah wilayah yang aman. Tidak bisa sembarangan dimasuki oleh orang lain, bahkan perdana menteri sekali pun.
Mereka itu .... siapa?
"Dia bukan anggota keluarga kesultanan!" Suara Nenenda masih saja melengking saat dia sekarat seperti itu.
Pria besar itu berdiri di depanku. Seolah jari Nenenda beracun saja. Melindungiku dengan punggungnya.
"Perjanjian oleh tuan tidak dapat diganggu gugat. Siapa yang memiliki cincin ini, dia yang akan kami lindungi. Mohon jangan sampai kami bertindak lebih lagi."
Pembicaraan kami berakhir begitu saja, oleh sebab Nenenda muntah darah dan mulai kehilangan kesadaran.
Aku mengikuti mereka. Kami pergi bersama seolah tak terjadi apa pun.
"Nak, bisa kamu ceritakan dengan jelas?"
Mantan mertua yang akan selalu jadi mahramku itu duduk di sisiku dan berkata dengan nada yang tidak memojokkan.
Aku hanya dapat menceritakan semuanya pada pemimpin negeri ini.
Membiarkan beliau menilai sendiri.
Melihatnya tidak langsung menghakimiku, mungkin bisa saja beliau masih kurang mengerti yang aku dan Nenenda perbincangkan.
"Di kafe, tepatnya di area yang hampir terjadi pengeboman, ananda menemukan ini."
Kutunjukkan foto di wilayah kafe dan juga foto sidik jari sebelum emas pada cincin mulai berjatuhan dari kulit batu merah delima yang kini melingkar polos di tanganku.
Pria itu tampaknya lebih cerdas dibanding Nenenda. Menutupi wajahnya saat melakukan transaksi.
"Saat disimpan dalam kotak, ternyata emasnya tidak mampu bertahan karena paparan bahan kimia dari serbuk bom. Emasnya terlepas dari batu dan aku meminta pengrajin untuk membersihkan emasnya."
Aku menunjukkan cincin tanpa melepas dari jariku.
Niatku hanya untuk mengejutkan Mas Indra dan yang lain tentang cincin ini, rupanya aku yang sangat terkejut.
Kupikir Nenenda sengaja memberikan lapisan emas pada cincin berharganya agar tidak dikenali orang lain.
Rupanya bukan dia yang melakukan.
Dia bahkan sangat gencar merebut cincin ini dariku.
"Jadi, cincin apa ini?" tanyaku.
"Kalau Ayah memberi tahu, apa kamu rela memberikan pada kami?"
"Ayah, nampaknya tidak fokus pada titik permasalahannya. Nenenda hampir membunuhku dan bayiku, Ayah. Ayah masih ingin memiliki benda ini, sedang benda ini mampu melindungi aku dan Aden?" ungkapku kecewa.
Ayah Mas Indra tidak senekat ibunya. Menghela napas dan tidak lagi memaksaku.
"Cincin itu dibuat oleh Sultan sebelumnya. Kakek Indra. Dibuat untuk melindungi Nenenda dan Ayah karena beliau merasa waktu akan menjemputnya."
Aku sedikit paham. Kakek Mas Indra meninggal saat sakit.
Beliau membuat cincin sebagai token untuk menggerakkan prajurit bayangannya.
__ADS_1
Prajurit terbaik, yang awalnya diberikan hanya untuk Sultan, namun di masa itu keluarga luar mencoba mengambil alih takhta setelah tersiarnya kabar betapa lemahnya fisik Sang Sultan.
Turut menjadi pertimbangan olehnya, menyerahkan Ayah Mas Indra untuk diasuh oleh keluarga Kyai dan Nyai yang dihormati seluruh kalangan.
Baik kubu pro keluarga Sultan ataupun yang bertentangan.
Karena lembutnya dakwah Kyai dan Nyai, mereka dihormati oleh semua kalangan.
Tapi manusia tidak ada yang sempurna. Keduanya tidak dapat mempunyai anak. Oleh sebab itu menjadi sangat mudah bagi Kakenda untuk membujuk para tetua agar anak pertamanya diasuh keduanya.
"Kami kehilangan cincin itu. Mungkin memang seharusnya tidak bergantung pada makhluk."
Aku melirik cincin di jariku dan cincin pada gambar yang kucetak.
Di akhir hayat Kakenda tahu tabiat buruk istrinya yang suka merendahkan dan berbuat semena- mena.
Menutupi cincin token prajurit agar tidak dapat semena- mena menggunakan kekuatan pada orang lemah.
"Karena nyatanya, tanpa cincin itu, Allah memberikan kuasa pada para santri untuk dapat berperang lebih baik daripada prajurit- prajurit keraton yang sudah dikuasai oleh Paman."
"Masya Allah," pujiku.
"Kamu berhak menggunakan cincin itu. Tapi dampaknya juga tidak main- main. Cincin token prajurit dikenal oleh seluruh petinggi. Mereka juga mencari- cari cincin itu. Jika kamu menyimpannya, selain mendapat perlindungan, kamu juga akan ditarget oleh mereka."
Aku menimbang baik dan buruknya, apalagi sudah terlanjur menunjukkannya pada semua orang, aku memilih menyimpannya untuk diriku.
Ayah Mas Indra memperbolehkannya.
Masalah Nenenda yang begitu kejam, beliau menyerahkannya pada Mas Indra.
Sekarang di sinilah kami. Saling duduk berhadapan dengan Aden yang terlelap di ujung kursi yang berbentuk U ini.
"Kamu maunya bagaimana?"
"Kalau hanya aku seorang, aku bisa memaklumi kebencian Nenenda. Ini tentang putramu, Mas!"
"Ya. Aku tahu. Aku pun setuju untuk menghukum Nenenda sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi, Sugiwa..."
"Ya?"
"Orang bertopeng itu bukannya sangat mencurigakan? Bisa saja Nenenda hanya terpengaruh."
Aku refleks menggebrak meja. Sudah tahu neneknya salah, masih saja dibela!
"Kalau kamu tidak adil begini, apa pantas jadi seorang pemimpin!?!"
Aku membawa Aden yang menangis karena gebrakanku.
Mencium keningnya sebagai ganti kata maaf sudah membuatnya terkejut.
"Tunggu, Giwa! Hei! Aku tidak bermaksud begitu."
"Tidak bermaksud begitu bagaimana? Kamu masih saja mencari kambing hitam!"
"Tapi Nenenda tidak mungkin sekejam itu.."
"Hah!"
Dia tuli atau apa? Dari mulut neneknya sendiri mengatakan ingin menghilangkan aku dan Aden dari sejarah.
Hanya karena aku seorang rakyat jelata.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran