
"Aku penasaran dengan malam hari di sini."
"Aku tunjukkan tempat- tempat bagus, Mbak. Semoga tidak mengecewakan!"
"Sip!"
Aku lega karena akhirnya bisa keluar dari kurungan emas ini.
Usai memastikan Aden aman, aku langsung menyongsong kehadiran Mbak Aini di depan kamarnya.
Lihatlah wajah yang lembut itu.
Seolah tak pernah marah.
Kuharap tidak ada rintangan pada perjalanan malam ini!
Mbak Aini lagi dan lagi hanya mengenakan pakaian polos. Jubahnya bahkan berkibar ketika tertiup angin.
Kadang aku merasa minder. Kapankah aku dapat sesholehah dirinya.
Wanita yang terbungkus oleh iman. Hanya pada suaminya dia menunjukkan dirinya.
Awal berjumpa, kukira tubuhnya sebesar pakaiannya.
Ternyata tidak. Tubuhnya sangat ideal.
Dia menyembunyikan perhiasannya, benar- benar hanya untuk suaminya.
"Dek, ayo!"
Aku tersentak kaget ketika mendengar ajakan Mbak Aini.
Rupanya aku melamun karena terpukau dengan kesederhanaannya.
Kami berjalan beriringan. Kuputuskan menggunakan kereta kuda agar lebih terasa.
Perkampungan di sekitar tembok istana masih dijaga keasriannya sesuai dengan bangunan -bangunan masa lampau.
Meski begitu, jangan ditanya aset milik para penghuninya.
Sederhana tapi memiliki ratusan hektar tanah dan sawah.
"Di sini masih asri sangat ya. Tempat mbak sudah banyak bangunan baru," ucap Mbak Aini mengagumi bangunan -bangunan yang masih dapat dikategorikan sebagai bangunan bersejarah.
Tujuh puluh persen kawasan ini sama sekali belum pernah dipugar.
Kendatipun hampir seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu, ratusan tahun begitu kokoh berdiri di atas tanah.
"Tapi tempat mbak nggak boleh ada bangunan yang melebihi tower keraton," balasku.
Walau pusat kepemerintahan di sini masih menjaga keasriannya. Kadang mereka tidak punya ketegasan akan bangunan- bangunan baru yang dibangun aseng.
Banyak sekali mall dan bangunan baru, yang tingginya melebihi menara keraton.
Kadang kulihat, para pengusaha lebih berkuasa dibanding para pemimpin.
Hanya karena lebih dari delapan puluh persen penduduk masih menghormati keluarga keraton, izin membangun dan tinggal masih harus melewati keraton.
Selebihnya, kulihat mereka semena- mena.
Minuman keras, pesta muda- mudi, penjaja pukang, mereka banyak melakukan kegiatan secara terang- terangan di malam hari.
__ADS_1
Padahal jelas, dekrit istana melarang semua itu. Sebagai bagian hukum yang telah berjalan delapan ratus tahun lamanya.
"Benar sekali. Jadi, boleh kan kapan- kapan kita menginap di hotel yang paling tinggi?"
Mbak Aini itu dari desa bukan, dari kota juga bukan. Beliau berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di kabupaten yang sedang berkembang.
Lalu menikah dengan pangeran, yang wilayahnya tidak memiliki bangunan tinggi.
Pasti penasaran dengan bangunan tinggi.
Tapi, aku pun tidak bisa pergi ke sana.
Ke bangunan yang telah melanggar perintah istana.
"Mbak kalo bercanda jangan di pinggir jurang lah," jawabku serius dengan nada candaan.
"Loh ga boleh?"
"Mbak tahu sendiri, mereka sudah melanggar peraturan. Kalo aku ke sana, bisa terjadi kehebohan. Orang rumah pun pasti marah- marah."
"Jadi mereka tidak izin pada kalian?"
"Izin sih, sudah diperingati tentang peraturan yang ada. Tapi, gitu lah. Ada saja oknum yang mau disuap pengelola hotel. Jadi, bediri tegak lah tuh hotel. Ga tanggung- tanggung, tujuh meter lebih tinggi dari menara keraton!"
"Kenapa tidak dihancurkan saja?"
"Mereka akan koar- koar tentang hak, ini, itu. Dibela. Lalu kami dibully? Yang ada nanti kami diturunkan paksa. Netizen sekarang kan, yang viral yang benar. Tanpa mau ngecek keadaan sesungguhnya."
"Loh, kita yang berkuasa, mereka harus tunduk pada peraturan kita dong. Selama peraturan pemerintah tidak menyeleweng dan makan hak. Ini menara keraton, kebanggaan kita, harus terus dilestarikan. Mereka tidak hormat. Kenapa kita harus patuh?"
"Apa di sana pernah ada kejadian yang sama, Mbak?"
Awalnya begitu bersemangat menginap di hotel tertinggi, pasti karena berpikir mereka telah mendapat izin dari keluarga Mas Indra.
Nyatanya, memang masih anggota keraton yang memberikan izin, sebagai penguasa kota setempat. Tapi dia sudah tidak termasuk keluarga Mas Indra. Jarak darahnya sangat jauh.
Semakinlah membuat geram kakek Mas Indra. Beliau pun mengharamkan seluruh anggota keluarga untuk menginjakkan kaki di sana.
"Iya, dek. Tentu pernah. Ada saja oknum pejabat yang ingin kaya instan. Menerima suap dari para pengusaha. Kami langsung mengebom kerangka hotel mereka yang belum jadi."
"Bagaimana bisa?"
Aku sangat kaget dengan penuturan Mbak Aini. Bom dan berita selalu jadi satu. Di mana ada bom, pasti hadir para wartawan. Sangat kebetulan.
Lalu hotel sebesar itu dibom dan tidak ada beritanya?
Sungguh, aneh!
"Haha. Kamu pikir bom kami sama kaya bom abal- abal di berita?"
"Bom abal- abal?" beoku.
Mbak Aini tidak menjawab. Aku mengusap pipiku karena bingung. Menerka apa maksudnya bom abal- abal.
Semua dirancang demi kepentingan?
"Mereka, para pengusaha itu sebenarnya tidak akan semena- mena kalau kita bisa berlaku tegas. Kamu tidak pernah mendengar beritanya 'kan?"
Aku mengangguk.
"Karena kami sudah merundingkan. Bukan hanya dari kalangan bangsawan, tapi juga para rakyat. Tentu saja rakyat yang punya penginapan, semakin terdepan membantu kami. Mereka yang bergerak untuk menutup mulut- mulut wartawan."
__ADS_1
"Semulus itu, mbak?"
"Tidak juga. Sempat naik beritanya. Tapi masyarakat kompak membantu kami. Mereka menyatakan tidak pernah mendengar apa pun."
Percakapan kami berhenti ketika sampai di inti tempat wisata kampung keraton.
Berderet stand jajanan lokal yang dibuat menyerupai pasar lawas.
Semuanya dibangun hanya menggunakan kayu. Lampu- lampu diserupakan petromak.
Mbak Aini tampak senang dengan perjalanan malam kami.
Menilik jauh ke belakang, aku pun jarang menikmati jalan santai seperti ini. Terlebih di malam hari.
Selalu tinggi rasa waspadaku pada sekitar. Menjadikan diri ini tidak bisa bersantai barang sejenak.
Dahulu kupikir adalah hal biasa menjadi pasangan petinggi maka tidak dapat beristirahat dan selalu diincar.
Awal tahun pernikahan, aku tidak berharap banyak untuk dilindungi. Karena aku berpikir mereka, suamiku dan jajarannya, turut serta diincar sedemikian rupa, sehingg sulit untuk bergerak melindungiku.
Nyatanya, suamiku sangat mampu untuk melindungi orang terkasihnya.
Tiada lecet barang sedikit.
Rupanya panjang umur mereka berdua.
Mas Indra yang katanya sudah mengusir Gendhis, mereka berdua sedang duduk di stand bubur sumsum.
Menikmati hidangan dengan romantisnya.
Begitu banyak kelopak mawar di atas meja. Lilin berbentuk love pun tergeletak di atas meja.
Meski remang, aku tidak dapat melupakan dua sosok itu.
Sebagaimana dahulu aku menemukan mereka dalam keremangan.
Lihatlah, Mas Indra bahkan mengusapkan bibir merah Gendhis, yang tak lupa dengan kebaya merahnya.
"Dek, bukannya itu suamimu?"
Aku menatap horor Mbak Aini yang sudah berdiri di sisiku.
Ternyata beliau sudah menyelesaikan kegiatannya.
Tadi Mbak Aini sedang serius mencoba gamelan wilayah kami yang lumayan berbeda dengan gamelan wilayahnya.
Aku pun berniat menyiapkan hidangan malam untuknya.
Ternyata menemukan dua sosok, yang kupikir salah satunya tidak akan pernah kujumpai lagi —menilik perkataan Mas Indra yang sudah mengusirnya pergi.
Namun di sinilah aku. Melihat keduanya bersama, lantas dipergoki Mbak Aini.
Wajah calon ibu negara negeri sebelah, merah membara.
Mbak Aini tampak sangat marah.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1