(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
011


__ADS_3

"APA SEMUA ORANG BISA KELUAR MASUK KAMAR PANGERAN SEENAK JIDATNYA?!"


Aku tidak dapat menahan diri. Suaraku yang menggelegar membangunkan Aden.


Langsung tangan ini mengangkatnya dan menimangnya.


Ternyata, aku bisa menimangnya.


Suatu keajaiban.


Biasanya butuh diawasi Ratih dan ahli anak ketika aku menggendongnya.


"Sayang.. sayang.. maaf bunda ngagetin ya?"


Haih. Lihatlah wajah lucunya yang mengerjap bingung. Seolah tak percaya aku ada di sini.


Suara tangisnya berangsur tenang. Hanya ada isakan lirih sebelum akhirnya berhenti.


Saat berbalik, sudah tidak kudapati Mas Indra dan gadisnya.


Aku duduk di sisi ranjang. Aden kembali menangis saat diletakkan ke atas kasur.


"Kamu merindukan bunda, hm?"


Bayi kecil itu tertawa dan mengangguk. "Bundaa.."


"Haih. Padahal bundamu jarang memperhatikanmu. Kenapa kamu masih ingat terus sama bunda."


"Bunda.. bunda.."


Sepertinya, Ratih melakukan tugasnya dengan sangat baik.


Anakku tidak melupakan ibunya, walau jarang berinteraksi.


Aden memelukku dengan erat.


Beberapa saat kemudian Mas Indra masuk dengan nampan di tangannya. Dia melemparkan senyuman yang sangat mahal.


Dahulu, jarang sekali Mas Indra tersenyum padaku.


"Makan dulu. "


"Anda bukannya baru kecelakaan? Lihatlah tangan dan kaki Anda. Masih saja berkeliaran seperti orang sehat."


"Luka segini, pada awalnya saja yang sakit."


Aku tersenyum miring. Kemarin dia terlihat seperti akan menjemput maut, bagaimana bisa sekarang terlihat baik- baik saja?


"Ayo makan."


"Aden ga mau lepas."


"Ya sudah."


Kukira dia menyerah. Ternyata Mas Indra menyodorkan sendok. Menyuapiku.


"Nanti jatuh ke Aden," ucap Mas Indra memperingati.


Aku menghela napas. Tanganku yang bebas terjulur untuk meminum air. Menenggaknya, sebelum memakan hidangan yang disodorkan Mas Indra.


Sudah menjadi kebiasaan untuk minum sebelum makan.


Aku mengunyah makanan dengan mata terus melihat ke bawah. Tatapan hangat Mas Indra sangat menggangguku.


"Sayang.. maksudku Giwa."


Mas Indra meralat ucapannya saat aku melotot padanya.


Sok sok an manggil sayang, biasanya manggil kamu kamu saja.


"Tinggallah di sini. Aden belum sampai sehari saja sudah mencari- cari ibunya. Dia tidak terbiasa berpisah dari ibunya."


"Kamu mau aku membawa Aden?" balasku. Omong kosong, mana bisa aku tinggal di rumah yang sama dengan gundiknya, eh maksudku gadisnya.


"Tinggallah di sini."

__ADS_1


"Aku tidak punya hak."


"Ada. Ibunya Aden."


"Kamu mau mengumpulkan dua wanita jadi satu? Istrimu dan mantan istrimu?"


"Hanya ada istri."


"Ngimpimu ketinggian."


"Aku ada di posisi tertinggi, kalau mau tahu."


Ck. Selalu saja ada bantahan dari bibir manisnya.


Tidak lagi kupedulikan dia. Aku lebih senang bermain dengan Aden.


Bayi itu terus memandangku. Hampir tidak berkedip, seolah takut aku akan hilang jika dia memejamkan mata.


Apa pengaruhku terhadapnya sangat besar?


Dengan mengabaikannya, dia masih merindukanku?


"Susui Aden, Giwa. Dia merindukanmu."


Lepas berkata bagai titah, Mas Indra keluar dari kamar.


Aku menimang perintahnya. Tidak mau lagi mengikat Aden dengan diriku.


Tapi tatapan polos itu, aku tidak kuasa.


Aku membuka sebagian pakaianku. Memberikan hak anakku yang belum genap dua tahun usianya.


Tidak terlalu sakit, karena aku tetap memompa ASIku untuk asupan makannya.


Rumit bila menggunakan ibu susu ataupun mengambil ASI dari orang lain.


Bayiku makan dengan lahapnya.


 Dari laporan yang kuterima, dua hari belakangan tidak ada yang mampu menyuruh Aden untuk meminum ASI ataupun memakan laukan yang bergizi.


Aku belum melihat bawahan- bawahanku yang lain.


Ada apa dengan mereka? Kenapa tidak mengabariku?


Jika mereka berbelok haluan ataupun takut pada ancaman Mas Indra, lantas buat apa mereka kurekrut?


Aku akan mencari tahu nanti.


Aden terlelap dalam pelukanku. Dia sangat nyaman saat kutepuk- tepuk pantatnya.


Meletakkan Aden di atas kasur, dia kembali menggeliat.


Capek juga menggendong bayi. Pelan- pelan aku menaiki kasur, mendekati Aden. Aden tidak lagi menggeliat tak nyaman saat aku tiduran di sampingnya.


Pagi harinya Aden membaik. Bahkan suhu tubuhnya kembali normal.


Sambil menunggu Aden dimandikan pengasuhnya yang lain, aku pergi ke kamar rawat Ratih.


Kata dokter kepalanya terkena benturan. Bahu tangannya pun terluka berat.


Pelukan Ratih pada Aden menyelamatkan Aden.


Kuusap punggung tangan yang dipenuhi luka.


Tiga hari lukanya sudah mengering, tapi karena benturan di kepalanya, Ratih masih tidak sadarkan diri.


Aku tidak lama di ruang rawat Ratih. Tidak banyak yang bisa kulakukan di sana, selain mendo'akan kesembuhan Ratih.


Ingin menghubungi keluarganya, aku tidak punya hak. Ratih selalu mewanti- wanti aku agar tidak menghubungi keluarganya saat dia terluka parah.


Dia sendiri yang akan menangani keluarganya.


Mengelilingi bangunan, kutemui orang- orangku.


Mereka menunduk dengan dalam.

__ADS_1


"Demi Tuhan yang berkuasa atas jiwa saya, saya dan tim sudah menghubungi ibu sejak beritanya masuk ke telinga kami. Anda dapat melihat di histori pesan kami. Bahkan sebagian kami menelepon Anda."


Aku mengambil ponsel itu. Benar, dia mengirimkan pesan padaku dan ada tujuh panggilan keluar yang tidak dijawab, bahkan direject.


Mereka mengirim pesan dan melakukan panggilan pada malam hari saat aku tertidur lelap.


Kuambil ponselku. Sama sekali tidak ada jejak pesan dan telepon dari mereka.


Hanya ada satu pusat dari seluruh masalah ini.


Kusuma.


"Rupanya aku memelihara iblis di rumah."


Geram sekali. Pria itu terlalu masuk dalam ranah privasiku.


Dan sialnya aku tidak menyadari.


Apa kedatangannya ke sisiku juga untuk melakukan sebuah makar?


"Jaga Aden dengan seluruh kemampuan yang kalian punya!"


"Siap, Nyonya."


Aku tidak bisa menghukum mereka, salahku yang tidak memberi tahu alamat tempat tinggalku sekarang.


Mereka pasti uring- uringan untuk mencari tahu keberadaanku. Niatku tidak ingin diganggu sampai beberapa waktu ke depan, jadi aku merahasiakan rumah tinggalku dari mereka.


Tim ahli IT? Aku belum menemukan kelompok seperti itu.


Mereka sulit ditemukan. Mereka senang berbaur dengan rupa manusia kebanyakan. Keahlian mereka pun tersembunyi dengan baik.


Kelompok pengawal yang kubangun sudah jelas hanya melakukan pencarian manual tentang keberadaanku.


Dan itu tidak mungkin dilakukan dalam dua hari.


Memasuki ruang santai, kudapati makhluk yang tidak ingin kujumpai.


Wanita itu meletakkan garpu dan pisau yang dipegangnya. Berjalan mendekat dengan wajah yang angkuh.


"Kamu sudah menceraikan Kangmas, kenapa masih berkeliaran di sini? Jika itu karena anakmu, bawalah pergi. Anakku akan menggantikan posisi anakmu."


Jumawa wajahnya sambil tangannya mengusap perutnya yang datar.


Aku tersenyum getir. Ternyata hubungan mereka benar- benar sejauh itu.


Kuyakin mereka belum menikah.


Monogami adalah kepercayaan keluarga Mas Indra, karena menurut mereka monogami lebih dekat pada syari'at. Begitu penjelasan mereka.


Aku tidak terlalu tahu detail dalil atau fatwa- fatwanya.


Silsilah keluarga besar Mas Indra menjadi bukti.


Memiliki lebih dari satu istri, hanya ketika istri sebelumnya telah terkubur di liang lahat.


Untuk perceraian, dari garis lurus moyangnya Mas Indra, baru aku yang memulainya.


Untuk itulah, perceraian ini adalah aib. Mereka tidak akan semudah itu mengumbarnya. Mungkin nanti, saat mereka sudah mengesahkan pernikahan baru Mas Indra.


"Hei! Kamu tuli? Pergilah! Di rumah ini, kamu sudah tidak diizinkan menginjakkan kaki!"


"Aku ibunya Aden, siapa yang berhak melarangku? Hanya Mas Indra dan mantan Mertuaku!"


"Kamu ini bodoh atau apa? Sudah kukatakan, anakku akan menjadi pewaris Mas Indra. Lebih baik menyingkir bersama anakmu, sebelum aku melakukan sesuatu."


"Justru bila terjadi sesuatu pada Aden, kamu yang akan jadi tersangka utamanya," balasku tersenyum miring.


Wanita ini bodoh atau apa? Sudah jelas Mas Indra dan kedua mantan mertuaku menyayangi Aden, dia malah mengancam Aden.


"Dan anakmu, aku tak yakin dia bernasab pada Mas Indra."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2