
Aden terbangun karena rintihan tertahan dari tangis ayahnya.
Bayi itu langsung menangis kencang. Mengiringi suara tangis ayahnya.
Aku bangun dan menggendongnya.
Sulit sekali menenangkan Aden, karena ayahnya terus saja menangis.
Aku tidak pernah membayangkan hal ini.
Mas Indra yang dingin dan berwibawa, sekarang sedang menangis sesegukan.
Seperti anak kecil.
"Mas, diamlah! Aden menangis mendengar rintihanmu! Dan apa yang akan dikatakan para penjagamu, aku menyiksamu?!"
Hardikanku tidak ditanggapi. Pria itu masih saja menangis.
Kutimang Aden dan kuusap bahu Mas Indra.
Perlahan bahunya tak lagi bergerak.
Tanpa aba- aba, dia memelukku. Memberi jarak agar Aden tidak terhimpit.
Seolah tidak ada yang terjadi, pria itu melepas pelukannya, mengusap pipi bayinya dan menciuminya dengan gemas.
"Aden pria kuat. Jangan menangis ya nak?"
Aku menyipitkan mata mendengarnya. Apa dia sedang menyindir dirinya sendiri?
Dia bukan pria yang kuat?
Entahlah.
Kubiarkan dia mencondongkan diri pada Aden, karena Aden menjadi tenang oleh ciuman ayahnya.
Walau agak risih, karena bagaimanapun Aden sedang kugendong di dadaku.
"Giwa, maafkan aku."
"Sudah kumaafkan."
"Belum memaafkan namanya bila tidak mau kembali bersama."
"Jangan ngaco, mas. Kamu sudah punya Gendhis. Bertanggung jawablah, walau anak itu tidak bernasab padamu."
"Itu bukan benihku\, Giwa! Aku bukan pria sepicik itu yang mengga*uli wanita tanpa ikatan. Kamu kira semua pria hanya memikirkan sel*angkangan!?"
"Ciu man ganasmu tidak bisa membelamu."
"Hanya sekadar ciu man."
"Dari ciu man pasti jatuh ke leher, lalu jatuh ke da da, dan selanjutnya mana bisa pria menahannya? Kamu selalu mulai dengan ciu man!"
Mas Indra terdiam. Dia tidak akan pernah melupakan ciu man dan f*re pl*y sebelum melakukan sengg*ma.
Tidak pernah diriku selamat jika dia sudah melakukan ciu man di bibir.
Beda bila dia mencium pipi dan keningku. Seperti yang selalu dia lakukan tiap pergi bekerja, di depan orang banyak.
Mas Indra sangat pandai dalam hal ini, dari mana lagi dia belajar jika ternyata dia punya kekasih yang sangat berpengalaman?
"Aku tidak melakukannya dengan Gendhis.."
Mata pria itu berkaca- kaca. Kujulurkan tanganku. Menghapus bulir air matanya. Tidak lagi ingin mendengar rintihan dan tangisnya.
Nanti Aden kembali rewel.
__ADS_1
Aku menghela napas ketika pria itu memandang penuh harap.
Kusentak udara sekitar.
"Kamu tunjukkan buktimu. Bagaimana aku bisa percaya jika kamu bicara tanpa bukti, sedangkan aku melihat sendiri ciu man ganasmu?"
"Tolong jangan bahas itu lagi."
"Sayangnya bayangan itu terus terpantri di benakku."
Lagi, mata pria itu berkaca- kaca.
Kenapa dia jadi melankolis?!
"Jangan menangis, Mas!"
"Kalau begitu, biarkan aku mendatangi tempat tinggalmu, Giwa."
"Kamu mau membawa marabahaya padaku, lagi? Setelah semua usahaku terlepas darimu!?"
"Aku janji. Tidak akan membawa bahaya padamu."
"Kalau begitu umumkan perceraikan kita."
"Sulit."
"Dan aku pun sulit menerimamu di rumahku!"
"Giwa, pikirkanlah perasaan Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu. Mereka menyayangimu. Dan perceraian kita adalah mimpi buruk bagi mereka. Setidaknya, biarkan mereka yang memutuskan kapankah berita itu tersebar."
Aku tidak dapat membantah. Kedua mertuaku adalah orang yang sangat baik. Mereka memperlakukanku dengan baik, ketika aku sendiri berpikir orang kalangan mereka akan sulit menerima orang sepertiku.
Kasih sayang mereka tidak pernah luntur.
Mereka bahkan tak segan menginap di rumah orang tuaku, ketika dahulu aku melahirkan dan ingin menginap di kampung.
Tidak ada rasa jijik dan risih ketika mereka harus menempati kamar tidur adikku.
Suara gesekan kursi dan lantai terdengar lirih. Mas Indra mengambil duduk di kursi sampingku.
Dapat kurasakan matanya terus memandangku.
"Sugiwa, aku mencintaimu."
Apa yang kulakukan?
Aku memutar bola mata. Merasa jengah dengan ucapannya.
Kalimat itu selalu berdengung beberapa bulan belakangan. Tepatnya sejak aku telah melahirkan Aden.
Jika melihat kasih sayangnya pada Aden, pasti hal mudah baginya untuk membual seperti itu pada ibu kandung dari putra kesayangannya.
"Mas, apa kamu sakit? Belakangan kamu banyak mengucapkan omong kosong."
"Aku berkata jujur."
"Karena Aden?"
"Rasa cinta tidak dapat dideskripsikan. Dia muncul dan tumbuh dengan sendirinya."
"Lalu layu dengan sendirinya? Seperti cintamu pada Gendhis?"
Mas Indra menyentak napas. Wajahnya gusar.
Tentu saja. Dia tidak biasa dibantah dan dibalas perkataannya.
Lihat saja, sebentar lagi dia akan menunjukkan taringnya.
__ADS_1
Dia selalu memaksa. Membuatku tambah bersikeras ingin lepas darinya.
Dan syukurlah, akhirnya aku menjadi jandanya.
"Kamu jangan terus membantah! Atau kamu mau lihat apa yang bisa kulakukan? Tetap diam di rumah dan jangan mengacau. Sekali saja kamu melangkah pergi, kupastikan kamu menyesal. Aden tidak butuh ibu yang tidak patuh pada ayahnya!"
Serupa itu ancamannya.
Jika dipikirkan lagi, kenapa pria itu masih menghubungiku untuk urusan Aden, setelah mengancam akan memisahkanku dan Aden?
Aku masih menunggu respon Mas Indra. Pria yang pernah berbagi kehangatan denganku itu hanya diam memandangiku.
Aku tak acuh. Kembali fokus pada ponsel. Mencari pundi- pundi uang di luar pemberian keluarga Mas Indra.
Menjadi reseller dan penjual online, ternyata tak semudah itu.
Pergaulanku selama tiga tahun turut terkekang, akhirnya hanya sedikit teman yang tersisa.
Meski begitu aku sangat bersyukur, dalam satu hari ada saja pembeli yang melakukan transaksi di toko onlineku.
Jika diingat- ingat, perubahan kulitku yang rusak, selain karena sayur dan buah yang aku konsumsi, kekenyalan dan kelembutan kulitku didapat dari rempah rahasia di dapur keraton.
Kulirik Mas Indra yang masih dalam posisinya.
Bolehkah aku menggunakan resep itu?
Tapi, nanti aku terikat lagi dengan Mas Indra. Pria itu punya banyak tipu muslihat.
Namun bila tidak kucoba resep yang spektakuler ini, aku sulit untuk melangkah maju.
Aku tak punya pengalaman kerja. Menjadi reseller bukan hal menjanjikan. Melanjutkan usaha masakan, tidak mungkin karena Kusuma sudah kuusir.
Menjual rempah keraton adalah yang terbaik. Bahannya alami, tidak perlu melakukan banyak hal.
Hanya mengeringkan dan menyatukan beberapa bunga dan rerumputan.
Halal tentu sudah jelas karena semuanya dari tumbuhan dan bunga.
Ketahanannya pun sangat bagus.
Dan khasiatnya sangat luar biasa.
Bekas luka milikku hilang hanya dalam waktu beberapa bulan.
Tak bisa dipungkiri, semua itu juga karena aku terus memakan buah dan sayur.
Namun dapat kupastikan rempah tubuh turut membantu meregenerasi kulitku.
Awal aku kembali mengonsumsi buah dan sayur, aku menggunakan salep yang terkenal. Tidak membuahkan hasil pada kulitku.
Setelah berganti pada rempah ini, kulitku bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Apa aku gunakan saja resepnya?
Haruskah bekerja sama dengan Mas Indra?
Atau aku hanya perlu menggunakannya secara diam- diam?
Toh yang menjual rempah bukan hanya aku seorang.
Ini pun masih belum tahu, apakah ada yang membeli ataukah tidak.
Bisnis bukan kuasaku.
Aku lebih suka bercocok tanam. Membantu ayah di kebun.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran