(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
040


__ADS_3

"Sepertinya kamu punya adik yang luar biasa, Dek."


Mbak Aini berdecak kagum saat membaca barisan kertas di tangannya.


Mau mengintip?


Tidak akan bisa!


Mbak Aini menulis menggunakan aksara jawa.


Aku mana paham.


"Ini. Kamu lihat akun dengan nama Paka? Ini punya adik. Sedang Asqa punya wanita ini, si Eneng."


"Maksud Mbak Aini apa?"


"Foto yang didapat dari CCTV publik, seharusnya kamu paham kan?"


Mbak Aini mengangsurkan beberapa foto. Salah satunya adalah foto bawahan Nenenda yang sempat membuat kehebohan di desa sana.


Aku mulai memahami arah pembicaraan Mbak Aini.


Siapa yang dapat mengunduh CCTV publik selain seorang peretas?


Wajah Mbak Aini yang semula tersenyum senang, mendadak bermuram durja.


Sesekali ia mengernyit. Membandingkan dua kertas yang kujuga tak tahu apa isinya.


Semuanya hanya berupa angka dan simbol.


"Adikmu dan teman wanitanya sangat pandai dalam hal ini, sekaligus ceroboh. Bagaimana bisa laptop pribadi digunakan bersamaan? Tentu saja orang di balik layar akan merasa geram. Mereka berdua diincar."


Aku kini mengerti, kenapa Eneng tiba- tiba mendapat musibah dan adikku berpura- pura terkena musibah.


Ada seseorang yang mengincarnya.


Apa orang itu telah dilihatnya saat mobil kami mulai memasuki ibu kota?


Saat itu Damara terlihat pucat.


Kusimpan kertas yang diberikan Mbak Aini. Nanti akan aku berikan pada bagian kode.


Setelah ini apalagi ya yang akan terjadi?


Aku hanya bisa menerka.


Saat sedang melamun, bel kamarku berbunyi.


Ruangan hotel ini kedap suara. Dari bagian pintu terdapat sesekat ruang dengan satu kursinya.


Kubuka pintu, menemukan Mas Indra sedang berdiri.


Dia menyelonong masuk, seperti tingkahnya belakangan.


Kubiarkan saja karena aku merindukan bocah yang sedang digendongnya.


"Ada apa?" tanyaku. Biasanya dia datang membawa sebuah kabar.


Seperti kemarin, dia mengabarkan sudah menyiapkan konferensi pers tanpa mengatakan prosesnya padaku.


"Tidak ada. Memang harus ada apa- apa?"


"Ya aneh aja."


Mas Indra hanya tersenyum misterius.


Setelah bersikap kekanakan dan ketus padaku, sekarang sikapnya menjadi sangat misterius.


Perkataannya menjadi sedikit.


Kadang aku takut dia kembali pada mode bangsawannya dan menolakku mendekati putra kami karena tidak sebanding.


Sepanjang hari ini, dia hanya duduk tegap di sisi ruangan. Beranjak hanya untuk sholat.


"Mas mau makan buffet? Sekalian aku ambil ke bawah."


Karena tak nyaman dengan dia yang hanya berdiam diri dengan misterius, akhirnya untuk pertama kalinya aku menawari dia makan setelah terakhir kali menawarinya makan, satu hari sebelum ulang tahun pernikahan kami yang pertama.


"Ya. Samakan sepertimu."

__ADS_1


Hm. Pendek sekali kalimatnya.


Bingung dan takut juga mau menyamakan makanan kami.


Aku sudah lupa dengan semua alergennya. Nanti kalau dia kambuh bisa- bisa aku bakal masuk penjara.


Bertanya pada koki hotel? Hal paling bodoh!


Walau hotel ini kepunyaan mereka, alergen keluarga bangsawan adalah sebuah rahasia besar.


Aku mengambil makanan porsi sedikit untukku dan menumpahkan lima centong nasi ke dalam piring Mas Indra, meletakkan seluruh menu dalam tiap- tiap piring.


Aku bahkan membawa troli untuknya makan.


Menjamunya di kamar hotel.


Dia lahap memakan semuanya.


"Mau jalan ke taman kota?" tawarku.


Setelah makan hal terbaik adalah menikmati angin sore.


Ini juga kali pertama aku mengajaknya.


Tapi dia menggeleng.


"Aku pulang. Aden mau di sini?"


"Kamu bawa pulang saja. Takut aku salah mengurusnya."


"Dia sudah mandi dan buang air besar. Cukup menemaninya."


"Ya sudah. Nanti kirimkan saja susternya. Aku masih tidak berani memegang Aden sendirian," kataku menatap Aden yang asyik bermain dengan mainannya.


Pada kehamilan Aden aku sama sekali tidak mengikuti kelas parenting, bagaimana bisa aku percaya diri mengurus anak?


"Iya."


Mas Indra terlihat terburu- buru pergi dari kamarku.


Apa dia  sedang dikejar sesuatu?


Sesekali dia mencoba menggapaiku, apa dia mau makan?


Ya sudah kupeluk saja dia. Memosisikan dirinya pada sumbernya makan.


Dia menggeleng, menolak putingku dan malah berjoget ria di atas pahaku.


Tawanya renyah.


Hm. Anak siapa sih ini? Menggemaskan sekali.


Kucium pipinya dengan gemas.


Asyik juga bermain dengan anak kecil.


Bel pintu kembali berbunyi saat si kecil terlelap usai kecapaian bermain dengan perut yang sudah penuh.


Terpaksa menggunakan menu rekomendasi hotel karena suster Aden tak kunjung datang.


Seseorang di luar sana, Mbak Aini, memanjangkan kepalanya saat kubuka sedikit pintu, bermaksud mengintip.


"Kamu sibuk, Dek? Kok tidak makan malam di bawah."


"Aku sudah ambil sore tadi, Mbak."


Aku mengajak Mbak Aini masuk ke ruang tamu.


Kali ini beliau tidak datang untuk menyampaikan sebuah informasi. Hanya berbincang sedikit.


Aku gelisah. Takut ada apa- apa dengan Aden di kamar.


Kamar itu sama kedapnya seperti ruangan ini.


"Mbak, aku ke kamar sebentar," kataku menyela rencananya beberapa hari ke depan sebelum hari jadi tiba.


Kasihan juga. Karena ulahku, Mbak Aini datang lebih awal. Kejam kalau aku tidak menemaninya di sini.


Benar kan firasatku. Aden sudah bangun dan menangis di atas ranjang.

__ADS_1


Hati- hati kuperiksa celananya, tidak ada ompol. Tapi tetap tidak tenang saat aku timang dia.


"Ada apa, Aden sayang?"


Dia lapar? Tapi sudah makan! Popok masih bersih, tidak lembab. Udara kurasa sudah baik.


Apalagi yang belum? Yang kurang?


"Mau ketemu ayah, sayang?"


Aden tidak menjawab. Tangisnya semakin kencang. Kubawa dia keluar barangkali udara kamar tidak cocok untuknya.


Mencari udara di ruang tamu yang sengaja kubuka sedikit jendelanya.


Dingin menyapa. Langsung kuberikan kain pada punggung Aden. Pria kecilku itu terus saja memberontak. Akhirnya kain diselampirkan dengan asal.


"Aden di sini, Dek?" tanya Mbak Aini ketika aku menimang Aden di luar.


Aku hanya mengangguk di sela suara tangisan Aden.


Sebenarnya dalam hati aku panik, harus berbuat apa.


"Mau apa, sayang?"


Bayi kecil ini tidak menjawab dan terus menangis.


"Sudah biarkan lega dulu, Dek," kata Mbak Aini.


Mendengarkan Mbak Aini, aku menimang Aden walau telinga berasa pecah karena tangisnya yang sangat menggelegar.


Pelan tapi pasti, tangis itu berkurang.


Aden mengerjapkan matanya dan memelukku. Sangat erat.


"Mau apa, sayang?" Kuulang pertanyaan pada putraku.


"Yayah."


Hm. Padahal tadi sudah kutawarkan apa dia mau bertemu ayahnya atau bahkan susternya.


Pada anak kecil, memang harus sabar!


"Ga mau sama ibu?" tawarku.


"Mau.."


"Dek, biarkan anakmu melaksanakan pilihannya biar di kemudian hari tidak bingung karena terus didikte. Kalau itu buruk, barulah kita arahkan."


Hah dunia.


Dia yang berharap punya anak dan siap, justru belum mendapat momongan.


Sedang dia yang tidak terlalu berharap akan hadirnya buah hati, malah sangat mudah mendapat momongan.


Kuikuti kata Mbak Aini. Mengirim pesan pada Mas Indra karena tidak mungkin meneleponnya pada jam ini.


Mas Indra datang dan langsung menggendong Aden.


Untunglah dia tidak menghardikku. Padahal aku sudah siap beradu mulut dengannya, bila dia menyalahkanku karena ada bercak air di wajah putra kami.


Aku hendak menyingkir agar Aden leluasa bersama sang ayah. Rupanya tangan mungil priaku itu, menggenggam erat ibu jari yang sedari tadi mengusap punggung tangannya.


"Pangeran Amir sudah datang, Permaisuri," kata Mas Indra pada Mbak Aini.


Mbak Aini tampaknya terkejut.


Kudengar suaminya baru datang ha min satu sebelum perayaan.


Apa ada sesuatu yang genting?


Mbak Aini pergi dan lagi- lagi aku berduaan dengan Mas Indra.


Sejurus setelah kepergian Mbak Aini, Mas Indra menyadari putranya menggenggam jari ini.


"Kalau aku bermalam di sini, boleh?"


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2