
Beginilah kalau terlahir dari keluarga sederhana, lantas ikut peperangan keluarga atas.
Aku pusing memikirkan siapakah yang sebenarnya terlibat dalam kasus penculikan kali ini.
Semuanya terlihat sebagai tersangka.
Ditambah Kusuma membuat masalahku makin bertambah.
Adiknya sekarang berkeliaran.
Benarkah dia tidak akan membuat masalah?
Tanpa bantuan Rian, aku masih berusaha menyelidiki Nenenda.
Mbak Aini sudah pulang ke negaranya.
Dia sama sibuknya seperti ibu negara lain, bukan sepertiku yang bisa berleha- leha. Semua ibu mertua, eh maksudku ibunya Mas Indra yang mengerjakan.
Aku cuma mengurus rumah, layaknya selir yang tak terlihat.
Tapi tak apa, aku juga tidak terlalu suka berbaur dengan kalangan mereka. Yang selalu punya dua makna dalam kalimat yang mereka ucapkan.
"Apa kamu tidak merasa kalau Indra sangat sayang padamu? Sampai membiarkan kamu melakukan hal yang tidak wajar. Mencambuk pelaku kejahatan. Juga membiarkan keonaranmu di panggung hukuman pertama, sebelum hukuman mati Sutiwejo Widjianto."
Kanjeng Ibu berkata dengan wajah yang serius.
Perkataannya benar. Tidak ada sejarahnya istri pangeran melakukan hukuman langsung.
Tangan mereka bersih dari hal kasar.
Bukan suatu prestasi menghukum sendiri pelaku kejahatan terhadap anakku.
"Aku berterima kasih pada Mas Indra, Bu. Membolehkan aku, ibu putranya, melampiaskan amarah karena penculikan itu."
"Bagaimana keadaan Aden?" tanya Ibu Mas Indra.
"Sudah membaik. Sudah mau keluar dari kamar. Untuk makan sudah tidak lagi pilah pilih."
Awal kami menemukan Aden, anakku itu sama sekali tidak mau melihat masakan daging.
Setelah olah tempat kejadian perkara, anakku dibiarkan makan daging dengan toping belatung di atasnya, setelah dibiarkan lapar semalaman.
Perutnya langsung sakit- sakitan.
Hampir semua makanan tidak masuk ke perutnya. Hanya sayur yang dapat diolah oleh tubuh sakitnya.
Kanjeng Ibu menimang cucunya dengan sayang.
Melantunkan kidung lingsir wengi, memohon perlidungan untuk cucunya.
"Jadi, apakah kamu tidak mau rujuk dengan putraku?"
Kanjeng Ibu berucap setelah Aden lelap dalam pelukannya.
Matanya lurus tidak memandangku.
"Maaf, Bu.."
Raut datar Kanjeng Ibu bukannya membuatku takut. Aku malah tak enak hati.
Aku punya Aden dan rasanya aku paham dengan rasa di hatinya.
Sebesar apa pun seorang putra, akan menjadi bayi kecilnya.
Aden saja selalu kuanggap bayi kecil yang belum mampu melangkah.
Melihat sakitnya, aku merasa ingin menggantikannya.
Apalagi posisi Mas Indra.
Beban dalam dirinya bukan hanya hilangnya ikatan pernikahan kami.
Dia yang pertama dalam silsilah keluarganya, melakukan perceraian dalam hidupnya.
Orang- orang mungkin tidak akan berani mencerca Mas Indra.
Tapi harga dirinya pasti tercoreng.
__ADS_1
Sudah termasuk hal baik bagiku, Mas Indra tidak mengusik hidupku setelah mencoreng harga dirinya dengan luka paling dalam.
Selama ini, banyak kulihat orang besar yang tak terima dengan gugatan pasangannya.
Berlaku semena -mena pada orang yang pernah dicintainya dulu.
Atau mungkin masih dicintainya? Namun dia lebih menjunjung harga dirinya.
Aku dapat mengatakan hati Mas Indra tidak sesempit itu.
Membiarkan aku hidup sudah termasuk hal yang baik.
Tindakan Nenenda yang mencoba menghilangkan aku dan Aden dari sejarah sebagai bukti tingginya harga diri, seharusnya itu yang dilakukan Mas Indra.
Tapi dia, masih berlaku baik padaku.
Kanjeng Ibu pergi tanpa mengatakan apa pun.
Kutemani Aden sambil mengirim pesan pada Damara.
Bocah itu turut membantuku mengumpulkan bukti yang bisa membuktikan keterlibatan Nenenda dalam penculikan cicitnya sendiri.
Damara mengirimkan pesan suara. Dia buatku penasaran saja karena di bawahnya tertulis satu pesan.
From : Damara
[Jangan sampai didengarkan siapa pun.]
Ingin kuambil earphone, Aden malah mendekap erat tanganku.
Kuusap kening kecilnya ketika dia mengernyit.
Syukurlah Aden sudah tidak lagi berteriak- teriak dalam tidurku.
Setelah memastikan Aden aman dalam tidurnya, kuambil kembali ponsel dan memutar rekaman suara yang dikirimkan Damara.
Sudahlah tak apa meski tanpa penyumpal kuping.
Di kamar Aden, aku hanya seorang diri.
"Sudah. Jangan bertengkar. Kamu juga salah telah menculik istrinya."
"Kenapa, Bu?! Kenapa tidak membelaku? Sekali saja cobalah ibu berada di posisiku!"
Perbincangan dalam rekaman suara terhenti oleh dentuman dan suara ringisan, yang entah kenapa sepertinya aku kenal.
Tapi siapa ya?
"Kamu mendapat pesan ini dari mana?"
Suara Mas Indra melarikan jantungku dari tempatnya.
Tanpa ada suara berderit, pria itu sudah duduk manis di sofa?!
Kapan?
Aku jadi gugup. Mengingat Damara tidak membolehkan orang lain mendengar rekaman suara ini.
Mas Indra mengambil ponselku. Mengutak atiknya dan mengembalikan padaku.
Aku cengo. Terlampau terkejut dengan keberadaannya.
Kuperiksa ponselku.
Ternyata dia mengirimkan rekaman suara itu pada nomornya sendiri.
"Kamu jangan simpan baik- baik rekaman ini!"
Kilat dalam mata Mas Indra menunjukkan emosinya.
Dia marah, tapi pada siapa?
Soalnya dia termenung dengan gurat- gurat otot yang bergantian dari kening ke rahangnya.
Kembali kudengar rekaman suara dari Damara.
Penasaran apa maksudnya mengirimkan rekaman suara yang tidak kumengerti.
__ADS_1
Mas Indra menatap tajam kala aku mengulang- ulang suara itu.
"Adikmu cerdas sekali," kata Mas Indra mendesis.
Entah pujian atau sindiran? Atau dia sedang marah oleh rekaman suara ini?
Baiklah. Aku berhenti sebelum pria itu tersulut emosinya.
Kukirimkan pesan saja. Menanyakan kejelasan pada Damara.
To: Damara
[Pesan apa itu? Rekaman suara siapa? Yang jelas, Damara!]
Ck. Damara malah tidak aktif.
Saat kulihat kalender, ternyata sekarang hari Jum'at.
Pantaslah dia sudah bersiap untuk melaksanakan kewajibannya.
Kewajiban yang paling wajib bagi banyak Muslim.
Karena banyak pria setidaknya melakukan Soljum sekali dalam sebulan, supaya tidak menjadi orang kafir. Eh.
"Mas, kamu tidak Sholat Jum'at?" tanyaku.
"Sholat."
"Lalu kenapa tidak berangkat?"
"Nanti saja. Belum adzan."
"Ckck. Seorang calon Sultan masa kurbannya telor, bukan unta?"
Mas Indra kembali mendelik tajam.
Akhirnya pria itu mempersiapkan diri sebelum puji- pujian terdengar dari masjid.
Semua pria di kawasan ini turut Sholat Jum'at.
Sebagian pengawal wanita juga sedang sibuk menyeret para pria yang enggan Sholat Jum'at.
Tapi anehnya, di waktu yang lenggang ini, aku tidak merasakan ketakutan.
Hanya ada damai saat suara adzan terdengar, pun saat ceramah, yang ternyata diisi Mas Indra, terdengar oleh telingaku.
Rumah yang sepi tidak menakutkan.
Sambil kugendong Aden, kubuatkan makanan untuk Mas Indra.
Sebagai ucapan rasa terima kasihku sudah membiarkan aku berbuat banyak hal dan dia tidak mempermasalahkan perceraian kami.
Tentang sikapnya di awal, yang meminta cenderung memaksa untuk bersama, aku sudah memaafkannya.
Melihatnya sok dingin dan tidak peduli seperti sekarang, aku yakin dia sudah lebih tabah.
Hanya berharap kami menjadi partner yang baik untuk membesarkan Aden.
Menyiapkan Aden sebagai penerus kekuasaan tempat ini.
Masa depanku?
Entah siapa yang mau menikahi mantan istri Pangeran.
Aku adalah sosok yang mencoreng silsilah terbaik keluarga Kesultanan ini.
Siapa yang mau?
Inginku hanya fokus pada kehidupan Aden.
Berharap dia menjadi pria terbaik, sekaligus pemimpin terbaik.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1