
"Ceritakan saja, Fadlan." Kalimatku tegas. Dia tidak dapat membantah bila sudah kupanggil namanya.
Benar saja dia langsung memandangku. Lantas menunduk dan bercerita.
"Sebenarnya bukan hal besar. Nona Gendhis, wanita yang berada di Pendopo pinggir kota, dia melakukan tindak bunuh diri dan hamba baru saja mengantarnya ke rumah sakit. Maafkan hamba atas keterlambatan hamba. Hamba memang tidak kompeten. Terlambat begitu lama."
Aku mengangguk singkat.
Kembali fokus mengerjakan seluruh beban, yang tiada habisnya.
Banyak orang mengatakan sangat menyenangkan menjadi Seorang Pangeran, tapi tidakkah mereka pikirkan beban di belakangnya?
Selain dilayani dan memegang banyak kuasa, ada hidup yang tidak akan bisa tenang.
Sebagai Pangeran tunggal negeri ini, aku harus memahami alur yang dibuat oleh dunia.
Jika dahulu pedagang ataupun pebisnis tak penting, maka sekarang mereka adalah penguasa dunia.
Mau tak mau. Selain mengurus negara, aku juga harus mengembangkan bisnis.
Haaa
Kapan aku bisa beristirahat?
Kadang aku berharap dapat melepas semua identitas di belakangku.
Rakyat di luar sana seolah memiliki pemikiran lebih baik dibanding para bangsawan.
Suka sekali membantah tanpa data yang akurat.
Membuatku mau tak mau harus menjadi tegas pada mereka.
Mengusir kasar mereka yang telah tinggal mentahun di tanah negara, yang telah diperhitungkan sebagai lapang penyerap air, agar tidak banjir.
Mereka pula membangun rumah tanpa perhitungan tepat.
Saling berdekatan tanpa udara yang baik.
Mereka tinggal di antara ruma yang hanya berjarak satu meter dan berharap memiliki kualitas kulit dan tubuh seperti orang di luaran sana?
Tidak bisakah mereka mengikuti saja selama itu baik!?
Toh mereka pun dibangunkan rumah bagi tiap mempelai yang baru saja sah.
"Katakan. Desa mana lagi yang standar rumahnya tidak baik?" tanyaku pada Fadlan.
"Desa Danastri. Di Utara Kesultanan, Kanjeng."
Emm. Danastri. Desa tempat lahir Mbah Gedhe, salah satu mata- mata terbaik kakek.
Sudah sejak lama tidak melihatnya, kenapa tidak sekalian saja aku mampir?
"Kita turun," titahku pada Fadlan.
Main tanpa merk membalut tubuhku dan Fadlan.
Kami berjalan dengan santai turun dari bus.
Dari jalan raya, tidak tampak rumah yang saling berdempet.
Baru saat masuk, banyak rumah menjulang di sisi kanan dan kiri.
Kualitas udara yang buruk!
Sudah tidak perlu dinilai lagi.
Wilayah di sini harus diratakan dan dibangun ulang.
Hari belum terlalu siang tapi suasana sudah sangat panas.
Bangunannya mungkin tidak lagi mengenakan kayu yang cepat rapuh, tapi udaranya tetap saja buruk!
__ADS_1
"Di mana kantor kepala desa?"
Fadlan mengantarku ke bangunan putih besar, tepat di sebelah masjid.
Masjid dan kantor kepala desa yang amat megah, tapi masyarakatnya masih saja tidak sejahtera!
Tidak tahu apakah kepala desa di sini mempunyai dasar ilmu kepemimpinan yang baik!?
Meski Masjid adalah rumah Allah. Nyatanya, WAJIBLAH dulu mensejahterakan sekitar. Baru boleh memegahkan MasjidNya. Mengikuti makin tingginya finansial sekitar.
"Apa ada Keraton baru di desa ini?" tanyaku pada Fadlan melirik bangunan besar di seberang Masjid.
Sangat mencuri perhatian sejak aku menjejakkan kaki di sini.
"Hamba akan mencari tahu," ucap Fadlan.
"Tidak perlu," cetusku.
Pintu gerbang rumah megah itu terbuka lebar.
Seorang pria buncit keluar bersama dua orang pelayan yang menutup gerbang, yang mereka buka kan. Lantas menghentikan seluruh laju kendaraan.
Kulirik arloji yang melingkar sempurna di tangan.
Pukul sepuluh pagi.
Fadlan patuh mengikutiku masuk ke kantor kepala desa. Sebelum si buncit itu berhasil sampai ke pelataran Masjid sekaligus kantor kepala desa.
Seperti biasa, Fadlan mampu menunjukkan ruang kerja Kepala Desa walau baru di sini
Kududukan diri di kursi.
Mencari- cari segala berkas yang telah dibuat kepala desa.
Wow. Mencengangkan.
Kepala desa ini sangat pandai menghalu.
Alokasi dana rumah bagi pengantin baru, yang paling tidak tiga ratus juta tergelontor untuk satu rumah, semua dia katakan sudah dibuat.
Fadlan langsung mencari.
Dan ternyata titik itu betul- betul dibuatkan perumahan.
Perumahan pribadi di atas tanahnya.
Menarik.
Bukan hanya rumah- rumah yang dia bangun, yang akan tersita.
Tanah leluhurnya, akan pula menjadi milik negara.
Masih di tanganku mencari alokasi dana lainnya, sayup- sayup kudengar percakapan dari luar ruangan dan tawa yang membahana.
Sengaja memang kubuka sedikit pintu itu. Karena ruangan ini terlampau kedap suara.
Apa yang dilakukan kepala desa itu di ruangan yang tidak terdengar suara dari luar?
Menulikan diri dari suara rakyat?
"LOH? SIAPA INI? DARIH!!! KENAPA ADA ORANG ASING DI RUANGAN SAYA?!"
Suaranya melengking hebat.
Aku hanya melirik sekilas.
Masih asik memeriksa berkas yang rupanya banyak sekali pelencengannya.
"I.. ini..!"
Wanita berkaca mata lebar itu sangat gagap.
__ADS_1
Fadlan sudah memberi tahu padanya.
"YANG JELAS!" teriak si buncit.
Aku menggebrak meja.
Berdengung telingaku!
"Beliau Yang Mulia Kanjeng Pangeran Anunga!"
"Hah???"
Fadlan membereskan mereka. Membawa mereka untuk disidang.
Aku merapikan berkas. Membawanya ke salah satu rumah tinggalku di desa ini.
Karena sudah di sini, lebih baik sekalian aku melihat keluarga Mbah Gedhe.
Siapa tahu, bisa melihat salah satu guruku di masa kecil dahulu.
Kukendarai mobil seorang diri.
Membelah jalanan. Tak lama aku sampai pada sebuah gubuk teduh di pinggir sawah.
Jauh di sana, sebuah keluarga sedang berteduh dan sedang menikmati makan siang.
Ah. Damainya mereka.
Kini kupahami kenapa Mbah Gedhe enggan mewarisi ilmunya pada anak keturunannya.
Meski hidup terbilang pas- pasan di rumah yang saling berhimpitan, mereka tertawa lepas.
Kapan ya aku terakhir kali tertawa seperti itu?
Rupa mereka mungkin tidak terjaga seperti para bangsawan, tapi senyum mereka tetap terjaga sedari masih polos tak tahu dunia, hingga dewasa seperti sekarang.
Kuperhatikan rombongan keluarga yang telah usai makan itu. Mereka berlalu. Kembali menggarap tanah warisan yang makin menipis, seiring sulitnya hidup sebagai petani.
Kudengar, mereka tak lagi sejaya dahulu.
Selalu mengutamakan produk luar, yang katanya lebih maju dan terjaga.
Sayang sekali. Padahal tidak ada makanan terbaik, selain buatan ibu pertiwi.
Saat memperhatikan seorang wanita yang sedang merapikan bekas makan mereka, sebuah makhluk melikuk kencang di antara semak belukar.
Sudah kugenggam handle pintu, namun suasana di luar sana mencengangkan.
Cucu Mbah Gedhe dengan berani memegang ular itu. Membawanya dengan tangan kosong. Membuangnya ke semak pemisah lahan warga dan hutan belantara.
Sekilas mata kami saling memandang.
Aku paling kan wajah agar tidak jatuh dalam manik mata penuh binar keberanian itu.
Lantas tersadar, mobil ini tidak nampak dari luar.
Tidak ingin mengundang curiga, aku melajukan kembali mobil ke negeriku.
"Mata yang indah," gumamku tanpa sadar.
Memang. Walau tidak diasah seperti moyangnya, tetap saja ada gen dalam dirinya yang tidak bisa ditutupi.
Keberaniannya sama seperti kakeknya.
Sangat tak kenal takut.
Berbicara amat jujur pada ayahku dan nenekku.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
Author up setelah vote nya mencapai 250 vote. 🥰🥰🥰